
Cecilia meneteskan air mata mendengar kabar dari dari Miguel.
"Sudahlah, kita akan lakukan yang terbaik untuk pengobatan putra kita," ucap Miguel untuk menenangkan hati Cecilia yang terlihat berguncang.
Cecelia terdiam matanya menatap hampa langit-langit di atasnya.
Mimpi dan harapan nya seakan tenggelam bersamaan dengan lahirnya sang putra.
***
Sudah tiga hari Cecilia dirawat di rumah sakit, ia pun diperbolehkan untuk pulang, sementara bayi mereka masih harus berada di ruang perawatannya intensif selama dua Minggu.
Sejak mengetahui keadaan bayinya yang menderita penyakit jantung bawaan, Cecilia tak pernah lagi tersenyum.
Bahkan ia tak pernah lagi menanyakan kabar tentang bayinya.
Cecilia seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.
Melihat keadaan Cecilia saat itu, timbul perasaan khawatir pada Miguel.
Karena itu Miguel bermaksud memeriksakan kondisi kejiwaan Cecilia.
***
"Istri anda sepertinya mengalami baby blues syndrome Tuan. Namun, keadaan tersebut hanya akan berlangsung selama beberapa hari saja," ucap dokter yang memeriksa keadaan Cecilia.
"Jadi apa istri saya bisa dibawa pulang?" tanya Miguel.
"Boleh silahkan saja," jawab dokter.
**
Setelah mendapatkan lampu hijau dari dokter yang memeriksa Cecilia, Miguel bermaksud membawa Cecilia pulang.
"Sudah siap Cecilia?" tanya Miguel sambil mendorong kursi roda kepada Cecilia.
Cecilia hanya diam, dia pun naik di atas kursi roda.
Theresia mendorong koper milik majikannya.
Sebelum pulang Miguel membawa Cecilia ke ruang perawatan bayi baru lahir untuk melihat keadaan Putra mereka.
Tiba di ruang perawatan bayi baru lahir, Miguel segera mengkonfirmasi kepada suster jaga.
Setelah mendapat izin dari suster jaga, Miguel menghampiri Cecilia.
"Ayo, kau tidak ingin melihat putramu ?" tanya Miguel.
Cecilia hanya menatap Miguel dengan tatapan heran, Ia pun menggelengkan kepalanya.
Miguel menghembuskan nafas dengan kasar.
"Cecilia, Sebentar lagi kita pulang, dan mungkin dua minggu lagi baru kita bisa dibawa pulang bayi kita. Apa kau tidak ingin mengetahui kabarnya, kau bahkan belum pernah melihatnya sama sekali," ucap Miguel.
__ADS_1
Cecilia kembali menatap Minggu yang dengan tatapan penuh keyakinan.
Melihat istrinya terlihat acuh dan tidak ada niat untuk melihat putra mereka, Miguel pun menjadi kesal.
"Baru kali ini aku melihat iblis betina sepertimu, bahkan kau tak punya rasa sayang sedikitpun terhadap anak mu! Jangankan melindunginya, memikirkannya saja kau tidak!" dengus Miguel.
Cecilia hanya diam dengan tatapan hampa menatap ke arah depan.
Miguel kembali masuk ke ruangan perawatan bayi baru lahir.Ia Segera menghampiri Suster yang tengah memeriksa putranya.
"Bagaimana keadaan Putra saya suster?" tanya Miguel.
"Keadaan putra anda cukup membaik tuan, bahkan saat ini detak jantungnya sudah mendekati normal," papar Suster tersebut pada Miguel.
"Syukurlah suster," ucap Miguel sambil tersenyum.
Miguel merasa sedikit tenang, mendengar kabar yang diberikan oleh suster.
Miguel kemudian meraba tabung kaca, bola matanya berembun ketika melihat keadaan bayi mungil itu.
"Cepat sembuh putraku, semoga tuhan selalu melindungi mu," lirih Miguel.
10 menit waktu kunjungan pun telah selesai, dan Miguel harus keluar dari ruangan itu.
Pria yang gagah perkasa itu kembali menghapus sisa-sisa air matanya ketika keluar dari pintu ruangan perawatan bayinya.
Ia langsung menghampiri Cecilia, tanpa bicara Miguel langsung mendorong kursi roda Cecilia.
Sepanjang perjalanan menuju harem tak ada sedikitpun pembicaraan yang terjadi antara Miguel dan Cecilia.
***
Tiba di harem, Miguel kembali lagi dikejutkan dengan kabar Barbara dan Felisa yang mengalami kontraksi.
Segera saja ia membawa kedua istrinya itu dengan menggunakan helikopter menuju rumah sakit tempat Cecilia melahirkan.
Tak butuh lama, kedua istri Miguel memutuskan untuk melakukan persalinan dengan cara operasi cecar.
Antara sedih dan bahagia Miguel yang kini mendapatkan kabar dengan kelahiran seorang putra dari Barbara dan seorang putri dari Felicia.
Ada rasa syukur dan haru di hatinya mendengar kabar tersebut. Namun ketika mengingat anak kedua Mereka yang mengalami gangguan kesehatan, Miguel kembali bersedih.
Beruntungnya Putra ketiga dan Putrinya lahir dengan sehat dan selamat.
***
Setelah 3 hari persalinan, Miguel membawa pulang kedua istri dan kedua anaknya.
Sementara Putra keduanya masih berada di perawatan intensif.
Kepulangan kedua istri dan anaknya disambut bahagia oleh para asisten rumah tangga di harem.
Semua berkumpul di teras rumah untuk menyambut kedua putra dan putri Miguel.
__ADS_1
Tak hanya para asisten rumah tangga, Helena dan putranya pun ikut menyambut kehadiran anggota baru keluarga mereka.
Entah kenapa, meski istri Miguel yang lainnya begitu membencinya Namun, Helena tak pernah menyimpan dendam untuk mereka, justru Helena ikut berbahagia, atas kelahiran dua saudara anaknya.
Saat itu Miguel kembali mengundang tuan Jose untuk memberikan nama pada putra putrinya.
Karena keadaan putra keduanya yang tidak beruntung. Miguel memutus untuk tak mengadakan acara yang besar seperti ketika kelahiran Arsen.
Para asisten rumah tangga mereka sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kedua bayi itu pun di letakkan di ruang tamu agar bisa di lihat semua orang.
Helena menggendong Arsen, ia pun duduk bersimpuh mendekat kearah dua bayi itu.
"Arsen, lihatlah adik-adikmu mereka lucu sekali," ucapan Helena pada baby arsen yang kini berusia 4 bulan.
"Felisha, boleh aku menggendong putri mu?" tanya Helena.
"Silahkan saja," jawab Felisha.
Meski tak melahirkan seorang putra. Namun Felisha terlihat sangat bahagia.
'Aku melahirkan seorang putri satu-satunya, putriku pasti akan menjadi kesayangan Miguel,' batin Felisha.
"Momo! Gendonglah Arsen, aku ingin menggendong putri Felisha," ucap Helena.
Dengan bahagia Helena menggendong bayi itu.
"Ih kamu lucu sekali," ucap Helena sambil mencium-cium pipi bayi perempuan itu.
"Wah Nyonya, sepertinya anda suka dengan bayi perempuan, kalau begitu, kenapa anda tidak hamil lagi, siapa tahu mendapatkan anak perempuan," tutur Momo.
Helena mengulum senyumnya.
Sampai saat ini saja, ia dan Miguel tak pernah berhubungan suami istri.
***
Di luar ada pesta yang cukup meriah, berbeda dengan keadaan kamar yang porak poranda akibat ulah Cecilia.
Cecilia begitu marah saat mengetahui Barbara melahirkan seorang putra.
"Sial! Nasib apa yang menimpa ku! Hingga melahirkan anak cacat itu!"
Brak! Prangk!
Cecilia melempar dan membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya.
Ketika hendak mengangkat sebuah guci, tiba-tiba ia merasa sakit pada bagian perutnya.
"Akh! perut ku sakit sekali!" lenguh Cecilia.
seketika ia berlutut karena merasakan sakit yang begitu menyiksa pada bagian luka sayatan operasinya.
__ADS_1
"Sakit sekali, hiks."
bersambung dulu gengs.