
Pukul tiga dini hari, para petugas keamanan kembali patroli berkeliling untuk mengamankan sekitar rumah Miguel.
Mereka harus tetap terjaga dan tidak boleh meminum minuman keras selama bertugas.
Dua orang petugas yang sedang patroli di sekitar harem melihat lorong di ujung harem begitu gelap.
"Coba kita lihat kesana, Kenapa tiba-tiba ruangan itu gelap, bukannya di sana tempat Nyonya Reina di penjara?" tanya salah seorang petugas kepada rekannya.
Mereka pun menyusuri lorong dengan menggunakan senter.
Ketika tiba di depan pintu penjara, keduanya dibuat kaget karena melihat dua orang pria tergeletak bersimbah darah.
Salah satu dari mereka berinisiatif untuk menyalakan lampu di ruangan tersebut.
Kedua petugas itu langsung memeriksa keadaan pria yang tergeletak di atas lantai itu.
"Astaga mereka telah mati!"ucap salah satu mereka ketika merasakan pergelangan tangan dari pria yang tergeletak di lantai.
"Bagaimana sekarang ?apa kita harus laporkan hal ini pada Tuan Miguel sementara Tuan Miguel sedang menjamu tamu penting?" tanya salah satu bodyguard itu pada rekannya.
"Jika mereka tahu Tuan Miguel telah mengurung Nyonya Reina, dan nyonya Reina kabur dengan membunuh dua orang bodyguard-nya, maka itu sama saja mencoreng nama baik tuan Miguel."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tak mungkin membiarkan mayat-mayat ini membusuk?"
"Baiklah kita hubungi Tuan Miguel saja melalui handphonenya, pastikan tak ada orang lain yang mengetahui hal ini," usul salah seorang bodyguard.
Pesta masih terus diadakan semalam suntuk. Rumah Miguel masih didatangi tamu-tamunya, sebagai tuan rumah Miguel harus melayani tamunya, ada yang memintanya untuk bermain catur bersama.Ia pun bermain catur bersama mereka.
Para pelayan sampai harus menggunakan Shift untuk berjaga dan melayani para tamu.
Setelah bermain catur satu putaran, Miguel memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Tuan-tuan silahkan dilanjutkan saya ada keperluan sebentar," ucap Miguel.
"Oh ya silahkan tuan," jawab para tamunya.
Miguel menghampiri kamar Helena untuk melihat keadaan putranya. Beberapa jam saja tidak bertemu dengan putranya, Miguel sudah merasakan rindu.
Dengan melangkah cepat, ia menuju kamar Helena.
***
Helena terjaga karena mendengar suara bayinya menangis.
"Uh Sayang, kamu kenapa?" tanya Helena. Suara tangis bayi itu begitu lantang dan kencang.
Helena sedikit panik karena ia tak terbiasa mengurusi bayinya.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Helena.
Helena mencoba untuk menyusui putranya, tapi tetap saja bayi itu menangis dan tak mau disusui. Akhirnya ia berdiri dan menggendong putranya sendiri. Namun, bayi itu belum juga berhenti menangis.
"Kamu kenapa Sayang? Mommy jadi bingung jika kamu terusan nangis begini," ucap Helena sambil menimang bayinya agar berhenti menangis.
Bayi tersebut masih menangis, Helena kemudian meletakkan bayinya untuk melihat apakah pokoknya basah.
Helena pun menggantikan popok bayinya,meskipun popok bayi tidak terlalu basah.
__ADS_1
***
Miguel membuka pintu ruang Helena.Ia melihat jika Istrinya sedang mengganti popok putra mereka.
"Sedang apa? Kenapa belum tidur?" tanya Miguel sambil mendaratkan bokongnya di tempat tidur Helena.
"Arsen nangis terus,aku sampai bingung bagaimana cara membujuk nya," jawab Helena.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Miguel pada bayinya.
Miguel pun meraih bayi itu dari Helena, kemudian menggendongnya.
"Diam ya, sudah daddy gendong ya," ucap Miguel.
Bayi yang merengek itu sedikit demi sedikit menghentikan tangisnya.
"Oh anak daddy ternyata gak bisa jauh dari daddy ya?" tanya Miguel sambil menggendong bayinya.
"Kalau begitu Daddy akan menyanyikan lagu pengantar tidur untuk kamu."
"Twinkle, twinkle, little star,
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle little star,"
Helena tersenyum simpul melihat sang putra yang jadi anteng ketika bersama Miguel. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Miguel, putra mereka tak bisa jauh dari Miguel, karena sejak lahir Miguel lah yang mengasuh dan menidurkannya.
Miguel menoleh ke arah Helena yang terlihat lelah.
"Kau istirahat lah, biar aku yang menjaganya."
"Iya," jawab Helena, ia pun berbaring sambil menutup matanya. Ia merasa begitu lelah dan mengantuk.
Membuat pesta selama tiga hari tiga malam menurut Helena adalah hal yang buruk. Karena besok ia kembali harus menemui tamu-tamunya.
Tak butuh waktu lama sang bayi akhirnya terlelap juga.
"Sudah tidur," ucap Miguel.
Miguel meletakkan bayinya di samping Helena. Helena memeluk bayinya itu dan membiarkan sang bayi tidur bersamanya.
Miguel menghampiri Helena kemudian berbaring di belakang Helena.
"Lihat lah, putra mu saja tak bisa jauh dari ku, ku rasa kau pun juga seperti itu. Apa kau mau aku tiduri juga," bisik Miguel dengan maksud menggoda Helena.
"Jangan macam-macam kau, sudah kau pergi dari sini, aku sudah tak membutuhkanmu lagi," cetus Helena. Sambil menyiku tangannya ke belakang.
"Ehm jangan begitu, suatu saat kau akan ku buat tak akan bisa jauh dariku," bisik Miguel.
Dia pun memeluk Helena dari arah belakang.Miguel coba untuk memejamkan mata. Namun, ia kembali membuka matanya karena merasa getaran handphone yang ada di saku celananya.
"Aku angkat telepon dulu,"bisik Miguel.
__ADS_1
Miguel bangkit kemudian berjalan keluar dari kamar.
Suara telepon terus aja berdering, setelah keluar dari kamar Helena Miguel langsung menyambut telepon tersebut.
"Halo,"sapa Miguel.
"Halo tuan ada hal gawat yang kami temukan!"
"Hal gawat apa?!"tanya Miguel was-was.
"Kami menemukan dua mayat para Bodyguard yang menjaga penjara Nyonya Reina."
"Mayat?!" tanya Miguel mengulang.
"Iya tuan dugaan kami , Nyonya Reina berhasil melarikan diri dengan membunuh dua orang penjaga sel tahanannya. Saat ini kami sedang mengevakuasi dua mayat itu, hanya saja kami bingung bagaimana caranya membawa mayat-mayat itu tanpa ada yang tahu, karena akan sangat bahaya jika berita ini terendus media," ucap salah seorang bodyguard-nya.
"Benar apa yang kamu katakan itu, jangan sampai peristiwa pembunuhan ini diketahui oleh publik, apalagi saat ini di rumah ku sedang berlangsungnya pesta."
"Lalu apa yang akan kami lakukan tuan?"
"Aku akan kesana melihat keadaannya," ucap Miguel menutup teleponnya dan berjalan menuju penjara.
"Sialan! Beraninya Reina membunuh kedua bodyguard ku! Dasar perempuan iblis!" rutuk Miguel.
Miguel kembali menelpon para bodyguard dan menelpon petugas polisi untuk mengevakuasi mayat dua orang itu.
Miguel minta pihak kepolisian setempat untuk tak membocorkan kepada publik tentang apa yang terjadi di rumahnya.
Setelah menutup teleponnya, Miguel berjalan menghampiri penjara, bau amis tercium begitu kentara di ruangan yang sedikit lembab itu.
Saat tiba di tempat kejadian, dua jasad tersebut sudah berada sejajar di atas lantai.
Miguel bergidik ngeri melihat dua mayat itu. "Astaga! Sungguh terlalu Reina!"umpat Miguel ketika melihat tubuh yang terbujur kaku tersebut.
"Tunggu petugas kepolisian datang,biar mereka yang menyelidik langsung kasus ini," ucap Miguel sambil menutup hidungnya karena bau amis darah.
Sekitar setengah jam kemudian, polisi tiba untuk melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, mayat para bodyguard itu pun dibawa ke mobil ambulans yang sengaja menunggu di bagian belakang pagar harem agar tak ada yang curiga.
Miguel tak mau berita ini sampai terendus media.
"Baiklah kalian bawa mayat-mayat itu ke rumah sakit melalui jalan belakang , hubungi pihak keluarga korban," ucap salah seorang polisi yang bertugas kepada anak buahnya atas institusi dari Miguel.
Polisi itu menghampiri Miguel.
"Saya butuh anda sebagai saksi untuk memberikan keterangan di penyidikan Tuan,"ucap polisi tersebut.
"Iya pak,nanti saya akan datang," Jawab Miguel.
Setelah membereskan mayat-mayat itu. Miguel kembali menemui tamunya.
"Lalu bagaimana dengan nyonya Reina? Apa tuan tak mengerahkan orang untuk mencari keberadaan nya seperti mencari nyonya Helena," tanya Bodyguard Miguel ketika mereka berjalan beriringan.
Mendengar pertanyaan itu Miguel hanya tersenyum tipis.
"Biarkan saja dia kabur, nanti biar polisi yang akan mencari keberadaannya. Wanita seperti dirinya tak pantas tinggal di tempat ku, Reina bisa membahayakan anggota keluarga ku yang lain, jika perlu dia tak usah menginjakkan kaki lagi di sini," ucap Miguel dengan dingin.
__ADS_1