
Armando melirik ke mayat Reina yang ada bersamanya kini.
"Kau berani berkhianat ternyata, rasakan lah kematianmu," ucap Armando.
Sambil menyetir Armando menelpon seseorang.
"Halo Tuan, aku sekarang berada di jalan raya menuju arah luar kota."
"Arah luar kota? Memangnya apa yang terjadi?"
"Aku membuntuti Reina dan ternyata ia pergi menemui Miguel, aku rasa dia ingin memberitahu rencana pembunuhan kita itu," jawab Armando.
"Lalu kau apakan Reina?"
"Aku lenyapkan dan sekarang aku akan menuju sebuah tebing untuk membuang mayatnya."
"Lakukan apa saja yang menurutmu bisa kau lakukan. Kita tak butuh wanita itu lagi."
"Haha, dia memang pantas mati," ucap Armando.
Tiba-tiba Armando merasakan sesuatu menusuk bagian pundaknya.
Alangkah kagetnya ia ketika melihat Reina yang ingin ia buang ke tebing ternyata meniupkan sebuah jarum ke arah lehernya.
"Kau," ucap Armando dengan pandangan yang mulai kabur.
"Jika aku mati, kau pun harus mati penghianat," ucap Reina.
Sebelum menemui Miguel, Reina sendiri sudah meminum ramuan yang diberikannya pada Miguel.
Sehingga efek obat itu masih ada meski sudah berjam-jam. Dengan sisa tenaganya Reina berusaha untuk membunuh Armando yang sudah berbuat curang terhadapnya.
Setelah jarum tersebut tertancap di lehernya, Armando tiba-tiba tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Mobil yang Armando kendarai tiba-tiba oleng dan menerobos pembatas jalan, mobil mereka pun meluncur terjun bebas ke dalam jurang dan meledak di dasar jurang.
***
Setelah berhasil menghabisi penjaga penjara Miguel langsung berlari ke Jalan Raya.
Matanya nyalang menatap hamparan jalan raya yang dipenuhi dengan kendaraan bermotor ada yang menggunakan mobil ada pula yang menggunakan sepeda motor.
Jalanan ramai saat itu karena sedang ada kampanye para pendukung Tuan Adnan.
Berbagai spanduk dan baliho pun terpajang sepanjang jalan. Dan dari sebuah spanduk Miguel mengetahui di mana titik kumpul para pendukung Tuan Adnan itu.
Karena jalanan yang padat dan macet sebuah bus yang berisi penumpang berhenti ,para penumpang tersebut mengenakan pakaian seragam. Miguel pun mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam bus itu.
Ia sengaja menundukkan wajahnya agar tak dikenali.
"Hai apa kau pendukung Tuan Adnan tanya salah seorang pria ?"kepada Miguel.
"Iya," jawab Miguel.
"Kalau begitu kenakan kaos ini," ucap Pria tersebut sambil menyodorkan sebuah kaos yang langsung digunakan oleh Miguel.
***
Mengetahui tahanan mereka kabur beberapa orang suruhan Tuan Joseph dan Armando segera mencari keberadaan Miguel.
Mereka berpencar mencari Minguel di antara keramaian para pendukung Tuan Adnan.
__ADS_1
Setelah memakai kaos yang diberikan oleh pria tadi, sehingga penampakannya sama seperti para penghuni bis lainnya.
Bis itu pun langsung menuju ke sebuah lapangan terbuka di mana sudah ada ribuan orang berkumpul di tempat itu.
Mereka adalah para pendukung Tuan Adnan.
Deretan mobil serta parkiran motor berjejer di sepanjang area lapangan terbuka tersebut.
Satu persatu dari penumpang bis turun, mereka langsung menuju ke lapangan terbuka untuk mendengarkan orasi dari para pendukung Tuan Adnan.
Miguel masuk ke dalam kerumunan itu, ia harus menembus ribuan orang yang berdesak-desakan menuju ke panggung.
Sekitar satu jam, berdesak-desakan melewati kerumunan simpatisan tuan Adnan, akhirnya Miguel tiba di tepi panggung.
Setibanya di atas panggung Miguel kembali dihadang oleh beberapa orang bodyguard yang sengaja memblokade jalan menuju panggung.
"Ada perlu apa Anda kemari tanya salah seorang Bodyguard?" kepada Miguel.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Adnan."
"Tuan Adnan? Tidak sembarang orang bisa bertemu dengan tuan Adnan. Apalagi saat ini tuan Adnan sedang sibuk."
"Katakan saja pada Tuan Adnan, aku Miguel Simon ingin berjumpa dengannya."
Bodyguard itu melihat kearah Miguel.
"Kau miguel Simon?" tanya mereka dengan ragu.
Karena wajah Miguel yang sedikit bengkak Wajah aslinya pun tertutupi.
"Baiklah tunggu disini sebentar, saya akan beritahu pada Tuhan Adnan."
Salah seorang bodyguard pun menghampiri tuan Adnan yang sedang duduk di atas panggung bersama beberapa orang pendukung dan pengisi acara.
"Tuan Miguel Simon ingin bicara sesuatu yang penting kepada anda."
"Di mana dia tanya?" tuuan Adnan.
"Di bawah panggung tuan."
"Baiklah aku akan menemuinya," ucap tuan Adnan.
Tuan Adnan meminta wakilnya mengambil alih panggung.
Tuan Adnan beranjak dari tempat duduknya kemudian Ia turun menghampiri Miguel yang sudah menunggunya.
Tuan Adnan heran melihat wajah Miguel yang babak belur.
Miguel berdiri seraya menyodorkan tangannya.
"Tuan Adnan, saya Miguel Simon," ucap Miguel.
"Iya saya tahu, tapi kenapa wajah anda babak belur seperti itu?" tanya Tuan Adnan.
"Ceritanya panjang bisakah saya meminta waktu kepada anda untuk menceritakan apa yang terjadi pada saya?" Tanya Miguel.
"Baiklah katakan."
Kedua orang itu pun duduk saling berhadapan.
Miguel pun menceritakan kepada tuan Adnan bagaimana perusahaannya sampai bisa jatuh ke tangan Joseph, Armando, dan Samuel.
__ADS_1
"Jadi seperti itu kejadiannya?" tanya Tuan Adnan sambil mengangguk-ngangguk kan kepala.
"Iya Tuan,"
"Benar-benar licik."
"Karena itulah saya meminta bantuan kepada Tuan untuk menolong saya."
"Bagaimana caranya Tuan Miguel?"
"Kita harus beritahu masyarakat untuk tidak memilih Tuan Joseph, beliau bermaksud menguasai wilayah ini, selain itu kita bongkar kebusukan tuan Joseph selama ini," ucap miguel.
"Saat ini saya masih kesulitan untuk mengambil alih perusahaan saya karena sebagian kekuasaan pemerintah dipegang oleh orang-orang Tuan Joseph. Saya berharap Anda bisa terpilih dalam pemilihan ini sehingga anda bisa membongkar semua rahasia yang dilakukan oleh Tuan Joseph."
"Bagaimana kalau kita lakukan konferensi pers, kebetulan banyak wartawan di sekitar sini. Anda bisa cerita apa yang terjadi pada anda langsung melalui konferensi pers. Bagaimana?" tanya Tuan Adnan.
"Bagus saya setuju," jawab miguel.
Dengan bantuan Tuan Adnan konferensi pers dadakan itu pun terjadi.
Di sela-sela kampanye tuan Adnan, Miguel melakukan konferensi pers.
Ratusan wartawan berkumpul mengelilinginya.
Saya Miguel Simon hari ini akan membongkar kedok asli tuan Joseph.
"Tuan Joseph beserta, tuan Yogust Gwen dan Samuel Skeil sedang merencanakan Propaganda mereka bersekutu untuk melakukan konspirasi untuk menjatuhkan tuan Adnan dengan cara membunuh beberapa orang-orang pendukungnya. Tidak hanya itu bahkan mereka bertiga merebut perusahaan saya beserta aset-asetnya, mereka bekerja sama dengan oknum pejabat pemerintah untuk membuat dokumen palsu dengan kepemilikan perusahaan atas nama tuan Joseph," ucap Miguel dengan nada yang berapi-rapi di depan kameramen dan wartawan.
"Benarkah Tuan? Apa tuan bisa membuktikannya? Atau ini hanya akal-akalan Anda saja untuk menjatuhkan nama tuan Joseph?"tanya Wartawan.
"Miguel tersenyum. Silahkan anda lihat sendiri, tubuh saya yang dipenuhi oleh luka, hampir empat bulan saya di penjara dan di siksa, kemudian mereka merampas harta hingga keluarga saya terpecah belah," jawab Miguel dengan emosi tinggi.
"Lalu apa anda punya bukti?" tanya Wartawan.
"Saya tantang pihak kepolisian untuk mengungkapnya kasus ini, akan saya kumpulkan bukti untuk merebut kembali perusahaan saya!" ucap Miguel.
Berita kemunculan Miguel pun Viral di media sosial dan televisi.
**
Tuan Joseph, Samuel Skeil dan tuan Yogust sedang berdiskusi tentang pembagian jabatan pemerintahan yang akan mereka peroleh seandainya tuan Joseph kembali menjabat sebagai pemimpin di wilayah tersebut.
Tiba-tiba suara gedoran pintu memaksa mereka untuk berhenti.
"Permisi tuan-tuan baru saja saya Mendengar berita tentang tuan Miguel yang sedang mengadakan konferensi pers," ucap salah seorang bodyguard.
"Miguel? Konferensi pers?"
"Iya tuan, silahkan anda lihat sendiri."
Ketiga orang tersebut segera membuka televisi. Seketika mereka kaget dengan berita yang dibuat oleh Miguel.
"Bangsat ! Harusnya kita habisi dia saja dulu," ucap Tuan Joseph.
Belum selesai dengan berita tentang Miguel, mereka kembali mendapatkan berita mengejutkan kembali.
"Tuan! Tuan muda Armando tuan,"ucap salah seorang Bodyguard tuan Samuel Skeil.
"Ada apa dengan Armando putraku?". Tanya Samuel skiel
"Mobil putra Anda ditemukan terjatuh di dasar jurang dalam keadaan yang terbakar."
__ADS_1
Seketika jantung Tuan Samuel terasa berhenti berdetak.
"Armando!"teriaknya.