
"haiiitt...!!"
Siauba merapal jurus tangan kosong 18 telapak naga nya meladeni mereka dengan memggunakan gwakang nya setengah bagian.
siauba tak sampai hati menurunkan tangan jahatnya untuk membunuh.
cukup melukai jangan sampai bangun merepotkan pikirmya.
"Naga menggerung menyesal!!"
Tap..tap..plakk..!!..Dess..!!"
"heeekk...!!..Ahhh..!!
tampak 2 dari 6 penari terpental terkena pukulan siauba.
tak cuma sampai disitu, siauba terus melanjutkan serangannya.
tapi dia tak bisa menjauh dari tempat goan cang duduk. karena lengah saja dia sedikit, pasti sahabatnya ini akan di serang.
meladeni wanita, siauba agak setengah hati. masih sungkan untuk memberi pukulan mematikan, apalagi tidak ada dendam diantara mereka.
sepertinya para penari yang menyerang ini mengerti keadaan siauba. maka kesempatan itu tidak mereka sia sia kan. mereka menyerang semakin hebat.
selendang kain lentur dengan menggunakan iweekang dapat mengeras seperti baja. bertubi tubi serangan di arahkan kepada siauba,
"taaatt!!..ctaarrr..!!" Terdengar ledakan ledakan keras di tempat kosong setiap selendang itu menyerang, karena siauba dapat menghindar.
suatu ketika, datang serangan selendang serangan dasyat membabat ke arah leher. siauba sempat menggeser tubuh nya kesamping. selendang itu lewat, mengenai tiang penyangga tenda.
"Sreett..!!
tampak goresan dalam pada tiang tenda laksana di tebas oleh pedang tajam.
bergidik siauba membayangkan jikabterkena lehernya.
"Berhenti lah bermain main..!!" tegur siauba.
dia bergerak cepat dengan ginkang nya. memainkan gerak 8 langkah patkwa dengan jurus kunyuk mencuri buah. kepunyaan si pengemis tangan sakti mengambil awan. mo in jiu sin kay. tianglo kaypang itu.
siauba berkelenat ke sana kemari di sela sela serangan selendang selendang lemas tapi alot dan mematikan itu. dia menotok para penari itu.
"fiuuuhh... beres juga" kata nya setelah melihat para penarinitu telah berjatuhan tertotok urat lemas nya.
belum sempat siauba menarik nafas. terasa angin kuat menyambar dari arah belakang menuju kepalanya.
dengan cepat siauba menunduk kan kepala seraya berkelit kesamping dan membalikan badannya bersiap menangkis dan menyerang dengan. han liong sip pat cang nya. (18 telapak naga) memakai jurus sin liong pai bi / naga sakti menggoyang ekor.
"Cang ko...!!" seru siauba kaget bukan main.
ternyata goan cang lah yang menyerang siauba dari belakang.
terlihat goan cang bola mata nya memerah tapi pandangannya kosong.
dia tidak mengenali lagi siauba.
goan cang terus memyerang siauba.
"walah.. gawat..!!" seru siauba.
"cang kooo.. sadar cang ko!!" ucap siauba seraya menghindar pukulan goan cang yang mengarah ke dada nya siauba.
bunyi alunan dawai kini melengking laksana lengkingan iblis dalam neraka.
begitupun goan cang, semakin hebat daya serang nya.
kali ini dengan tinju mabuknya goan cang memyerang siauba. tapi berkekuatan iweekang. sehingga suara kebutan tangan goan cang laksana suara naga terbangun dari tidurnya.
"braaakk!!" ketika siauba menghindar dan meja terpukul hancur berkeping keping terkena kepalan tinju mabuk goan cang.
"Cang koooo...!!"
sedangkan wanita pemetik dawai tersenyum dibalik cadar nya ketika melihat siauba terdesak. dia terus memperhebat petikan di senar dawai.
kali ini memetik lagu perang.
goancang seperti di perintahkan menaklukan siauba. semakin menggila serangan goan cang. yang kali ini menggunakan it chi chan. serangan totokan sakti.
__ADS_1
"Sreett..Blaaaar..."
ketika jari sakti itu melancarkan serangan jarak jauh nya dan terkena terpal tenda dan menembus jauh sampai ke pohon besar.
siauba terus menghindar. dia bingung bagaimana menyadarkan sahabatnya ini.
siauba terus mundur.
goan cang terus merangsek.
dengan tinju mabuknya menyerang ke arah pinggang siauba.
siauba yang sudah terpepet ke dinding tenda, segera melejit ke atas.
tapi gerakan siauba telat. paha nya terkena pukulan tinju mabuk goan cang.
tapi pukulan itu tertahan oleh pedang kayu siauba yang tersoren di pinggang siauba dan menggantung terjuntai di pinggang.
siauba terpental sampai keluar tenda, akibat pukulan itu. sedangkan pedang yang terkena pukulan itu tampak bergetar dan berdengung.
sesaat goancang terdiam seperti terpengaruh oleh suara pedang siauba. .setelah dengung melemah, goancang menyerang lagi.
siauba yang bangkit sambil meringis itu. segera bergerak menghindar dengan 8 gerakan langkah patkwa.
mata goancang semakin memerah. gerakannya semakin hebat. belum lagi iweekang pada kedua lengannya semakin terus bertambah.
akhirnya siauba kehabisan akal, dia terpaksa mencabut pedangnya.
melihat siauba memcabut pedang, alunan dawai berubah. kali ini seperti menusuk langsung pada jantung. terasa pembuluh darah siauba berdesir.
cepat dia menarik nafas kemudian memyalurkan iweekangnya.pada pedang kayu nya.
terdengar bunyi berdengung lembut. siauba kembali memompa iweekangnya sampai seperenam bagian. demgung lembutnya perlahan lahan terdengar jelas.
yang kasihan adalah goan cang.
tubuhnya limbung oleng ke kiri ke kanan. benar benar bagai dewa mabuk.
"sebentar matanya memerah, sebentar kembali putih"
"ba..baaa tee.." suaranya lirih diantara sadar dan tidaknya.
siauba mengumpulkan kekuatannya. dengung pedangnya mulai keras, laksana ribuan lebah yang berkumpul menjadi satu, pedangnya mulai mengeluarkan aura hitam bercahaya. tersiar hawa membunuh mulai menyelimuti siauba.
dia melesat bagaikan peluru menuju ke dalam tenda. bagaikan ribuan prajurit lebah yang terusik marah langsung menyerang si pemetik dawai. "bintang timur bercahaya..!!"
"Sreeetttt....!!..Wuuuutt..bleeeng!!.eeeng..eenng.."
tampak lesatan pedang siauba yang ditahan oleh dawai. menimbulkan gema berkali kali.
tampak guratan panjang dari luar tenda sampai kedalam. jejak lesatan pedang siauba.
debu debu berhamburan, meja meja terpental jauh ke pojokan kiri kanan tenda akibat.ledakan.
siauba terdorong mundur, sedangkan wanita si pemetik dawai terpental melayang menembus terpal tenda di belakangnya dan mendarat di sebuah batu sebesar anak kerbau.
dia langsung duduk bersila. sambil memainkan dawai. kali ini dengan kedua tangannya dia mengirim serangan iweekang dalam suara dawai disertai ratusan hawa senar yang melejit menyerang ke satu titik, yakni siauba.
beberapa kali siabua menangkia dan bersalto menghindari serangan itu.
tampak bertubi tubi serangan itu mengenai tenda.
akhirnya robohlah tenda besar itu karena tajamnya hawa senar bagaikan pedang tajam. siauba kembali memainkan jurus jurusnya dewa.pedang.
kali ini jurus kedua
"Sangkala di ufuk barat"
dia menggetarkan pedangnya.
muncul kembali suara ribuan lebah, bagaikan suara sasangkala genderang perang. kali ini hawa pedang yang berwarna hitam bagaikan asap pekat yang membungkus siauba bergerak laksana naga murka.
ratusan hawa pedang menyerang menahan laju hawa dawai. bertemu di udara dan meledak. menimbulkan getaran pada tanah berpijak.
siauba yang melesat sambil menebas membacok dan menusuk diikuti oleh hawa pedang yang tercipta.
tak ada celah untuk pemetik dawai itu menghindar.
__ADS_1
dia aegera memutar dawainya laksana kitiran untuk menahan laju hawa pedang.
dengan kekuatan hampir seperdelapan bagian.
"Bukkkk!!!.Teeeng..!!"
Memang hebat pengalaman bertempur wamita si pemetik dawai ini.
serangan sedahsyat itu, mampu bertahan. senarnya putus satu, dan dia terdorong mundur. sedangkan cadar penutup wajahnya terlepas. tampak sesosok wanita berparas cantik. putih mulus berhidung mancung seperti berumur 28 tahunan. tapi aura nya keras bagaikan logam.
inilah sosok yang terkenal malang melintang di bulim iblis cantik berbaju merah pemetik harpa. ang in mo li.
begitu terdorong mundur, dia menjejakan kaki nya maju menyerang siauba. bersenjatakan dawai yang memang panjang. ternyata ujung dawai itu tersimpan pisau pisau yang sangat tajam sekali dan beracun.
siauba tentu saja tidak tinggal diam.
dia segera memainkan jurus ketiga nya
"badai es di langit utara"
dengan iweekang nya hampir seperdelaoan bagian yang membuat pedangnya berdengung, tampak uap tipis berselimut kilatan kilatan gelap pada kelebatan pedang siauba.
dia memutar seluruh badannya dan memainkan pedangnya seperti gasing. terdengar dengung yang seakan akan memanggil malaikat maut. perlahan lahan meja meja bergerak seperti tertarik medan magnet kearah siauba yang hamya tampak bayangan nya saja dalam badai pedang.
ang in mo li tersentak kaget, tapi sudah terlambat untuk menghindar dan membatalkan serangannya. dia sudah setengah jalan menyerang.
""Wuuuuttt...Blaaar..!!..Heegh...!!"
"Aaaacchh..!!"
dawai yang beradu dengan pedang pusaka siauba. hancur bwrkeping keping. tampak berserakan di lantai dan membeku selimut es tipis.
sedangkan ang in moli terpental. darah menyembur dari bibirnya. tubuhnya menghantam pohon yang besarnya sepelukan orang dewasa. bahkan pohon itu pun tumbang karena tak kuat menahan beban tubuh ang in moli yang terpental kencang.
tak dia sangka kali ini kalah oleh anak ingusan.
dia jatuh terduduk. namun dengan bersusah payah dia bangkt.
siauba berjalan mendekat bermaksud meringkus si.pemetik dawai ini.
tapi ang in moli merogoh saku nya, dan melemparkan aesuatu ke tanah
"Blaaarrr!!"
"Uuuhh.. bom asap beracun?"
siauba yang kaget, cepat dia melompat.mundur sambil menutup hidungnya.
asap tebal mengepul.
setelah asap mereda, tampak tenda dan barang barang nampak kacau. tapi penari maupun si pemetik dawai berhasil kabur.
segera dia mencari goan cang.
terlihat di pojokan dekat puing puing tenda. goan cang terbaring.
cepat siauba memeriksa. denyut nadi dan nafasnya teratur.
lega lah hati siauba.
di biarkannya goancang tertidur sampai dia bangun sendiri.
ketika membuka mata, dia menoleh ke kanan ke kiri dengan mimik muka terheran. dia melihat siauba sedang duduk mengawasi nya.
"ba te..apa yang terjadi?, dimana aku?" tanya goancang heran.
"cang ko...apa yang kau ingat?" tanya siauba.
"Aku ingat mengaso melihat kuda kita mencari rumput. lalu sayup sayup terdengar bunyi petikan dawai, trus tidak tahu lagi, bangun sudah di sini". kata goan cang.
"Sebenarnya apa yang terjadi ba te?" tanya nya.
siauba lalu menceritakan apa yang terjadi.
terlihat paras goan cang berubah, ada perasaan bersalah karena dia hampir melukai sahabatnya itu.
"berbahaya sekali jika setingkat saja iweekang pemetik harpa itu lebih hebat, bisa celaka kita". keluh goan cang.
__ADS_1
"Sudahlah cang ko, setidaknya dia tidak akan mencari kita dalam waktu dekat, karena kemungkinan dia terluka dalam akibat pukulan ku" kata siauba.
mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kota lokyang.