
Jantung Helena berdetak cepat ketika mengetahui ada seseorang yang mengikutinya, setelah membuka pintu kamar, ia segera mengunci pintu tersebut.
Hua Hua nafasnya tersengal-sengal.
Sudah beberapa hari ini, Helena memang curiga ada seseorang yang mengikutinya, awalnya Helena tak ambil pusing.
Mungkin itu hanya orang iseng, pikirnya. Namun, setelah melihat sosok yang mengikutinya, ia kembali yakin jika itu adalah orang suruhan Miguel.
Helena berjalan cepat menuju lemari pakaiannya, kemudian menarik kopernya dan memasukkan barang-barangnya dengan asal-asalan.
"Aku harus pergi lagi dari sini," gumannya sambil menyiapkan barang-barangnya.
Butuh waktu satu setengah jam untuk Helena membereskan semuanya.
Helena terdiam ketika dirinya menatap pantulan bayangannya di depan cermin besar.
"Jika aku keluar dari apartemen ini dalam keadaan seperti ini, orang suruhan Miguel pasti akan mengikutiku."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Guman Helena sambil mondar-mandir di depan cermin.
Beberapa saat Helena memikirkan cara agar ia bisa keluar dari apartemen itu tanpa diikuti oleh orang suruhan Miguel.
"Oh iya aku punya ide."
Helena mengambil gunting dan memangkas rambutnya hingga
penampilan mirip seorang laki-laki. Agar lebih semakin mendukung penyamarannya, Helena juga mengenakan celana jeans longgar dan kaos oblong.
Untuk menutupi wajahnya,
Ia kembali menggunakan topi hitam berjenis dad hat.
Helena keluar dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans agar semakin menampakkan maskulinnya.
Ia mendorong dua koper menuju lobby menunggu taksi yang datang menjemputnya.
Sementara, dua orang yang ditugaskan Miguel terus memantau ke arah apartemen tersebut.
Mereka tak menyadari jika Helena telah pergi dengan melakukan penyamaran menjadi seorang pria.
Di dalam mobil, Helena mencari jalan kemana ia harus pergi.
"Harus kemana aku sekarang?" Helena bermonolog.
Karena uang yang ia miliki tidak terlalu banyak, karena itulah tak bisa pergi jauh dari kota tersebut.
Dia meminta sopir taksi mengantarnya di sebuah terminal bus.
Helena masuk ke dalam bis, ia hanya bisa pasrah kemana habis membawanya yang terpenting saat ini, dia bisa lari dari Miguel.
Maria duduk di salah satu kursi penumpang. Sesekali ia memantau keadaan di sekitarnya dengan perasaan was-was.
"Ya Tuhan sampai kapan aku harus melarikan diri Miguel, jujur saja aku lelah saat ini, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan agar dia tak memaksaku kembali ke harem. Aku pernah menusuk Miguel dan dia pasti akan membuat perhitungkan dengan ku."
Helena menggigit ujung jarinya.
__ADS_1
Bis ini menuju ke kota Boston, sementara Helena belum pernah mendatangi kota tersebut. Ia juga tak punya siapa-siapa di tempat itu.
"Jika begini terus, aku bisa kehabisan uang, uang ku bisa habis hanya untuk menginap di penginapan, sementara aku tak bisa bekerja dengan tenang," dengus Helena.
Sepanjang perjalanan Helena terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa bertahan dengan uang yang ia miliki.
Belum lagi memikirkan biaya keseharian dan biaya persalinannya kelak.
Helena memejamkan matanya karena sudah terlalu lelah untuk berpikir, matanya pun terpejam karena terlalu lelah.
Pukul setengah sembilan waktu setempat, bus berhenti di terminal.Helena pun ikut turun meski ia tak tahu kemana lagi kakinya akan melangkah.
Setelah turun dari bis, Helena kembali memesan taksi dan meminta taksi mengantarnya di sebuah hotel.
Lagi-lagi ia harus merogoh sakunya lebih dalam, hanya untuk mendapatkan penginapan satu malam.
Tiba di kamar hotel Helena kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
Bulir bening menetes di pipi Helena.
Saat ini ia merasa keadaannya begitu rumit, tapi tak satu orang pun yang bisa membantunya, bahkan Helena harus memendam sendiri setiap masalah yang ia hadapi.
"Besok sajalah aku pikirkan lagi, bagaimana caranya menyambung hidup," ucapnya sambil mengusap perutnya.
Setelah lelah, Helena kembali tertidur.
***
Pagi-pagi sekali mobil mewah milik Miguel keluar dari kawasan kastil miliknya.
Miguel berencana langsung menghampiri Helena. Di apartemennya.
Namun,
hanya dalam waktu setengah jam Miguel sudah tiba di lobby apartemen milik Helena.
Sebelumnya Miguel sudah mengkonfirmasi nama Maria pada Tuhan Hilton.
Miguel berdiri di meja resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"tanya resepsionis.
"Saya ingin bertanya di mana unit Maria Diez?" tanya Miguel.
"Oh nona Maria Diez, sudah meninggalkan tempat ini sejak kemarin malam."
"Meninggalkan tempat ini? Kapan dia akan kembali?"
"Tidak tahu Tuan, dia bilang katanya dia takkan kembali lagi ke apartemen ini."
"Apa?! Apa dia tidak pernah bilang mau ke mana?" tanya Miguel.
"Tidak ada Tuan."
Alangkah kesalnya Miguel saat itu, padahal ia yakin jika Helena adalah Maria Diez yang sedang menyamar.
__ADS_1
Miguel langsung menghampiri dua orang mata-mata yang disuruh mengawasi Helena.
"Bagaimana kalian bisa tidak tahu, ketika Maria pergi dari apartemennya?"
"Maria pergi dari apartemennya?!" tanya kedua mata-matanya
"Sungguh Tuan kami tidak tahu, padahal kami sudah berjaga-jaga selama 24 jam di sini."
"Kalian memang bodoh! tidak bisa diandalkan!"cecar Minguel.
Kedua pria tegap tersebut hanya bisa membungkukkan tubuhnya, mendengar sumpah serapah dari bosnya yang Arogan.
"Kalau begitu hubungi petugas CCTV, Aku ingin lihat kapan Maria meninggalkan kamarnya!" titah Miguel lagi
"Kirim rekaman CCTV kepadaku," pungkasnya.
Dua orang petugas itu mengkonfirmasi kepada petugas CCTV untuk melihat kapan Maria keluar dari apartemen hingga mereka tak menyadarinya.
Petunjuk waktu digunakan berdasarkan keterangan resepsionis ketika Maria memberikan kunci unit apartemennya.
Saat itu mereka kaget ketika melihat seorang pria keluar dari unit apartemen Maria, di jam yang hampir sama ketika Maria menuju resepsionis.
Rekaman CCTV diputar hingga Maria tiba di lobby apartemen, saat itu rekaman CCTV menunjukkan jika Maria mengendarai taxi berwarna orange.
Mereka juga sempat melihat plat nomor taksi tersebut. Kedua mata-mata itu pun kembali menghubungi Miguel.
"Tuan ternyata istri anda kembali menyamar menjadi seorang pria, ia memesan taksi untuk keluar dari apartemen, karena itulah kami tidak melihat ketika ia keluar dari apartemennya," ucap salah satu dari mata-mata Miguel di dalam sambungan teleponnya.
"Apa?! Cari sopir taksi itu, dan tanya kan padanya,kemana dia mengantar Maria!"
"Baik Tuan."
Perintah Minguel langsung dilaksanakan kedua mata-mata itu langsung menuju perusahaan taksi.
Setelah mengkonfirmasi plat yang digunakan, pemilik perusahaan taksi pun memanggil sopir yang telah mengantar Maria.
Dua orang mata-mata Miguel bertanya kepada sopir taksi untuk menggali keterangan, tentang kemana perginya Maria.
"Saya hanya mengantarnya ke halte bis yang menuju kota Boston," jawab sang sopir ketika ditanya kemana ia mengantar penumpang pria dari apartemen.
"Baiklah, tapi anda yakin jika penumpang anda itu naik ke dalam bis yang berada di kota Boston?"tanya dua mata-mata itu.
"Yakin Tuan, bahkan saya sempat menunggu penumpang di daerah itu dan melihat bus yang dinaiki oleh penumpang yang anda maksudkan keluar dari halte."
"Baiklah terima kasih atas keterangan anda," ucap salah seorang dari mereka.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, dua orang Bodyguard itu langsung menghubungi Miguel.
"Di kota Boston?" tanya Miguel dalam sambungan teleponnya.
"Ya Tuan, sepertinya istri anda menuju ke kota Boston.".
"Baiklah kalau begitu, kerahkan seluruh anggota kalian cari wanita yang bernama Maria Diez, cari ia di hotel, di penginapan yang sederhana dan di halte halte bus. Helena harus ketemu! Aku yang akan menyusul ke sana!"
Setelah mendapat informasi dari dua mata-mata tersebut, Minguel tancap gas menuju kota Boston.
__ADS_1
"Akan ku obrak-abrik kota Boston demi mendapatkan Helena," gumam Minguel sambil membawa laju mobilnya.
Bersambung dulu gengs.