
Armando berada di meja judi dengan setumpuk uang hasil kemenangannya.
"Ayo main lagi, pertaruhkan semua uang yang kalian miliki," ucap Armando Sambil tertawa bahagia karena mendapatkan kemenangan.
Tiba-tiba saja seorang wanita datang menghampiri Armando.
"Hai Armando, apa kabar?" tanya wanita misterius itu.
Armando memicingkan matanya ketika menatap wanita itu.
"Siapa kau dan apa maumu?" tanya Armando ketus.
Wanita itu hanya menyunggingkan senyum tipis ke arah Armando.
"Aku punya penawaran menarik untukmu," ucap wanita itu.
Armando memicingkan matanya menatap ke arah wanita asing yang ada di hadapannya.
"Apa maksudmu ?" tanya Armando.
"Bisa kita bicara empat mata?" tanya tanya wanita itu.
"Boleh aku tahu, apa ya yang ingin kau katakan sekarang? karena aku tak ingin membuang waktuku," ucap Armando.
Wanita itu tersenyum kembali
"Percayalah, kali ini kau akan tertarik, Aku punya penawaran khusus untukmu."
Armando menghentikan permainan judinya kemudian menghampiri wanita itu.
"Katakan ada apa?" tanya Armando ketika mereka berada di sebuah sudut ruangan.
"Aku ingin bekerja sama denganmu untuk menghancurkan Miguel."
"Miguel?" tanya Armando ragu.
" Siapa kau,yang berani berbicara seperti itu, apa kau tidak mengenal Miguel, hingga kau berani memiliki niat untuk menghancurkannya?" tanya Armando dengan nada meremehkan
Wanita itu kembali tersenyum.
"Tak ada yang lebih mengenal Miguel daripada aku," bisik gadis itu sambil tersenyum menyeringai.
Mendengar hal itu Armando sedikit kaget
"Siapa kau?" tanya Armando dengan bola mata berpendar menatap wanita misterius itu.
***
Setiap pagi Helena, Felisha dan Barbara keluar dari harem dengan membawa putra dan putri mereka.
Mereka akan membawa bayi-bayi mereka ke tempat yang terbuka untuk berjemur.
Tak hanya berjemur, bayi-bayi itu juga ikut mengantar Daddy mereka sebelum berangkat ke kantor
Sebelum bekerja Miguel akan menggendong dan menimangnya bayi-bayinya satu persatu.
Kebahagiaan dan ketentraman kembali menyelimuti Harem, dimana ketiga istri Miguel terlihat begitu akur.
Miguel mencium kening istrinya satu persatu sebelum berangkat kerja.
"Dah semua !
Daddy pergi bekerja dulu!" ucap Miguel sambil melambaikan tangannya,sebelum masuk ke dalam mobil.
Para istri membalas lambaian tangan Miguel itu.
Setelah mengantar sang suami, biasanya ketiga ibu muda itu akan berkumpul di ruang tengah harem, sambil memandikan putra putri mereka bersama-sama.
Setelah mandi bayi-bayi itu akan di pijit oleh seseorang yang profesional. Dikesempatan seperti itu, biasanya Helena, Barbara dan Felisha bertukar pengalaman dalam mengurusi bayi-bayi mereka.
Sesekali terdengar canda dan tawa diantara ketiga wanita cantik itu.
Dari atas Cecilia menatap keceriaan
para ibu muda itu,dan mulai timbul rasa iri dengki di hatinya.
"Dasar kalian semua! Aku tahu kalian sengaja mengejekku dan bersenang-senang di atas penderitaanku! Lihat saja apa yang akan aku lakukan!" Seru Cecilia. Kemudian Cecilia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dirinya.
***
Miguel mendapat telepon dari rumah sakit untuk mengabarkan jika Bryan sudah bisa dibawa pulang.
Agar Cecilia tidak terlalu stres, Miguel bermaksud mengajaknya keluar dari harem sekaligus menjemput Bryan.
__ADS_1
Miguel menghampiri kamar Cecilia, dilihat Cecilia sedang melamun di depan meja riasnya.
"Cecilia, Bagaimana keadaanmu?" tanya Miguel sambil memeluk Cecilia dari arah belakang.
Cecilia masih bergeming.
"Hari ini Bryan sudah diperbolehkan untuk pulang, bagaimana jika kau juga ikut menjemputnya?" tanya Miguel.
Cecilia tetap bergeming, tatapan matanya terlihat tajam pada pantulan cermin.
"Cecilia, aku mohon jangan lah kau membenci anak mu sendiri. Apa yang terjadi padanya itu bukan kehendak-nya. "
"Jika bukan kau yang menyayanginya siapa lagi," bisik Miguel.
Tapi Cecilia tetap diam.
"Ayo Cecilia kita jemput Bryan," ajak Miguel dengan lemah lembut sambil membelai rambut Cecilia.
Cecilia menatap tajam ke arah Miguel, beberapa saat kemudian ia kembali membuang wajahnya.
"Kau pergi saja sendiri! Memangnya apa peduli ku" jawab cecilia dengan ketus.
Miguel hanya bisa menghembuskan napas panjang melihat Cecilia.
"Ya sudah, Jika kau tak ingin ikut menjemput Bryan, kau siapkan saja kebutuhan untuknya setelah sampai di sini,"pungkas Miguel sambil mencium pucuk kepala Cecilia.
Meski kecewa atas sikap Cecilia, Miguel masih mencoba untuk bersikap tenang, karena ia tahu kondisi kejiwaan Cecilia sedang berguncang.
Keluar dari kamar Cecilia, Miguel melihat Helena tengah bermain bersama Arsen dan Momo, kemudian ia menghampiri mereka.
"Helena, maukah kau menemaniku menjemput Bryan?" tanya Miguel.
"Tentu saja," jawab Helena
"Kalau begitu bersiaplah kita bawa Momo dan Arsen sekalian."
"Iya "
Helena menghampiri Momo yang sedang asyik bermain bersama Arsen.
"Momo persiapkan Arsen, kitaakan menjemput Bryan," ucap Helena pada Momo.
"Baik nyonya," jawab Momo.
Setelah siap, mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil.
Miguel dan Helena masuk ke dalam ruang perawatan Bryan.
Seorang suster menghampiri mereka dengan menggendong bayi laki-laki itu.
Bayi laki-laki itu terlihat kecil tak seperti bayi pada umumnya.
"Mau lihat keadaannya, dia sangat kecil dan lemah, tapi meskipun begitu dia tetap terlihat tampan," ucap Miguel sambil mencium putranya.
"Kau benar dia tampan sekali, seperti dirimu," ucap Helena sambil mengusap pundak Miguel yang terlihat begitu sedih.
Miguel menyunggingkan senyum tipis kearah Helena.
"Kau tau,apa yang membuat ku sangat sedih?" tanya Miguel dengan bola mata yang berembun.
"Apa?" tanya Helena.
Aku sedih melihat anak ini karena Cecilia seperti tak menginginkannya, bahkan Cecilia tak pernah melihat anak ini meski hanya sekali. Padahal anak seperti ini begitu butuh dekapan dari seorang ibu," tutur Miguel lirih.
Helena tersenyum sambil mengusap punggung Miguel.
"Kau tenang saja, mungkin saat ini kejiwaan Cecilia sedang terguncang. Setelah Cecilia kembali normal, Aku yakin dia bisa mencintai Bryan dengan sepenuh hatinya."
"Semoga saja," jawab Miguel.
Ketika digendong oleh Minguel, bayi itu kelihatan tidak tenang, bayi itu seperti meringis hendak menangis.
Helena menatap bayi mungil itu sambil mengelus pipinya.
"Biar aku yang gendong, Mungkin saja dia akan nyaman berada didekatkan seorang ibu," ucap Helena sambil meraih bayi tersebut dari Miguel.
Benar saja baik itu tenang dalam pelukan Helena.
Melihat hal itu Miguel langsung tersenyum.
"Ternyata tak hanya diriku yang tenang berada dalam pelukanmu, tapi Bryan juga. Kami memang beruntung memilikimu" bisik Miguel mesra kemudian mencium pipi Helena.
Helena tersebut.
__ADS_1
"Kami juga beruntung memilikimu dalam hidup kami," balas Helena.
Keduanya pun saling melempar senyum.
Suster datang menghampiri Miguel dan Helena.
"Maaf tuan, sebaiknya Bryan diberi ASI eksklusif, agar daya tahan tubuhnya meningkat," ucap suster tersebut sambil menyerahkan beberapa berkas kepada Miguel.
"Oh iya terima kasih suster," sahut Helena.
Helena menggendong baby Bryan sementara Miguel yang menyetir mobil mereka.
Sepanjang perjalanan Helena menggendong berayun dengan penuh kasih sayang, sesekali ia mencoba menyusui Bryan.
Miguel menatap Helena sambil tersenyum. Iya bahagia memiliki Helena yang menjadi pelipur lara hatinya.
Setibanya di harem Brian dibawa masuk ke dalam kamar Cecilia, sementara membawa Helena membawa Arsen kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
***
Oe oe
Suara tangis bayi liris terdengar oleh Theresia. Ia pun menghampiri Brian kemudian memberi susu formula kepada Bryan.
Namun Bryan menolak susu formula yang diberikan Theresia. Padahal selama di rumah sakit, Bryan juga minum susu formula meski dengan menggunakan selang khusus.
Mendengar bayinya menangis bukannya menggendong atau menghampirinya Cecilia ya malah sibuk memotong dan memakaikan kuku tangan kutek.
Sudah lelah Tresia berusaha mendiamkan baby Bryan. Namun bayi itu tetap menangis, meski suara tangisnya terdengar lirih.
"Nyonya, sebaiknya Nyonya susu bayi anda, Kasihan dia Sepertinya Dia haus," ucap Theresia sambil menyodorkan bayinya ke Cecilia..
Bukannya meraih bayi tersebut ,Cecilia malah membuang wajahnya.
"Berikan saja dia susu formula! Aku ingin istirahat ucap," Cecilia dengan ketus
"Tapi Nyonya, akan lebih baik jika bayi diberikan ASI daripada susu formula. Lagi pula, bayi anda tidak mau minum susu formula," ucap Theresia.
"Aku bilang aku tidak mau! Siapa suruh dia lahir ke dunia ini dalam keadaan cacat! Aku memang menginginkan anak laki-laki,tapi bukan anak cacat yang hanya bisa menyusahkan saja. Bagaimana aku bisa mengandalkannya jika dia menderita penyakit bawaan sejak lahir," cecar Cecilia.
Mendengar hal itu Tresia terdiam dengan bola mata yang melotot karena kaget.
"Sudah kau urusi saja anak itu, aku ingin istirahat, jangan ganggu aku!"
Cecilia kemudian berbaring sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Tresia dan Bryan.
Tresia memandang ke arah bayi mungil itu.
"Kasihan sekali kau, bahkan ibumu saja tak menerima kehadiranmu," ucap trisia sambil menatap iba ke arah bayi itu.
Karena bayi Brian terus saja menangis, Thresia bermaksud mencari ibu susu untuk Bryan.
Theresia kemudian melihat Helena sedang menggendong Arsen di ruang tengah.
Karena kasihan melihat Bryan, Thresia pun menghampiri Helena.
Diantara para istri Miguel, Helena lah yang berhati lembut dan selalu baik terhadap siapapun.
Karena itu ia menghampiri Helena.
Permisi Nyonya ucap Theresia.
"Ada apa Theresia?" tanya Helena.
"Nyonya Bryan menangis, sepertinya dia haus, bisakah anda menyusuinya? Saya sudah mencoba memberi susu formula untuk bayi tapi Bryan menolak."
Helena tersenyum.
"Momo kemarilah!" panggil Helena.
Momo berlari kecil menghampiri Helena.
"Ada apa Nyonya?"tanya Momo.
"Bawalah arsen jalan-jalan keliling harem. Aku akan bawa Bryan ke kamar dan menyusuinya," ucap Helena.
"Oh iya Nyonya."
Helena kemudian menggendong Bryan. Anehnya bayi itu kembali tenang ketika berada dipelukan Helena.
Tresia tersenyum melihat Helena
"Nyonya Helena memang baik sekali, bahkan ia tak menaruh dendam terhadap putra Nyonya Cecilia, padahal dulu Nyonya Cecilia selalu berbuat jahat pada Nyonya Helena," gumam Theresia.
__ADS_1
Helena masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia menyusui Bryan hingga bayi itu tidur dalam keadaan perut kenyang.
Bersambung dulu gengs. Maaf ya author jarang up. Karena sibuk di Dunia real. 🙏🙏🙏