
Miguel merasakan lelah di sekujur tubuhnya, rencananya setelah pulang dari kantor, ia akan beristirahat.
Siang malam Miguel masih mencari keberadaan Helena.
Apalagi ia tahu, jika bulan ini Helena memasuki usia kehamilan 9 bulan.
Tentunya Helena akan segera melahirkan anak yang dikandungnya.
Tiba di harem Miguel langsung melepaskan blazer yang ia kenakan.
Selain mengurusi perusahaan yang makin berkembang dengan pesat, Miguel juga menghandle sendiri pencarian Helena.
Para bodyguardnya langsung melaporkan pada Miguel hasil dari pencarian mereka setiap harinya.
Miguel berada di sambungan teleponnya dengan seorang pria.
"Kalian awasi setiap rumah sakit di setiap jamnya, tanya pada bagian informasi jika ada pasien bernama Helena Gwen atau Maria Diez segera laporkan pada saya!" titah Miguel.
"Baik Tuan,"sahut sang penerima telepon.
Tok tok tok…
Baru saja meletakkan handphonenya di atas meja, Rose salah seorang pelayan Miguel menghampirinya.
"Permisi tuan, Nyonya Cecilia memanggil anda di ruangannya," ucap pelayan tersebut sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Ada apa?"tanya Miguel sambil memicingkan matanya.
"Katanya Nyonya Cecilia ingin bertemu anda secara langsung," jawab pelayan itu lagi.
"Ah ada-ada saja," dengus Miguel sambil beranjak dari kursi kebesarannya.
Miguel keluar dari kamarnya, menuju kamar Cecilia.
"Ada apa Cecilia?" tanya Miguel.
"Miguel aku tidak bisa makan kalau tidak disuap oleh mu,"ucap Cecilia bernada manja.
Miguel menghempas nafas kasarnya. Ketika melihat makanan yang tersaji di atas meja makan Cecilia.
"Yang benar saja kau Cecilia, Aku sedang banyak urusan, jika kau seperti ini terus akan sangat merepotkanku," dengus Miguel.
"Miguel, ini bukan kemauanku, tapi ini adalah kemauan anakmu yang ada di dalam perutku ini," tutur Cecilia sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.
Malas untuk berdebat, Miguel menuruti saja kemauan istrinya.
Miguel kemudian duduk kursi meja makan berhadapan dengan Cecilia.
Cecilia tersenyum karena berhasil menarik perhatian Miguel.
Karena ketiga istrinya sedang hamil, Mereka pun saling berebut untuk mencari perhatian dan kasih sayang yang lebih pada suami mereka.
Segala macam mereka upayaka,n agar Miguel menjadi lebih perhatian terhadap mereka dan mengabaikan pencarian Helena.
Dengan sedikit kesabarannya Miguel menyuapkan makanan ke mulut Cecilia, sesekali mulutnya tampak menggerutu. Namun Cecilia tak tersinggung sedikit, pun ia justru senang.
Satu piring makanan tandas oleh Cecilia.
Setelah menyuapi Cecilia Miguel meletakkan piring itu dan beranjak hendak pergi.
"Miguel!" panggil ketika Miguel hendak beranjak meninggalkannya.
"Ada apa lagi Cecilia?" tanya Miguel.
"Miguel, malam ini tidurlah bersamaku,"pintanya dengan manja merayu.
"Hari ini aku tidak akan tidur dengan siapapun, aku juga butuh sendiri," tukas Miguel.
"Tapi Miguel, ini kan semua demi anakmu, semakin sering kau membelainya, maka bayi kita akan merasa senang, dia akan semakin aktif bergerak di perutku, tentu saja itu akan berpengaruh untuk pertumbuhannya. Kau juga inginkan melihat anak kita tumbuh sehat dan cerdas, kan?"
Segala macam alasan dikerahkan Cecilia agar ia menjadi istri kesayangan Miguel.
Miguel menghempas nafas beratnya.
Tok tok tok
__ADS_1
tiba-tiba terdengar suara pintu kamar Cecilia digedor oleh seseorang.
Miguel keluar dari kamar untuk membuka pintu.
"Permisi tuan maaf saya mengganggu," ucap Alena asisten Barbara.
"Ada apa lagi?!" tanya Miguel kesal.
"Maaf tuan, Nyonya Barbara meminta saya untuk memanggil anda."
"Memangnya ada apa lagi ini?!" tanya Miguel semakin kesal.
"Nyonya Barbara muntah-muntah tuan, dan ia meminta Tuan untuk melihat keadaannya."
Mendengar apa yang disampaikan oleh Alena, membuat Cecilia memicingkan matanya.
Karena mereka semua sama-sama licik, ia pun tahu, jika itu hanyalah akal-akalan Barbara, agar ia dapat mencari kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Miguel.
"Muntah-muntah? kalau begitu kau panggilkan saja dokter kandungan,"perintah Miguel.
"Sudah tuan, dokter kandungan sudah memeriksa keadaan Nyonya Barbara, Dokter bilang itu adalah hal yang biasa," tutur Alena.
"Lalu?"
"Nyonya Barbara meminta anda untuk melihat keadaannya," papar Alena.
Miguel hanya bisa menggelengkan kepala sambil mendengus kesal.
"Cecilia aku ke kamar Barbara dulu,"ucap Miguel sambil menutup pintu kamar Cecilia.
Cecilia kembali melotot kan bola matanya.
'Dasar Barbara, lihat saja, nanti aku yang akan melahirkan seorang putra, yang akan menjadi pewaris dari semua harta Miguel, dan yang pastinya kalian akan aku singkirkan' batin Cecilia.
***
Miguel tiba di kamar Barbara dan disambut oleh isak tangis Barbara.
"Miguel hiks hiks," panggil Barbara sambil menangis memeluk Miguel.
Selama hami,l Barbara memang terlihat lebih cengeng dan lebih sensitif.
"Miguel Kau dari mana saja, Kenapa akhir-akhir ini kau selalu pulang terlambat," tutur Barbara dengan nada manja.
"Aku banyak urusan Barbara, aku sudah sediakan asisten untuk membantu pekerjaan kalian, aku juga sudah mengatur jadwal dengan adil untuk kalian bertiga, dan dalam tiga hari aku hanya punya satu hari untuk menikmati waktu sendiri,"cetus Miguel karena ia tahu apa maksud dari Barbara.
"Tapi Miguel, saat ini keadaannya berbeda, aku selalu merasa sedih jika kau jauh dari ku, mungkin ini karena aku tengah mengandung anakmu. Entah kenapa aku aku selalu ingin berada disampingmu. Malam ini tidurlah…" kata-kata Barbara terhenti seketika.
'Tidak bisa Barbara! Hari ini aku akan beristirahat di kamar ku sendiri, itu sudah menjadi kesepakatan kita bersama," sahut Miguel dengan tegas.
"Tapi Miguel…"
"Tidak bisa! Sekarang kau beristirahatlah, aku masih ada urusan," ucap Miguel sambil menuntun Barbara ke tempat tidur.
Miguel menarik selimut Barbara hingga sebatas pinggang. Barbara pun pasrah dan berbaring di atas tempat tidurnya, lagi-lagi ia gagal membujuk Miguel untuk tidur bersamanya di hari ini.
"Ingat kau harus berhati-hati dalam menjaga anak yang ada di kandunganmu," ucap Miguel sambil mengecup kening Barbara sebelum meninggalkan tempat itu.
***
Di kamar Felisha.
Felisha tampak tenang menonton drama kesayangannya, sambil memakan buah-buahan segar yang disediakan asisten.
"Nyonya, Tuan Miguel sudah pulang, Apa anda tidak ingin menemuinya? Sekarang dia sedang berada di kamar nyonya Barbara," ucap Lucia.
"Biarkan saja, Aku mau nonton drama kesayangan ku," sahut Felisha dengan mulut yang masih mengunyah buah-buahan.
Di antara para istrinya, hanya Felisha yang bersikap sedikit lebih cuek pada Miguel, mungkin karena bawaan dari sang jabang bayi.
"Yah nyonya, di saat istri tuan Miguel lainnya mencoba mencari perhatian, anda malah sibuk nonton drama. Ingat Nyonya, anda harus menjadi prioritas dari istri-istri tuan Miguel yang lainnya. Anda kini bersaing dengan dua istri Miguel lainnya, anda tahu sendiri, bagaimana liciknya Nyonya Cecilia dan nyonya Barbara. Jika anda bersikap lemah, maka anda yang akan tersingkir dari harem ini, lalu bagaimana nasib putra anda,"hasut Lucia dengan nada yang berapi-rapi.
Tentunya lucia ada kepentingan tersendiri, jika sampai anak dari Felisha yang jadi pewaris utama di kerajaan bisnis Miguel Simon.
"Kau benar juga, ya walaupun aku tidak terlalu senang jika Miguel menggangguku ketika aku tengah nonton drama, tapi aku tidak boleh kalah dari mereka," cetus Felisha sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Felisha yang tiba-tiba saja berubah akibat dari bujuk rayu lucia.
"Menurut yang saya dengar Nyonya Cecilia dan Barbara memperebutkan Tuan Miguel agar bisa tidur bersamanya, saya rasa Anda juga harus melakukan itu, apalagi di antara mereka berdua, Anda yang paling cantik dan yang paling muda, Anda harus bisa mengalahkan kedua rival anda itu,"ucap Lusia sedikit berbisik.
"Jadi menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Felisha pada Lucia.
"Anda berpura-pura saja sakit, dengan demikian anda bisa minta pada tuan Miguel untuk menemani anda," ucap Lucia.
"Tapi aku tidak sakit, badanku juga tidak panas,"cetus Felisha.
"Anda pura-pura saja tidak berdaya, muntah-muntah, sakit perut sakit kepala dan sebagainya, agar tuan merasa ibah dan memutuskan untuk menjaga anda di malam ini," ucap Lucia lagi.
"Baiklah kalau begitu panggilkan suamiku!"
"Baiklah Nyonya, kalau begitu Anda berbaring lah, buatlah wajah anda menjadi sendu agar Tuan Miguel menjadi kasihan dan meluangkan waktunya lebih banyak untuk anda," imbuh Lucia.
Lucia berlari menuju kamar Barbara.
***
Miguel keluar dari kamar Barbara, kemudian berpapasan dengan Lucia.
"Eh tuan… Nyonya Felisha…,"ucap Lucia pura-pura ragu.
"Ada apa dengan Felisha?" tanya Miguel ketus.
"Nyonya Felisha sedang tidak enak badan tuan, ia merasakan sakit kepala, saya jadi khawatir terhadap nyonya," ucap Lucia semakin memanasi Miguel.
Miguel mengernyitkan dahinya sambil memijat pelipisnya, berkali-kali ia menghempaskan nafas kasarnya, ternyata memiliki tiga orang istri sungguh sangat merepotkan. Namun, itulah kehidupan yang ia jalani dan Miguel harus bisa menghadapi konsekuensinya.
Dengan langkah cepat Miguel menghampiri kamar Felisha.
Bruk… pintu terbuka dan Felicia memulai aktingnya. Felisha juga menambahkan foundation pada bagian bibirnya agar sedikit terlihat pucat.
"Felisha Ada Apa denganmu?"tanya Miguel sambil berjalan menghampiri Felisha.
"Aku merasakan sakit kepala, seluruh tubuh juga terasa sakit,"ucap Felisha lirih.
"Kalau begitu aku akan panggil dokter."
"Iya Miguel, tapi aku takut jika malam ini harus tidur sendirian, kepalaku terasa sakit sekali aku takut terjadi apa-apa padaku Miguel,"ucap Felisha dengan nada membujuk.
Miguel menatap wajah Felisha terlihat sekali istrinya itu berbohong.
Tak lama kemudian Miguel merasakan getaran pada handphonenya.
Segera saja yang merogoh saku celana dan meraih handphone tersebut.
"Halo ada apa?" tanya Miguel.
"Tuan, saya menemukan nama Helena Gwen di salah satu daftar pasien dokter kandungan," ucap suara di seberang telepon.
Mendengar hal itu Miguel tak hanya membelalakkan bola matanya tapi juga senyumnya seketika terkembang.
"Benarkah? di mana dia?"tanya Miguel seolah tidak sabaran.
"Nyonya Helena memeriksakan keadaannya di salah satu rumah sakit di kota Boston."
"Baiklah sekarang juga saya akan ke sana!"
Tanpa permisi Miguel keluar dari kamar Felisha.
"Miguel Kau mau kemana?!" tanya Felisha yang langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku ada urusan! Beristirahatlah!"
Keluar dari pintu Miguel kembali melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
"Halo David! Siapkan helikopter untuk menuju ke kota Boston sekarang!"
"Baik Tuan,"sahut suara di seberang telepon.
Miguel semakin mempercepat langkah kakinya, dengan senyum yang terkembang.
'Akhirnya, aku bisa menemukan mu Helena,' batin Miguel Ia pun berlari semakin kencang menuju helipad.
__ADS_1
Hehehe bersambung dulu ya reader, kalau sempat othor up lagi deh, kalau nggak, tunggu aja besok Insya Allah 😄🙈🙏
.