Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Rencana Jahat


__ADS_3

Armando tiba di rumah yang sebelumnya ditempati Helena.


"Helena! Helena!" Teriak Armando. Ia pun memaksakan diri untuk masuk kedalam rumah tersebut dengan mendobrak pintu.


Namun ternyata pintu tak terkunci.


"Helena, kau jangan bersembunyi,aku tahu kau ada disini!" 


Armando masuk ke dalam rumah itu dan ternyata tak ada siapapun di sana meski masih ada beberapa barang yang tertinggal.


"Helena kau mencoba lari dariku dengus," Armando sambil menggepal  tangannya.


"Helena! Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia!" teriak Armando.


Kemudian ia keluar dari rumah itu.


***


Helena dan Momo berjalan cepat melewati jalan raya.


"Nyonya kita mau kemana?" tanya Momo karena sedari tadi mereka berjalan tanpa tahu arah tujuan.


Helena menatap Bryan yang terlelap dalam dekapannya.


"Kasihan sekali Bryan jika kita terus berada di jalan raya," gumam Helena.


Anak seperti Bryan memang rentan terhadap polusi udara.


Helena terus melangkah dalam kebingungannya sementara itu terdengar suara tangis Arsen.


Oek oek.


"Kenapa dia Momo?"tanya Helena.


"Sepertinya Arsen haus Nyonya."


"Ya Tuhan, sebelum pergi kita lupa membuat susu untuk mereka," ucap Helena sambil menepuk jidatnya.


Ketika sedang berjalan Helena melihat sebuah bus yang melintas.


Ia pun melambaikan tangannya ke arah Bis 


Beruntung bus tersebut mau berhenti.


"Ayo Mom, kita pikirkan kemana kita akan pergi setelah di dalam bus," ucap Helena.


Masing masing mereka mendorong koper naik kedalam bus dan mencari tempat duduk di bagian pojok.


Suara tangis Arsen terdengar semakin kencang, bayi yang belum genap berusia setahun itu  benar-benar sedang haus.


Tangis Arsen membuat mereka jadi pusat perhatian.

__ADS_1


Setelah disusui, Arsen tetap saja menangis.


"Kamu kenapa Arsen?" tanya Helena yang justru menjadi khawatir.


Helena memeriksa perut Arsen.


"Gak kembung kok," ucap Helena.


Tiba-tiba bus yang mereka tumpangi berhenti.


"Ada apa ini Nyonya, kenapa jalanan menjadi macet begini?"


Helena berdiri untuk memastikan apa yang terjadi, begitupun dengan penumpang bus lainnya.


Mereka berbondong-bondong melihat ke arah luar jendela.


Ternyata ada sebuah kecelakaan yang melibatkan tiga mobil.


Jantung Helena berdetak dengan kencang, perasaannya menjadi tak enak, ia ingat jika Tuan Jose sedang dibuntuti oleh sebuah mobil sejak mereka keluar dari penjara.


"Ya Tuhan Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Tuan Jose," batin Helena.


Beberapa dan mobil damkar terparkir di pinggir jalan hingga menyebabkan kemacetan total. Ada sebuah bus sebuah truk dan sebuah mobil berwarna hitam yang terlihat penyok bagian depan serta kacanya pecah.


Bus yang mereka naiki juga tak bisa bergerak.


Helena masih terus mencari-cari celah untuk bisa mengintip melalui jendela bis.


Bola mata Helena membelalak dan memerah ketika melihat mobil hitam yang di parkir di pinggir jalan.


Melihat dari mobil itu, ia sudah bisa memastikan jika mobil itu adalah milik Tuhan Jose.


"Astaga ya Tuhan, Momo lihatlah mobil itu," ucap Helena sambil menunjuk mobil yang berada di seberang jalan.


"Ada Apa dengan mobil itu nyonya?" tanya Momo.


"Mobil itu mobil Tuan Jose, hiks."


"Biadab! mereka sengaja melakukan ini untuk membunuh Tuan Jose, pantas saja Arsen terus menangis, ternyata ia tahu jika kakeknya mendapat musibah," ucap Helena sambil menghapus air matanya.


Air mata Helena semakin mengalir deras tak kala  melihat mobil ambulans membawa beberapa kantong mayat.


Hampir bisa dipastikan salah satu dari tubuh yang berada di dalam kantong mayat itu, adalah milik Tuan Jose.


"Ini pasti perbuatan Armando dan Raina, mereka tega membunuh Tuan Jose yang tidak bersalah," ucap Helena dengan tubuh yang gemetar.


Helena terus saja menangis meratapi kejadian itu.


"Sudah nyonya tenangkan diri Anda, Saya takut akan ada orang yang curiga jika anda menangisi kejadian ini, maklum saja orang-orang jahat ada dimana-mana," ucap Momo.


Helena buru-buru menghapus air matanya. Penyamaran mereka tak boleh di ketahui.

__ADS_1


Helena memeluk Arsen, dan menenangkannya.


"Sabar ya Nak, kakek kamu sudah pergi dengan tenang," bisik Helena di tepi telinga Arsen.


Perlahan tangis bayi itu mulai mereda. Helena kembali pun duduk.


"Ya Tuhan siapa lagi yang bisa menolongku untuk mengeluarkan Miguel jika bukan Tuan Jose," batin Helena.


Setelah proses evakuasi selesai, jalanan kembali normal. Bus yang membawa Helena pun kembali berjalan seperti sedia kala.


Momo memperhatikan wajah Helena yang terlihat begitu sedih.


"Nyonya, bagaimana jika kita tinggal di rumah orang tuaku saja, rumah itu memang berada di desa terpencil, namun setidaknya di sana kita bisa aman."


Helena menatap ke arah Momo dengan bola mata berembun." Di mana saja boleh Momo, yang penting kita bisa selamat dari kejaran Armando. Aku tak ingin terjadi sesuatu pada anak-anakku. Hanya mereka yang aku punya saat ini," ucap Helena sambil melihat Bryan dan Arsen.


"Ya sudah kalau begitu tujuan kita kesana saja."


***


Sekitar 2  jam perjalanan dengan menggunakan bus. Helena akhirnya tiba di sebuah desa yang sedikit agak terpencil.


Dari jalan raya mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih 2 km untuk tiba di rumah tua keluarga Momo,  hari sudah semakin sore dan anak-anak mereka juga sudah membutuhkan istirahat..


Tiba di rumah itu mereka harus merapikan rumah karena dipenuhi dengan debu.


Momo memang selalu pulang setiap setahun sekali untuk membersihkan rumah itu. Tak terbayang Bagaimana debu yang memenuhi rumah itu setelah setahun di tinggal oleh momo.


Meskipun begitu mereka tetap nekat tinggal di sana. Rumah itu tak begitu besar jadi tak membutuhkan waktu lama untuk membersihkannya.


Momo membersihkan rumah itu, sementara Helena menunggu di luar dengan kedua anaknya.


Setelah pekerjaan beres Mereka pun beristirahat.


****


Di sebuah ruangan, seorang pria sedang melakukan panggilan telepon.


"Halo Tuan, tuan Jose sudah berhasil dilenyapkan. 


"Baiklah, kalau begitu, sekarang giliran Miguel yang kau habisi."


"Miguel, habisi di penjara Tuan?"


"Jangan! Cari tempat yang aman, jangan ada saksi, cari tempat yang tersembunyi, jangan sampai kejadian tersebut di ketahui oleh masyarakat."


"Baik Tuan, besok eksekusi akan segera di jalankan," ucap pria misterius itu.


"Bagus,  keadaan sekarang sedang menguntungkan kita, jadi kita harus singkirkan orang-orang yang bisa menghancurkan rencana kita. "


"Siap tuan Haha."

__ADS_1


__ADS_2