
Seminggu sudah Miguel tidak pulang ke rumah. Dan kali ini ia harus pulang sendiri karena ternyata Cecilia mengalami gangguan kejiwaan akibat tertekan karena tak mampu menghadapi kenyataan.
Cecilia dirawat di rumah sakit jiwa, sementara itu Miguel kembali pulang ke rumah.
Meskipun mendapat begitu banyak masalah dan tekanan dalam hidupnya saat ini. Miguel berusaha untuk tersenyum di hadapan anggota keluarganya.
Ketiga istri Miguel yang lain, sudah menunggu kedatangan Miguel. Tak hanya ketiga istrinya, ke-4 anaknya pun menunggu kepulangannya.
Mereka menunggu di teras rumah sambil berbincang. Kali ini tak hanya para nyonya tapi Momo juga ikut nongkrong karena dia menggendong baby Arsen.
Selama Cecilia dirawat di rumah sakit. Helena lah yang menjaga Bryan. Keadaan Bryan yang membutuhkan perhatian khusus membuat Helena lebih banyak meluangkan waktunya mengasuh Bryan daripada putranya sendiri. Beruntungnya Arsen tak pernah rewel.
Mereka semua bersorak ketika mobil mewah Miguel memasuki halaman rumah.
"Daddy pulang!" sahut mereka semua dengan bahagia. Miguel seketika tersenyum melihat sambutan hangat dari keluarganya.
Turun dari mobil ia langsung melambaikan tangan kepada ketiga istri dan anak-anaknya.
"Daddy! "Panggil mereka semua sambil melambaikan tangan.
Miguel mempercepat langkah kakinya menghampiri para istri satu persatu dan mengecup kening mereka satu persatu.
"Miguel,kau pulang sendiri? kenapa kau tak membawa Cecilia tanya Felisha yang merasa heran.
"Cecilia harus dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan mental," ucap Miguel.
Mereka semua terkejut mendengar berita dari Miguel itu.
Helena melirik ke arah Bryan.
"Kasihan sekali kau Nak," ucap Helena sambil mencium Bryan yang tampak tenang tidur dalam dekapannya.
"Ada kejadian apa selama aku tak berada di rumah?"tanya Miguel.
Sebelumnya mereka telah memberitahu tentang kejadian tentang para bodyguard yang ketiduran secara serempak, kemudian diikuti oleh Theresia yang kabur meninggalkan harem.
"Tresia meninggalkan harem mungkin karena ia takut aku memarahinya karena tak becus menjaga Cecilia," Sudahlah tidak perlu dibahas lagi.
Miguel kemudian menghampiri ruangannya, satu persatu berkas ia periksa dan tak ada ada yang hilang selembar pun.
Setelah memeriksa berkasnya, Miguel kembali menghampiri kamar Helena.
"Bagaimana dengan Bryan?" tanya Miguel sambil mengusap kepala bayi mungil itu.
"Beberapa hari ini ia memang agak rewel,tapi aku sudah meminta dokter untuk memeriksanya."
Miguel kemudian meraih Bryan dan menggendongnya.
"Kamu harus bertahan Nak, daddy yakin setelah operasi nanti, kamu akan sembuh total," ucap Miguel dengan suara yang lirih sambil mencium pucuk kepala bayinya.
***
Waktu terus berlalu, kehidupan di harem terasa tentram dan damai.
Anak-anak mereka pun tumbuh dengan sehat.
Helena dan Miguel menunggu di luar ruangan operasi. Hari ini Bryan sedang menjalani operasi jantungnya.
Miguel merasakan begitu gelisah, ia terus saja mondar mandir di depan pintu ruang operasi.
"Miguel tenanglah," ucap Helena sambil menarik tangan Miguel.
"Bagaimana aku bisa tenang, Bryan ada di dalam dan ia sendirian," ucap Miguel dengan bola mata yang berembun.
"Dia tidak sendirian, kita akan menemaninya dalam doa," ucap Helena sambil mengusap punggung suaminya.
"Iya Sayang kau benar, saat ini yang dibutuhkan Bryan adalah doa."
"Iya tenangkan dirimu, setelah itu kita berdoa untuk keselamatan Bryan."
Miguel dan Helena berdoa untuk kesembuhan Bryan dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
3 jam telah berlalu, Miguel masih saja merasa tegang menunggu hasil operasi Bryan.
Setiap detik,detak jantungnya semakin bertambah cepat, 4 jam berlalu dan panel lampu operasi pun telah padam.
Miguel menarik nafas lega.Namun, jantungnya masih terus berdetak menunggu hasil operasi.
Setengah jam kemudian, suster dan dokter keluar dari ruang operasi.
Minggu dan Helena buru-buru menghampirinya.
"Bagaimana dengan operasi anak saya dokter?" tanya Miguel.
"Operasi anak Anda berjalan lancar saat ini dia masih diobservasi di dalam ruang operasi," jawab dokter.
Senyum merekah di bibir miguel perlahan detak jantungnya pun kembali normal.
Satu jam kemudian, Miguel dan Helena melihat Bryan keluar dari ruang operasi. Bryan tertidur di atas hospital bed.
Tak terasa bulir bening menetes di pipi Miguel tak kala melihat tubuh mungil putranya itu berbalut kain perban dengan beberapa selang menancap di tubuhnya.
"Ya Tuhan, andai posisi Bryan bisa digantikan,maka biarlah aku saja yang menggantikan," gumam Miguel.
Tak hanya pada saat operasi, setelah operasi pun Miguel masih mengkhawatirkan Bryan.
Karena itulah ia jarang sekali ke kantor dan melakukan pemeriksaan. Miguel mempercayai orang-orangnya untuk mengurus perusahaan selagi ia menjaga Bryan.
Brian dibawa ke ruang ICU dan selama 3 hari barulah di bawah ke ruang perawatan.
***
Seminggu sudah berlalu, kali ini Miguel dan Helena membawa Bryan yang sudah kembali sehat dan bisa berkumpul bersama dengan keluarga mereka.
Sambutan hangat pun diberikan oleh penghuni harem untuk Bryan. Mereka bahkan mengadakan doa bersama agar Bryan tumbuh menjadi anak yang normal.
Setelah operasi Bryan dilakukan dan berhasil. Kini Miguel bisa tenang melakukan rutinitasnya di kantor.
***
Tok tok tok tiba-tiba saja pintu digedor.
"Masuk saja," ucap Miguel.
"Amora, ada apa?" tanya Miguel ketika melihat wajah Amora yang terlihat pucat.
"Maaf tuan, ada Tuan Joseph dan beberapa anggota kepolisian ingin bertemu Tuan," ucap Amora.
"Tuan Joseph, Ada apa ia mencariku?"t anya Miguel.
Belum pun Amora sempat menjelaskan pintu ruangan itu di dobrak.
"Sebaiknya kau keluar dari ruangan ini!"ucap Tuan Joseph.
Tuan Yoseph seorang pejabat teras sekaligus rekan bisnis Miguel, selama ini mereka bersahabat baik dalam menjalankan bisnis kerja sama mereka.
"Apa maksud anda Tuan?" tanya Miguel tak mengerti. Tuan Miguel berusaha untuk bersikap tenang.
Tuan Joseph kemudian melempar beberapa berkas kemeja kerja Miguel.
"Kau lihat! kepemilikan perusahaan ini sudah berganti nama dengan namaku, kau sudah menjual perusahaan ini tapi kau malah masih berada di sini!"
Mendengar penuturan Tuhan Yoseph seketika Miguel membelalakkan bola matanya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu!" teriak Miguel dengan penuh emosi.
Miguel langsung menghampiri Tuan Yoseph dan memukulnya hingga tuan Joseph terpental.
Bough!
satu pukulan mendarat di wajah Tuhan Joseph. Miguel yang sudah terlihat brutal itu mencoba untuk menarik tubuh Tuan Joseph dan hendak memukulnya. Namun, aksinya tersebut dihadang oleh dua orang anggota polisi.
Tanpa banyak bicara, kedua polisi itu langsung memborgol tangan Miguel.
__ADS_1
Apa-apaan ini tanya Miguel yang coba meronta.
"Anda kami tahan karena telah memukul Tuan Joseph."
"Wajar saja aku memukulnya Dia bilang jika aku telah menjual perusahaan ini kepadanya," ucap Miguel dengan memberontak.
Miguel berhasil melepaskan borgol tersebut.
"Hahaha kau lihat saja Miguel berkas-berkasnya, bahkan kau sudah menandatangani berkas di atas notaris, cetus tuan Joseph
"Perusahaan ini telah berganti kepemilikan atas nama ku, begitupun dengan tempat tinggalmu! Kau tak memiliki lagi harta karena semuanya sudah menjadi milikku," ucap Tuan Joseph.
Alangkah terkejutnya Miguel mendengar penuturan Tuan Joseph padahal Ia tak pernah menjual apapun.
"Apa?! tidak mungkin, aku tidak pernah melakukan transaksi jual beli perusahaan ini. Kau berbohong dan surat-surat yang kau miliki itu pasti palsu!"
"Baiklah tunjukkan di mana surat-suratmu, kita akan buktikan siapa yang berbohong!" ancam tuan Joseph pada Miguel.
Miguel membelalakkan bola matanya ia tak percaya, jika Tuhan Joseph bisa berkata seperti itu kepadanya.
"Kau!" Miguel hendak memukul Tuan Joseph. Namun, tangannya kembali ditahan.
Bawa dia pergi dari sini! kemudian seret dia, biar dia jadi gelandangan ! semua yang dia miliki kini sudah menjadi milikku!" teriak Tuan Joseph.
"Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan padaku! Semua perusahaan ini adalah milikku dan aku tak pernah menjualnya!" Teriak Miguel
"Hahaha katakan saja pada pengadilan Tuan Miguel Simon yang terhormat!"
"Sekarang bawa dia keluar dan seret dia seperti binatang!"titah Tuan Joseph pada para bodyguard-nya.
Miguel berusaha memberontak, entah kenapa di saat seperti itu para bodyguard-nya tidak ada yang membantunya sama sekali.
Bahkan tak satupun dari mereka yang menampakan batang hidungnya.
Miguel sengaja diseret dengan kasar oleh beberapa orang bertubuh kekar hingga di depan lobby.
"Pergi saja kau dari sini! Sekarang perusahaan ini resmi menjadi milik Tuhan Joseph !" teriak salah satu Bodyguard one Joseph.
Nih gue ditendang dari lobi hingga terpental ke Jalan aspal.
Miguel menatap nyalang ke arah mereka.
Bola matanya merah dengan rahang yang mengeras.
"Kalian lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan buktikan jika perusahaan ini milikku!" teriak Miguel.
***
Siang ini para Nyonya sedang menikmati makan siang mereka bersama, sementara para bayi sedang diasuh oleh para asisten pribadi mereka.
Gubrak!
terdengar bunyi sesuatu yang keras dari arah luar harem.
Mereka pun saling memandang dan saling melempar pertanyaan
"Ada apa ini?" tanya mereka secara serempak
Para Nyonya itu pun menghentikan makan siangnya kemudian berlari ke arah pintu keluar.
Namun, mereka tak pernah menyangka. Ratusan polisi dan beberapa puluh mobil mengepung rumah tersebut.
Seorang polisi menghampiri ketiganya yang tengah syok.
"Permisi para nyonya. Saat ini kepemilikan harem ini sudah berganti kepemilikan."
"Maksudnya apa!" tanya mereka semua secara serempak.
"Tuan Miguel yang sudah melelang semua hartanya kepada tuan Joseph, jadi sekarang juga Anda semua harus keluar dari harem ini, karena kami akan melakukan penyitaan."
Seketika ketiga Nyonya tersebut membelalakkan bola matanya.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs.