
...Happy reading guys. 🤗...
Setelah mereka semua sampai di base camp, Jaka merasa heran dengan orang misterius yang mampu menculik dan membuat rencana yang begitu licik seperti ini.
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini semua? mengapa dia sangat ingin menyerang mental diriku? dan kenapa dia sangat cepat gerakannya hingga aku tidak dapat menyadari kehadirannya." ucap Jaka dengan menatap gunung.
"Sudahlah jangan terlalu kau paksakan untuk mengingat siapa yang menyerang kita semua, jangan sampai kita malah menuduh seseorang tanpa bukti." ucap Ki Ageng Reksa dengan bijaksananya.
"Aku tidak enak untuk memberitahu sekarang bahwa yang menyerang kami semua di sini adalah Jagaraga, biarlah dia yang mengetahuinya sendiri, aku tidak perlu untuk ikut campur dan aku percaya kalau Jaka mampu menghadapi ini semua sendirian tanpa campur tangan dariku." ucap Ki Ageng Reksa di dalam hatinya.
"Ahh sudah ka jangan khawatir, aku akan tinggalkan beberapa anak buahku di sini untuk berjaga jaga hingga 2 hari lamanya." ucap Komandan Markovic kepada Jaka yang masih terus menebak nebak siapa yang telah menyerang mereka semua.
"Marinir!!" panggil Komandan Markovic.
"Siap pak! Kami di sini." ucap 5 orang marinir yang langsung menghadap ke Komandan Markovic.
"Kalian tinggal di sini untuk 2 hari ke depan dan apabila terjadi sesuatu segeralah mengirim kabar kepadaku maka teman teman dan Kak Jaka akan langsung ada di samping kalian dalam sekejap mata." ucap Komandan Markovic yang memerintahkan kepada anak buahnya.
"Siap pak! Tugas di terima akan kami jalankan." ucap anak buah Komandan Markovic.
"Kak kita pulang yuk, badan aku rasanya lengket banget ini, udah lama gak mandi pakai sabun jadi begini." ucap Komandan Markovic.
"Yeh dasar orang kota, gak biasa mandi di hutan tanpa sabun sih wkwk makanya jangan kebanyakan main sabun." ucap Jaka dengan tertawa.
"Yasudah ayo kita pulang, eh tapi aku dan anak muridku bagaimana?" tanya Ki Ageng Reksa.
"Tenang saja aku akan menyediakan tempat tinggal sementara kalian di asrama militer di sana masih banyak rumah yang tidak di pakai jadi kalian bisa tempati saja sementara, sedangkan aku akan mencari sebuah gedung yang dijual untuk kita dirikan perguruan silat harimau sesuai janji kita bersama." ucap Komandan Markovic dengan santai.
__ADS_1
"Hmm bagaimana yah..." ucap Ki Ageng Reksa dengan memikirkan perkataan Komandan Markovic.
"Argh udah ayu pulang, aku udah ngantuk mau bobo ganteng dulu." ucap Jaka yang merangkul Ki Ageng Reksa dan yang lainnya.
"Tapi raja..." ucap Ki Ageng Reksa.
"Suttt jangan menolak dan panggil aku Jaka aja jangan pake raja yah, nanti diledekin sama anak buah Markovic di sana lagi wkwk, gimana yang lain setuju gak kalau kita kembali ke kota?" tanya Jaka dengan terus mengajak Ki Ageng Reksa menuju mobil.
"Setuju!!" ucap anak murid Ki Ageng Reksa dengan serempak.
"Nah anak murid Ki Ageng Reksa aja pada setuju, ayo udah jangan nolak lagi." ucap Komandan Markovic yang semula di samping Jaka langsung ikut merangkul Ki Ageng Reksa dan memaksanya masuk ke mobil.
Akhirnya semua anggota silat harimau ikut bersama untuk kembali ke kota dan mendirikan sebuah padepokan pencak silat. Sesampainya mereka semua di markas militer, Jaka langsung pergi untuk kembali ke padepokan silat harimau untuk mengajak Resa mengenal teman dari ayahnya, yaitu Ki Ageng Reksa sahabat baik dari Ki Jagabaya.
Saat sampai di depan padepokan silat harimau, Jaka hendak mengajak Resa untuk pergi bersamanya. Namun Resa menolaknya dengan mentah mentah.
"Tidak!!! Kau siapa?!" ucap Resa dengan frustasi.
"Aku ini Jaka. Jaka Lumayun anak angkat dari Ki Jagabaya, ayahmu." ucap Jaka dengan tidak mengetahui apa apa.
"Tidak! Kalau kau Ka Jaka maka dia tidak akan pernah belajar ilmu sesat! Ilmu setan!!" ucap Resa dengan marah.
"Kenapa kau menyebut aku beraliran ilmu sesat?" tanya Jaka dengan semakin tidak mengerti dengan keadaan ini.
"Yah! kau telah mempelajari ilmu rawa rontek, ilmu setan! Ilmu terlarang! Kau tahu bahwa aku tidak suka dengan ilmu ilmu yang berbau aliran ilmu hitam! Lantas kenapa kau belajar ilmu itu??!" ucap Resa yang terus terusan membuat Jaka semakin bingung.
"Kamu nih kenapa sih de! aku ini jelas jelas kakakmu, Ka Jaka. Kenapa kamu tega nuduh aku belajar ilmu hitam? itu ilmu dari guru besar, guru dari ayahmu yang memberikan langsung kepadaku." ucap Jaka yang berusaha membela diri.
__ADS_1
"Tidak mungkin ada gurunya ayahku kalau ayahku sendiri sudah mati Jaka!! Kau jangan berbohong kepadaku, aku sudah muak denganmu!" ucap Resa yang tidak mempercayai pembelaan dari Jaka.
"Sudahlah Jaka kau pergi dari sini!" ucap Ki Jagaraga yang mengusir Jaka.
Resa sudah sangat tidak kuat lagi untuk menemui Jaka, ia langsung lari masuk ke dalam kamarnya.
"Baik aku akan pergi dari sini, tapi aku mau membereskan barang barangku dari sini dulu." ucap Jaka yang mau masuk ke dalam padepokan.
"Tidak perlu, aku telah membereskannya untukmu pergi dari sini." ucap wakil master ketua padepokan.
"Jadi kau tunggu apa lagi? pergi sana dari sini, kau sudah dibuang oleh Resa adikmu sendiri, dasar manusia pecundang hahaha." ucap Ki Jagaraga yang merangkul wakilnya dan masuk kembali ke dalam padepokan.
"Aku percaya kalau Resa tidak akan mudah marah seperti itu kepadaku kalau tidak ada yang menghasutnya dengan kabar kabar yang buruk tentang aku ini. Nampaknya aku tau siapa yang bertanggung jawab atas kebencian Resa kepadaku, yaitu Ki Jagaraga karena hanya tidak yang mempunyai pengaruh besar dalam pemikiran Resa saat ini." ucap Jaka di dalam hatinya sembari mengambil kembali barang barangnya yang dibuang begitu saja di hadapannya dan memandangi kamar Resa dari depan padepokan.
"Aku akan pergi untuk sesaat saja Resa! Aku akan kembali membawamu dan hidup tenang bersamaku!! Itu janjiku." ucap Jaka dengan berteriak.
"Berisik banget, pergi sana kamu dari sini." ucap Resa yang sudah menimpuk Jaka dengan bola tenis miliknya yang tepat mengenai kepala Jaka.
"Terima kasih kenang kenangannya ini yah, aku bawa bola ini dan aku kembalikan saat aku bisa menjemputmu kembali kepadaku Resa." ucap Jaka sembari mencium bola tenis yang dilempar oleh Resa.
"Terserah kamu!! Aku tidak perduli." ucap Resa yang langsung menutup kembali jendelanya.
"Aku akan terus berusaha mengeluarkan kamu dari tipu muslihat Ki Jagaraga, walau aku harus kehilangan seluruh kekuatanku untuk melawannya demi aku bisa hidup bersamamu aku akan melakukannya." ucap Jaka sembari berjalan dan menatapi bola tenis yang tadi dilempar Resa.
......Bersambung.......
Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke teman-teman kalian agar mereka bisa merasakan keseruan, ketegangan dan misteri dari kisah ini, terima kasih.
__ADS_1