
...Happy reading guys.🤗...
Setelah semua persiapan selesai, Jaka sudah bergabung dengan para sniper yang lain yang sudah dikasih oleh pelatih sniper yang telah disediakan.
Pada saat semua siswa sniper yang akan masuk ke dalam markas pelatihan sniper, mereka semua langsung ditanya oleh para pelatih yang menghadang di depan gapura.
"Marinir!!!" ucap kepala pelatih.
"Siap komandan!" sahut serentak para siswa sniper.
"Apakah kalian siap untuk menjadi seorang sniper yang handal?" tanya kepala pelatih.
"Siap!" sahut semuanya.
"Saya peringatkan sekali lagi kepada kalian semua kalau yang masih ragu ragu menjadi sniper di sini segera meninggalkan barisan! Karena kita tidak menerima sniper pengecut! ini bukan rumah mamih dan papih kalian, ini adalah markas tentara yang membentuk seorang sniper yang handal dan setia kepada negaranya. Tempat ini tidak membiarkan kalian hidup dengan tenang, tempat ini adalah tempat penyiksaan bagi para sniper yang mau berjaya! Sekarang kalian boleh pergi bagi yang ragu untuk menjadi sniper di sini." ucap kepala pelatih.
Semua orang hanya terdiam dan membisu akibat dari ucapan kepala pelatih kepada mereka. Selang beberapa waktu mereka kembali dipertegas oleh kepala pelatih untuk memastikan tekad mereka menjadi seorag sniper.
"Kalian punya mulut tidak?!" ucap kepala pelatih dengan nada tinggi.
"Siap punya pak!" sahut semua siswa.
"Kalau punya mulut jawab pertanyaan saya! Jangan diam saja! Kalian yakin untuk menjadi seorang sniper sejati?!" tanya kepala pelatih dengan nada yang semakin keras.
"Kami siap untuk menjadi seorang sniper yang setia dan siap mengabdi kepada negara!" ucap semua siswa sniper dengan tidak ada satu pun yang keluar dari barisan.
"Baiklah kalau begitu kalian silahkan masuk, tapi apabila mau masuk ke dalam wajib bilang garuda. Paham?!" ucap kepala pelatih.
"Siap paham!" ucap semua siswa calon sniper.
__ADS_1
Sesuai dengan arahan dari kepala pelatih kepada semua calon sniper handal dilaksanakan dengan sangat baik. Namun saat Jaka melihat tangan kepala pelatih membuatnya agak sedikit gerogi.
"Aduh selang air warna biru... Jangan bilang selang itu bakal menghukum para prajurit yang membandel, mati aku lebih baik ditemuin singa dari pada sama selang itu." gumam Jaka di dalam hatinya sembari memasuki markas pendidikan sniper.
Sesuai dengan dugaan Jaka, selang air itu untuk menghukum para taruna yang tidak mematuhi perintah. Ada salah satu dari mereka yang tidak mematuhi perintah kepala pelatih dan langsung kena dihukum dengan hukuman cambuk.
"Tuh kan bener apa firasatku, semoga aja aku gak kena hukuman itu. Masa iya dulu udah sering kena sama Ki Jagabaya sekarang harus kena juga dengan kepala pelatih haduh." ucap Jaka di dalam hatinya sembari melihat ke belakang.
"Semuanya lanjut jalan ke kamar kalian dan taro barang bawaan kalian dan kami beri waktu selama 10 menit dan semuanya harus sudah ada di lapangan. Jangan ada yang sampai terlambat." ucap instruktur pelatih.
"Siap." jawab semua taruna.
Akhirnya semua taruna kembali meneruskan jalannya menuju asrama untuk menaruh semua barang bawaan mereka dan meninggalkan salah satu dari mereka yang sedang di hukum. Akan tetapi berbeda dengan Jaka yang memilih untuk menunggu satu dari taruna yang lagi di hukum oleh kepala pelatih.
"Hei kau 203, kenapa kau tidak pergi menuju kamarmu?" tanya kepala pelatih.
"Siap, mohon izin kami sebagai tentara tidak akan pernah meninggalkan teman kami yang sedang disiksa di medan tempur, oleh karena itu saya menunggunya hingga ia selesai dihukum oleh anda, karena saya tidak akan pernah meninggalkan teman saya sendirian saat dia dalam kesulitan karena kami semua bersaudara pak." ucap Jaka dengan sangat tegas dan lantang membuat semua orang melihat ke arahnya.
"Owh jadi kamu berani membangkang kepada saya yah?! Apa kamu tau akibatnya dari kamu membangkang kepada saya itu apa?" tanya kepala pelatih.
"Siap pak tahu." ucap Jaka.
"Bagus kalau kau tahu, sekarang kau pergi dari sini dan tinggalkan temanmu di sini." ucap kepala pelatih dengan tegas.
Jaka bersikeras dengan kepercayaan untuk selalu menemani temannya yang sedang kesulitan walau harus melanggar aturan militer sekalipun.
"Kau masih tidak mendengar perintahku?!" ucap kepala pelatih.
"Akhirnya orang seperti ini yang aku cari untuk menjadi komandan pletonnya, karena ia berani mempertaruhkan nyawanya demi membantu temannya yang sedang kesulitan, sikap ini yang sangat sulit ditemukan dari sekian ribu pendaftar calon sniper. Sikap yang wajib aku gembleng agar dia semakin mempunyai jiwa seorang komandan." gumam kepala pelatih di dalam hatinya.
__ADS_1
"Siap, mohon maaf pak saya bukan bermaksud untuk menentang perintah bapak, saya hanya tidak mau salah satu dari kami yang terluka saja karena itu sangat tidaklah bagus, ibarat anggota tubuh yang mengalami luka maka seluruh tubuh itu akan merasakan sakitnya." ucap Jaka dengan bijaksana.
"Baiklah kalau begitu bawa temanmu ini dan peringatkan dia agar tidak membuat kesalahan dalam menjalankan instruksi dariku." ucap kepala pelatih dengan memberikan teman Jaka yang sedang ia hukum.
"Siap terima kasih pak." ucap Jaka dengan menghampiri temannya dan merangkul dia untuk menuju ke kamarnya.
"Mari saya bantu." ucap Jaka yang sudah merangkul temannya.
"Terima kasih pak." ucap temannya.
"Tidak masalah, aku tidak mau kau merasakan sakit sendirian karena kita ini satu angkatan sama saja seperti satu keluarga yang dipertemukan di pendidikan sniper ini." ucap Jaka dengan menuntun temannya menuju asrama.
Setelah mereka sampai ke dalam asrama dan membereskan barang bawaan mereka, mereka langsung pergi ke lapangan sesuai dengan instruksi dari kepala pelatih saat mereka datang ke markas ini.
Saat semua orang telah berkumpul di lapangan dan semua pelatih serta kepala pelatih sudah datang di sana, Jaka di panggil ke depan untuk menghadap kepada kepala pelatih.
"Taruna 203, silahkan maju ke depan." ucap kepala pelatih.
"Siap pak!" ucap Jaka yang langsung berjalan ke depan dan meninggalkan barisan.
"Saya mengapresiasi atas nyalimu yang kuat hingga berani menentang perintah dariku demi kebaikan bersama. Oleh sebab itu kamu mendapatkan lencana sebagai danton regu garuda dan aku harap kau tidak mengecewakan aku, justru aku berharap kau dapat memperlihatkan kembali kejutan kejutan baru kepadaku dan yang lainnya." ucap kepala pelatih yang memberikan lencana seorang danton kepada Jaka.
"Siap terima kasih pak atas kepercayaan bapak kepada saya, saya berjanji tidak akan mengecewakan bapak." ucap Jaka.
"Baiklah kamu bisa kembali ke barisanmu lagi." ucap kepala pelatih itu.
...... Bersambung.......
Jangan lupa untuk dukung selalu novel ini dengan cara like, komen dan share ke temen temen kalian, terima kasih.
__ADS_1
Happy ied mubarak.