
Miguel tiba kota Boston.
Secara sembarangan ia memarkirkan mobilnya, karena setelah keluar dari mobilnya ia langsung menghampiri para bodyguard-nya.
"Bagaimana, Apa kalian sudah menemukan Maria alias Helena?"tanya Miguel.
"Menurut resepsionis di sini ada seorang pelanggan yang menginap di sini dengan nama Maria Dienz."
"Kalau begitu kita langsung saja ke kamarnya!"
Para Bodyguard itu memang tidak berani menghampiri kamar Maria yang menginap di hotel itu, mereka menunggu Miguel sendiri yang menghampiri kamar istrinya.
Setelah melakukan konfirmasi dengan pihak hotel Miguel dan para bodyguard-nya menuju lantai 3.
Miguel yang tidak sabar ingin bertemu dengan Maria, berjalan dengan cepat menuju kamar hotel 202 di mana Maria Dienz menginap.
Setibanya di depan kamar 202 yang menurut resepsionis adalah kamar Maria Dienz, Miguel langsung mengetuk pintu kamar tersebut dan sesekali membunyikan bel yang ada di pintu.
Tok tok tok, ketukan pintu itu terdengar begitu keras dan cepat, seolah ada masalah yang darurat dan meminta seseorang yang berada di dalam kamar itu untuk segera membukakan pintu.
Namun, setelah beberapa menit tak juga ada yang mau buka pintu, Miguel meminta petugas hotel untuk membuka pintu itu.
Dengan segera petugas hotel membuka pintu sesuai perintah Tuan Miguel Simon yang terhormat.
Pintu kamar dibuka dan lagi-lagi Miguel mengalami kekecewaannya karena tak menemukan Helena kembali.
Mereka pun mencari ke setiap sudut kamar itu.
Hati Miguel dongkol bukan kepalang, berkali-kali ia mendengus nafasnya untuk menahan amarah.
Melihat perubahan wajah Miguel, para Bodyguard yang bertubuh kekar itu sedikit takut untuk mengabarkan Apa yang terjadi di kamar itu.
"Maaf tuan sepertinya istri anda telah kabur,"ucap salah satu Bodyguard itu.
Tatapan Miguel tajam ke arah para Bodyguard, seperti banteng yang marah Miguel langsung berlari menghampiri Bodyguard itu kemudian..
Bruk!
Satu pukulan dari Miguel yang mengarah ke wajah membuat sang Bodyguard yang bertubuh kekar itu terhuyung.
"Bodoh! Menjaga seorang wanita saja kalian tidak becus!" selalu kata-kata itu yang keluar dari mulut Miguel.
"Maaf tuan, tapi kami memang tidak menyadari kami sudah berjaga semalaman hingga pagi ini, tapi kami tak melihat Helena, maria Diez ataupun sosok pria penyamaran istri anda."
"Kami juga tidak mungkin memeriksa satu persatu tamu yang keluar karena itu bertentangan dengan peraturan hotel ini,"papar salah satu Bodyguard lainnya.
Miguel mencoba mengatur nafasnya agar ia bisa mengendalikan emosi. Miguel bener-bener tak percaya jika istrinya itu lebih licin daripada ular.
"Di mana kau Helena?!" batin Miguel sambil menatap nanar sekelilingnya.
"Kalian cari Helena ! Aku yakin dia masih ada di sekitar kota ini."
"Cari sampai ketemu! Kalian tidak boleh pulang sebelum Helena ditemukan!" perintah Miguel emosi.
"Baik Tuan!"
Kedua Bodyguard itu segera memerintahkan rekan-rekan yang lain untuk mencari Helena di setiap penginapan dan di tempat umum lainnya.
Hanya saja mereka tidak tahu seperti apa penyamaran Helena saat ini.
Karena itu akan sangat sulit mencari keberadaan Helena.
Miguel mengatur nafasnya sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur yang ada di ruangan itu.
"Sial! Lagi aku kehilangannya! Kenapa sulit sekali mencari keberadaannya!"
Perlahan emosi Miguel mulai surut, ia mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Ke mana kau pergi Helena, tidakkah Kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Kenapa kau tega memisahkan aku dan anak yang ada di rahimmu,"ucap Miguel dengan tatapan mata yang sendu.
Miguel menjambak rambutnya dengan kasar, timbul penyesalan yang mendalam dalam hatinya karena memperlakukan Helena dengan kasar, hingga istrinya itu pergi entah ke mana.
"Seandainya saja aku berlaku baik padamu, mungkin tak akan seperti ini jadinya," gumam Miguel dengan penuh sesal.
"Akh!" teriak Miguel untuk meredakan kemelut di hatinya.
***
Para Bodyguard kembali mencari Helena, setelah disusuri setiap penginapan, tidak ada pelanggan hotel yang memiliki identitas bernama Helena Gwen atau Maria Dienz.
Pencarian pun terus dilanjutkan hingga malam hari.
***
Helena tersadar ketika matahari sudah sedikit condong.
Taman itu juga didatangi oleh beberapa orang pengunjung.
Karena begitu lelah Helena terlelap beberapa jam hingga tenaganya kembali pulih.
Beberapa orang pengunjung heran melihat Helena.
Karena penampilan Helena yang acak-acakan mereka sempat mengira jika Helena orang gila.
Helena mendengar bisik-bisik dua orang pengunjung yang menyatakan jika dirinya orang yang tidak waras.
Ingin marah, tapi Helena tak ingin membuat masalah. Ia biarkan saja orang-orang mengejeknya.
"Aku lelah sekali, tubuhku terasa gerah aku rasanya ingin mandi."
"Tapi aku harus ke mana?"Helena mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman itu.
Kebetulan di sekitar taman kota ada danau air tawar.
Helena berjalan sambil membawa kantong belanjaannya.
Iya kemudian menuju tepian danau.
Ketika tiba di dermaga danau itu.
Helena berhenti sejenak.
"Gila, apa aku harus melakukan hal ini? Mencuburkan diri di danau. Tapi aku merasa gerah sekali, kepalaku pusing."
Tanpa pikir panjang Helena menceburkan dirinya ke dalam danau air tawar itu.
Byurrr
Sontak saja kelakuannya itu membuat para pengunjung tertawa melihatnya.
Mereka sekarang semakin yakin jika Helena orang yang tidak waras.
Helena tidak peduli, yang penting saat itu dirinya bisa segar, setelah menceburkan dirinya ke dalam danau buatan tersebut.
Setelah merasa segar, Helena berjemur di lapangan terbuka, sesekali ia membenarkan posisi Wig nya yang basah.
Semakin sore, pengunjung taman semakin ramai, dan itu membuat Helena semakin tak nyaman.
Helena dengan penampilan yang tak beraturannya menuju tempat dimana ia menyembunyikan kopernya, beruntung kopernya itu masih aman.
Helena membawa pakaian ganti kemudian menuju toilet umum untuk mandi ulang.
Malam semakin dingin menyergap, Helena menggunakan mantel tebalnya duduk di bawah pohon rindang yang ada di taman.
Untuk saat ini, ia masih tak punya keberanian untuk menginap di hotel ataupun penginapan.
__ADS_1
Matanya mengedarkan pandangan sekeliling kota yang dihiasi lampu-lampu malam yang indah.
"Ya tuhan sampai kapan aku hidup seperti ini," gumamnya.
Karena tak memiliki tempat tinggal, Helena terpaksa tidur di taman kota. Di atas kursi panjang.
Agar ia tak di ganggu oleh pria-pria brengsek, Helena kembali menyamar seperti orang gila.
Wajahnya dipoles dengan make up yang tak beraturan hingga membuat wajahnya begitu dekil, rambut ia biarkan acak-acakan. Helena harus menyamar sebagai seorang pria agar terhindar dari pelecehan.
Helena terlentang menatap hamparan langit di angkasa.
Setetes bulir bening kembali menetes di pipinya.
Sejak kecil hidup dalam kemewahan, kini ia harus merasakan hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, yakni menjadi seorang gelandangan di tengah-tengah kota metropolitan ini. Benar-benar pengalaman yang menyedihkan bagi Helena.
Helena mulai menutup matanya sambil berdoa agar esok hari kehidupan akan lebih baik lagi.
Berhari-hari Helena hidup luntang Lantung, ia bahkan menyamar menjadi pengemis di jalan untuk mengecoh para bodyguard Miguel yang melakukannya pencarian terhadapnya.
Beruntungnya Helena selalu dapat menghindari kejaran para bodyguard itu.
****
Sudah berhari-hari Miguel dan para bodyguardnya berkeliaran di kota Boston mencari keberadaan Helena.
Mereka mendatangi hotel dan restoran dan tempat umum apa saja di setiap sudut kota itu.
Namun, mereka belum bisa menemukan Helena.
Hari ini hari ketiga Miguel melakukan pencarian terhadap Helena.
Miguel berada di sebuah ruang untuk mendengarkan laporan dari beberapa orang suruhannya.
"Bagaimana pencarian kalian?"tanya Miguel.
"Maaf Tuan, saya rasa nona Helena sudah tak berada di kota ini lagi, mungkin saja ia pergi ke kota lainnya, kami sudah mengawasi penginapan dan tempat umum, tapi juga tak menemukan keberadaan nona Helena," tutur salah satu bodyguard Minguel.
Mendengar hal itu Miguel semakin kesal! Emosinya sudah mencapai ubun-ubun.
"Apa?! Dasar bodoh! Tidak becus!" Caci Miguel dilanjutkan dengan kata-kata yang merendahkan para bodyguard tersebut.
Mereka hanya bisa diam dan tertutup mendengar caci maki yang setiap hari di ucapkan oleh Miguel.
Miguel tak habis pikir kenapa begitu sulit mencari Helena, bahkan ia merasa mencari Helena lebih sulit daripada mencari buronan yang kabur.
Semua pria bertubuh kekar yang ada di ruangan tersebut terdiam, sambil menunggu perintah selanjutnya. Mereka juga sebenarnya sudah lelah.
"Baiklah sepertinya tak ada Jalan lain lagi," gumam Miguel.
***
Hari keempat di kota Boston ,Helena mulai merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, karena setiap hari ia harus tidur di alam terbuka.
Helena mengayun langkah kaki menuju swalayan terdekat untuk membeli roti dan minuman.
sebelum itu ia membersihkan wajahnya agar tidak terlihat seperti orang gila atau pengemis jalanan.
Ketika ia keluar dari tempat persembunyiannya, alangkah kagetnya Helena ketika melihat sebuah Billboard yang memajang foto dirinya sebagai Helena Gwen dan Maria Diez.
Lebih mencengangkan lagi ketika Helena membaca isi dari Billboard tersebut.
Barang siapa yang menemukan Maria Dienz atau Helena Gwen dalam keadaan selamat dan tak terluka sedikitpun, akan diberi hadiah uang tunai 1 juta dolar atau kapal pesiar mewah milik tuan Miguel Simon. Silakan hubungi nomor yang tertera di bawah ini.
Seketika tubuh Helena menjadi lemas, ia langsung berlutut di atas tanah.
"Ya Tuhan kemana lagi aku akan pergi?" gumam Helena sambil menangis. tergugu.
__ADS_1
Barang siapa yang