Pendekar Silat Harimau

Pendekar Silat Harimau
Chapter 40


__ADS_3

...Happy reading guys.🤗...


Jaka pergi ke hutan bambu untuk mengambil beberapa pohon bambu yang besar besar untuk dia pasang pondasi penopang saat jasad kepala pelatih di uap secara langsung.


Jaka memilih bambu bambu tua yang sudah besar dan kuat untuk menopang tubuh seseorang, ia memilihnya dengan cara mengetuk-ngetuk semua pohon bambu yang menurutnya sudah masuk kriteria besar dan tinggi pohonnya. Setelah ia menemukan pohon yang dicari, Jaka langsung menebangnya dan suara jatuhnya pohon itu sangat keras hingga dapat terdengar sampai ke markas, membuat semua penjaga semakin waspada karena mengiranya sebagai bom dari musuh.


"Kita harus perketat penjagaan. Jangan biarkan siapa pun masuk ke tempat ini sebelum kondisi jenderal pulih!!" ucap Letnan Suryadi dengan lantang.


"Siap letnan." ucap anak buahnya yang langsung bergerak menuju gerbang utama untuk memperketat penjagaan.


Kini seluruh markas pendidikan sniper negara sudah di tutup secara total dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke tempat itu tanpa tujuan yang darurat sekali. Seluruh sniper yang ada sudah berpencar ke berbagai penjuru markas pendidikan dan langsung memantau situasi di luar markas dan di dalam markas demi menjaga keselamatan kepala pelatih sniper.


"Sebenarnya sih aku kuat bawa pohon segede ini, cuman aku gak mau membuat semua orang curiga kepadaku, jadi aku harus berbuat apa yah....." ucap Jaka yang memikirkan cara untuk membawa pohon bambu yang sangat besar dengan diameter lingkaran 0,5 meter.


"Oke lah kayaknya aku harus potong bambu ini menjadi 3 bagian, satu untuk tempat mengikat kepala pelatih dan duanya menjadi tiang penyangga." ucap Jaka yang dengan cepat langsung memotong pohon bambu yang sudah ia tebang.


Setelah berhasil terpotong menjadi 3, Jaka membawa 2 potongan terlebih dahulu dengan cara menariknya dengan tali yang mengikat di pinggang. Ia berlari sekuat tenaga hingga berhasil sampai ke lapangan markas pendidikan sniper negara.


"Huft cape sekali." ucap Jaka yang langsung jatuh duduk.


"Heh kamu ke mana saja? aku mencarimu dari tadi." ucap Letnan Suryadi.


"Aku abis ngambil pohon bambu itu lah, tadi juga suaranya gede banget saat pohon ini jatuh." ucap Jaka.

__ADS_1


"Heh kamu tak takut dengan penghuni pohon ini?" tanya Letnan Suryadi.


"Argh masa bodo dengan penghuni pohon bambu yang udah aku tebang ini, mau dia marah kek, jungkir balik kek, kayang kek, salto kek, seterah yang penting aku menyelamat kepala pelatih terlebih dahulu." ucap Jaka dengan sombong dan menarik nafas panjang agar dirinya tidak penyap.


"Baik lah, apakah masih ada yang tertinggal di sana?" tanya Letnan Suryadi.


"Ada masih 1 lagi bagian lagi yang belom aku ambil." ucap Jaka yang mengelap keringatnya.


"Yasudah nanti biar anak buahku yang mengambilnya dan kamu di sini untuk mempersiapkan segalanya untuk menyelamatkan hidup dari kepala pelatih." ucap Letnan Suryadi.


Letnan Suryadi lantas memerintahkan 2 anak buahnya untuk mengambil satu bagian pohon bambu yang di tinggal oleh Jaka di dalam hutan.


Jaka langsung kembali bekerja untuk menggali tanah dengan kedalaman sekitar seperempat meter ke bawah tanah agar bisa menancapkan batang bambu yang begitu besar untuk menjadi pondasi.


"Aku akan membantumu, kita akan membuat berapa panjang jarak antara kedua pondasi yang akan kamu buat?" tanya Letnan Suryadi.


"Baiklah aku akan menggalinya dengan segenap tenaga untuk segera membuat lobang yang kamu inginkan." ucap Letnan Suryadi dengan langsung mengeluarkan pisau belatinya untuk menggali tanah.


Sekitar 30 menit mereka berdua menggali, kini lubang tersebut telah siap dan bertepatan juga dengan 2 anak buah yang di suruh oleh Letnan Suryadi untuk mengambil sisa bagian dari pohon bambu yang sudah di tebang Jaka.


"Hey kalian berdua bantu aku menancapkan batang bambu ini ke dalam lobang yang sudah aku buat." ucap Jaka yang memanggil kedua anak buah Letnan Suryadi.


Mendengar panggil itu, mereka berdua langsung berlari menghampiri mereka berdua dan langsung mendirikan batang bambu yang kurang lebih panjangnya 2 meter untuk menjadi pondasi yang dibuat oleh Jaka.

__ADS_1


"Tahan, aku akan memadatkan tanahnya dan aku akan membuat sedikit lobang kepada bambu ini untuk aku sanggah dengan kayu yang ada agar lebih kokoh lagi." ucap Jaka yang langsung berlari mengambil 6 batang kayu dan langsung membuat lobang sedikit agar 3 kayu dapat menyanggah satu pondasi.


Begitupun dengan pondasi kedua yang dilakukan sama oleh Jaka. Sesudah jadinya kedua pondasi itu, Jaka langsung mencari cari kain panjang untuk menggulung tubuh kepala pelatih untuk menyatu dengan satu batang bambu yang tersisa.


"Hey kau sedang mencari apa lagi?" tanya Letnan Suryadi.


"Aku sedang mencari kain panjang, apakah di sini ada pak?" tanya Jaka.


"Untuk kain panjang kami tidak punya, namun melihat kondisi kepala pelatih yang semakin memburuk membuat kita tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari kain panjang." ucap Letnan Suryadi dengan panik.


Jaka terdiam sesat untuk memikirkan cara alternatif kalau tidak ada kain yang tersedia di markas ini.


"Kalau begitu aku butuh 20 kemeja tentara kalian, segera lepaskan untuk menjadi kain pengikat tubuh kepala pelatih dengan batang pohon bambu ini cepat!!" ucap Jaka yang langsung membuka kemeja taruna miliknya.


Dalam kondisi seperti ini, semua penjaga yang ada di sekitar Jaka langsung membuka kemejanya semua dan langsung mengikatkan tubuh kepala pelatih dengan batang bambu yang besar. Dengan Jarak yang tidak terlalu jauh agar lebih menguatkan ikatan kemeja satu dengan yang lainnya.


Setelah tubuh kepala pelatih berhasil di ikat ke batang bambu dengan kemeja anak buahnya, lantas Jaka langsung memerintahkan seluruh orang yang ada di sana untuk membantu dirinya dan Letnan Suryadi mengangkat bambu itu agar batang kayu itu dapat tersangkut di atas kedua pondasi yang sudah mereka berdua buat tadi.


Dengan kerja sama yang kompak dan Jaka sudah membuat tempat untuk batang bambu itu masuk dengan pondasi di bagian atas membuahkan hasil dengan berhasilnya tubuh kepala pelatih yang di gantung di atas panci dan tumpukan kayu bakar yang akan mereka nyalakan untuk metode penyembuhan tahap 2. Posisi tubuh kepala pelatih tidak menghadap langsung ke panci namun membelakangi panci agar tidak mengalami apa apa.


Sebelum mereka mengangkat tubuh kepala pelatih Jaka sudah mencabut semua jarum akupuntur yang tadi ia tancapkan ke beberapa titik tubuh kepala pelatih untuk menjadi jalan keluar racun.


"Sekarang bakar kayunya dan buat air ini mendidih, jangan angkat terlebih dahulu tubuh kepala pelatih sebelum kayu bakar ini habis sendiri." ucap Jaka yang memerintahkan anak buahnya menyiram bensin dan langsung menyulutnya dengan api.

__ADS_1


......Bersambung.......


Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.


__ADS_2