
...Happy reading guys.🤗...
Saat para dokter mengecek persediaan darah yang ada di bank darah rumah sakit tersebut, mereka hanya memiliki 3 kantung saja yang tersisa.
"Lapor pak, persediaan bank darah untuk golongan O+ hanya sisa 3 kantung saja, bagaimana ini?" tanya dokter yang menghadap kepada Letnan Suryadi yang berada di ruang tunggu pengunjung.
"Apa katamu?! Tadi bilangnya kalian akan siapkan 5 kantung darah, tapi kenapa sekarang kalian bilang hanya ada 3 kantung saja?!" ucap Letnan Suryadi yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kami tidak mengecek terlebih dahulu pak dan juga untuk golongan darah O+ itu memang sangat sering digunakan untuk operasi pasien yang memiliki golongan darah O saja, jadi kami sering kekurangan golongan darah itu." ucap dokter itu yang menjelaskan mekanisme kelangkaan golongan darah O+ di rumah sakit dekat markas.
"Yasudah kalau begitu kalian bisa ambil darahku saja, aku sama golongannya dengan Jenderal Damar." ucap Letnan Suryadi tanpa pikir panjang.
"Mohon maaf pak kami tidak bisa mengambil darah bapak secara jumlah yang banyak, kami hanya bisa mengambilnya hingga 450ml saja pak, karena kalau lebih dari itu takutnya bapak sendiri yang akan mengalami kekurangan darah." ucap dokter itu.
"Argh jadi bagaimana?!" ucap Letnan Suryadi dengan frustasi.
Tidak lama setelah itu Letnan Suryadi mendapat telfon dari markas.
"Pak anda sekarang ada di mana?" tanya Jaka.
"Saya sudah ada di rumah sakit terdekat, kamu bawa saja jenderal ke sini, semua sudah aku tangani." ucap Letnan Suryadi.
"Baiklah aku akan segera ke sana dalam waktu sekitar 5 menit lagi." ucap Jaka yang langsung menutup telfonnya.
Beralih ke keadaan Jaka yang ada di dalam markas militer yang sedang mengawasi kepala pelatih.
"Segera turunkan kepala pelatih sekarang, hati hati yah." ucap Jaka yang menyuruh semua penjaga yang ada di sekitarnya.
"Siap." ucap semua penjaga yang langsung saling bahu membahu untuk menurunkan kepala pelatih yang sudah selesai pengobatan tahap dua dengan metode penguapan air panas.
__ADS_1
Setelah selesai di angkat dari perapian, Jaka langsung mengoleskan kapas yang sudah terbalur obat merah agar menutup luka bekas jarum akupuntur.
"Sekarang kita bawa kepala pelatih ke rumah sakit di dekat sini, tadi aku sudah hubungi Letnan Suryadi dan kata beliau semua sudah beres di sana." ucap Jaka kepada dua prajurit.
"Oke siap." ucap kedua prajurit itu yang langsung membuka pintu mobil dan mengeluarkan kasur darurat untuk di bawa ke rumah sakit.
Tidak lupa Jaka juga melepaskan ranting kecil yang menancap di leher anak kepala pelatih yang tadi tidak bisa bergerak akibat ulah dari Jaka.
"Sekarang kau bebas, tapi kalau kau berbuat macam macam lagi jangan harap kau bisa bebas seperti ini kembali, aku pastikan kau akan mati perlahan dengan menjadi manusia kaku secara permanen." ucap Jaka sembari melepas ranting kecil itu.
"I-iya maaf, aku salah." ucap anak kepala pelatih sembari memegangi lehernya.
"Bagus kalau kau mengerti, sekarang kalau kau ingin ikut dengan ibumu ke rumah sakit silahkan, tapi jangan harap kau bisa menyakiti kepala pelatih karena dia sedang berada di bawah lindungan ku." ucap Jaka sembari mengancam dan langsung pergi menuju mobil ambulance.
Selama di perjalanan mereka di kawal menggunakan 2 mobil jip dan 4 motor untuk membuka jalan yang kebetulan sudah ramai karena bertepatan dengan waktu pulang kerja para karyawan perusahaan.
"Ayo pindahkan dia pelan pelan." ucap pemimpin dokter.
"Iyah dok siap." ucap suster cantik bin seksoy.
Jaka langsung menghampiri Letnan Suryadi yang nampak stress dengan semua yang telah terjadi kepada Jenderal Damar.
"Hay letnan." ucap Jaka yang duduk di sebelahnya.
"Owh kamu, ada apa?" tanya Letnan Suryadi.
"Aku lihat kamu seperti stress dengan semua ini, ada apa?" tanya Jaka.
"Aku takut stok kantung darah yang ada di sini tidak cukup untuk transfusi darah ke Jenderal Damar yang pasti kehilangan banyak darah di dalam tubuhnya, karena tubuh orang dewasa kalau gak salah darah yang ada di dalam tubuhnya sekitar 5,5 liter dan kalau 50% darah yang ada di dalam tubuh Jenderal Damar keluar maka ia membutuhkan setidaknya 2,7 untuk memenuhi kebutuhan darah di dalam tubuhnya." ucap Letnan Suryadi sembari melihat lantai.
__ADS_1
"Memangnya kepala pelatih memiliki golongan darah apa?" tanya Jaka.
"Beliau memiliki golongan darah O+ yang sering digunakan untuk transfusi darah ke berbagai golongan karena golongan darah beliau sangat netral untuk masuk ke golongan darah mana pun, itu sih setau aku." ucap Letnan Suryadi sembari menatap Jaka.
"Baiklah aku akan memanggil kawan kawan seperguruan aku, siapa tau sebagian besar dari mereka memiliki golongan darah yang sama." ucap Jaka yang langsung pergi ke belakang rumah sakit.
Kalau manusia pada umumnya memanggul teman temannya dari jarak jauh menggunakan handphone dengan cara menelfon temannya, namun tidak dengan Jaka dia menggunakan telepati yang saling terhubung dengan Ki Ageng Reksa.
"Aki tolong segera datang ke rumah sakit Budi Asih yang berada dekat dengan markas sniper negara." ucap Jaka di dalam telepatinya.
"Aku sudah tau itu, kami akan segera sampai ke sana karena kami dalam perjalanan bersama dengan Komandan Markovic." jawab Ki Ageng Reksa dalam telepatinya.
Setelah menghubungi Ki Ageng Reksa kemudian Jaka kembali masuk ke dalam rumah sakit untuk menemani Letnan Suryadi dan mencari lebih banyak tentang hubungan kedua kawan satu pekerjaan ini.
"Bagaimana? kawan kau akan datang ke sini?" tanya Letnan Suryadi yang langsung membuka pembicaraan.
"Tenang saja pak mereka sedang datang ke sini bersama Komandan Markovic dari satuan markas TNI AD." ucap Jaka.
"Bagus kalau begitu aku sedikit tenang dengan kabar yang kau bawa." ucap Letnan Suryadi yang kembali berdiam diri tanpa berbicara sedikit pun.
Jaka berusaha keras untuk mendapatkan informasi kenapa Letnan Suryadi sampai sangat perduli dengan kepala pelatih hingga dirinya sangat stress di banding dengan anak dan istri kepala pelatih sendiri. Namun semua usaha itu sia sia, Letnan Suryadi tidak mau berbicara sedikitpun hingga Jaka merangkul Letnan Suryadi dan langsung membaca pikiran beliau.
Letnan Suryadi tidak tahu kalau dirinya sedang di baca oleh Jaka, dia tidak merasakan apa apa kecuali Jaka yang terus menerus mengajak dirinya berbicara. Baru setengah perjalanan Jaka membaca pikiran Letnan Suryadi kini rombongan Komandan Markovic telah sampai di depan pintu rumah sakit Budi Asih.
......Bersambung.......
Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.
Note : maaf sedikit terlambat karena ada urusan mendadak di rumah jadi sedikit terlambat upload bab ini hehe.
__ADS_1