
...Happy reading guys.🤗...
Akhirnya Jaka kembali ke asramanya diantarkan oleh Komandan Markovic hingga depan markas saja, karena setiap markas memiliki rahasianya sendiri.
"Terima kasih pak tumpangannya." ucap Jaka kepada Komandan Markovic di depan para penjaga yang berjaga di pintu gerbang utama.
"Sama sama, aku tunggu kamu sudah menjadi anggota militer yang hebat yah." ucap Komandan Markovic sembari mengedipkan matanya.
"Siap pak, saya gak akan mengecewakan bapak." ucap Jaka yang langsung disuruh masuk ke dalam asramanya oleh para penjaga.
Di dalam asrama iya langsung dikerubungi oleh teman temannya untuk di tanyakan bagaimana keadaan kepala pelatih, sebab hanya Jaka yang diperbolehkan untuk ikut ke mana mana bersama kepala pelatih.
"Weh boy, bagaimana keadaan kepala pelatih?" tanya orang yang bertubuh kekar.
"Keadaan kepala pelatih sudah membaik dan semua racun yang ada di dalam tubuhnya sudah keluar." ucap Jaka sembari melihat ke sekelilingnya.
"Wah bagus dong, terima kasih ya boy lu udah selametin kepala pelatih, ya gak gaes?" tanya orang kekar itu.
"Hahaha iya sama sama, lagi pula kan kita menyayangi kepala pelatih bersama, namun aku masih tidak percaya dengan pelaku yang tega meracuni kepala pelatih." ucap Jaka dengan menundukkan kepalanya.
"Maksud lu apa boy?! Cepat kasih tau ke kita semua siapa yang udah berani ngeracunin kepala pelatih?" ucap pria kekar itu yang memaksa Jaka untuk memberitahu.
Jaka tidak dapat memberitahukan kepada mereka semua karena takut terjadi hal hal yang tidak diduga olehnya.
"Ayo dong boy kasih tau kita kita, biar kita bisa balas dendam, tega bener dia berani ngeracunin pahlawan negara ini yang sampai sekarang masih hidup." ucap pria kekar itu yang semakin terlihat jelas urat di seluruh badannya.
"Tapi aku mohon kalian jangan langsung bertindak sebelum kita punya banyak barang bukti yang sangat kuat untuk menangkap tersangka ini." ucap Jaka dengan nada ragu.
__ADS_1
"Iya buset dah ayo kasih tau siapa yang berani ngelakuin ini semua ke kepala pelatih kita?" tanya pria kekar itu dengan menahan emosinya yang segera meledak.
"Pelakunya adalah... Anak dari kepala pelatih." ucap Jaka dengan menunduk.
"Heh lu kalo ngomong tuh di ayak dulu setan!" ucap pria kekar itu.
"Benar aku tidak berbohong dan asal bicara saja." ucap Jaka sembari memegangi lehernya yang sedang dicekek.
"Hentikan Harry!" ucap teman Jaka yang waktu baru masuk pendidikan sudah kena hukuman.
"Kenapa gw harus berhenti?! Dia berani-beraninya nuduh anak kepala pelatih yang meracuni ayahnya sendiri, gila aja nih orang!" ucap pria kekar yang bernama Harry.
"Tidak, dia tidak berbohong Harry, coba kau pikir selama ini tidak ada yang bisa makan bersama oleh kepala pelatih kecuali anak dan istrinya saja dan bisa jadi anaknya yang ngeracunin ayahnya sendiri." ucap teman Jaka.
"Hmm kau benar juga Jemmy, maaf ya boy gw udah kebawa suasana saja tadi." ucap Harry yang meminta maaf kepada Jaka dan menurunkan Jaka.
"Hehe Iyah gapapa, aku juga kaget dengan semua ini, namun fakta berkata lain dan aku tidak dapat berbuat apa apa." ucap Jaka.
"Aku dapat tahu hal ini dari saat anaknya datang dan aku hendak menyembuhkan ayahnya, karena dia tau kalau hanya metode yang aku lakukan lah yang bisa menyembuhkan racun yang ada di tubuh kepala pelatih." ucap Jaka yang menjelaskan kecurigaannya.
"Argh mungkin saja dia gak percaya sama lu aja boy." ucap Harry dengan masih tidak percaya.
"Ya emang mungkin itu terjadi, namun saat aku di dekati oleh anaknya aku mencium aroma racun yang sama di darah kepala pelatih dengan baju yang tengah di kenakan oleh anaknya. Mungkin saja ketika dia ingin memberikan racun terakhir dan dosisnya lebih banyak dia tidak sengaja menjatuhkan sedikit cairan racun ke bajunya, memang baunya tidak akan pernah terdeteksi oleh siapa pun kecuali orang yang sudah pernah belajar banyak tentang racun racun yang ada di dunia ini." ucap Jaka dengan semakin mantap dengan kecurigaannya.
"Tapi menurut gw teori lu emang bisa di percaya sih, karena gak ada yang mungkin bisa meracuni kepala pelatih dari luar karena setiap makanan yang akan kepala pelatih Mak pasti di cicipi oleh anak buahnya terlebih dahulu, kalau memang dari orang luar pasti semua prajuritnya kepala pelatih sudah banyak yang mati." ucap Harry yang mulai memutar otaknya dan menangkap kecurigaan Jaka kepada anak dari kepala pelatih.
Tidak lama setelah mereka berdiskusi dari luar asrama ada penjaga yang menggedor gedor pintu untuk memerintahkan semuanya tidur karena besok ada pelatihan sniper.
__ADS_1
"Hey tidur tidur! Saya tidak mau besok ada yang masih tidur saat bel tanda kalian di suruh ke lapangan berbunyi masih ada yang telat." ucap penjaga itu sembari menggedor gedor pintu asrama.
"Iya pak!" jawab semua taruna yang segera kembali ke tempat tidurnya masing masing.
"Yaudah sekali lagi terima kasih ya boy udah selametin nyawa kepala pelatih, owh ya nama lu siapa?" tanya Harry yang tempat tidurnya bersebelahan dengan Jaka.
"Owh namaku Jaka Lumayun, kamu bisa panggil aku Jaka." ucap Jaka yang memperkenalkan dirinya.
"Owh Jaka, nama yang cukup kuno namun biasanya manusia yang menyandang nama itu pasti memiliki kekuatan atau keterampilan istimewa." ucap Harry sebelum dia tidur.
"Engga kok aku cuman tau beberapa racun dan metode penyembuhannya." ucap Jaka yang tidak sadar dia sudah ditinggal tidur sama Harry.
"Harry? oi?" tanya Jaka yang melirik ke arah Harry.
"Astaga tuh anak ***** bener sekali berbaring di kasur auto tidur. Yaudah lah gapapa dari pada kami semua dihukum." ucap Jaka yang ikutan tidur juga.
Saat pagi hari jam 5 subuh mereka semua sudah di bangunkan untuk berendam di kolam renang agar melatih diri mereka supaya kuat di segala medan tugas baik cuaca bagus atau pun tidak.
Suara bel yang begitu bising membuat semua orang langsung kaget dan bergegas kembali memakai pakaiannya untuk berlari ke lapangan karena pasti ada aba aba dari para pelatih mereka.
Semua orang sudah bangun, cuman Harry saja yang belum bangun karena dia masih tidur, maklum orang ***** alias nempel molor pasti susah di banguninnya.
"Woi Harry bangun udah waktunya kita latihan." ucap Jaka yang langsung menabok muka Harry agar cepat bangun.
"Ehh iya kah? Astaga aku belum pakai sepatu." ucap Harry dengan panik dan nyawa yang belum kumpul semua.
Untung bagi Harry karena dia tidur masih memakai baju taruna hingga membuatnya tidak terlambat, namun karena nyawa belum kumpul membuat Harry harus berlari sempoyongan seperti orang abis mabok.
__ADS_1
......Bersambung.......
Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.