
Karena pesta malam itu membuat keamanan di sekitar harem menjadi lemah. Reina keluar dari harem dengan mudah, mereka semua terlena karena di bawah pengaruh minuman keras yang memabukkan.
Reina kemudian berjalan di pinggiran jalan raya menuju arah kota.
Dari kejauhan Reina melihat sebuah mobil melaju pelan ke arahnya. Reina berinisiatif melambaikan tangannya, meminta sopir untuk berhenti.
Mobil sedan itu pun berhenti, melihat wanita yang cantik melambaikan tangannya, sopir itupun terlihat senang.
"Mau ke mana?" tanya sopir sambil tersenyum mesum memperhatikan Reina dari atas kepala hingga ke bawah.
Melihat raut wajah sang sopir, Reina bisa mengambil kesempatan ini.
"Saya ingin menumpang boleh?" tanya Reina sambil mengedipkan matanya ke arah pria yang berusia paruh baya itu.
Dengan senang hati, sopir itu pun membukakan pintu mobilnya untuk Reina.
Reina masuk ke dalam mobil itu kemudian duduk dengan manis sambil melempar senyum ramah ke arah sang sopir.
"Mau ke mana ?"tanya sopir itu sambil tersenyum genit.
"Saya mau ke rumah saudara saya," jawab Reina dengan senyuman yang lebih genit.
"Iya, saudara kamu tinggal di mana?" tanya pria itu lagi.
"Nanti akan ku tunjukkan tempatnya ,"ucap Reina sambil tersenyum menyeringai.
Pria itu menyetir sambil mengulurkan tangannya ke bagian paha Reina.
Reina tersenyum mendapat perlakuan itu, Ia pun menantang pria tersebut untuk melakukan sesuatu yang lebih berani.
"Apa kau menginginkannya?" tanya Reina sambil tersenyum dengan mesum ketika tangan pria itu mendekati pangkal pahanya.
Hahaha pria tua itu tertawa.
"Siapa yang bisa menolak wanita secantik kamu," ucap pria itu.
Ehm, Reina kembali tersenyum.
"Sepertinya di depan, kita bisa berhenti di pinggir jalan, kebetulan jalanan saat ini begitu sepi, kita bisa melakukan di tempat yang sedikit tersembunyi," cetus Reina.
Pria itu pun tersenyum sambil melajukan mobilnya menuju jalan kecil yang cukup sepi.
Malam saat itu begitu gelap, tanpa sinaran rembulan, dengan penerangan yang minim pula.
Pria itu mematikan mesin mobilnya di sebuah tempat yang menurutnya aman untuk berbuat mesum.
"Kau mau kita melakukannya dimana ?" tanya pria itu.
"Aku tak suka melakukannya di dalam mobil, akan lebih menyenangkan jika melakukannya di alam yang sedikit terbuka," jawab Reina.
"Baiklah, Ayo turun dari mobil,"ajak pria tua itu.
Reina dan laki-laki itu turun bersamaan, ketika berjalan mencari tempat yang tepat untuk bercinta tiba-tiba saja pria itu menjerit.
"Akh!"
"Akh! Akh! Akh!" Pria itu berkali-kali menjerit, karena di tusuk berkali-kali pula oleh Reina.
Seketika tubuh pria itu ambruk tanpa sempat bicara apapun.
"Dasar pria tua yang tak sadar diri!" caci Reina sambil melihat kilatan pisaunya yang berlumur darah.
Iya pun tersenyum menyeringai.
Reina menendang tubuh pria yang sudah tidak bernyawa itu kemudian mencari-cari barang berharga dari pria itu.
Ia menemukan uang tunai, kunci mobil dan beberapa ATM di dalam dompet yang disimpan dalam saku celana jeans pria itu.
__ADS_1
Tak hanya di situ, Reina juga mencabut perhiasan yang dikenakan pria itu, seperti kalung emas dan cincin bermata biru yang cukup besar.
"Ehm lumayanlah," gumamnya ketika melihat perhiasan yang berhasil ia rampas.
Rena sengaja membawa pisau yang digunakannya untuk menikam pria tadi, agar tak mudah ditemukan sebagai barang bukti.
Setelah melakukan pembunuhan keji Reina membawa mobil pria itu, menuju suatu tempat.
***
Mobil Rheina memasuki sebuah desa, mobilnya masih melaju membelah pekat malam menuju rumah yang letaknya cukup terpencil dari jalan raya.
Setelah tiba di depan rumah itu, Reina keluar dari mobil.
Ia menekan bel pintu
Ting tong!
Bunyi bel berbunyi di tengah malam. Grasia yang sedang menonton tv hingga larut malam itupun, langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa yang datang malam-malam begini," dengus Gracia sambil beranjak dari tempat duduknya.
Gracia berjalan pelan, setelah tiba di depan pintu, Gracia mengintip di balik gorden, dia melihat ada seorang wanita yang tak asing lagi menurutnya tengah berdiri di ambang pintu.
"Reina? Kenapa dia datang malam-malam begini," guman Gracia.
Ting tong Ting tong!
Bel kembali berbunyi beberapa kali, mungkin jika pintu tidak dibukakan oleh Gracia, maka bel itu tetap akan berbunyi sampai kapanpun.
Dengan malas-malasan Grasia menuju pintu kemudian membuka pintu.
Sorot mata tajam terarah ke Gresia saat pintu terbuka.
"Kau? Ada apa kau datang malam-malam seperti ini," tanya Gracia yang merasa tak senang kedatangan tamunya saat itu.
Hei !siapa yang menyuruhmu masuk! pekik Gracia dengan kesal.
Gracia menangkap ada masalah yang terjadi pada Raina sehingga istri dari seorang miliarder Miguel Simon, itu sampai datang menemuinya malam-malam begini.
"Aku melarikan diri dari Miguel,"ucap Reina sambil meraih bungkusan rokok yang terletak di atas meja sofa.
Reina kemudian menghidupkan rokok itu dan menghisap asap rokok.
"Kenapa kau melarikan diri dari istanamu? Tapi kenapa tanya Gracia.
"Ceritanya panjang, tapi aku butuh penginapan,dan aku akan menginap di sini."
Gracia menghembuskan nafas kasarnya.
"Aku tak ingin terlibat dengan Miguel Simon, sebaiknya kau cari saja tempat lain," tutur Gracia.
"Apa Jadi kau tak mau menolongku atau aku harus memberitahu kepada orang-orang tentang siapa kau!"
Ancam Reina.
"Kau mengancamku?!" tanya Gracia.
"Aku tidak hanya sekedar mengancam, tapi aku bisa melakukan apa saja terhadapmu," sahut Reina.
Baiklah, silakan saja kau menginap di rumahku, tapi aku tidak ingin terlibat dengan urusan mu."
"Aku takkan melibatkanmu dengan urusanku, hanya saja aku butuh bantuan darimu."
"Bantuan apa Reina?"tanya Gracia.
"Aku mau kau menjual cincin ini. Cincin ini akan ku gunakan untuk pergi ke Korea untuk melakukan face off ."
__ADS_1
Gracia memicingkan matanya menatap ke arah Reina.
"Aku ingin hidup menjadi sosok yang baru lagi, tanpa ada yang mengenaliku,"imbuhnya lagi.
Gracia memutar bola mata malasnya mendengar alasan itu.
"Memangnya, apa yang telah kau lakukan, sampai kau berniat melarikan diri dan melakukan operasi di luar negeri?" tanya Gracia.
"Tidak ada, aku hanya membunuh tiga pria saja hari ini dan jika kau tidak membantuku, maka kau akan jadi korbanku selanjutnya," ucap Reina dengan santai, sambil menghmvuskan asap rokok ke udara.
Gracia menyunggingkan senyum tipisnya. Ia tahu sekali seperti apa Reina, Reina memang bisa berbuat nekat dan bisa berbuat apa saja asal ia keinginannya tercapai.
Buktinya saja, ia pernah menggugurkan kandungannya hingga menjadi mandul seumur hidup, hanya karena ingin menikahi Miguel.
Jika membunuh darah dagingnya sendiri saja, Reina tidak segan, apalagi jika membunuh orang lain, ya meskipun Gracia adalah saudara sepupunya, pikir Gracia
"Terserah kau sajalah Reina, sekarang aku ingin beristirahat, kau tahu kan di mana kamarmu," ucap Gracia sambil berlalu dari Reina.
***
Penemuan sosok seorang pria kembali lagi menggemparkan, dilihat dari luka korban, polisi berasumsi jika ini ada kaitannya dengan Reina yang melarikan diri.
Apalagi tidak ditemukan identitas korban dan barang-barang berharga milik korban seperti kartu identitas atau uang dan sebagainya.
Peristiwa itu bisa dikatakan sebagai perampokan disertai pembunuhan.
Saat ini polisi gempar mencari keberadaan Reina.
Seperti apa yang diinginkan oleh Raina, pagi-pagi sekali Grace menuju arah kota, mobilnya tiba di sebuah toko perhiasan yang terkenal.
Grace kemudian menjual cincin Reina, cincin itu bermata berlian yang paling mahal, cincin itu adalah cincin pernikahan Miguel dan Reina.Reina terpaksa menjual cincin itu untuk bisa ke luar negeri dan melarikan diri
Setelah bertransaksi, Gracia kembali ke rumahnya.
***
"Ini uangmu!" ucap gresia sambil melemparkan koper mini yang berisikan tunai.
Raina menyunggingkan senyum tipisnya,sambil meraih koper tersebut kemudian ia membukanya dan mengambil beberapa gepok uang, kemudian melemparnya pada Gracia.
"Itu jatah untukmu," ucap Raina
"Baiklah, kapan kau akan pergi dari rumah ini?" tanya Gracia dengan ketus.
"Kau tenang saja, aku akan pergi dari rumah ini, tapi sebelum itu aku ingin mengganti identitasku dan meminjam identitasmu."
"Meminjam identitasku? Maksudnya apa?" tanya Gracia bernada keberatan.
"Aku pinjam identitasmu untuk bisa pergi ke luar negeri, paspor dan yang lainnya dengan menggunakan namamu," jawab Reina.
Gracia memijat keningnya, sebenarnya ia keberatan jika Rena menggunakan identitasnya,tapi ia tak punya alasan untuk menolak wanita yang pernah membantunya itu.
"Baiklah, akan ku pesankan kau tiket pesawat dan segeralah pergi dari sini," ucap Gresia dengan ketus.
Gracia menuju kamarnya, kemudian memesan tiket penerbangan untuk perjalanan ke Korea. Sebelumnya Ia memang pernah melakukan perjalanan ke Korea dengan menggunakan jasa travel.
Setelah mengkonfirmasi waktu keberangkatannya, Gracia kemudian menghampiri Raina.
"Penerbanganmu jam 03.00 sore hari ini, jadi bersiaplah karena sebentar lagi sopir travel akan menjemputmu," ucap Gracia.
Reina pun memulai penyamarannya berdandan seperti Gracia. Karena mereka saudara sepupuan ,jadi wajah mereka juga terlihat sedikit mirip.
Pukul 01.30 siang, Reina dijemput oleh travel dan membawanya menuju bandara.
Pukul 03.00 sore Raina naik pesawat dengan lenggang.Reina duduk di salah satu kursi pesawat.
Senyum jahat terbit di bibirnya." Lihat saja Miguel, apa yang akan aku lakukan padamu nanti, setelah aku kembali," ucap Reina sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
bersambung dulu gengs.