Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Kutukan


__ADS_3

Upaya pencarian Helena terus dilakukan, Miguel bahkan mengirim  yellow notice pencarian orang hilang di seluruh dunia.


Agen FBI dan CIA juga dikerahkan, tapi tak ada satupun yang menemukan Helena.


Sebenarnya para pencari Helena pernah mendatangi panti asuhan Santo Jose.


Lagi-lagi Helena berhasil bersembunyi di ruang bawah tanah panti asuhan itu.


2 bulan sudah pencarian Helena dan Miguel masih belum mendapat kabar berita sama sekali.


Miguel mengendarai mobil mengitari kota, berharap bertemu dengan Helena.


Tiba-tiba saja ia melihat sebuah gereja, dan se-ingatnya ia pernah mendatangi gereja tersebut bersama sang kakek, ketika ia masih kecil.


Mobil Miguel berhenti di depan gereja.Ia langsung memasuki gereja itu untuk mencari ketenangan sejenak dari perasaan lelahnya.


"Ada apa kau datang kemari anakku?"tanya pendeta itu, ketika Miguel duduk di depan altar karena sebelumnya Miguel tak pernah menampakan wajahnya di gereja itu setelah puluhan tahun.


"Aku mendapat masalah, Aku datang kemari mencari keberadaan istriku," jawab Miguel lirih.


"Kau datang kesini hanya untuk mencari istrimu?" tanya pendeta itu.


Miguel mengangguk lirih mendengar pertanyaan Tuan Jose.


"Aku  rasa ini adalah hukuman bagiku karena telah berbuat zalim dan semena-mena terhadapnya, hingga saat ini aku belum juga menemukannya," tutur Miguel.


"Aku rasa  Tuhan sengaja menghukumku seperti ini, dan aku minta agar bapak pendeta mau mendoakanku agar aku bisa menemukan istriku dalam keadaan selamat," ungkap Miguel dengan kesungguhan hati.


Pendeta Jose menepuk pundak Miguel.


"Percayalah anakku, jika kau menyesali perbuatanmu dan berjanji akan merubah sikapmu terhadapnya,aku yakin suatu saat kau akan akan bertemu dengannya."


"Iya Pak pendeta, Aku menyesali semua perlakuan buruk ku terhadapnya, aku juga berjanji tak akan mengulangi kesalahanku lagi," ucap Miguel dengan bola mata yang berembun.


"Baiklah berdoalah pada Tuhan, agar engkau diberi kemudahan untuk bertemu dengan Istri dan calon  anakmu," ucap pendeta.


Pendeta sengaja berkata seperti itu karena Miguel juga tidak menanyakan padanya dimana Helena.


Iya hanya mengatakan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang pendeta yang berusaha untuk bersikap netral.


Biarlah Miguel merenungi kesalahan terlebih dahulu,pikir sang pendeta.


Dengan dituntun oleh pendeta Miguel pun berdoa secara sungguh-sungguh.


Setelah mengunjungi gereja dan bertemu dengan pendeta Jose, Miguel kembali ke harem.


***


Seorang dokter kandungan baru saja selesai memeriksa ketiga istri Miguel.


"Selamat ya nyonya Cecilia, Nyonya Barbara dan nyonya Felisha anda semua berhasil mengikuti program hamil,"ucap dokter tersebut.


Betapa senangnya ketiga wanita itu.


"Hamil!" Seru mereka secara bersamaan.


"Iya kini anda para Nyonya tengah mengandung 4 minggu," ucap dokter tersebut.

__ADS_1


Mereka semua saling melempar pandangan dan tersenyum bahagia.


"Baiklah dokter, kalau begitu terima kasih," ucap Cecilia, Barbara dan Felisha.


"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu,saya harap anda berhati-hati di usia kehamilan yang baru menginjak 4 minggu ini, saya akan meresepkan vitamin untuk ibu hamil," ucap dokter tersebut sambil menuliskan resep.


Bukan main senangnya Barbara, Cecilia, dan Felisha saat menerima resep itu.


Mereka melakukan program hamil secara bersamaan, karena itulah mereka juga hamil secara bersamaan.


"Aku yakin Miguel pasti akan senang mendengar berita ini," ucap Cecilia dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Iya aku sudah tak sabar menunggu suami kita pulang," ucap Barbara sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Bagaimana kalau kita memberitahu kabar bahagia ini, pada seseorang yang lebih penting," ucap Felisha.


"Siapa maksudmu?" tanya Cecilia sambil melirik ke arah Felisha.


"Siapa lagi kalau bukan Reina, wanita yang telah membuat kita mandul selama bertahun-tahun," ucap Felisha sambil tersenyum menyeringai.


Cecilia dan Barbara saling melempar senyum jahat.


"Idemu bagus juga, aku jadi tidak sabar melihat reaksi Reina," cetus Cecilia.


"Kalau begitu mari kita ke penjara melihat keadaan Reina," ajak Felisha.


Dengan perasaan yang bahagia mereka berjalan berlenggak-lenggok menghampiri penjara.


Jangan tanya bagaimana keadaan Reina saat ini.


Reina sudah seperti orang yang kehilangan kewarasannya, rambutnya acak-acakan dan wajahnya juga tak terawat lagi, bahkan Reina terlihat lebih tua dari umurnya saat ini karena kerutan dan noda hitam memenuhi wajahnya.


Matanya segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki yang datang menghampiri penjara itu.


"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Reina dengan ketus.


Mendengar pertanyaan itu, Barbara Cecilia Dan Felisha tersenyum menyeringai.


"Tidak apa-apa Reina, kami datang hanya untuk berbagi kabar bahagia denganmu, kami tahu Kau pasti akan bahagia mendengar kabar ini," cetus Cecilia.


Reina tak menjawab, ia hanya menatap tajam ke arah tiga orang itu secara bergantian.


"Apa kau tak  tertarik mendengarnya?" tanya Cecilia lagi ketika melihat Reina hanya diam.


"Ya aku tak tertarik, apapun itu," ucap Raina ketus, Ia pun memalingkan wajahnya dari para wanita itu.


Hahaha, terserah apa katamu Reina.


"Silakan saja kau nikmati hari-harimu di penjara ini, dan kami akan menikmati hari-hari kami sebagai nyonya Miguel Simon beserta dengan anak-anak kami, sementara kau tetap akan terpuruk di penjara ini sendiri haha,"cetus Cecilia.


Mendengar hal itu, Reina yang awalnya tak peduli langsung menoleh ke arah Cecilia.


Seketika rasa cemburu memuncak di hatinya.Namun masih ia tutupi.


"Pergi kalian dari sini!" usir Reina ketika ketiga wanita itu sengaja memamerkan kehamilan mereka dengan mengusap perutnya masing-masing.


Reina yang sudah mulai terganggu kondisi kejiwaannya langsung menghampiri mereka.

__ADS_1


"Aku bilang kalian pergi dari sini !jangan ganggu aku!"teriak Reina sambil mengguncang jeruji besi hingga menimbulkan keributan keributan.


"Hi! kenapa kau berteriak pada kami perempuan mandul!" Cacar Cecilia.


Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan perempuan mandul, Reina semakin emosi.


Ia mencoba mendobrak pintu sel tersebut untuk menghampiri mereka semua.


Ketiganya bukannya lari, justru malah meledek Reina.


"Hahaha begitulah nasibmu Reina, sampai kapan kau pun takkan keluar dari penjara ini, Miguel tak lagi mencintaimu!  kau terlihat lebih menjijikan dari bangkai tikus! dasar perempuan mandul yang tak berguna!" Cecar Cecilia.


Emosi di hati Reina begitu memuncak ketika mendengar penghinaan itu.


"Kalian berani mengatai ku! aku mengutuk anak-anak kalian bertiga, kalian akan melahirkan anak-anak yang  tak berguna!"Teriak Reina 


Begitu Reina mengucapkan kata-kata kutukan itu, seketika petir besar terdengar memecah di angkasa.


Duar! 


Mereka semua kaget,sontak saja kata-kata kutukan Reina memancing emosi ketiganya


"Heh nenek sihir! Kau pikir kutukanmu itu akan menjadi kenyataan! Manusia sepertimu takkan bisa mengutuk orang lain! Lihat sajalah kelak anak kami akan menjadi orang sukses yang akan membanggakan kami!"


"Mereka akan mewarisi harta Miguel Simon! Sementara kau hanya akan membusuk di penjara!"kata Cecilia.


Reina memicingkan matanya semakin menatap tajam ke arah spesies dia Barbara dan Felisha.


"Hahaha Untuk apa kita berdebat dengan wanita ini! Lebih baik kita kembali ke harem sambil menunggu suami kita pulang," sahut Barbara.


Setelah puas menghina dan memojokkan Reina, mereka bertiga kembali ke harem.


Kebetulan saat itu, mereka melihat Miguel yang baru saja memasuki kawasan harem.


"Miguel datang !Ayo kita hampiri suami kita!"seru Felisha.


Langkah Miguel terhenti ketika ia dihadang oleh ketiga istrinya.


"Kalian kenapa?" tanya Miguel ketika melihat ketiga istrinya terlihat begitu bahagia menyambut kedatangannya.


"Kami punya berita bagus untukmu Sayang," ucap Cecilia sambil menunjukkan surat keterangan hamil dari dokter yang memeriksa.


Miguel membuka surat itu, senyum kecil terukir di sudut bibirnya ketika membaca surat keterangan dokter.


Sontak saja Cecilia, Barbara dan Felisha heran karena reaksi Miguel yang tak terduga oleh mereka.


"Kenapa kau tidak terlihat senang Miguel? kami semua hamil, bukankah kau sudah menanti kehamilan kami selama bertahun-tahun ini?" tanya Cecilia ketika melihat reaksi Miguel yang biasa saja.


"Yah aku senang,"jawab Miguel sambil menyodorkan kertas itu kembali.


Mendengar ketiga istrinya yang hamil, ada rasa kesedihan yang menyelip di hati Miguel.


Ketiga istrinya itu, mereka hidup serba kecukupan di harem, sementara Miguel tak mengetahui bagaimana nasib Helena dan anak yang ada di kandungannya saat ini.


Miguel berjalan sambil meneteskan air matanya, pria perkasa itu menangis dalam hati, karena ia belum juga mendapati kabar sang istri yang tengah hamil anak pertama mereka.


'Di mana kau Helena? Bagaimana keadaanmu saat ini?' batin Miguel bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Barbara, Cecilia dan Felisha tercengang melihat Miguel yang berlalu meninggal kan mereka


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


__ADS_2