
Waktu terus berganti.
Arsen dan adik-adiknya kini berusia dua tahun lebih sedikit.
Mereka pun tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan ceria.
Sore ini Miguel dan Helena membawa anak-anak bermain di taman bermain.
Helena bersandar di tubuh Miguel sambil mengawasi ketiga putranya yang bermain di sebuah area permainan untuk balita.
Mereka bertiga di beri mainan yang sama saat itu yaitu sebuah mainan robot-robotan.
Ketiga begitu asik bermain.
Si Gilbert tampak lebih nakal, mainan Bryan diambil kemudian dilempar ke tempat yang jauh dan tertawa.
Bryan pun menangis karena mainannya diambil, Arsen kemudian menghampiri Bryan memberikan mainan robot-robotan miliknya kepada Bryan yang memang lebih cengeng dari kedua saudaranya.
Kemudian Arsen mengambil mainan Bryan dan memainkannya.
Helena tersenyum melihat tingkah laku ketiga putranya yang menggemaskan itu.
"Lihat Arsen, seperti dia memang pantas jadi anak tertua, dia selalu mengalah," ucap Miguel.
"Iya Sayang, aku berharap dia bisa jadi tameng bagi saudara-saudaranya ketika kita sudah tua nanti."
"Hm, semoga mereka selalu akur dan saling menyayangi sampai mereka dewasa nanti, Karena aku selalu memberikan apapun kepada mereka bertiga secara adil," ucap Helena.
"Iya Sayang. Aku pun begitu, untuk mereka bertiga aku juga akan membagi perusahaan ku secara adil."
Miguel memeluk Helena mengusap perut Helena yang sudah buncit.
"Sayang,apa yang kau harapkan saat ini?" tanya Helena.
"Aku menginginkan anak perempuan, karena aku selalu bermimpi tentang Syakira."
"Kita berdoa saja,agar aku melahirkan anak perempuan."
"Iya Sayang."
Miguel dan Helena kembali memperhatikan ketiga putranya itu bermain.
Miguel mengeluarkan kamera kemudian mengabadikan setiap momen kebersamaan ia dan ketiga putranya.
***
Waktu terus berlalu, secara perlahan Miguel sudah bisa melupakan kesedihannya ketika kehilangan putri satu-satunya Syakira.
Miguel menjadi sosok ayah dan suami yang bertanggung jawab dan selalu mengedepankan keluarganya.
Hari ini adalah hari penantian suami istri itu.
Karena Helena sedang berada di sebuah ruangan dan sedang diperiksa untuk persiapan persalinan.
"Sayang, aku deg-degan tapi sepertinya kamu lebih deg-degan lagi," ucap Helena ketika melihat Miguel yang tampak gelisah.
"Iya Sayang. Aku begitu mengkhawatirkanmu," ucap Miguel sambil menggenggam erat tangan Helena.
Helena tersenyum." Aku sudah pernah mengalaminya, jadi aku sudah tahu rasanya, kau tenang saja. Aku yakin, aku akan baik-baik saja."
"Iya Sayang, aku tahu kau wanita hebat," ucap Miguel sambil mengusap kepala Helena.
"Kau juga laki-laki hebat."
"Apa kau mau aku temani sayang?" tanya Miguel.
"Tidak usah."
"Memangnya kenapa?" tanya Miguel.
"Karena aku takut terjadi sesuatu padamu,kau pasti panik ketika melihat dengan matamu sendiri aku menjalani operasi caesar."
__ADS_1
Miguel tersenyum masih dengan mengusap kepala Helena.
"Iya sayang, karena aku tidak akan mampu melihat kau tersakiti, ya meskipun itu hanya prosedur operasi."
"Kalau begitu tunggulah di luar, ini takkan lama,Sayang," ucap elena sambil meraba wajah Miguel yang terlihat khawatir.
Miguel menggenggam tangan Helena kemudian menciumnya berkali-kali.
"Wajar saja aku khawatir, Kau adalah separuh nafasku, setengah dari jantung dan hatiku. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, seandainya terjadi sesuatu padamu, Sayang," ucap Miguel dengan bola mata yang berembun.
"Tenanglah, aku takkan mungkin meninggalkanmu dan anak-anak Kita. Bukannya kita berjanji untuk sehidup semati?" Helena berusaha meyakinkan Miguel yang tampak pucat.
"Ya sayang, Aku tahu kau takkan mengingkari janji," ucap miguel kemudian mencium kening Helena dengan lekat.
Seorang suster datang menghampiri Helena.
"Nyonya Helena, ruang operasi sudah siap."
"Iya suster," jawab Helena sambil tersenyum.
"Wah Sepertinya anda sudah begitu siap ya, saya lihat sudah tidak ada ketegangan di wajah anda. Justru yang tegang di wajah Tuan Miguel," cetus Suster tersebut mencoba untuk menggoda miguel yang terlihat pucat.
"Iya suster itu karena dia begitu mengkhawatirkan aku."
"Anda tenang saja tuan, kondisi Nyonya Helena saat ini baik-baik saja, tekanan darahnya stabil, Nyonya Helena juga tidak terlihat tegang, itu berarti dia sudah siap menjalani operasi ini. Tinggal kita berdoa dan serahkan saja pada Tuhan yang maha kuasa."
"Iya suster."
Seorang suster mendorong bed hospital Helena, sementara Miguel masih menggenggam erat tangan Helena mengiringi Helena yang berjalan melewati koridor menuju ruangan operasi.
Genggaman tangan Miguel terpaksa terlepas ketika Helena mulai memasuki ruang operasi.
Miguel berdiri dengan gelisah menatap ruangan operasi yang sedang ditutup.
Beberapa saat kemudian lampu panel operasi menyala.
Miguel resah dan gelisah menunggu di depan ruang operasi. Sesekali ia duduk, sesekali ia bangkit dan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Berkali-kali Miguel menghempaskan nafas dengan kasarnya.
Suara tangisan bayi memecah keheningan tempat tersebut. Seketika senyum terbit di bibir Miguel.
Suara tangis bayi semakin kencang membuat Miguel bisa bernapas lega.
Namun, itu tak cukup menepiskan perasaan gelisah yang masih kentara karena ia belum mengetahui kabar Helena.
Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki menghampiri pintu ruang operasi.
Miguel yang memang sudah menunggu segera menghampiri pintu tersebut.
Suster tersenyum ke arah Miguel yang berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Selamat ya Tuan, istri anda melahirkan seorang putri yang sehat dan juga cantik."
"Lalu bagaimana dengan keadaan istri saya?" tanya Miguel masih tegang.
"Istri anda baik-baik saja setelah diobservasi, dia akan dipindahkan ke ruang perawatan"
Seketika Miguel langsung menarik nafas lega.
'Terima kasih Ya Tuhan,' ucapnya dalam hati.
"Kalau begitu bolehkah saya melihat putri saya?" tanya Miguel.
"Tentu saja," ucap Suster itu sambil menyodorkan bayi perempuan yang terbungkus dengan kain.
Miguel tersenyum dengan bola mata yang berembun. Setelah kehilangan Shakira, kini ia bisa memiliki seorang putri lagi.
Dipeluknya bayi mungil itu kemudian Miguel menciumnya, tak terasa bulir bening menetes di pipi Miguel, ketika hidungnya menyentuh kulit halus bayi perempuan itu.
"Miguel kembali memperhatikan bayinya. Kau sangat mirip dengan ibumu," ucap Miguel, kemudian ia mencium bayi itu berkali-kali.
__ADS_1
"Sudah Tuan, Saya mau bawa bayi Anda ke ruang perawatan bayi baru lahir. Setelah ibunya dibawa ke ruang perawatan, barulah bayi anda akan dipindahkan ke ruang perawatan bayi," ucap Suster tersebut.
***
Setelah kurang lebih satu jam berada di ruang observasi, setelah menjalani operasi caesar Helena dipindahkan di ruang perawatan.
Keadaannya pun sudah semakin membaik.
Helena kaget karena anak-anaknya sudah menantinya di ruangan itu.
"Mommy!" Teriak Bryan, Arsen dan juga Gilbert secara bersamaan.
"Sayang," ucap Helena sambil melambaikan tangannya ke arah ketiganya.
Mereka meminta turun dari pengasuh mereka masing-masing untuk menghampiri Helena.
"Mommy!" teriak Bryan sampai ingin memanjat tempat tidur Helena.
"Jangan Sayang nanti jatuh," larang Helena.
Miguel menghampiri Bryan kemudian Bryan di baringkan di samping Helena. Bryan memang tak bisa jauh dari Helena hingga kedua anaknya yang lain cemburu dan meminta untuk duduk di tempat tidur Helena.
"Mommy!" Teriak Gilbert yang ikut cemburu.
"Iya Sayang," sahut Helena.
"Hey hati-hati! Mommy kalian habis operasi!" seru miguel ketika melihat ketiga anaknya berkumpul di sekitar Helena.
"Tidak apa-apa Sayang. Mereka memang seperti ini kalau aku tidak berada di samping mereka dalam waktu yang lama," sahut Helena sambil mengusap rambut Arsen dan Gilbert secara bersamaan.
Seorang suster kembali datang dengan membawa box bayi yang berisi bayi perempuan mereka.
"Selamat sore semuanya," sapa Suster itu.
"Eh si bungsu sudah datang," cetus Miguel sambil menghampiri box bayi yang berada di samping tempat tidur Helena.
Miguel meraih bayinya kemudian menggendongnya.
"Lihat lah, Arsen Bryan dan Gilbert. Ini adik perempuan kalian satu-satunya. Sebagai seorang kakak dan seorang laki-laki kalian harus bisa menjaga adik kalian."
Ketiga bocah menggemaskan itu menoleh ke arah Miguel. Mereka sepertinya paham dengan apa yang miguel katakan, Karena setelah mengatakan hal itu mereka sama duduk menyimak ucapan Miguel.
"Sekarang Siapa yang mau cium adik kalian?" tanya Miguel sambil menyodorkan bayi perempuan itu pada Arsen, Bryan dan Gilbert satu persatu.
Ketiga balita menggemaskan itu pun mencium bayi perempuan itu.
"Pintar sekali anak-anak Daddy," sanjung Miguel ketika melihat ketiga putranya itu terlihat senang ketika mencium pipi bayinya.
Setelah itu Miguel menghampiri Helena.
"Sayang, lihatlah wajahnya mirip sekali sepertimu, Aku harap sifatnya juga lembut sepertimu," ucap Miguel.
Helena hanya bisa menghapus air mata haru melihat bayi perempuan itu . Ia memang begitu menginginkan bayi perempuan sebelumnya.
"Iya Sayang dia begitu lucu dan menggemaskan," ucap Helena.
Kini lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga Miguel dengan hadirnya seorang bayi perempuan yang akan menjadi kesayangan mereka.
Tamat.
Hehe, tadinya mau dibikin dua bab tapi tanggung jadi dibikin satu bab aja ya. 🥰😁
Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Terima kasih kepada reader semua yang telah memberikan dukungan, support dan ide-ide cemerlang kepada author. Tanpa kalian semua sungguh akan sulit menyelesaikan kisah ini, karena dukungan dari reader adalah mood booster bagi author. Meskipun banyak kendala yang dihadapi.
Tanpa banyak cerita, nantikan lanjutkan kisah Anak-anak mereka di buku kedua. Insyaallah.Nanti akan author kabari ya gengs.
Mohon maaf apabila ada kesalahan atau tulisan author yang menyinggung hati para reader. Semoga ada kisah yang bisa diambil pelajarannya.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 🙏🥰
__ADS_1