
Helena terbangun dari tidurnya karena perasaan begitu gelisah, perutnya juga terasa mual.
Sejak dari semalam ia belum juga makan.
Rencananya pagi-pagi ini Helena bermaksud untuk mencari makanan di salah satu supermarket terdekat.
Ketika keluar dari hotel tempatnya menginap, Helena melihat mobil salah seorang Bodyguard Miguel.
Setiap mobil Bodyguard milik Miguel, akan memiliki nomor seri plat yang berurutan. Karena itulah sangat mudah mengenal mobil itu.
"Gawat! Mereka ternyata sudah sampai di sini!"
Melihat Bodyguard suaminya, Helena kembali ke kamarnya, apa yang harus aku lakukan sekarang ? tanya Helena sambil mondar-mandir di depan pintu kamarnya.
"Aku harus mencari cara agar bisa lari dari sini lagi," gumamnya.
Helena kemudian membongkar koper dan mencari beberapa Wig yang ia gunakan untuk menyamar.
Sebelumnya Helena memang membeli banyak Wig, untuk melakukan penyamaran, ia pernah menonton film action yang menceritakan tentang seorang wanita yang melakukan penyamaran untuk menghindari kejaran dari penjahat.
Karena itulah Helena sudah sedia payung sebelum hujan, ia sudah mengira jika Miguel akan mencarinya.
Helena kembali merubah penampilannya, kali ini ia menggunakan wig dengan potongan rambut bob berwarna hitam, Helena memoles wajahnya dengan foundation yang berwarna gelap, tak hanya pada wajah,ia juga memberi foundation itu pada seluruh telapak tangannya. Sementara kakinya ia tutupi dengan sepatu boot yang cukup tinggi.
Kini kulit Helena yang putih itu menjadi lebih eksotik.
Dengan menggunakan kacamatanya, lengkaplah sudah penyamaran Helena hari itu.
Helena mendorong kopernya,tanpa memberitahu resepsionis terlebih dahulu, ia langsung check out dari hotel itu.
Kebetulan saat bersamaan, ada beberapa tamu hotel yang keluar dari kamar mereka secara berombongan menuju lobby.
Helena yang melihat ada kesempatan, kemudian berjalan mendekati rombongan pengunjung hotel itu.
Karena penyamarannya, para Bodyguard kembali terkecoh, karena mengira Helena adalah bagian dari rombongan para tamu hotel yang lain.
Bodyguard itu menunggu instruksi dari Miguel selanjutnya. Mereka berpencar untuk berjaga dan mengintai di setiap penginapan dan hotel yang ada di kota itu.
Helena pergi dengan taksi yang sudah ia pesan sebelumnya, melalui pelayanan hotel.
Beberapa saat kemudian taksi kembali membawa Helena, Helena segera masuk ke dalam taksi tersebut dan mengunci rapat pintu taksi.
"Mau ke mana Nyonya?" tanya sopir taksi itu.
Helena sedikit kaget mendengar pertanyaan seorang sopir taksi karena ia sendiri tidak tahu harus kemana, karena juga tidak tahu. Kota ini adalah kota yang asing yang belum pernah ia jamaah sebelumnya.
"Astaga! Aku harus kemana sekarang."
"Jalan aja Pak, nanti akan ku beritahu tempat pemberhentiannya," ucap Helena.
__ADS_1
Sopir taksi pun berjalan perlahan perlahan, sementara Helena masih membuka aplikasi map nya mencari tempat yang dirasakannya aman untuk bersembunyi.
Setelah 45 menit berjalan, sopir taksi itu kembali bertanya lagi.
"Mau ke mana kita nyonya?" tanya sopir taksi itu kembali.
Melihat sopir taksi yang terlihat gelisah, Helena segera mencari keputusan.
"Kita ke taman kota saja Pak," pungkas Helena. Helena sengaja memilih taman kota agar ia bisa leluasa memilih penginapan dan memikirkan cara untuk kembali kabur melarikan diri dari Miguel.
"Kenapa tidak bilang Nyonya, taman kota sudah lewat. Kita harus memutar lagi," ucap sang sopir dengan nada ketus.
"Oh kalau begitu, maafkan saya pak." Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan Helena.
Helena tiba di taman kota, setelah membayar taksi itu ia kembali menyeret koper-kopernya mencari tempat berteduh untuk sementara waktu.
Padahal perutnya saat itu begitu lapar,Helena mencari supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan.
"Apa yang harus aku lakukan? jika aku mendorong koper-koper ini ke dalam swalayan itu, mereka pasti akan menaruh curiga."
"Jika aku tinggal begitu saja di sini dan koperku akan hilang maka aku tak punya apa-apa lagi," ucap Helena sambil memperhatikan koper-kopernya.
"Sebaiknya aku cari tempat yang aman untuk menyimpan koper-koper ini."
Helena menyusuri taman kota, sambil mendorong kopernya. Ia mencari tempat yang sedikit tersembunyi agar koper itu tidak dilihat oleh orang.
Setelah menyimpan koper-kopernya ditumpukan semak-semak, Helena berjalan menuju supermarket terdekat yang tidak begitu jauh hanya 20 menit berjalan kaki Ia pun sampai di supermarket yang terdekat.
Helena memborong berbagai makanan ringan dan makanan instan untuk persiapannya selama beberapa hari.
Setelah membayar belanjaannya Helena bermaksud mencari penginapan yang lainnya.
Ia berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk tiba di sebuah hotel yang tak jauh dari supermarket.
Langkah herena kembali tercekat,ketika melihat satu lagi mobil anak buah Minguel yang berjaga di depan lobby hotel.
"Astaga ternyata dugaanku memang benar, Miguel mencari keberadaanku dengan cara mengawasi setiap hotel,"
"Ah aku harus ke mana lagi, jika mereka semua mengepung tempat penginapan,lalu aku harus tinggal di mana?"dengus Helena yang merasa kesal.
"Aku coba cari tempat yang lain saja, semoga saja hotel yang lain tidak dijaga oleh Bodyguard Miguel."
Helena mencari lagi beberapa hotel atau penginapan yang ada di tempat itu, melalui salah satu aplikasi di handphonenya.
Setelah mencari, ia menemukan ada sebuah penginapan yang kira-kira setengah jam dari tempatnya berdiri saat ini.
"Sepertinya aku menginap di sini saja, semoga kali ini aku penginapan itu tidak dijaga oleh Bodyguard Miguel."
Helena kembali memesan taksi untuk mengantarnya menuju tempat penginapan yang didapatnya dari rekomendasi salah satu aplikasi handphonenya.
__ADS_1
Dengan menggunakan taksi, Helena coba untuk menuju penginapan sederhana tersebut, lagi-lagi ada sebuah mobil milik anggota Miguel.
'Astaga ternyata mereka ada di sini juga. Aku harus bagaimana, jika semua penginapan dan hotel di sini dijaga oleh orang-orang Minguel,' batin Helena setengah menangis.
"Putar saja Pak!"perintah Helena pada sopir taksi itu.
"Maksudnya apa nyonya?"tanya sopir taksi itu kepada Helena.
"Saya tidak jadi menginap di sini antar saya ke taman kota saja,"ucap Helena.
"Baiklah Nyonya."
Sopir taksi itu pun mengantar Helena kembali ke taman kota.
Setibanya di taman kota Helena turun dari taksi.
Helena berjalan dengan langkah kaki yang gontai karena merasa begitu lelah. Bulir bening mulai menetes di pipi Helena.
Keadaannya yang sulit semakin dipersulit lagi oleh Miguel, hal itu membuat Helena semakin membenci suaminya itu.
"Harus ke mana lagi aku pergi! Kenapa laki-laki brengsek itu tidak membiarkan aku pergi, sebenarnya apa yang diinginkannya?"tanya Helena dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Helena duduk di sebuah bangku di bawah pohon yang rindang.
Dengan bulir bening yang menetes di pipinya Helena mengusap perutnya yang mulai bergerak-gerak.
"Kasihan sekali kamu Nak, harus hidup seperti ini. Tapi kita tidak boleh menyerah, kamu harus kuat,"ucap Helena sambil menghapus air matanya.
Lari dalam keadaan hamil muda bukanlah hal yang mudah. Namun Helena tetap menguatkan dirinya. Baginya, melarikan diri dan hidup terluntang-lantung lebih baik daripada harus tinggal di dalam harem yang dikuasai oleh orang yang licik dan kejam seperti Minguel dan istri-istrinya.
Helena bersandar pada pohon trembesi, rasa lelah mendera sekujur tubuhnya, keringat mulai menetes membasahi wajahnya.
Helena membuka kantong belanjaan yang ia beli di supermarket, karena masih sibuk mencari tempat tinggal ia sampai lupa, jika ia belum makan sepotong roti pun dari semalam.
Setelah memenuhi isi perutnya, Helena kembali menyandarkan dirinya pada pohon yang berdaun rindang itu.
Karena begitu lelah, bola mata Helena terpejam dengan sendirinya.
Untuk beberapa saat Helena coba melupakan masalah-masalahnya.
Bersambung dulu ya gengs jangan lupa di like ya, di komen juga ,ops maaf author banyak maunya 😁🙏
sambil menunggu author up ada rekomendasi karya keren nih, check this out ya.
Dengan judul : Pengasuh Idaman
Karya: Tie-tik.
__ADS_1