
...Happy reading guys.🤗...
Setelah Jaka dan para petinggi militer berada di ruang introgas, Jaka langsung menekan pemimpin pemberontak itu untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Heh kau jujur sama saya yah! Jujur!" ucap Jaka sembari memegang pipi pemimpin pemberontakan dengan geram.
"Sudah berapa kali saya katakan bahwa saya akan jujur denganmu. Ingat hanya denganmu." ucap ketua pemberontakan sembari melirik kepada petinggi militer.
"Yasudah cepat beritahu!" ucap Jaka dengan tidak sabar.
"Kayaknya kami harus keluar dulu, nanti kamu beritahu saja apa informasi yang di dapat dari dia." ucap Jenderal Damar yang meninggalkan ruang introgasi beserta petinggi yang lain.
"Sekarang kita sudah berdua, cepat katakan siapa yang menyuruhmu?!" ucap Jaka yang sudah mengepalkan tangannya.
"Pertama-tama aku ingin jaminan keselamatan aku setelah aku beritahu informasi kepadamu." ucap ketua pemberontakan itu yang mengajukan syarat.
"Tenang saja, semua orang yang bekerja sama dengan kami akan kami berikan jaminan perlindungan kepada dirinya dan keluarganya." ucap Jaka yang menyetujui persyaratan dari ketua pemberontak itu.
"Kau yakin?" tanya ketua pemberontak itu.
"Iya lah, bagaimana bisa aku berbohong." ucap Jaka yang duduk di depan ketua pemberontak itu.
"Kau lupa dengan ketua pemberontak yang bernama Ramzan?" tanya ketua itu sembari memejamkan matanya.
"Ya aku masih ingat dengannya, dia yang pertama kali menyerang padepokan silat harimau milik Ki Jagaraga." ucap Jaka dengan mengingat kejadian yang lalu.
"Baguslah kalau kau ingat, apa kau tidak menyadari bahwa tidak ada yang tewas dari pihak Jagaraga?" tanya ketua pemberontak itu.
"Ya kau benar tidak ada yang tewas dari pihak Jagaraga." jawab Jaka yang mulai bingung.
__ADS_1
"Lalu apa reaksi Jagaraga setelah kau berhasil menangkap Ramzan?" tanya kembali ketua pemberontak itu.
"Ia langsung membunuhnya." jawab Jaka yang mulai penasaran.
"Kau tidak merasa curiga dengan apa motif Jagaraga membunuh Ramzan?" tanya ketua pemberontak itu.
"Karena ia sudah geram dengan kelakukan Ramzan di padepokan itu yang menyebabkan Jagaraga mengalami kerugian yang sangat banyak." ucap Jaka dengan ragu ragu.
"Kau salah Jaka, Ramzan adalah adikku dan dia adalah kaki tangan Jagaraga waktu dahulu kala." ucap ketua pemberontak itu.
"Apa maksudmu?!" tanya Jaka.
"Ya pada saat padepokanmu dulu di serang oleh pembunuh bayaran itu adalah kelompok adikku yang diajak oleh Jagaraga untuk menyerang padepokanmu saat kau tidak ada di sana, karena Jagaraga tau kalau kau adalah murid yang sudah di ramalkan akan bisa membunuh Jagaraga." ucap ketua pemberontak itu dengan penuh percaya diri.
"Kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Jaka.
"Ya, karena Jagaraga juga mengajak aku dalam penyerangan itu namun aku lebih suka berperang secara langsung dengan mengandalkan kekuatan dan taktik, bukan mengandalkan kelicikan. Oleh karena itu yang ikut hanya adikku Ramzan." ucap ketua pemberontak itu yang mulai berkaca kaca.
"Dia juga yang memberitahu aku bahwa kau telah membunuh Ramzan dan dia juga yang memberitahu bahwa kau ada di tempat ini, apa kau juga tidak menggunakan akal sehatmu tentang bagaimana aku bisa tahu bahwa kau ada di tempat ini?" tanya ketua pemberontak itu.
"Kau benar juga, tidak ada yang mengetahui aku ada di sini selain orang orang terdekatku, lalu apa kau mau mengetahui kejadian yang sebenarnya saat adikmu Ramzan terbunuh?" tanya Jaka.
"Kalau kau bisa menunjukkan itu kepadaku, lakukanlah karena aku ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya tanpa ada tipu muslihat dari Jagaraga, karena aku sudah muak dengan kelakuan Jagaraga yang selalu mengambil untung dari segala situasi yang terjadi di sekitarnya." ucap ketua pemberontak itu yang mulai kesal dengan Jagaraga.
"Baiklah, kemarikan tanganmu agar aku dapat membawa dirimu masuk menuju alam bawah sadarmu dan dapat melihat kejadian yang sebenarnya terjadi saat penyerangan itu." ucap Jaka yang memulai ritual.
Ketua pemberontak itu hanya dapat menuruti apa kemauan dari Jaka agar dirinya dapat melihat kejadian yang sebenernya terjadi pada saat penyerangan yang dilakukan oleh Ramzan di padepokan silat harimau milik Jagaraga.
Dalam alam bawah sadar ketua pemberontak, ia di perlihatkan secara rinci dan jelas kejadian yang terjadi saat penyerangan padepokan dan ia juga melihat saat Jaka berhasil menangkap adiknya secara hidup hidup namun Jagaraga dengan semena mena langsung membunuh adiknya dengan cara yang keji, yaitu dengan menarik tulang tenggorokan Ramzan.
__ADS_1
"Kurang ajar, ternyata Jagaraga yang membunuh adikku dan bukan Jaka, benar benar orang yang licik! Mulai hari ini dan detik ini aku bersumpah akan tetap hidup untuk melihat dirimu menemui ajalmu sesuai dengan ramalan itu. Yang di mana kau akan mati di tangan Jaka dan aku akan membawa darahmu untuk aku siram ke tempat pemakaman adikku Jagaraga!" gumam ketua pemberontak itu sembari melihat kejadian adiknya yang tewas dengan cara mengenaskan.
Sekitar 15 menit mereka berdiam diri, Jenderal Damar memasuki ruang introgasi karena takut terjadi sesuatu karena ia tidak lagi mendengar suara siapa pun di dalam sana.
"Hey kalian sedang apa?!" tanya Jenderal Damar dengan panik.
"Tenang saja pak, ini adalah salah satu kemampuan dari Ka Jaka yang mampu memperlihatkan kejadian yang sudah terjadi di masa lalu kepada orang yang ingin mengetahuinya." ucap Komandan Markovic yang menenangkan Jenderal Damar.
"Benar seperti itu?" tanya Jenderal Damar yang memastikan itu.
"Ya Jenderal, Ka Jaka adalah manusia yang istimewa bagiku." ucap Komandan Markovic.
"Lantas kita harus berbuat apa?" tanya Jenderal Damar.
"Tunggu saja, sebentar lagi juga akan selesai. Karena Ka Jaka hanya bisa memperlihatkan kejadian di masa lalu selama 30 menit saja karena itu kemampuan yang baru dia miliki saat ini dan sejalan dengan waktu kemampuan itu akan semakin lama semakin lama untuk memperlihatkan kejadian yang telah terjadi di masa lalu. Jadi kita tunggu saja pak." ucap Komandan Markovic yang duduk di belakang Jaka.
"Terserah apa katamu saja Komandan Markovic." ucap Jenderal Damar yang masih tidak bisa menerima berita itu dengan akal sehatnya.
Akhirnya Jenderal Damar dan Komandan Markovic duduk di belakang Jaka untuk menunggu ritual itu selesai di laksanakan. Kini 30 menit telah terjadi dan sudah saatnya untuk mereka berdua membuka matanya.
"Terima kasih Jaka, kau telah memberitahu kebenaran yang terjadi menimpa kepada adikku. Kini aku akan berjanji dengan menyebut nama negara ini dan disaksikan oleh Jenderal Damar beserta Komandan Markovic aku bersumpah akan membantu membongkar kebusukan Jagaraga yang selama ini menjadi penunggang gelap di dalam negara ini dan aku tidak akan pernah mati sebelum aku bisa melihat Jagaraga mati di tangan Jaka Lumayun murid dari Ki Jagabaya yang terhormat." ucap ketua pemberontak itu yang langsung bersujud di kaki Jaka.
"Tidak perlu seperti itu, aku berterima kasih dengan sumpahmu itu, kini kau sebarkan beberapa anak buahmu disekitar padepokan karena aku harus masih pendidikan di sini." ucap Jaka.
"Tidak, kau besok akan langsung lulus dari pendidikan ini dengan pangkat Letnan Kolonel beserta 2 temanmu yang ikut bersamamu." ucap Jenderal Damar yang langsung nyeletuk.
"Terima kasih pak." ucap Jaka yang terharu.
"Tidak masalah, ini hadiah untuk kamu dan teman temanmu karena sudah membela negara ini dari ancaman ancaman yang dihadapi oleh negara ini." ucap Jenderal Damar sembari menepuk pundak Jaka.
__ADS_1
......Bersambung.......
Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke teman teman kalian, terima kasih.