
Setelah pertemuan yang mengharukan itu, Miguel membawa keluarganya kembali ke harem.
Perasaan bahagia menyelimuti hati Miguel, setelah berbulan bulan berada jauh dari keluarganya kini mereka kembali bersama.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan Helena menceritakan bagaimana ia dan Momo menghidupi keluarganya.
"Kami memutuskan untuk menanam sayur, agar bisa memiliki penghasilan. Namun, baru satu kali panen kami sudah harus meninggalkan rumah tersebut. Armando mengejar keberadaan kami, dan kurasa dialah yang telah membunuh tuan Jose," ujar Helena panjang lebar.
"Iya aku baru tahu tentang kepergian Tuan Jose. Apa kau tahu bagaimana nasib Reina dan Armando sekarang?"tanya Miguel.
"Tidak sayang. Kami benar-benar tak mengetahui berita apapun yang terjadi di luar sana. Beruntung aku dan Momo memutuskan untuk kembali ke kota untuk mengetahui kabarmu."
"Armando dan Raina ditemukan meninggal dalam keadaan mayat mereka hangus terbakar di dalam jurang."
"Hah benarkah itu?" Helena sedikit terkejut,"aku rasa setiap perbuatan memang ada balasannya. Dan itu pasti," ucap Helena.
"Iya, ayah angkatmu ternyata ikut andil dalam rencana merebut semua harta milikku. Tentu saja dia tahu aset apa yang aku miliki karena sebelumnya perusahaan itu dirampas olehnya dari ayahku."
"Ayahku?"
"Iya sayang, bahkan menurut pengakuannya dia juga akan membunuhmu karena kau berada dipihakku dan mengetahui semua rahasianya selama ini," ucap Miguel.
Helena menghembuskan nafasnya dengan panjang.
"Aku tak menyangka, hanya karena uang dia tega ingin membunuhku. Lalu untuk apa dia membesarkanku?" Ucap Helena.
"Sudahlah sayang jangan dipikirkan, saat ini kita harus kembali menata kehidupan kita. Jangan buang-buang waktu untuk menyesali semua yang sudah terjadi. Ini pelajaran bagi kita untuk selalu waspada terhadap orang-orang sekitar kita," ucap Miguel.
"Sudah berapa lama kau keluar dari penjara sayang?" tanya Helena.
"Sebenarnya sudah satu setengah bulan aku keluar dari penjara, namun aku butuh waktu untuk merebut semua perusahaan dan aset yang aku miliki. Beruntung Tuan Adnan membantuku. Aku sengaja tak mencari keberadaanmu, karena saat itu posisiku masih diawasi, setelah perusahaan dan kekuasaan aku miliki, barulah aku berencana mencari keberadaan kalian. Beruntung kalian berdua datang ke perusahaan, sehingga tidak butuh waktu yang lama kita untuk bertemu," ucap Miguel sambil mencium punggung tangan Helena.
"Iya Miguel entah kenapa hatiku terasa ringan untuk membawa Brian dan Arsen ke kota. Syukurlah kita sudah bertemu dan bersama lagi. Tak ada lagi yang aku khawatirkan saat ini," ucap Helena sambil meletakkan kepalanya di dada bidang Miguel.
Miguel tersenyum kemudian ia membisikkan sesuatu kepada Helena.
"Aku sangat merindukanmu sayang," ucap Miguel,sambil tersenyum mesum.
Helena menatap wajah Miguel.
"Aku juga merindukanmu sayang," balas Helena sambil mencium pipi suaminya yang sedikit tirus karena tak terurus.
"Rasanya aku tak sabar ingin tiba di rumah," ucap Miguel.
Miguel membawa mobilnya semakin laju agar cepat sampai di harem.
Beruntung kedua putranya tidak rewel. Sesampainya di harem Bryan dan Arsen juga sudah tertidur lelap, mereka pun langsung membawa Bryan dan Arsen
***
Helena meletakkan Brian di dalam box bayi. Sementara Momo meletakkan Arsen di atas tempat tidur.
"Momo, bisakah kau menolongku untuk menjaga mereka berdua sebentar?"tanya Helena.
"Tentu saja nyonya, aku tahu apa yang Anda pikirkan," ucap Momo sambil tersenyum menggoda Helena.
Seketika wajah Helena mencari merah.
"Ah Momo kau memang paling pengertian," cetus Helena.
"Iya Nyonya, Tapi sebaiknya anda segera pergi sebelum kedua bayi ini terbangun," sahut Momo.
__ADS_1
"Baiklah Momo. Aku titip mereka," pungkas Helena sambil berjalan dengan berjinjit agar tak berisik dan mengganggu kedua putranya yang sedang tidur.
Helena menghampiri sebuah kamar yang sudah dipersiapkan oleh Miguel.
Setibanya di sana miguel sudah melepaskan seluruh penutup tubuhnya dan hanya menggunakan handuk.
Senyum seketika mengembang di sudut bibir Helena, melihat dada bidang Miguel yang begitu ia rindukan.
"Oh miguel aku merindukan," ucap Helena sambil melompat memeluk Miguel.
"Aku juga merindukanmu sayang," ucap Miguel sambil mendaratkan kecupan di bibir Helena.
Helena langsung membalas dengan ******* bibir Miguel, semakin lama ciuman itu semakin panas dan brutal.
Dengan cepat Miguel melepaskan satu persatu penutup tubuh istrinya.
Sambil menggendong Helena, mereka masih saling memagut dengan mesra.
Miguel menarik penutup akhir tubuh istrinya. Setelah Helena dalam keadaan bugi,l tanpa menunggu waktu lagi mereka langsung melakukan pertempuran hangat.
Miguel berada di atas tubuh Helena, tanyanya menggenggam kedua tangan Helena sambil mendorong senjatanya untuk menerobos bagian bawah tubuh istrinya.
"Akh!" Jeritan Helena tertahan ketika benda tumpul yang sudah sangat ia rindukan itu, menerobos dan memaksa masuk kedalam celah-celah sempit miliknya.
Akh, Ehm
Miguel berdiam diri beberapa saat sambil menciumi Helena. Ia membiarkan celah sempit sang istri menyesuaikan rudal miliknya.
Kedua bibir mereka saling bertaut dan menyesap, perasaan rindu sudah teramat menggebu dan menuntut untuk di lampiaskan.
Secara perlahan Miguel mulai bergerak memompa tubuh istrinya.
Miguel kemudian menaikan tempo gerakan karena sudah tak sabar mengeluarkan larva hangatnya setelah berbulan-bulan.
"Akh! Sayang! Lebih cepat," lengkuh Helena sambil menjambak rambut Miguel.
Nafas Miguel memburu seiring gerakan yang semakin cepat seperti kuda yang berlari kencang hingga hentak terakhir membuat tubuh Helena berguncang.
"Akh!" Lengkuh Miguel dan Helena secara bersamaan ketika keduanya mencapai orgasmenya.
Miguel merabah tubuhnya di atas tubuh Helena sambil mengatur nafasnya yang memburu.
Dengan lembut Helena mengusap bagian punggung suaminya yang basah oleh keringat.
"Terima kasih sayang," ucap Miguel sebelum merebahkan tubuhnya di atas tubuh sang istri.
Perasaan rindu tersebut perlahan mulai surut.Helena memeluk miguel sambil mengatur nafasnya.
Keduanya saling melempar senyum kepuasan dengan wajah yang bersimbah keringat.
Setelah suhu tubuh mereka mendingin, Miguel kembali menyambar tubuh bibir Helena sementara tubuhnya menindih tubuh Helena.
Rasanya pertarungan sengit pertama itu hanya pembukaan saja dan belum bisa membuatnya puas
Ciuman mereka semakin lama dan semakin panas hingga senjata Miguel yang terkulai layu sebelumnya kembali memegang.
Namun, baru saja Miguel hendak memasukkan senjatanya kembal,i tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara tangis bayi.
"Miguel tahan dulu. Arsen menangis! Aku harus buru-buru menghampiri agar ia tak membangunkan Bryan," ucap Helena sambil bangkit mengenakan kembali pakaiannya.
Hah, Miguel menghempas nafas panjang.
__ADS_1
Meski kecewa, Namun perasan rindu itu sedikit sudah terobati. Dan belalainya yang sudah lama menganggur itu sudah merasakan pijatan dengan sensasi yang luar biasa nikmat.
"Sayang kita lanjutkan nanti malam saja ya," ucap Helena sambil berlalu meninggalkan Miguel.
***
Kehidupan keluarga kecil Miguel berjalan seperti biasa.
Rencananya Miguel dan Helena akan menjemput Barbara dan Felicia di kampung halaman mereka.
Miguel membawa satu mobil tambahan untuk menjemput kedua istri dan anaknya.
Karena Barbara dan Felisha adalah saudara sepupu, jarak antara rumah keduanya pun tidak begitu jauh.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam Mereka pun tiba di sebuah kota kecil dimana kedua orang tuan Barbara dan Felisha menetap.
Kedatangan mobil mewah Miguel mengejutkan kedua orang tua Barbara.
Mereka begitu panik melihat Miguel yang datang dengan beberapa mobil pengiringnya.
"Selamat pagi ayah mertua," ucap Miguel pada seorang pria paruh baya.
"Miguel?! Bukannya kau…" kata-kata pria tua terhenti dan langsung disambar oleh Miguel.
"Benar saya pernah dipenjara dan kekayaan saya dirampas oleh Tuan Joseph, kini keadaan sudah berbalik seperti semula. Dan kedatangan saya kemari untuk menjemput Barbara dan Putra saya," ucap Miguel.
Pria itu menelan salivanya, seketika wajahnya menjadi pucat.
"Apa yang terjadi pada anda, Saya hanya ingin menjemput Barbara," tukas Miguel sambil menatap heran ke arah pria tua dan istrinya itu."
"Maaf Miguel sekali lagi kami meminta maaf," ucap pria tua itu sambil menutup kedua telapak tangannya ke arah Miguel.
"Maaf ? Kenapa Anda meminta maaf?" tanya Miguel.
"Maafkan saya, karena saya telah menyuruh Barbara untuk menikah lagi dengan seorang pengusaha di kota ini," ucap pria tua itu dengan wajah yang pucat serta bibir yang gemetar.
"Menikah?!"
Bukan main kagetnya Miguel dan Helena mendengar kabar tersebut.
"Jadi Barbara sudah menikah? Lalu di mana putraku?" tanya Miguel.
Seorang wanita yang juga berusia paruh baya menggendong seorang bayi laki berusia sekitar 9 bulan.
"Barbara menitipkan putranya pada kami Miguel, karena ia tak ingin putranya mengganggu hubungan antara dia dan suaminya."
Lagi-lagi bola mata Miguel membelalak karena kaget.
"Baru saja beberapa bulan aku di d tahan di dalam penjara, tapi putrimu itu sudah menikah lagi?" ucap Miguel sambil menyunggingkan senyum sinisnya.
Kedua orang tua Barbara hanya bisa tertunduk.
"Baiklah aku bawa putraku, katakan pada Barbara Jika ia ingin menemui putranya datang saja ke harem. Katakan juga padanya aku mengucapkan selamat atas pernikahannya, semoga dia bahagia dengan suaminya yang baru," ucap Miguel sambil meraih bayi laki-laki itu.
Setelah merasa tak ada lagi kepentingan. Miguel pulang dengan membawa bayi Barbara.
Meski kecewa terhadap Barbara. Namun Miguel bersyukur masih bisa menjemput putranya.
Selanjutnya Miguel dan Helena menghampiri keluarga Felisha. Namun kali ini Miguel kembali mendapatkan kekecewaan, karena sang istri sudah pindah keluar negeri bersama dengan keluarganya.
Alhasil kepergian Miguel saat itu hanya bisa membawa Gilbert sang buah hati dari pernikahannya dengan Barbara.
__ADS_1