Pendekar Silat Harimau

Pendekar Silat Harimau
Chapter 43


__ADS_3

...Happy reading guys.🤗...


Setelah rombongan Komandan Markovic datang, mereka langsung di sambut oleh Jaka yang langsung mengantarkan mereka bertemu dokter untuk meminta mengambil darah dari seluruh teman teman Jaka yang ada.


Setelah mereka selesai mendonorkan darah ada sebagian besar dari mereka yang memiliki golongan darah O+ sekitar 65% dari mereka memiliki golongan darah itu.


"Baiklah terima kasih kepada kalian semua yang sudah mau mendonorkan darah ke rumah sakit ini, dengan adanya banyak dari kalian yang memiliki darah bergolongan O+ membuat kami bisa menyediakan lebih banyak kantung persediaan darah untuk Jenderal Damar. Sekali lagi kami mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada kalian semua yang sudah mau mendonorkan darahnya untuk kepentingan rumah sakit ini." ucap dokter itu dengan menundukkan kepalanya.


"Ehh jangan berterima kasih kepada kami, kami hanya melakukan donor darah yang kebetulan banyak dari kami yang golongan darahnya O+ jadi bisa membantu orang nomor satu di markas militer di dekat sini." ucap Ki Ageng Reksa sembari mengangkat kepala dokter itu yang sedari tadi menunduk.


"Sekarang mending kamu siapkan darah itu untuk keperluan transfusi darah kepada Jenderal Damar sekarang." ucap Komandan Markovic yang memerintahkan dokter tersebut menyusul dokter lain yang sedang merawat Jenderal Damar.


"Siap pak." ucap dokter itu yang langsung lari masuk ke ruangan bank darah dan keluar dengan membawa 4 kantung darah yang masing masing berisi 1 liter darah.


Lama mereka menunggu perkembangan dari Jenderal Damar dari ruang tunggu pasien. Rumah sakit Budi Asih kini dipenuhi dengan para penjaga dan sudah di awasi oleh para sniper dari segala penjuru yang tidak dapat di deteksi oleh siapa pun selain diri mereka sendiri dan tuhan mereka.


Sekitar 1 jam salah seorang dokter keluar untuk memberitahu perkembangan dari Jenderal Damar.


"Di sini ada keluarganya Bapak Damar?" tanya dokter itu.


"Saya pak dan ini anaknya." ucap istri Pak Damar yang langsung berdiri serta menarik tangan anaknya.


"Pada awalnya kami merasa sudah putus asa karena tubuh Jenderal Damar tidak memiliki detak jantung lagi, namun ketika kami memancing detak jantung itu dengan alat kejut alangkah bahagianya kami karena sekali percobaan Jenderal Damar berhasil kami selamatkan dan kini beliau sedang tidak dapat di jenguk karena harus istirahat total di rumah sakit ini." ucap dokter itu dengan gembira.

__ADS_1


Setelah memberitahu berita itu sang dokter dan yang lainnya meninggalkan ruangan Jenderal Damar, mereka hanya bisa melihatnya dari balik pintu dengan menangis haru. Tanpa di sangka istri dari kepala pelatih Jaka langsung bersujud di hadapannya.


Sontak Jaka langsung menghentikan hal itu, karena menurutnya tidak pantas seorang istri dan sekaligus ibu meminta terima kasih dengan cara seperti ini.


"Aduh bu bangun, jangan lakukan hal ini kepada saya, seharusnya saya yang meminta doa restu kepada ibu, bukan ibu yang melakukan hal seperti ini." ucap Jaka yang memegang bahu istri Pak Damar.


Tidak hanya istrinya yang berterima kasih kepada Jaka, anak dari Pak Damar juga melakukan hal yang sama namun Jaka memahami apa yang dilakukan oleh anak dari kepala pelatihnya.


"Anak ini sungguh sangat pintar sandiwara, namun aku tidak sebodoh yang kau kira, aku bisa melihat niat licikmu dari kejadian ini semua, lihat saja aku pasti akan membongkar semua itu." ucap Jaka di dalam hatinya sembari memeluk anak dari Jenderal Damar.


Setelah Jenderal Damar selamat dari maut akhirnya Jaka memutuskan untuk kembali ke asramanya dan tidur bersama teman teman seangkatannya. Namun saat mau meninggalkan rumah sakit, Jaka di hadang oleh Letnan Suryadi yang ingin menanyakan sesuatu.


"Jaka ke sini dulu." ucap Letnan Suryadi yang langsung berjalan menuju lorong yang kosong.


"Siap ada apa pak?" tanya Jaka dengan sopan.


"Terima kasih pak, sebenarnya ada apa yah pak, bapak memanggil saya ke sini?" tanya Jaka.


"Sebenarnya ada yang aku mau beritahu tentang siapa itu Jenderal Damar hingga masyarakat sekitar sini sangat menghormati beliau. Apa kau tertarik untuk mendengarnya?" tanya Letnan Suryadi.


Mendapat kesempatan seperti ini, Jaka tanpa pikir panjang langsung mengiyakan perkataan Letnan Suryadi demi mengetahui masa lalu dari Jenderal Damar.


"Jadi begini, waktu dahulu ini adalah daerah yang menjadi daerah pertempuran dan dibawah kepemimpinan Jenderal Damar yang mengatur strategi untuk mengambil daerah ini dari tangan lawan dengan menggunakan taktik yang jitu." ucap Letnan Suryadi dengan sedikit menggantung cerita.

__ADS_1


"Apa taktik yang di gunakan pak?" tanya Jaka yang semakin penasaran.


"Pak Damar waktu dulu dia menggunakan taktik dengan mengirim anak buahnya menjadi mata mata dan menghasut penduduk di sini untuk memihak ke pemerintah dan dia memerintahkan semuanya yang berpihak ke pemerintah di perintahkan untuk pindah dari daerah ini demi melemahkan musuh." ucap Letnan Suryadi.


"Bagaiman dengan taktik itu? apakah berhasil?" tanya Jaka.


"Semua butuh proses dan itu membutuhkan waktu selama 1 bulan untuk menghasut semua penduduk untuk pindah dari daerah ini, selama taktik ini berlangsung perang menjadi sedikit dingin tanpa sering terjadinya kontak senjata atau suara bom yang ada di mana mana." ucap Letnan Suryadi.


"Lantas kenapa bapak sangat perduli dengan kepala pelatih?" tanya Jaka.


"Iya aku sudah berhutang nyawa kepadanya, karena waktu dahulu aku tertembak di bagian bahu dan hanya Jenderal Damar yang berani menjemput aku dan menarik aku memasuki wilayah pemerintah, aku hanya bisa melindunginya sembari di seret seret oleh beliau dan sampai akhirnya kami berhasil masuk ke wilayah kami dan semua yang mengikuti di bantai hingga tak bersisa." ucap Letnan Suryadi.


"Hmm seperti itu yah pak, ehh yah sekarang udah malem nih pak, aku mau pulang dulu yah sekalian nebeng my sohib aku si Komandan Markovic." ucap Jaka yang bergegas menuju luar rumah sakit yang sudah di tunggu oleh adiknya.


Pada saat Jaka baru duduk di dalam mobil, ia langsung di introgasi lagi oleh Komandan Markovic perihal Jaka yang sangat lama mengobrol dengan Letnan Suryadi.


"Kenapa kamu sangat lama?" tanya Komandan Markovic dengan sedikit kesel.


"Aku di kasih tau sejarah dari Jenderal Damar atau yang aku panggil sebagai kepala pelatih dari pendidikan aku." ucap Jaka.


"Owh jadi sekarang kamu sudah tau siapa itu Jenderal Damar? iya kan?" tanya Komandan Markovic untuk lebih memastikan.


"Yap aku sekarang sudah tahu siapa jati diri dari kepala pelatihku, dia orang yang sangat baik dan rela mempertaruhkan nyawanya demi teman dia yang kena tertembak di bagian punggung, yaitu Letnan Suryadi sekarang." ucap Jaka yang mulai menjelaskan apa saja yang mereka bicarakan bersama Letnan Suryadi.

__ADS_1


......Bersambung.......


Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.


__ADS_2