pendekar kocak

pendekar kocak
di markas pangeran boan.


__ADS_3

Tidak terasa perjalanan mereka sampai di kota Qufu. di sini lah mereka akan berpisah. karena ini kota terakhir sebelum lanjut ke gunung thai san. Hari telah petang ketika mereka sampai, jadi mereka memutuskan beristirahat dulu bermalam di kota ini.


disana terdapat penginapan yang lumayan besar di sertai dengan restoran di depan nya. mereka memesan 4 kamar kemudian sambil menunggu kamar di persiapkan, mereka memesan makanan di restoran itu.


Tampak mereka kaum senior duduk membicarakan nasib dunia persilatan dan keadaan negara sekarang ini. sedangkan para junior Gao wei ( Asang) dan goan cang duduk mendengarkan.


Koai lojin menceritakan, banyaknya orang asing dari luar daratan tengah yang masuk melalui beberapa kota persinggahan dengan tujuan utama kotaraja kaifeng. mereka ada yang melakukan perjalanan sendiri sendiri atau pun secara berkelompok.


Koai lojin menilai kalau saudagar rempah rempah ini dari golongan putih dilihat dari ilmu silatnya sewaktu bertempur hari itu dengan para penjahat bertopeng. maka memperingatkan mereka agar berhati hati, karena negri Qi ini akan di landa gelombang pemberontakan.


Koai lojin menceritakan pertemuan dua pendeta asing dengan seorang bangsawan dari istana di kotaraja yang saat itu dia menguping.


Gao wei yang mendengar informasi ini sedikit terhenyak kaget, tapi roman wajahnya kembali seperti biasa.


Goan cang yang duduk disebelahnya sempat memperhatikan perubahan itu, maka dia bertanya:


"Sang ko, kenapa sepertinya engkau kaget mendengar keterangan suhu?"


semua menoleh ke arah Gao wei, mendemgar pertanyaan goan cang.


"eeeng..itu jika benar terjadi pemberontakan, sungguh mengkhawatirkan sekali Cang ti, karena usaha dan tempat tinggalku di kotaraja, mana bisa tenang kami di sana" jawab Gao wei setengah berbohong.


Dia berbohong karena mengatakan usaha dia, menunjukan jika dia adalah pedagang. dan gao wei pun berkata sesungguhnya mengenai tempat tinggalnya di kotaraja.


" menurut locianpwe, siapakah bangsawan dan kedua pendeta itu?" tanya lau kin.


"Lohu kurang mengetahui nya karena saat itu, bangsawan itu tidak menyebut nama nya" jawab koai lojin.


lau kin mamggut manggut terlihat wajahnya berkerut tanda sedang berfikir siapakah bangsawan penghianat ini. mulai kini pihak kerajaan harus berhati hati terutama keadaan putra mahkota yang sudah menjadi incaran kaum pemberontak.


Sebelum berpisah, Gao wei memberikan sebuah kalung ronce hiasan pengikat kipasnya yang terbuat dari giok berlambangkan burung hong (phoenix) kepada goan cang, dan memberi pesan jika kebetulan lewat kotaraja kaifeng, harap mampir ke penginapan yang bernama pintu seribu, berikan ronce itu kepada pemilik penginapan untuk menemui Asang. Goan cang menyanggupi dan menyimpan ronce giok itu baik baik.


Hari telah larut malam, maka mereka saling mengundurkan diri untuk beristirahat guna melanjutkan perjalanan esok hari.


koai lojin dan muridnya menempati 1 kamar besar yang terdiri dari 2 ranjang juga memilik ruang tamu terpisah. sedangkan lau kin, bibi nio, beserta putra mahkota menempati kamar masing masing.


Putra mahkota belum beristirahat ketika lau kin mengetuk pintu kamarnya. Gao wei mempersilahkan lau kin untuk masuk.


"Ada apa paman?"


"Kuncu, hamba ada pemikiran yang hendak hamba haturkan" jawab lau kin sambil menjura.


"Silahkan haturkan" jawab Gao wei yang berwibawa.


"Kuncu, mengingat perjalanan kita telah bocor, tanpa kita tahu siapa dalang di balik semua ini, sebaiknya di kota ini hamba mendatangi komandan penjaga kota. kebetulan hamba mengenal baik jendral guan" "beliau adalah adik 1 angkatan dibawah hamba, dan dekat sekali dengan hamba" sambung lau kin.


"hamba akan meminta penambahan pasukan untuk menjaga kuncu selama di perjalanan".


Gao wei merenung, mengingat kejadian yang belum lama di alami oleh mereka, jika para penjahat menambah beberapa orang pandai lagi, sangat berbahaya buat mereka.


sebenarnya Gao wei tidak takut akan bahaya ataupun kematian, dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tapi dia harus aman demi rakyatnya. sungguh calon pemimpin yang bijaksana.


"baiklah paman, aku ijinkan" ujar gao wei.


"terima kasih kuncu, semoga kuncu sehat selalu, rakyat aman sentosa" ujar lau kin sambil bersujud. kemudian undur diri dengan melangkah mundur sampai di pintu. kemudian menutup pintu utama. lau kin dan bibi nio bergantian berjaga.

__ADS_1


"cang jie, kau belum tidur nak?" ujar koai lojin lembut.


"belum suhu, tecu lagi memikirkan sesuatu" kata goan cang.


"apa yang kau pikirkan?" tanya suhu nya ini.


"menurut tecu, Asang ini bukan orang biasa setidaknya bukan saudagar biasa"


"heh? kenapa bisa kau berpikir begitu? atas dasar apa? coba kau jelaskan".


" pertama, dari pertempuran kemarin. terlihat para penjahat bertopeng begitu antusias mencoba membunuh paman dan bibi nya, tapi ketika ada kesempatan untuk membunuh Asang, tidak di lakukannya. hanya berusaha untuk menotok melumpuhkan nya saja"


" kedua, paman dan bibi nya terlihat berhati hati sekali jika melakukan pembicaraan dengan Asang"


"ketiga, dia mengaku berasal dari kotaraja, dan sebagai pedagang rempah rempah, tapi kenapa alamat yang di berikan nya adalah penginapan seribu pintu?" kata Goan cang.


"tecu merasa Asang ini adalah orang penting, entah dari keluarga bangsawan di kotaraja, atau seseorang yang sedang melakukan misi, karena dia masih anak anak seumuran tecu, maka orang banyak tak akan mengira" ujar goan cang.


Sang suhu termenung memikirkan perkataan muridnya ini. sungguh takjub dia melihat cara berpikir goancang. anak seumur ini dapat berpikir kritis secara logika layaknya orang dewasa.


"kau ini seperti perwira chan cao saja" tukas koai lojin ( chan cao adalah deputi polisi yang selalu membantu hakin bao cheng /judge bao).


" mungkin dia mempunyai suatu kesulitan yang susah untuk di utarakan nya, kitantidak dapa memaksanya untuk mengatakan sejujurnya" tukas koai lojin,


"jika kau penasaran, sebaiknya nanti kau tanyakan langsung jika kau berkunjung ke kotaraja" tukas koai lojin


"Ya suhu..".


"cang jie, suhu lihat ilmu pedang mu sudah bagus walau masih sedikit kaku, lama kelamaan kau akan terbiasa"


" Tapi ilmu tecu tidak punya ilmu puklan tangan kosong suhu, sungguh bingung jika menghadapi pertarungan tanpa senjata" kata Goan cang.


"terima kasih suhu" ujar goan cang sambil bersujud.


"bangun lah cang jie, sekarang kau beristirahatlah"


"baik suhu"


goan cang pun naik ke pembaringannya, dia tidur dengan raut muka nya bergembira membayangkan dia akan berlatih ilmu kembali nanti.


"Pangeran..!!.. maaf kami gagal membawa putra mahkota". kata ganbatar, pemimpin pasukan bertopeng itu.


"kurang ajar!!!" Braaakkk!!!


Meja di hadapan pangeran harminto hancur terkena gebrakannya.


para dayang yang berada di sampingnya terkejut dan menunduk ketakutan.


termasuk Ganbatar pun menunduk.


"Hamba pantas mati" kata ganbatar sambil bersujud menjura. di ikuti oleh ke sembilan prajurit lain nya. mereka bersujud dan menjura.


"kenapa kalian bisa gagal? bagaimana aku menjawab kepada pangeran gao tiong tek?!" seru pangeran harminto dengan marah.


"Ampun pangeran, sebenarnya kami nyaris berhasil menawan putra mahkota, tapi tak disangka mereka mendapat bantuan dari seorang kakek sakti beserta muridnya" ujar ganbatar. "bahkan empat anak buah berikut hamba terluka" sambung ganbatar.

__ADS_1


"heh"? alis harminto naik. "hanya bantuan dari seorang kakek kakek saja bisa membuat kalian terluka?" tanya pangeran harminto seolah tak percaya, karena dia tahu betul kekuatan para pengawalnya ini. di kerajaan boan sendiri, pendekar yang dapat mengimbangi formasi tempur pengawalnya tidak lebih dari jari tangan saja.


"siapakah beliau itu?" " segera kalian cari tahu, sebar mata mata" kata pangeran harminto.


" baik pangeran" seru ganbatar kemudian dia undur diri.


"pangeran..." ucap seseorang yang muncul dari balik pintu.


" penasihat.. kau sudah mendengar barusan?". ujar pangeran harminto.


Ternyata orang itu adalah koksu istana kerajaan boan yang bernama Ulagan.


"lohu sudah mendengar semuanya, menurut lohu sebaiknya pangeran menyebarkan mata mata untuk mengamati kekuatan para pendekar daratan tengah ini, sehingga kita dapat mengantisipasi perlawanan kaum bulim" kata koksu ulagan.


pangeran harminto mengangguk, menuruti nasehat koksu.


Markas pangeran harminto bukan lagi di perahu, tapi di dalam kotaraja. dia menyewa sebuah bangunan besar. dalam samarannya dibantu oleh pengaruh pangeran gao tiong tek, dia mendirikan perusahaan piauwkok (jasa pengiriman barang) bernama kim tiauw piauwkok. ( rajawali emas). sehingga dapat bebas keluar masuk kerajaan Qi untuk menyelundupkan para prajurit yang menyamar menjadi para piauwsu ataupun menyelundupkan senjata.


"Kita telah sampai di gerbang thian san pay". kata koai lojin kepada muridnya goan cang.


Terlihat beberapa murid perguruan yang menjaga gerbang, datang menghampiri koai lojin.


"salam loenghiong" jura seorang penjaga.


" salam, apakah ciangbujin ada? lohu hendak menemui nya".


" ciangbujin berada di tempat, silahkan lo enghiong" sambut penjaga perguruan.


kemudian diantar oleh komandan jaga, mereka menuju ke markas thian san pay.


koai lojin sudah sering berkunjung, karena nya para murid murid thian san pay mengenal nya.


Goan cang melihat lihat suasana di dalam lingkungan thian san pay, sungguh asri tempatmya. batu batu yang di susun rapi menuju puncak, pendopo pendopo tempat para murid murid beristirahat, ada juga kebun kebun untuk bercocok tanam, semua tampak bersih dan rapih.


beberapa murid berpapasan dengan nya, dengan sopan memberi salam. semua memakai seragam thian san pay. bergambar kan. gunung thian san dan gambar pedang dibawahnya. mereka selain memperdalam ilmu silat, mereka juga memperdalam ilmu keagamaan. sama seperti perguruan perguruan lainnya seperti butong pay, hoa san pay, kun lun pay dan lain nya. hanya thian san pay lebih memfokuskan kepada ilmu silatnya berbeda dengan perguruan lainnya yang lebih memfokuskan ke aliran agama nya, ilmu silat mengikuti.


mereka telah sampai di aula utama.


"silahkan tunggu lo enghiong, ciang bujin akan menyambut aebentar lagi" ujar komandan jaga, kemudian undur diri.


Goan cang melihat lihat keadaan dalam aula ini. tergantung lukisan lukisan pendiri dan para ciangbujin terdahulu di dinding.


"Selamat datang loenghiong" sambut seseroang yang datang dari balik pintu dalam aula.


seorang kakek yang berwajah putih bersih dan terlihat tatapan matanya begitu menyejukan. mumgkin sudah sepuh sekali berkisar umur 90 tahunan. tapi masih gagah, bahkan berjalannya pun tanpa meninggalkan suara dan jejak kaki. sungguh sudah sempurna tingkat tenaga dalam nya.


"salam hormat totiang" koai lojin sambil menjura.


"Rupanya tetangga datang mengunjungi, mari mari silahkan lo koai" kata ciang bujin thian san pay. Gak seng cin jin.


"bagaimana kabar sicu? apakah datang berkunjung untuk mengadu kepandaian catur lagi? bagaimana pertandinganmu dengan yoksian? dan ini siapa? tanya ciangbujin dengan akrab sambil melirik goan cang san tersenyum ramah.


"hahaha.. lain kali lohu berkunjung kembali menyelesaikan pertandingan catur dengan totiang" jawab koai lojin. dia lalu menceritakan pertandingan catur dengan yoksian dan memperkenalkan goan cang sebagai muridnya.


"terus terang, lohu kemari ada yang perlu lohu bicarakan dengan totiang" koai lojin membuka pembicaraan

__ADS_1


" ada apakah lo koai?" tanya ciabgbujin dengan serius.


koai lojin lalu menceritakan perjalanannyaulai dari awal bertemu para pendeta asing dan menguping pembicaraan, serta pertempuran dengan penjahat bertopeng yang lebih mirip dengan suatu pasukan terlatih menurutnya.


__ADS_2