Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Siapa Maria


__ADS_3

"Mau pesan apa tuan dan Nyonya?" tanya Helena dengan suara dalamnya.


Tuan Hilton melirik ke arah Helena.Begitu pun dengan Miguel dan ketiga istrinya.


"Suara kamu kenapa?"tanya sang Manager sedikit berbisik.


"Hm, tenggorokan saya terasa sakit tuan," jawab Helena berbisik pula.


Miguel menatap Helena lebih lekat membuatnya menjadi Insecure.Seketika jantung Miguel berdetak kencang.Ketika melihat Maria yang tertunduk 


"Helena?" gumam Miguel.


Ia langsung berdiri, menatap kearah Maria.


"Miguel!" Panggil Cecilia seketika membuyarkan lamunan Miguel.


"Dia bukan Helena!"


Miguel kembali menatap Maria. Jika mata bisa dibohongi, tapi tidak untuk hati.


Jantung Miguel berdetak semakin kencang ketika melihat ke arah Maria, seperti menemukan separuh jiwanya yang telah lama hilang Minguel tersenyum penuh kemenangan.


Cecilia menghampiri Miguel.


"Sayang kau lihat sendiri kan dia bukan Helena. Ayo kita duduk dan lanjutkan makan siang kira," tukas Cecilia.


Cecilia menuntun Miguel untuk kembali duduk.


"Barbara, silahkan kau pesan makanan mu pada pelayan ini," titah Cecilia untuk mengalihkan perhatian mereka semua terhadap Maria.


Miguel duduk kembali di kursinya. Namun, hal itu membuatnya tak tenang.


Barbara dan Felisha segera memesan makanan, mereka ingin mengalihkan perhatian Miguel.


Mereka tak ingin, jika sampai Miguel tertarik pada Maria, karena Maria mirip dengan Helena.


Jika itu terjadi maka, bisa saja Miguel meminta Maria untuk jadi istrinya juga.


Setelah mencatat pesanan para nyonya Miguel, Maria langsung pergi meninggalkan tamu penting mereka, bersama sang manager.


"Maria, untung saja yang kau siram itu tuan Armando, jika itu  tuan Miguel maka nasibmu lebih tak lebih baik dari tikus tanah," ucap sang Asisten untuk memperingati Maria agar berhati-hati terhadap Minguel.


Karena tak ingin insiden yang menimpa Armando terjadi lagi, Tuan Hilton tak menyuruh Maria untuk menyajikan makanan kepada mereka. ia menyuruh pramusaji yang lain.


Sementara Maria kembali menjalankan tugasnya, dengan melayani tamu lain. Miguel yang berada di ruang kaca bersama ketiga istrinya, sesekali melihat ke arah Maria.


Hal itu membuat Cecilia menjadi cemburu.


'Sialan lagi-lagi Miguel tertarik pada seorang wanita!,' umpat Sisilia di dalam batinnya.


Setelah selesai makan siang, Tuan Hilton sang Manager kembali menemui Miguel. Iya bermaksud mengantar tamu pentingnya itu hingga ke depan pintu.


"Aku tertarik dengan Maria, bisakah kau membawanya menemuiku?" Bisik Miguel ketika mereka berjalan beriringan.


"Maria? tentu saja Tuan.Saya rasa tak ada yang bisa menolak pesona Anda Tuan," jawab Tuan Hilton.


"Baiklah, jika dia bersedia kau bisa hubungi aku," ucap Miguel seraya memberikan kartu namanya.


"Wah beruntung sekali saya bisa memiliki kartu nama anda,"ucapkan Hilton sambil membukukan tubuhnya sedikit.

__ADS_1


"Baiklah aku tunggu,"ucap Miguel sambil kembali melirik ke arah Maria yang juga ternyata sedang melirik ke arahnya.


Helena barulah bisa bernapas dengan lega, ketika melihat Miguel dan ketiga istrinya keluar dari restoran.


"Semoga saja mereka tak mengenaliku," gumam  Maria.


Maria meletakkan bill salah satu pengunjung restoran di meja kasir.


"Maria ke ruanganku sekarang! "Pinta Tuan Hilton yang baru saja mengantar Miguel dan istrinya.


Maria segera menuruti Tuan Hilton.


Dia masuk ke ruangan bosnya itu, setelah itu ia duduk di hadapan Tuan Hilton.


"Ada apa Tuan?" tanya Maria.


"Maria, Tuan Miguel ingin kau menemuinya dan berbincang dengannya, Kau mau kan?"tanya Tuan Hilton dengan yakin.


"Hah!" Maria kaget.


"Memangnya kenapa?" tanya Maria lagi.


"Sepertinya Miguel tertarik kepadamu, dan itu suatu keberuntungan bagimu Maria, banyak sekali gadis-gadis yang ingin menjadi istri Tuan Miguel, meskipun tuan Minguel memiliki banyak istri. Namun, kekuasaan dan ketampanannya adalah daya pikat yang tak bisa dipungkiri dari seorang Miguel."


"Aku tak mau Tuan," sahut Maria dengan cepat.


"Tapi Maria, kesempatan ini sangat bagus, sayang untuk dilewatkan," bujuk tuan Hilton.


"Saya tidak mau Tuan! Saya tahu seperti apa tuan Miguel itu."


"Ayolah Maria, kamu…"


"Jika anda tidak ada kepentingan lain, saya permisi Tuan."


Tuan Hilton bergeming mendengar ucapan dari Maria.


"Kalau begitu saya permisi Tuan!" Maria keluar dari ruangan tersebut.


Tuan Hilton menatap punggung Maria yang perlahan meninggalkan ruangan nya.


"Gadis aneh," tukas Tuan Hilton.


***


Setelah berkali-kali membujuk Maria. namun tak membuahkan hasil, Tuan Hilton akhirnya menyerah juga. Ia lalu menghubungi Miguel.


"Halo tuan," sapa tuan Hilton ketika telepon tersambung.


"Ada apa?"tanya Miguel.


"Maaf tuan, saya tidak bisa membujuk Maria."


"Oh begitu, baiklah tidak apa-apa, biar saya yang turun tangan sendiri," ucap Miguel sambil menutup teleponnya.


***


Berhari-hari ini Helena beraktivitas seperti biasa, meski dalam keadaan hamil hal itu tak terlalu mengganggu aktivitas kesehariannya.


Helena merapikan pakaiannya, setelah setengah hari bekerja,kini saat yang ditunggu itu pun tiba juga.

__ADS_1


Setelah pulang dari restoran,ia menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhannya.


Helena membeli beberapa kebutuhan sehari-hari dan juga susu untuk ibu hamil.


Setelah selesai berbelanja, Helena pulang ke apartemennya dengan berjalan kaki.


Jarak antara apartemen, pusat perbelanjaan dan restoran tempatnya bekerja memang tak begitu jauh.


Sambil menenteng belanjaan Helena berjalan dengan langkah yang mantap di sore itu.


Ketika memasuki area apartemen yang cukup sepi, ia merasa ada seseorang yang mengikuti langkah kaki.


Helena berhenti untuk melihat siapa yang telah mengikutinya.


Tapi tak ada seorang pun yang ada di belakangnya. 


Karena takut, ia buru-buru berlari menuju pintu lobby apartment.


***


Seorang pria bersembunyi di balik batang pohon setelah mengamati Maria seharian.


Pria itu langsung merogoh saku celananya dan menarik benda pipih.


"Halo tuan," sapa pria itu di sambungan teleponnya.


"Bagaimana tugasmu?" tanya seseorang yang berada di sambungan teleponnya.


"Beres Tuan, saya sudah mengikuti gadis itu selama beberapa hari ini, dan …."


Pria itu menjelaskan secara rinci, apa saja yang dilakukan Maria, di mana ia tinggal, dan apa saja yang di beli Maria di supermarket tadi.


"Apa? Dia membeli susu ibu hamil?" tanya pria tersebut yang tak lain adalah Miguel.


"Iya Tuan," jawab pria yang menjadi lawan bicaranya.


" Baiklah terus awasi dia.Jangan sampai dia curiga jika kita telah mengintainya," ucap Miguel di sambungan teleponnya.


"Siap Tuan!"


Miguel mendengus, "Apakah Maria juga hamil? Kenapa kebetulan sekali?" gumam Miguel. 


Setelah menutup telepon, Miguel kembali ke ruangannya.


***


Miguel berbaring terlentang di atas tempat tidurnya. Saat ini ia tak sedang bersama dengan salah satu istrinya.


Pertemuan bersama Maria di restoran, membuat Miguel merasa gelisah.


Hingga menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa Maria.


"Apa aku temui saja Maria secara langsung, bukannya aku sudah tahu dimana Maria tinggal?" Miguel bermonolog.


"Baiklah,aku tak akan tidur nyenyak jika aku belum bisa memastikan jika Maria itu adalah Helena."


Miguel menarik selimutnya hingga menutupi bagian wajahnya.


Rasanya ia sudah tak sabar untuk menunggu pagi, agar bisa bertemu dengan Maria.

__ADS_1


Bersambung dulu gengs.


__ADS_2