
marah lah koai lojin melihat serangan licik ini. cukup bergerak mundur selangkah, lewat lah serangan cambuk itu.
kemudian koai lojin menarik keluar pedangnya yang selama ini jarang dia pergunakan.
terlihat pedang yang tipis bersinar kehijauan bertanda sebuah pedang pusaka yang bagus.
telah berdiri si perompak heknpenh ini memperbaiki posisi nya,
"hiaaatt...!!!" koai lojin melompat membumbung tinggi, sewaktu turun dia memainkan ilmu pedangnya yang menggetarkan kancah bulim. pat sian kiam hoat / jurus pedang delapan dewa.
jurus pertama " dewa turun dari kahyangan!!!"
pedang nya bergetar berputar membuat puluhan hawa pedang seperti bianglala kemudian dengan cepat dia melesat turun.
pedang belum sampai tapi hawa pedang sudah menerjang tajam
hek peng terperangah gugup, dengan cepat dia memutar cambuk seperti kitiran menahan desiran puluhan hawa pedang yang mengancam. kiri kanan lantai tempat berpijak telah tergores cukup dalam akibat hawa pedang itu.
serapat rapatnya hek peng memblokade serangan itu tetap terdapat hawa pedang yang menembus pertahanannya. sehingga terdapat luka luka goresan tajam di badannya. pucat lah dia menghadapi koai lojin, dia melangkah mundur akibat desakan serangan itu terbukti iwekangnya masih jauh sebanding.
ketika koai lojin turun, hek peng mencoba menyerang dengan memain kan cambuknya dengan jurus badai di lautan.
cambuknya membentuk serangan bergelombang bertubi tubi seolah badai mengamuk menerjang.
tapi dengan jeli koailojin dapat menamgkap kelemahan nya,
lalu dengan jurus ke 2 nya, dewa memercikan air. koai lojin memyerang.
kali ini pedangnya lurus menghadap hek peng, dengan setengah badan membungkuk dia melesat maju.puluhan hawa pedang melesat maju seakan berlomba lomba. setelah laju pedang menuju leher koai lojin mengibaskan gerakan pedangnya menuju ke atas. niscaya jika tak menghindar, maka kepala akan terpisah dari.lehernya.
hek peng yang melihat jurus ini mencoba untuk berkelit ke samping.
tapi rupa nya jurus ini hanya tipuan, kembali pedang berkelebat ke bawah dengan kecepatan tinggi dengan jurus dewa menjatuhkan hukuman.
jurus ini adalah pecahan dari jurus ke dua dewa memercikan air.
"craaatttt!!!.. aaaaahhh!!!!"..
hek peng tak sempat menghindar sehingga tangan kanannya terbabat putus sampai siku nya..
jatuh berguling guling berteriak kesakitan dia, seketika itu juga hek peng pingsan.
goan cang yang daritadi mengawasi pertempuran. segera melesat dan menotok di beberapa bagian hiat to perompak itu.
dan memasukan beberapa pil ke dalam mulut hekpeng itu. untuk menghentikan pendarahan.
koai lojin membiarkan muridnya bertindak.
"ayo siapa lagi yang penasaran? silahkan maju" tukas koai lojin lantang
anak buah para perompak itu tidak ada satupun yang berani memjawab.
satu persatu mereka membuang senjatanya kemudian berlutut
"lohiap.. ampuni kami" kata para perompak itu
"kami terpaksa merampok: ujarnya
"hmmmm.. semua penjahat selalu beralasan terpaksa"
" maka lohu pun terpaksa memenggal kepala kalian" gertak koai lojin sambil memainkan pedangnya.
"ampuuunn lohiap" teriak para perampok itu ketakutan bahkan ada yang sampai terkencing kencing dibuat nya.
" hemmm.. kenapa bau pesing di sini?". tanya koai lojin.
" ato.. ngompol itu.. ato ngompol.." teriak salah satu kawanan perompak
ato yang bertubuh kurus kerempeng dengan muka hitam karena sering terbakar matahari selama hidup diperahu tampak menggigil ketakutan akan ancaman koailojin. yang anggapan dia koailojin itu bagai giam lo ong (raja akherat)
"heii kamu yang namanya ato kemari" ucap koai lojin lantang.
"sa...sayaaa.. lohu?" sambil gemetaran dan di dorong dorong oleh kawanannya dia bamhkit berdiri dan maju.
tampak dia berdiri menunduk. celana nya basah dan bau pesing.
para penumpang yang tadi nya ketakutan termasuk koai lojin tertawa melihat ato ini.
"treegtegtegteg...."
__ADS_1
"heh? suara apa itu? tanya koai lojin
"aanuu..anu.. su..suara lutut saya lohiap"
tenyata kedua lututnya beradu saking gemetarannya sehingga menimbulkan suara.
" wkwkwkwkwk.."
"lucuu.. sungguh lucu... yang tadi merampok dengan garang, sekarang bagai keledai ngompol"
goan cang yang melihat ini, dia tertawa terbahak bahak sampai keluar air mata.
"kamu perompak jorok bau pesing, sana mandi!" kata koai lojin seraya menendang ato yang jatuh tercebur ke sungai..
"byuuurrr...ha.hap..." ato gelagapan karena tidak menyangka dia akan tercebur ke sungai. semakin riuhlah para penumpang menertawai ato.
"kalian semua lohu ampuni. carilah pekerjaan yang sewajarnya. jika lohu melihat lagi kalian menjadi perompak. terpaksa lohu akan menurunkan tangan jahat"
"baik lohiap ampuni kami"
"nah sekarang pergilah, bawa sekalian pemimpin kalian"
mereka pun segera secepatnya bergegas meninggalkan perahu tersebut, mereka takut koai lojin berubah pikiran.
saudagar fakran menghampiri koai lojin mengucapkan terima kasih.
" terima kasih jiwi enghiong" ucap nyanke pada koai lojin dan goan cang.
"sudahlah, tidak usah memakai peradaban. kami ikut menumpang di perahu ini. sudah sepantasnya kami membantu" ujar koai lojin.
mereka pun kembali masuk ke ruangan bangsal dan mengaso.
pemilik kapal yang merasa berhutang budi mencoba mengembalikan uang pembayaran kapal dan menawarkan untuk memakai kamar pribadi nya. tapi koai lojin menolak.
"cukup kami mengaso sebentar sini. lagipula besok pagi kan sudah sampai tujuan kami" koai lojin menolak halus tawaran itu.
mereka beristirahat tanpa seorang pun berani memgusiknya.
semaleman sampai ke esokan pagi nya semua berjalam lancar tanpa ada gangguan lagi dari para perompak.
Sampailah mereka di dermaga tujuan. dermaga yang mengarah ke kota ciang an.
koailojin bersama muridnya berjalan menuju kota. terlihat banyak lalulalang para pedagang maupun pelancong.
karena ciang an termasuk kota besar, maka tidak aneh banyak ditemui bangsa asing di kota itu.
Terlihat dari jauh bamyak berkerumun orang di gerbang kota.
ternyata banyak prajurit melakukan pemeriksaan.
"ada sesuatu yang terjadi" pikir koai lojin.
mereka pun tak luput dari pemeriksaan. tapi tak ada yang mencurigakan dari nya, hanya seorang kakek yang membawa cucu nya melancong pikir para penjaga kota.
setelah masuk ke dalam kota, koai lojin mengajak goan cang untuk sarapan. mereka pergi ke satu restoran yang cukup ramai di kota itu.
"silahkan siansing.. silahkan masuk.."
"lopeh.. tolong kau siapkan sarapan untuk kami berdua dan tolong kau isi kendi arak ini". tutur koailojin seraya memberikan beberapa keping uang perak.
" baik.. secepatnya siansing" tukas pelayan restoran itu.
keadaain di ruang bawah telah padat oleh para konsumen., maka mereka pun naik ke lantai dua. terlihat ada meja kosong di depan. jadi dari atas mereka dapat melihat ke jalan utama..
goan cang sangat antusias, terkagum kagum dia melihat maju nya kota ciang an ini.
sedangkan koai lojin duduk sambil menunggu pesanan nya datang, dia memyapu pandamgan ke sekeliling. lantai 2 tidak begitu seramai lantai 1. tampak hanya beberapa meja yang terisi. di sebelah kiri.nya tampak sebuah keluarga sedang menikmati makanan. sedangkan di depan nya ada 2 orang pendeta asing. sedang minum arak menunggu pesanan nya datang. dari jubah dan dandanan serta perawakannya seperti dari se thok (india)
mereka bicara berbisik bisik memakai ilmu ip kip pit, semacam ilmu menyampaikan suara dengan pengerahan iweekang. mencurigakan sekali.pikir koailojin.
koai lojin dengan memusatkan indra pendengarannya samar samar dapat mendengar pembicaraan mereka, sayang nya dia tidak mengerti apa yang di bicarakan karena menggunakan bahasa yang aaing buat dia.
" heeh.., sayang aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi tindak tanduknya mencurigakan" guman nya dalam hati.
tak lama sang pendeta melirik ke arah koailojin,
"aahh udara hari ini panas sekali" tuturnya.
"benar suheng, panas sekali, pelayan mana.pesanan kami?"
__ADS_1
para pendeta itu mengalihkan pembicaraannya dengan menggunakan bahasa han dan berbicara tentang makanan makanan.
tapi semakin curiga lah koai lojin, dan memutuskan untuk menyelidikinya nanti malam.
tidak lama pesanan datang, nasi putih beserta lauk pauk nya, cah pek cai,
pepes ikan mas dan burung dara goreng. tidak lupa kendi arak yang telah terisi penuh
"lopeh, mengapa hari ini terlihat ramai sekali? banyak prajurit prajurit berkeliaran?" tanya koailojin.
" ooh itu karena kabarnya hari ini akan ada pangeran dari kota raja berkunjung ke kota kami. dan menginap di gedung keresidenan" jawab pelayan itu.
" baiklah terima kasih untuk keterangan mu" jawab koai lojin.
" oh ya, apa restoran ini ada tempat menginap?
""maaf siansing, kami hanya restoran saja. jika siansing berminat, di penginapan biru laut tempatnya bersih terawat dan tidak mahal. tidak jauh dari sini. siansing cukup memgikuti jalan utama ini saja setelah pertigaan belok kanan. nanti ada papan namanya"
" baik lopeh, terima kasih". seraya memberikan beberapa keping perunggu kepada pelayan itu.
pelayan itu pamit dengan wajah ceria.
koai lojin memutuskan untuk menginap semalem di kota itu. dia menyewa sebuah kamar yang cukup untuk berdua.
ketika mulai larut malam, dia menyuruh agar goan cang tidur terlebih dahulu, kemudian koai lojin berganti baju dengan baju ringkas. tak lupa pedang nya terikat kencang di pundaknya.
setelah membuka jendela, dia pastikan tidak ada orang, kemudian dia melesat dengan ginkang nya.
dia terus berkeliling kota dengan ginkangnya mencari dimana para pendeta itu tinggal.
akhirnya koailojin mendapatkan satu rumah gedung yang dijaga ketat. ternyata rumah itu adalah gedung pejabat keresidenan. hanya koai lojin belum tahu siapa pejabat di keresidenan itu.
dia hinggap di atap genteng tanpa menimbulkan suara. bahkan para pendekar yang berilmu tinggi sekalipun tidak akan mampu menyadari keberadaan koailojin.
koai lojin dari balik celah genting, dia melihat kedua pendeta, seorang pejabat setempat karena terlihat dari jubah seragam nya, lalu ada seorang pemuda asing yang tampan tapi dari mata nya memancarkan sinar kecerdikan sekaligus kelicikan, lalu ada be bin lomo.
" heh?, ada apa gerangan, kenapa datuk sesat be bin lomo berada di mari? guman koai lojin heran.
kemudian koai lojin mencoba menguping pembicaraan mereka.
" prediksi yang mulia benar, para pejabat di ibukota mulai menunjukan pergerakan menentang kaisar yang lalim itu, di bawah petunjuk pangeran, banyak menteri dan para pejabat lain nya bersedia membantu pergerakan yang mulia pangeran" tutur be bin lomo.
ternyata yang berhadapan dengan nya adalah pangeran ke 3 yang bernama gao tiong tek dari selir kaisar yang terkasih.
yang merasa tidak puas karena kaisar menunjuk gao tiong bun sebagai putra mahkota. dari permaisuri.
pangeran gao tiong tek yang merasa tidak puas, memcoba menyusun kekuatan dari dalam maupun dari luar kerajaan termasuk dari kalangan bulim guna memggulingkan tahta yang sah.
Terkejut koai lojin mendengar perkataan be bin lomo,. tapi koai lojin terus mendemgarkan.
" kedua pendeta ini berasal dari thian thok ( india) jauh jauh datang ke negri ini bermaksu membantu pergerakan yang mulia.
"salam yang mulia.. nama pinceng adhikara, dan sute pinceng yang bernama gobin"
" hmmm.. bagus bagus.. sungguh bantuan yang baik sekali dari jiwi totiang" sambil mengangkat cawan nya sang pangeran memberi hormat.
" lalu bagaimana dengan pihak kerajaan boan? apa sudah ada kabar?" tanya oangeran gao tiong tek kepada be bin lomo.
"sudah yang mulia, malah pangeran harminto sendiri cucu khan yang agung yang akan memimpin pasukan begitu komando digerakan oleh yang mulia" jawab be bin lomo.
" hahaha.. bagus bagus.. tampaknya gerakan kita akan berhasil" kata pangeran gao tiong tek dengan wajah gembira.
" untuk para pendekar bulim sesuai prediksi pangeran, mereka akan tetap sibuk dengan desas desus yang pangeran hembuskan. pencarian peta wasiat dewa pedang" lanjut be bin lomo.
"hahaha... biar lah tetap begitu lo enghiong, agar kita tidak di persulit oleh para pendekar yang sok menjadi pahlawan" kata pangeran gao tiong tek seraya meneguk arak kembali.
koai lojin yang mendengar informasi pemberontakan ini sangat terkejut sekali, sehingga dia lengah dan bergerak sedikit.
tapi gerakan sedikit itu sudah cukup untuk seorang datuk berkepandaian tinggi seperti be bin lomo mendemgar.
seketika dia menyambit cawan araknya yang dia pegang
"cuiiiiitttt....!!!" praaaakkk!!!..."
terdengar angin bercuitan karena cepatnya cawan arak itu melesat menghancurkan genteng genteng itu. tapi sudah tidak nampak siapa pun disana.
para pendeta thian tok itu meloncat membobol genteng hanya dalam hitungan setengah detik. tapi ketika dia menyapu pandangan, tidak di temukan siapa pun di atas sana.
mereka kembali turun.
__ADS_1
"mungkin hanya burung hinggap, tidak ada siapapun be bin locianpwe" kata gobin