Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Frustasi


__ADS_3

Tresia membuka pintu kamar Cecilia karena mendengar suara berisik.


"Astaga nyonya!" teriak Thresia sambil menutup mulutnya.


Ia berjalan cepat menghampiri Cecilia yang sedang membungkuk dan meringis kesakitan memegang bagian perutnya.


"Astaga Nyonya, ada apa ini?" tanya Theresia dengan panik.


Tak hanya keadaan Cecilia yang mengkhawatirkan, keadaan kamar Cecilia saat itu juga sangat berantakan.


"Oh Theresia perutku tiba-tiba saja sakit," ringis Cecilia.


"Apa yang sudah anda lakukan Nyonya, Bukannya Anda baru saja menjalankan operasi caesar. Kenapa anda mengangkat barang-barang ini dan membantingnya," omel  Theresia sambil membantu Cecilia untuk berdiri.


Bola mata Theresia kembali membelalak, ketika melihat noda darah pada bagian perut Cecilia.


"Astaga Nyonya, apa yang terjadi, lihatlah sepertinya luka jahitan Anda berdarah lagi."


Cecilia melihat telapak tangannya yang basah dan berwarna merah.


"Iya Tresia, rasanya sakit sekali, cepat kau panggilkan Miguel!" perintah Cecilia.


"Iya, saya akan panggilkan Tuan Miguel, tapi anda berbaringlah dulu keadaan anda bisa memburuk."


Theresia menuntun Cecilia menuju tempat tidurnya, kemudian ia membaringkan tubuh Cecilia.


"Pakailah pakaian Anda dulu nyonya," ucap Theresia.


Theresia keluar dari kamar kemudian menghampiri Miguel yang sedang berbincang-bincang dengan para tamunya.


Ia mendekati Miguel kemudian berbisik.


"Maaf tuan, sepertinya luka operasi Nyonya Cecilia kembali basah dan terbuka, Saya mohon Anda untuk melihat keadaannya."


Miguel menatap Thresia sambil mengernyitkan keningnya.


"Emangnya, apa yang dia lakukan?" tanya Miguel.


"Entahlah, tapi saya rasa Nyonya Cecilia frustasi karena ia melahirkan seorang anak yang cacat hingga ia membanting seluruh barang yang ada di kamarnya," jawab Tresia.


"Dasar Cecilia," dengus Miguel.


Mereka berdua pun menghampiri kamar Cecilia.


Bukan main marahnya Miguel ketika melihat barang-barang  Cecilia berhamburan di kamar itu.


"Ah sakit Miguel, tolong aku." Cecilia bermaksud mencari simpati pada Miguel.


"Apa yang kau lakukan Cecilia ,Kenapa barang-barang ini jadi berantakan?!" tanya Miguel.


Wajah Cecilia seketika cemberut ketika dimarahin Miguel, padahal saat itu ia berharap Miguel bersimpati terhadapnya.


"Theresia panggil dokter untuk memeriksa keadaan Cecilia," ucap Miguel.


Melihat sikap Cecilia, Miguel menjadi muak,  bukan hanya hari ini ia membuat ular, bahkan hampir setiap hari Cecilia membuat kegaduhan hanya karena ingin mendapat perhatian lebih dari Miguel.


Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata luka jahitan pada Cecilia mengalami infeksi dan pendarahan.


Setelah ditangani oleh dokter, keadaan Cecilia perlahan membaik kembali.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu kesehatan Cecilia pun mulai pulih, tapi tidak untuk emosi dan pikirannya yang masih belum stabil.


Sejak melahirkan perilaku Cecilia semakin mengkhawatirkan. Cecilia mudah sekali tersulut emosi.


***


Keseharian Miguel kini lebih berwarna dengan hadirnya ketiga buah hatinya.


Hanya saja kesedihan masih terasa di hati Miguel, karena Putra keduanya yang masih berada di rumah sakit.


Seperti biasanya, meskipun para istrinya melahirkan, Miguel tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa.


Sudah seminggu Barbara dan Felisha melahirkan, dan sudah dua minggu juga Miguel tak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang suami dari istrinya.


Seharusnya, Helena bisa melayani Miguel. Namun, karena Miguel tahu jika Helena tak mau berhubungan dengannya, Miguel pun tak  pernah meminta pada Helena.


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, setelah menyelesaikan urusannya, Miguel menghampiri kamar Helena karena malam ini adalah jatah Helena.


Ketika Miguel tiba di kamar itu, Helena melihat kesedihan di wajah Miguel.


Helena tahu jika sang suami sudah mengalami banyak masalah belakang terakhir.


"Apa Arsen  sudah tidur?" tanya Miguel.


Helena menggangguk.


"Iya, dia baru saja tidur," ucap Helena sambil meletakkan Arsen ke dalam box bayinya.


"Kau ingin aku buatkan minum?" tanya Helena.


Miguel menatap ke arah Helena, seumur hidup, Helena tak pernah menawarnya minuman ketika ia berada di kamarnya.


Miguel berjalan menghampiri box bayi untuk melihat Arsen.


Senyum terbit di bibir Miguel, ketika melihat wajah sang Putra yang begitu damai dalam tidurnya.


Melihat Miguel tersenyum, Helena juga tersenyum.


"Ini minuman mu," ucap Helena sambil meletakkan secangkir minuman di atas meja sofa.


Miguel duduk di atas sofa, sambil menghempaskan nafas kasar.


"Bagaimana dengan keadaan Bryan?" tanya Helena membuka pembicaraan.


"Seminggu lagi dia baru diperbolehkan pulang,atau sampai berat badannya sudah normal,"jawab Miguel.


Miguel menyerup minuman hangat yang dibuat Helena untuknya.


Melihat keresahan dan kelelahan di wajah sang suami, tiba-tiba saja Helena merasa iba.


Helena kemudian berdiri menghampiri Miguel. Ia memijit punggung Miguel, juga lehernya dengan maksud membuat Miguel sedikit lebih rileks.


Miguel tersenyum ketika tangan Helena menyentuh pundaknya, kemudian Miguel menarik tangan itu dan mencium punggung tangannya.


"Terima kasih Helena," ucap Miguel.


"Sebaiknya kau istirahat, kau terlihat begitu lelah sekali," ucap Helena sambil kembali memijit pundak Miguel.


"Kau pasti lelah."

__ADS_1


"Iya, aku memang sangat lelah, tapi setelah berada di dekatmu, kelelahanku terasa hilang seketika, apalagi ketika melihat kau tersenyum," ucap Miguel.


Helena tersenyum mendapat sanjungan dari Miguel.


Helena kembali memijat punggung Miguel, tapi Miguel menarik kedua tangannya kemudian menyilangkan tangan Helena ke dadanya, hingga Helena memeluknya dari belakang.


"Aku tak hanya butuh pijatan darimu, tapi aku juga butuh pelukan darimu," ucap Miguel sambil mencium pipi Helena.


Keduanya pun saling menatap mesra.


Miguel menarik tangan Helena untuk duduk di sampingnya. Kemudian ia merangkul istrinya itu dari belakang.


Helena sama sekali tak menolak.


"Helena aku butuh kehangatan darimu," bisik Miguel di tepi telinga Helena


Ucapan Miguel hanya direspon dengan anggukan dan senyuman oleh Helena.


"Benarkah?" tanya Miguel yang mengerti kode yang Helena berikan.


Helena mengangguk dan tersenyum kembali.


"Tentu saja," balas  Helena.


Miguel kembali tersenyum, kemudian ia berdiri dan mengangkat tubuh Helena menuju tempat tidur.


Dengan hati-hati ini gue membaringkan Helena.


Kemudian ia mendaratkan kecupan pada kening Helena.


Kecupan itu perlahan turun hingga ke bibir, Dengan lembut Miguel mengecup bibir Helena hingga bibir mereka saling memangut mesra.


Sejenak Miguel melupakan masalahnya, dan  terlarut dalam kehangatan tubuh Helena.


Malam itu Miguel begitu bahagia, Setelah sekian lama, kini ia bisa merasakan kembali kehangatan dari istrinya.


Terlebih lagi kali ini mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan tak ada pemaksaan apalagi kekerasan.


***


Miguel merebahkan tubuhnya di samping Helena setelah dua ronde pergulatan sengit mereka.


 Helena membalikkan tubuhnya menghadap Miguel kemudian mereka saling menatap dan tersenyum puas.


Miguel menyapu keringat pada wajah dan tubuh Helena kemudian kembali mendaratkan kecupan hangat dan lembut di kening Helena.


"Terima kasih sayang," ucap juga dengan mesra.


Helena membalas dengan senyuman pula.


"Tidur lah, kau terlihat begitu lelah," jawab Helena sambil meraba wajah tampan sang suami.


"Iya Sayang, tidur di dekat mu membuat ku merasa nyaman," bisik Miguel sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher Helena dan tertidur sambil memeluk istrinya.


Rasa lelah membuat keduanya lebih cepat terlelap, sepanjang malam tubuh mereka saling memeluk dalam keadaan bugil.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih.


 

__ADS_1


__ADS_2