
Berita heboh mencengangkan viral di seluruh penjuru kota.
Bagaimana tidak, plang reklame yang biasanya berisi iklan produk atau jasa yang ditawarkan, kini berisi plang pengumuman tentang pencarian orang hilang dengan hadiah yang menggiurkan.
Mereka mengkonfirmasi sayembara tersebut kepada tim yang disiapkan oleh Miguel, penduduk kota 0un berbondong-bondong mencari keberadaan Helena. mereka sangat antusias, mengingat Tuan Miguel Simon pasti takkan mengingkari janji.
Hadiah yang ditawarkan Miguel sungguh sangat menggiurkan, bahkan ada beberapa pegawai kantor yang meminta cuti hanya untuk mencari keberadaan Helena.
Helena berjalan dengan menggunakan penyamarannya yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Di kiri kanan ia melihat poster dan baliho terpampang nama dan identitas dirinya.
Dengan langkah tertatih Helena menyeret kopernya, ia tak tahu lagi harus kemana berjalan, sementara tubuhnya semakin lemah karena belum makan apapun dari semalam.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Helena mencari tempat yang aman untuk bersembunyi agar lebih mudah beristirahat.
"Harus kemana aku pergi?" tanya Helena sambil menyeret langkahnya yang terasa semakin berat .
Teriknya sinar mentari di siang itu menambah berat keadaan Helena. belum lagi ia merasa muak melihat wajahnya terpampang di pinggir jalan raya.
Pengumuman itu tak hanya terpanjang di sejumlah Billboard jalanan, tapi juga berupa kertas selebaran.
Miguel memang benar-benar niat mencari Helena.
Helena berhenti di sebuah gereja, karena tak ada lagi tempatnya untuk lari. Tubuhnya sudah gemetar dan tak sanggup lagi untuk berjalan.
Saat ini orang-orang tengah sibuk mencarinya, karena hadiah yang begitu menggiurkan.
Helena duduk di kursi gereja sambil menangis, perutnya terasa sakit karena harus menahan lapar.
Setelah berjam-jam duduk dan beristirahat di dalam gereja kosong itu, seorang pria dengan rambut putih yang mengenakan jas hitam datang menghampirinya.
"Anakku, ada apa denganmu, Kenapa kau menangis?" tanya pria tua itu dengan tutur kata yang begitu teratur.
Helena menatap wajah pria yang terlihat teduh dan bersikap tenang itu, kemudian ia mengedarkan pandangannya.
Helena yakin jika pria itu adalah pendeta.
"Apa saya boleh tinggal di sini untuk sementara tuan?" tanya Helena sambil menghapus sisa air matanya.
Pria tua itu menatap Helena dari atas sampai bawah.
"Sepertinya aku mengenalmu, kau?" tanya pendeta itu.
Pendeta itu kembali memperhatikan wajah Helena.
"Iya tuan, saya lah gadis yang ada di selebaran itu. Tapi saya mohon agar Tuan tak memberitahu pada siapapun tentang keberadaan saya di sini, hiks hiks," pinta Helena dengan mengiba.
"Kenapa kamu bisa bilang begitu, padahal kau tahu kan, berapa uang yang dijanjikan oleh Miguel Simon jika saya bisa memberi informasi kepadanya?" Pendeta itu coba memancing reaksi Helena.
"Karena saya yakin, Tuan adalah orang yang baik, dan tidak memanfaatkan keadaan," ucap Helena sambil menatap pria tua itu dengan bola mata yang berembun.
Pria tua itu mengangguk lirih.
"Apa boleh ku tahu kenapa kau lari dari Miguel Simon?"tanya pendeta itu sambil mendaratkan bokongnya di di samping Helena.
"Miguel Simon menikahiku hanya untuk membalas dendam, selama menjalani pernikahan dengannya, aku kerap kali mendapat perlakuan kasar darinya, tak hanya kekerasan verbal, aku juga sering mendapat kekerasan fisik dan kekerasan seksual," papar Helena sambil sesekali menghapus air matanya.
Pendeta itu tersenyum sambil mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kau ikut lah denganku."
"Benarkah tuan?" Tanya Helena tak percaya.
"Iya ikutlah denganku, Aku memiliki panti asuhan yang berjarak sekitar 10 mil dari sini. Panti asuhan itu sedikit tersembunyi dan sangat jarang dikunjungi, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya," ucap pria tua itu.
"Di sana, aku yakin kau akan aman untuk tinggal sementara waktu," imbuhnya.
"Benarkah, kalau begitu terima kasih Tuan."Helena sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan orang tua itu.
Helena dan pendeta Jose keluar dari gereja, kemudian mereka masuk ke dalam mobil pendeta Jose.
Di dalam mobil Helena melihat pemandangan diluar jendela, Dia hanya bisa pasrah dibawa oleh pria tua itu.
Pendeta itu menyetir mobil sambil sesekali melihat gelagat Helena yang seperti ketakutan.
"Kau sudah makan?" tanya pendeta itu ketika melihat tangan Helena yang gemetar dan pucat.
Helena menggelengkan kepala lirih, "Aku takut untuk pergi membeli makanan."
Pendeta itu pun berhenti di sebuah kedai burger yang kebetulan ada di pinggir jalan yang mereka lalui. Tuan Jose memesan burger melalui pelayanan drive thru.
"Ini makanlah dulu," ucap pendeta Joseph sambil menyodorkan burger kepada Helena.
__ADS_1
Pendeta Jose melirik ke arah perut Helena
"Apa kau sedang hamil?" tanya pendeta itu pada akhirnya.
Helena kaget ketika mendengar pertanyaan dari pendeta itu, pasalnya perutnya belum begitu kelihatan.
Sambil mengunyah burger itu Helena menganggukan kepalanya.
"Apa kau mengandung anak dari Miguel Simon?"tanya pendeta itu lagi.
Helena kembali mengangguk menjawab pertanyaan dari pendeta itu.
Pendeta menghempas nafas panjang.
"Pantas saja Miguel rela mengeluarkan uang banyak untuk bisa mendapatkanmu."
Helena lirik pendeta itu
"Sepertinya Anda begitu banyak mengenal tentang Miguel Simon?"
"Tentu saja, karena kakeknya adalah temanku. Jadi aku tahu siapa itu Miguel," ucap pendeta itu.
Mendengar hal itu wajah Helena mendadak pucat.
"Tapi kau tenang saja, kau akan aman bersamaku," imbuhnya agar Helena menjadi tenang.
Setelah pembicaraan itu, tak ada lagi yang mereka bahas.
Kurang dari setengah jam, mobil tuan Jose tiba di sebuah bangun berlantai tiga yang cukup klasik.
Kedatangan tuan Jose di sambut oleh beberapa wanita yang mengenakan seragam suster.
Mereka sempat heran melihat seorang gadis dengan penampilan lusuh turun dari mobil bersama Tuan Jose.
"Dia Helena, untuk sementara biarkan tinggal di sini," ucap Jose menjelaskan sebelum mereka bertanya.
Helena tersenyum kepada keempat wanita tersebut.
"Hai Helena perkenalkan nama saya Alice, dan ini dua rekan saya,Vera dan Agnes," ucap salah seorang wanita yang lebih tua dari ketiga orang itu.
"Saya Helena," ucap Helena sambil tersenyum ramah.
"Agnes, bawa Helena ke kamarnya biarkan dia beristirahat untuk sejenak, kita akan makan malam bersama dan memperkenalkan Helena pada anak-anak panti yang ada di sini," ucap Tuan Jose.
"Mari Helena aku antar."
Dengan senang hati Helena mengikuti Agnes yang berjalan di depannya.
Sambil melewati koridor, Helena melihat sekeliling bangunan yang dirasanya sudah cukup tua itu. Namun, masih berdiri dengan kokoh
Lantai bangunan itu terbuat dari batu marmer, sementara dindingnya dicat berwarna putih tanpa ornamen ataupun hiasan dinding yang mewah, hanya ada foto-foto lawas dengan bingkai-bingkai unik yang terlihat begitu klasik.
Setelah melewati koridor mereka menaiki anak tangga.
Helena dan Agnes berbincang-bincang hingga tiba di depan pintu sebuah kamar.
"Ini kamarmu Helena silahkan beristirahat," ucap Agnes sambil menekan handle pintu.
"Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di dapur" imbuhnya lagi.
"Terima kasih Agnes, tapi aku tidak merasa lelah, boleh aku mengikuti kegiatan kalian hari ini?" tanya Helena
"Kau yakin?" tanya Agnes balik.
"Memangnya kenapa?" Helena balik bertanya.
"Tugas kami di sini adalah memasak untuk kebutuhan anak-anak panti, sebentar lagi kami akan membuat roti dan isiannya untuk makan malam, malam harinya kami juga harus tidur sampai larut malam, untuk mempersiapkan sarapan pagi untuk para penghuni panti yang berjumlah ratusan orang ini," paper Agnes
"Kenapa tidak, aku senang bisa membantu," ucap Helena.
"Baiklah, jika kau menginginkannya. Ayo, kalau begitu kita langsung menuju ke dapur."
Helena dan Agnes menuju ke dapur, saat itu Alice dan Vero sedang berjibaku dengan sekarung tepung gandum.
"Hai semua," sapa Helena.
"Hai Helena kau di sini? Kenapa kau tidak beristirahat saja di kamarmu?"tanya Vero.
"Aku tidak lelah, Sudah lama aku tidak melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti kalian," ucap Helena.
Hahaha
Mereka semua tertawa, ucapan Helena terdengar seperti lelucon.
__ADS_1
"Kau pikir pekerjaan mengaduk tepung ini adalah pekerjaanmu yang menyenangkan hahaha? "tawa Alice.
Helena tersenyum dan mengangguk.
"Tapi tak apalah, anggap saja ini pekerjaan yang menyenangkan, sebelum kau akan bosan melakukannya, karena hampir setiap hari kami mengolah tepung-tepung ini untuk dijadikan roti dan bahan makanan yang lainnya," papar Alice.
"Ya semoga saja aku tidak pernah merasa bosan,"sahut Helena.
Helena memakai celemek kemudian ia mengaduk adonan tepung hingga tangan dan wajahnya belepotan tepung.
Helena cukup menikmati hari-hari bersama dengan Biara Wati dan anak-anak penghuni panti itu.
***
Miguel mondar-mandir di depan ruang kerjanya, sudah seminggu sayembara pencarian Helena yang dilakukan,tapi tak seorangpun yang menghubungi Miguel.
Hal itu membuat Miguel hampir frustasi, Selain itu karena terus mencari keberadaan Helena, Miguel sampai mengabaikan tiga istrinya yang lain.
"Miguel!" Cecilia datang menghampiri Miguel di ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanya Miguel dengan dingin.
"Kau masih bertanya ada apa? Harusnya aku yang bertanya padamu! Ada apa ini? Kenapa sejak kehilangan Helena, kau seperti kapal yang terombang-ambing kehilangan arah, apa sebegitu lemahnya kau! hanya karena seorang wanita, kau begitu mudah diperdaya oleh cinta, hingga kau mengabaikan kami ketiga istrimu?"
"Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan, sebaiknya kau diam saja," tukas Miguel sambil mengusap wajah dengan kasar.
"Kehilangan? Kau kehilangan seorang istri, tapi kau masih punya tiga istri lainnya Miguel!"
"Memangnya apa kelebihan Helena dibanding kami bertiga, hah ?!"tanya Cecilia dengan emosi bercampur cemburu.
"Helena bukan hanya sekedar Seorang Istri bagiku, Tapi saat ini dia adalah segalanya, karena di dalam rahimnya ada seorang pewaris untukku," sahut Miguel.
Cecilia bersungut mendengar penjelasan Miguel tersebut.
"Miguel, kami juga bisa memberikan pewaris untuk mu, setelah terapi ini selesai, dokter menjamin aku Barbara dan Felisha bisa mengandung anak darimu. Jadi untuk apa kau buang-buang waktu mencarinya, Kau hanya menunggu waktu beberapa bulan lagi untuk kami bisa mengandung."
Miguel terpancing emosi karena ucapan Cecilia itu, Selain itu ia juga malas berdebat.
"Pergilah Cecilia, saat ini aku butuh waktu untuk sendiri," usir Miguel sambil menghela nafas panjang.
Cecilia menatap tajam ke arah Miguel, kemudian berlalu dari tempat tersebut.
***
Sudah sebulan berlalu, tapi sampai saat ini jejak Helena belum juga ditemukan, sementara Helena menikmati hari-hari bersama sahabat baru dan anak-anaknya panti St Jose.
***
Miguel berada di ruang CEO HM Corporation, perusahaan yang dimilikinya kini semakin berkembang dan berjaya, sedikit demi sedikit Miguel bisa membangun kembali kerajaan bisnisnya yang baru.
Namun, kesuksesan bisnisnya berbanding terbalik dengan rumah tangganya.
Setiap hari, ada saja keluhan dari ketiga istrinya, belum lagi Reina yang berada di penjara dan selalu membuat ulah hingga menguras emosi dan tenaganya.
Satu bulan,1 dan tak ada kabar berita dari Helena, meski hadiah yang diberikan Miguel kini sudah bertambah menjadi 1,5 juta dollar. Namun jangankan Helena, jejaknya saja tak ditemukan, seperti lenyap ditelan bumi.
Seorang pria berseragam khas datang menghampiri ruang Miguel.
"Ada apa Tuan?" tanya pria itu.
"Aku ingin kau mengantarku ke markas FBI untuk melaporkan kehilangan Helena dan menyewa agen terbaik CIA untuk mencari keberadaan Helena."
Bodyguard itu begitu kaget mendengar penuturan Miguel.
"Apa itu tidak terlalu dramatisir Tuan ?" tanya Bodyguard pada Miguel.
"Dramatisir katamu?! Aku sudah meminta bantuan pihak berwenang untuk menerbitkan yellow notice atas kehilangan Helena. Namun, sampai sekarang belum ada kabar sama sekali. Karena itulah aku harus mengambil langkah final ini."
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu?"saran pria itu.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku harus pastikan keadaan Helena baik-baik saja sebelum aku menjadi gila!" Sahut Miguel dengan tegas.
"Baiklah Tuan, jika itu memang jalan yang terbaik," pungkas Bodyguard itu.
Sudah sebulan Miguel merasakan perasaan gelisah, hingga mengganggu konsentrasi, perubahan mood dan perubahan nafsu makannya, itu semua karena dirinya kehilangan Helena.
Miguel khawatir terjadi sesuatu pada Helena, karena itu pikirannya belum bisa tenang, jika belum mendapat kabar dari sang istri.
Setelah mendapat laporan dari Miguel agen FBI dan CIA langsung melaksanakan tugas pencarian Helena.
bersambung dulu gengs.
__ADS_1