Pendekar Silat Harimau

Pendekar Silat Harimau
Chapter 41


__ADS_3

...Happy reading guys.🤗...


Setelah kayu semua terbakar kini api mulai membuat air yang ada di dalam panci itu mulai mendidih. Uap air panas yang keluar langsung menuju ke tubuh kepala pelatih hingga membuat tubuh itu mengeluarkan banyak keringat dan darah yang menetes ke dalam panci dan sekitar api unggun itu.


"Apa yang terjadi dengan kepala pelatih?!" ucap Letnan Suryadi.


"Tenang saja, racun ini sangat berbahaya dan sudah bercampur dengan darah, darah yang keluar dari tubuh kepala pelatih adalah darah kotor yang sudah sangat tercampur oleh racun. Sangat susah untuk memisahkan racun yang sudah bercampur dengan sebagian darah yang mengalir di dalam tubuh kepala pelatih selain dengan cara ini." ucap Jaka yang menjelaskan metode penyembuhan darinya.


"Lantas kalau begitu kepala pelatih akan kehilangan banyak darah?" tanya Letnan Suryadi.


"Benar, baru aku mau memberi perintah untuk menyiapkan ambulance dan telfon rumah sakit terdekat untuk menyiapkan golongan darah yang sama dengan kepala pelatih, kita akan membutuhkan darah yang cukup banyak untuk menggantikan darah yang keluar saat proses ini berlangsung." ucap Jaka yang menatap Letnan Suryadi.


"Aku mengerti." ucap Letnan Suryadi yang langsung berlari menuju ruang information.


Saat Letnan Suryadi mau masuk ke ruangan itu, ia tidak lupa untuk memberitahu kepada penjaga untuk mempersiapkan ambulance yang ada di parkiran belakang dan segera membawanya ke lapangan.


"Kalian berdua segera siapkan mobil ambulance dan langsung bawa ke lapangan, apabila saat aku belum kembali dan taruna 203 memerintahkan kalian untuk membawa ke rumah sakit terdekat maka bawa saja, karena sekarang dia yang memegang kendali atas kesembuhan jenderal." ucap Letnan Suryadi yang langsung bergegas masuk ke dalam.


"Siap letnan!" ucap kedua prajurit itu yang langsung lari ke tempat parkiran mobil untuk langsung di bawa ke dekat penguapan kepala pelatih yang ada di lapangan.


Saat Letnan Suryadi ingin menelfon pihak rumah sakit untuk segera mempersiapkan golongan O+ dengan jumlah yang banyak, waktu menunjukkan pukul 18.00 yang menandakan semua orang yang ada di rumah sakit sedang beristirahat.


"Sial! Kenapa harus jam segini! Aku harus mengambil mobil jip dan langsung memasang sirine agar diberikan jalan untuk aku ke rumah sakit." ucap Letnan Suryadi yang langsung berlari ke tempat parkir dan mengambil kunci salah satu mobil jip yang ada di sana.


"Yah... Aku harus membawa mobil ini dengan sangat cepat agar tepat waktu." ucap Letnan Suryadi.

__ADS_1


Saat ia keluar dari parkiran, Letnan Suryadi berpapasan dengan ambulance yang mau menuju lapangan, namun Letnan Suryadi malah justru mendahului mobil ambulance itu keluar dari tempat parkir karena dia sedang terburu-buru.


"Letnan Suryadi mau ke mana dia? kenapa harus pakai sirine untuk keluar?" tanya prajurit itu yang sedang mengendarai ambulance.


"Aku tidak tahu, mungkin Letnan Suryadi sendiri yang ingin memberitahu kepada pihak rumah sakit untuk mempersiapkan segalanya." ucap teman prajurit itu yang duduk di sebelahnya.


Dari jauh Letnan Suryadi sudah mengklakson para penjaga untuk membukakan gerbang untuk dirinya keluar. Para penjaga yang melihat Letnan Suryadi yang membawa mobil jip serta membawa sirine dan sering menyalakan lampu tembak dari mobil tersebut langsung dibukakan pintu untuk keluar.


"Terima kasih!" ucap Letnan Suryadi yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi.


"Hey pak hati hati membawa mobil!" ucap Kopral Jonathan.


"Tenang saja!" ucap Letnan Suryadi dengan suara yang kecil karena dia sudah menjauh dari markas itu.


Saat Letnan Suryadi berada di depan rumah sakit, tidak ada satu pun petugas yang dengan sigap langsung mendatangi mobil Letnan Suryadi. Padahal Letnan Suryadi sudah memasang sirine tanda darurat.


Melihat kedatangan seorang tentara yang berpangkat Letnan membuat satpam di situ langsung menanyakan niat dan tujuan dari Letnan Suryadi datang ke sana.


"Selamat malam pak, ada apa bapak ke sini?" ucap satpam yang bernama Deden.


"Selamat malam, kalian ke mana saja?! kenapa setelah saya keluar dengan pakaian tentara kalian baru menghampiri saya?!" ucap Letnan Suryadi dengan nada tinggi.


"Mohon maaf pak kami semua sedang istirahat dan tidak tahu bahwa ada bunyi sirine di depan rumah sakit." ucap satpam itu.


"Kuping kalian ke mana?! Budek kali yah gak bisa denger suara sirine sekenceng ini?! Dah saya mau ke ruang resepsionis untuk berbicara sesuatu." ucap Letnan Suryadi yang hendak masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


"Mohon maaf pak, karena bapak memasuki rumah sakit ini dengan cara yang tidak sopan saya tidak bisa membiarkan bapak untuk masuk ke sini." ucap satpam itu yang menghadang jalan Letnan Suryadi.


"Atas nama markas tentara spesialis sniper, minggir anda dari jalan saya!" ucap Letnan Suryadi dengan nada keras.


"Mohon maaf pak sekali lagi karena bapak masuk ke sini dengan marah marah saya tidak bisa membiarkan bapak masuk." ucap satpam itu yang menghalang halangi jalan Letnan Suryadi.


Karena kesal jalannya selalu di halang halangi oleh satpam itu membuat Letnan Suryadi harus memukul muka satpam Deden hingga pingsan agar dirinya dapat masuk ke dalam rumah sakit.


Saat sudah sampai di dalam ia berteriak memanggil para dokter dan suster yang berada di rumah sakit itu. Mendengar suara yang sangat kencang membuat para suster dan dokter langsung berkumpul ke tempat sumber suara itu berasal.


"Selamat malam pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang dokter.


"Selamat malam, saya Letnan Suryadi ingin memberikan perintah kepada kalian semua tenaga medis untuk segera siapkan golongan darah O+ untuk transfusi darah ke Jenderal Damar yang akan ke sini untuk meminta bantuan transfusi darah." ucap Letnan Suryadi dengan terburu buru.


"Sebenarnya ada apa dengan Jendral Damar pak?" tanya dokter itu.


"Dia terkena racun yang sangat berbahaya dan kini sedang di rawat oleh salah seorang taruna dengan menggunakan metode tradisional dan kalian bisa membantu kami dengan cara menyiapkan darah untuk penyembuhan tahap terakhir yang kini lagi di laksanakan." ucap Letnan Suryadi.


"Memangnya butuh berapa banyak kantong darah pak?" tanya dokter itu.


"Kami membutuhkan banyak sekali kantong darah karena tubuh Jenderal Damar hampir 50% darah yang ada di dalam tubuhnya sudah terkandung racun." ucap Letnan Suryadi dengan berusaha menenangkan dirinya.


"Baiklah pak, kami akan segera menyiapkan 5 kantong darah yang masing masing kantong itu berisi 1 liter darah golongan O+." ucap dokter itu yang langsung membubarkan kerumunan dan langsung menyiapkan semua persiapan karena tahap ini lah yang menentukan berhasil tidaknya Jenderal Damar kembali hidup.


...... Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.


__ADS_2