
"Bagaimana dengan ilmu silatmu ba jie?" tanya suhu nya ini.
"berkat bimbingan supek ang bin sinkay, ada kemajuan suhu"
"bagus.. bagus, lalu kenapa kau bisa berada di sini?" tanya suhu nya lagi.
"Panjang cerita nya suhu" kata siauba sambil menerawang masa masa dia dengan kakek kura kura.
lalu siauba memceritakan saat dia hanyut lalu sampai di goa dan menemukan catatan peninggalan dewa pedang yang selama ini menjadi perebutan kaum bulim.
"Dewa pedang??" suhu nya terperangah.
"Apakah itu benar ba jie?" tanya kedua tosu kunlunpay.
"Agaknya benar totiang, menurur catatan peninggalan almarhum, dia adalah seorang jendral pada berapa ratus lampau pada jaman tiga negara, yang kemudian mengundurkan diri dan mengasingkan hidupnya" kata siauba. "lalu dimana kitab peninggalan nya itu?" tanya kedua pendekar kunlun dengan amtusias.
melihat gelagat yang tidak mengenakan, siauba cepat cepat menjawab,
"sudah siaute bakar totiang sesuai petunjuk almarhum".
"Aahhh..." tosu itu menghela nafas agaknya tersimpan kekecewaan.
"apakah hanya catatan beliau saja peninggalannya?" tanya kim liong sin kay.
"almarhum pun meninggalkan sebuah pedang pusaka guru" kata siauba ceria.
"waahh.. mana? boleh kami lihat?" seru tosu kunlunpay dengan antusias.
"boleh totiang" siauba mengangguk seraya mengeluarkan sebilah pedang besar nya dari balik jubah.
"hah?? pedang kayuuuu?". tampak para tosu itu melongo.
"Hahahaha.. " goan cang yang ikut menyimak pun tak kuasa tertawa.
"ba jie, serius lah. jangan mempermainkan kami yang sudah tua ini" kata tosu itu.
"Iiihh.. benerr totiang, pedang ini peninggalan suhu dewa pedang" kata siauba yang berusaha meyakinkan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"bagaimana menakuti lawan?, bahkan ayam pun berkotek tertawa melihat pedangmu ini ba jie" seru cia goansgwe.
"wkwkwkwkwk.." mereka semua tertawa ngakak sampai mengeluarkan airmata.
bahkan kim liong sin kay pun tertawa melihat tingkah lucu siauba yang menggaruk kepala nya karena tak bisa meyakinkan mereka akan pedang pusaka ini.
"Boleh lohu lihat pedangmu ba jie?" tanya gurunya.
"Silahkan suhu.." kata siauba seraya memberikan pedangnya dengan kedua tangannya.
kim liong sin kay menimang nimang pedang itu.
"berat pedang ini tidak lazim untuk sebuah pedang, memerlukan lebih banyak tenaga untuk menggunakannya" kata kim liong sin kay seraya mengayunkan pedang itu.
kemudian kim liong sin kay mencoba memgaliri pedang itu dengan iweekang nya.
ketika dia mengayunkan pedang itu kembali, terdengar suara berdengung lembut seperti suara dengungan lebah.
"heh? kenapa bisa begitu?" gumam kim liong heran.
dia memeriksa kembali pedang itu demgan teliti.
ternyata ada celah kecil seukuran jarum di ujung gagang pedang dan di ujung mata pedang. kiranya celah kecil itu menembus dari ujung ke ujung.
"kemungkinan celah ini yang menimbulkan bunyi berdengung ketika di aliri oleh tenaga sakti" gumam kim liong dalam hati.
karena penasaran, kim liong bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke tengah pelataran. diikuti oleh semua pandangan mata yang hadir disana, kim liong segera merapal iweekang nya yang dia aliri ke pedamg itu hanya 2 bagian.
dengan jarak satu tombak. dia mengayunkan pedangnya pada sebuah pohon siong sebesar pelukan orang dewasa yang ada di sisi pelataran.
terdengar bunyi dengung lembut yang mengiringi ayunan pedang itu.
selarik sinar hitam hawa pedang menghantam pohon itu..
"Sreeeettt...Blaaarrrr!!!..."
"kreeeekkkkk..."
__ADS_1
"Braaakk!!!..."
Pohon itu tumbang dengan meninggalkan bekas tebasan yang melintang panjang.
kim liong sin kay sampai meleletkan lidahnya melihat hasil tebasan hawa pedangnya itu.
dia terlongo seolah tak percaya akan hasilnya.
"hebaaattt.. sungguh pedang pusaka" kata nya sambil menatap pedang, berulangkali dia terkagum sampai menggelengkan kepalanya.
"Simpan baik baik pedang ini ba jie, kau sungguh beruntung" sambil memyerahkan kembali pedang itu.
"baik suhu" kata siauba
" ternyata pedang kayu ini bukan sembarang pedang, lohu hanya menggunakan iweekang 2 bagian saja, tapi pedang ini mampu melipat kali kan kekuatan iweekang ketika digunakan. sehingga sangat besar daya perusak nya. sungguh kekuatan yang mengerikan" kata kim liong sin kay.
"hah?" begitu hebatnya kah kekuatan pedang itu?" tanya kedua pendeta kunlunpay ini.
seolah tak percaya akan kehebatan pedang pusaka ini.
siauba sendiri yang mendengar penjelasan guru nya ini sampai meleletkan lidah.
"ternyata almarhum suhu dewa pedang tidak sedang bercanda, memberiku pedang kayu ini" pikir siauba.
"apa kau sudah memguasai jurus pedang warisan dewa pedang ba jie?" kata kim liong sin kay.
"Sudah suhu, hanya ilmu terakhir, yakni ilmu pamungkas saja yang tecu belum pecahkan rahasia nya" tutur siauba.
"coba kau main kan jurus pertama saja dengan pedang ini" kata kim liong.
"baik suhu, tecu akan coba"
kemudian siauba melangkah ke tengah pelataran.
dengan tarikan nafas nya, siauba menyalurkam tenaga iweekang nya sampai setengah bagian, memulai membuka jurus pertama dewa pedang.
"Tarian dewa pedang!...Hiaaaatt!!"
siauba mulai menggerakan pedangnya menyabet menusuk. bergerak lincah dengan langkah kaki tujuh rasi bintang. bagaikan seorang dewi yang menarikan tarian kematian dia bergerak. tampak kilatan kilatan pedang berpendar mengelilingi gerak tubuhnya. beraura hitam pekat dingin memyeramkan yang dapat membuat ciut nyali musuh jika berhadapan.
pada gerakan terakhir siauba melepaskan hawa pedangnya pada sebuah pohon beringin besar yang berjarak hampir 2 tombak dari tempatnya berdiri.
gerakan nya sudah tidak tampak jelas, samar samar hanya bayangan hitam di selimuti kilatan pekat.
"Hiaaaattt....!!! Sreeett..Blaaaaarr!!!...Brruuaaakk!!".
Debu debu serta daun daun berterbangan.. tampak keringat menetes pada kening siauba. kemudian dia langsung mengatur nafas.
setelah debu tersapu angin, tampak guratan sedalam satu jari, tampak panjang pada lantai yang terbelah lurus pada sebuah pohon beringin besar yang terbelah dua dan sebagian tumbang itu.
tosu kunlunpay sampai meloncat bangun dari kursi nya sampai membelakakan mata seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
kim liong sinkay sang suhu itu pun sampai ternganga mulutnya.
goan cang berseri melihat betapa hebat sahabatnya ini. ternyata dia tak perlu begitu mengkhawatirkan lagi keselamatan siauba seperti beberapa waktu lalu.
"Hebaaattt... hebaatt!" kata cia goansgwe sambil bertepuk tangan.
"Terima kasih cia goansgwe" kata siauba sambil tersenyum.
"Ba jie... itu jurus pertama dewa pedang?" tanya kim liong.
"benar suhu" ucap siauba.
"Sungguh suatu ilmu pedang yang dashyat, pantas saja menjadi perebutan kaum bulim" kata kim liong sin kay.
"nama dewa pedang bukan isapan jempol belaka" lanjut nya.
Selamat ba te, kau sungguh beruntung" ucap goam cang yang tersenyum riang.
"terima kasih cang ko" ujar siauba ceria.
"waktu sudah pagi, sebaiknya kalian beristirahat, kapan kalian akan melanjutkan perjalanan? tanya kim liong sin kay kepada jendral cia.
"sebaiknya siang ini kami melanjutkan perjalanan" jawab cia goansgwe.
__ADS_1
"hmmm..kalau begitu segera persiapkan kebutuhan nya" perintah kim liong sin kay kepada penjaga yang selalu ada di dekat pintu.
"Siap ketua" kata penjaga itu yang segera bergegas.
"bagaimana dengan kau ba jie?" tanya kim liong.
"tecu tadi nya bermaksud ke markas kaypang di lokyang suhu, tapi sudah bertemu denganmu. maka tecu rasa tidak melanjutkan perjalanan" kata siauba.
"sebaiknya kau pergilah guna mencari pengalaman dan membantu perjuangan. kau pergilah ke markas kaypang, bawa surat ku untuk pangcu". kata kim liong.
"baik suhu, tecu terima perintah" kata siauba sambil memberi hormat.
"bagus.. anak baik!". senyum kim liong seraya mengusap janggutnya.
Mereka pun berkemas untuk melanjutkan perjalanan, untuk menyimpan rahasia para pejuang ini, maka sandiwara sebagai pemilik kapal beserta kelasi tetap di lanjutkan.
para tawanan di bebaskan, dengan di sebar rumor bahwa aweng pemilik kapal membayar mahal uang tebusan untuk para tawanan agar dapat berlayar dengan selamat.
maka siang itu, dengan mata tertutup, para tawanan di kembalikan ke atas perahu. dan mereka pun berlayar kembali menuju kanglam.
siauba yang mendapat penjelasan bahwa mereka akan melewati teluk sichuan sebelum sampai kanglam.
maka mengajak goan cang untuk turun di sechuan.
terbayang di benak nya bebek panggang sechuan. "huaaaaa mantaaapp" pikir siauba.
Tak lama perahu itu berlabuh di teluk sechuan, ada beberapa penumpang yang turun disana termasuk siauba dan goan cang.
"uuuhh..uuhh..hemmm.." Baru juga turun di pelabuhan, hidung siauba sudah mengendus endus bau masakan layaknya anjing pelacak.
goan cang hanya tersenyum saja melihat tingkah konyol sahabatnya ini.
"Cang ko.. ayo kita makan bebek panggang" ujar siauba.
"baik ba te, tapi di rumah makan yang mana yang enak?" tanya goan cang.
"tenang cang ko.. serahkan saja pada hidung ku" kata siauba sambil menunjuk hidung nya. "Hahaha... kau ini bisa saja ba te". goan cang tertawa lepas.
benar saja, sampai mereka pada sebuah restoran yang dari jauh sudah tercium aroma khas bebek panggang.
tempatnya lumayan ramai oleh para konsumen. terlihat pelayan yang sibuk lalu lalang.
mereka pun masuk ke dalam rumah makan itu,
"Silahkan siansing.. " sambut seorang pelayan.
setelah mendapatkan meja yang tidak jauh dari pintu masuk.
mereka pun memesan makanan khas sechuan tentu saja bebek panggangnya tidak ketinggalan.
goan cang sampai geleng geleng kepala mendengar banyaknya pesanan siauba.
"hahaha. gak apa kan cang ko?, banyak makan biar sehat" kata siauba sambil cengar cengir.
goan cang hanya tersenyum saja.
sambil menunggu pesanan di hidangkan, goan cang bertanya kepada pelayan tentang kota sechuan dan jalan mana jika hendak ke kanglam, seraya menyodorkan beberapa keping uang perak.
melihat tip yang banyak itu, dengan bersemangat pelayan yang bergigi ompong itu bersemangat menjelaskan keadaan kota sechuan.
ternyata sechuan ini kota satu satu nya yang tidak berimbas pada peperangan. semua roda perekononian berjalan normal.
selagi mereka berbicara, terlihat ada empat orang wanita yang cantik dengan dandanan nikouw muda, masuk ke dalam restauran itu.
mereka duduk tak jauh dari meja goan cang.
dan memesan makanan juga. terlihat mereka menaruh pedangnya di sisi meja.
tak lama kemudian, pesanan siauba datang.
bebek panggang khas sechuan yang harum, tim ikan kuah pedas, jamur mutiara masak saus tiram, tak lupa dua kendi arak wangi. benar benar membuat siauba meneteskan air liur nya.
" mari cang ko.. sikat sajaaa.. bo seji seji.." (jangan malu malu) kata siauba, sambil mematahkan sepotong paha bebek.
goan cang hanya menggelengkan kepala nya, sambil menutup sebagian muka nya. karena malu melihat tingkah siauba, apalagi di depan nya duduk empat orang wanita cantik yang menoleh dan tertawa kecil melihat kelakuan siauba.
__ADS_1
"ampuuunn dah.. malunyaaa aku.. gak malu malu kok, cuma ngemaluin" gumam goancang dalam hati sambil menepuk kening nya. :D