Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Mengetahui Kabar Miguel


__ADS_3

"Lima ribu dolar Nyonya," ucap salah seorang pelayan toko ketika Helena menyodorkan cincin permata miliknya.


"Apa tidak bisa ditambah lagi tuan?"tanya Helena.


"Tidak bisa nyonya, memang sudah harganya begitu."


"Ya sudah saya jual, tuan." 


Helena terpaksa merelakan cincin permatanya itu.


5000 dolar kini berada di tangannya.


Ia kembali melirik ke arah Bryan yang sedang digendong.


"Kasihan sekali kamu Nak," ucap Helena sambil mengusap kepala bayi itu.


"Bagaimana Helena, berapa uang yang kau dapat?" tanya Barbara.


"5000 dolar."


"Apa cuma 5000 dolar, cincin semahal itu. Mereka pasti menipu kita."


"Sudahlah Barbara, tidak mengapa dibayar 5000 dolar lagi pula kita tak memiliki surat-suratnya. Saat ini yang terpenting bagi kita adalah mencari penginapan kasihan anak-anak kita,"tutur Helena.


"Kalau begitu aku mau nginap di hotel berbintang 5,"cetus Barbara.


"Sebaiknya kita cari rumah sewa saja yang lebih murah, kita tidak tahu apa yang terjadi pada Miguel. Kita harus bisa mengkondisikan perekonomian kita saat ini," nasehat Helena.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"tanya Felisha.


"Kita harus memiliki alat komunikasi agar bisa menghubungi Miguel. Maklum saja handphone kita tertinggal di dalam harem. Kita juga butuh pakaian ganti untuk anak-anak kita."


"Baiklah kalau begitu kita bagi tugas saja," usul Felisa.


"Biar aku yang dan Barbara yang membeli pakaian."


"Sementara, kau dan Momo berbelanja untuk makanan kita."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu secepatnya saja. Satu jam lagi kita harus kembali ke tempat ini," ucap Helena.


Ketiga istri itu pun berpencar mereka harus segera mungkin mencari barang-barang kebutuhan untuk anak dan diri mereka sendiri.


Helena menuju toko handphone.


Ia membeli handphone yang paling murah, kemudian ia membeli makanan dan susu formula untuk bayi mereka dan juga untuk diri mereka sendiri


Setelah 1 jam, Helena kembali ke tempat titik pertemuan, di sana Barbara dan Felisa ternyata sudah menunggu mereka.


Lalu akan ke mana kita sekarang tanya Barbara.


"Kita ke hotel saja, untuk hari ini, sambil mencari tempat untuk menyewa rumah. Aku sudah membeli handphone. Setelah berada di kamar hotel aku akan menghubungi Miguel," ucap Helena.


Ketiga istri itu pun keluar dari pusat perbelanjaan. Mereka menggendong anak-anak mereka yang menangis ketika melewati trotoar jalanan.


Panas terik dan debu yang bertaburan membuat para bayi itu tidak berhenti menangis.


Beruntung sekitar 200 meter dari pusat perbelanjaan itu mereka menemukan hotel bintang 3.


Karena Arsen tak bisa pisah dengan Momo, Helena memutuskan untuk sekamar dengan Momo.


Begitupun Barbara dan Felicia juga sekamar dengan asisten mereka.


Tiba di kamar hotel, ketiganya langsung merebahkan diri di atas tempat tidur,  rasa lelah mendera sekujur tubuh mereka. Namun, tentu saja mereka tak bisa beristirahat karena anak-anak mereka rewel.


Sesampainya di kamar hotel, Helena menyusui Arsen dan Bryan secara bergantian.


Meski lelah sudah mendera seluruh tubuhnya, masih ada tugas yang harus Helena selesaikan.


Di saat kedua madunya itu beristirahat, Helena masih berkutat dengan handphone miliknya.


Setelah selesai mengotak-atik handphone tersebut, Helena mencoba menghubungi Miguel melalui salah satu aplikasi pesan.


Helena berada di sambungan telepon yang tidak terjawab, tapi ia tidak menyerah, hingga hampir 10 kali ia menelpon, barulah Ada yang menjawab telepon tersebut.


Halo suara Miguel lirih, terdengar di sambungan telepon nembuat Helena seketika menumpahkan air matanya.Helena senang karena akhirnya ia bisa mendengar suara miguel 

__ADS_1


"Miguel! Miguel, kau kah itu?" tanya Helena.


*Iya Helena, ini aku," ucap Miguel yang terdengar lirih dan seperti orang kesakitan.


"Miguel, Apa yang terjadi padamu?"tanya Helena.


Helena sengaja menanyakan kabar Miguel terlebih dahulu, sebelum menceritakan apa yang terjadi padanya di harem.


"Helena aku berada di penjara, saat ini kondisiku begitu mengenaskan, para polisi dan orang-orang itu memukulku hingga aku babak belur dan hampir kehilangan kesadaran."


"Di penjara?"


Penuturan Miguel seketika membuat  tangis Helena pecah.


"Tapi mengapa bisa begitu Miguel! sebenarnya apa yang telah terjadi dengan keluarga kita?" tanya Helena.


"Entahlah Helena, Namun yang pasti saat ini aku sudah hancur. Perusahaanku direbut oleh Tuan Joseph, dan mereka bekerja sama untuk menghancurkanku hingga hancur sehancur-hancurnya." Suara Miguel terdengar serak dan parau 


"Mereka Siapa Mereka Miguel ?"tanya Helena.


"Mereka adalah Armando yang bekerjasama dengan Reina dan Tuan Joseph, ceritanya panjang Helena. Bagaimana keadaanmu dan putra-putra ku?" 


"Kami baik-baik saja Miguel, saat ini kami juga terusir dari harem, aku Barbara dan Felisa berada di hotel saat ini, rencananya besok kami akan mencari rumah sewa karena ternyata harem sudah disita oleh," Tuan Joseph.


Sakit terasa di hati Miguel ketika mendengarkan itu.


"Maafkan aku Helena, aku tidak bisa menjaga kalian," ucap Miguel.


"Tidak apa-apa Miguel, kami bisa menjaga diri kami sendiri, kau tenang saja, sebentar lagi aku akan ke penjara untuk melihat keadaan mu."


"Jangan sayang, untuk sementara sebaiknya kau jangan keluar, mungkin saja Tuhan Joseph dan rekan-rekannya hendak mengincar kalian semua.


Karena itu aku minta pada kalian bersembunyilah terlebih dahulu sampai keadaannya aman, aku pun akan berusaha untuk segera keluar dari penjara ini," tutur Miguel 


"Iya Miguel aku akan menuruti kata-katamu," ucap Helena Mereka pun menutup sambungan telepon mereka.


Helena menghempaskan nafas panjang." Ya Tuhan bagaimana ini, kenapa semua jadi serumit ini," ucap Helena sambil melirik ke arah Bryan dan Arsen yang tertidur pulas akibat kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2