
Helena berada di ruang tunggu pemeriksaan. Sebentar lagi seorang suster akan mengambil sampel darahnya, untuk diuji di laboratorium.
Perasaan gugup dan was-was menghampiri Helena. Bagaimana tidak, ini adalah pengalaman pertamanya menjalankan operasi besar.
Helena duduk bersandar pada kursi dengan tatapan kosong.
Saat ini ia belum memutuskan apapun, tak ada yang mau menandatangani surat persetujuan operasi caesarnya.
Tuan Jose mendaratkan bokongnya di samping Helena. Ia tersenyum ketika melihat Helena yang termenung.
"Anakku, apalagi yang kau pikirkan?"
Bukankah, keselamatan anak yang ada di dalam kandunganmu itu di atas segala-galanya.
Lebih baik kau tepiskan rasa ego yang ada di hatimu. Bapak tahu Nak, kau masih trauma untuk hidup bersama Miguel, tapi semua orang punya pilihan untuk hidup."
"Jika kau tak ingin hidup bersamanya, kau tinggal bilang padanya jika kau tak ingin hidup bersamanya. Tentu dia tidak akan memaksamu, dan dia takkan bisa memaksamu. Sekarang lakukanlah yang terbaik untuk dirimu dan anakmu. Beritahu Miguel jika kau sebentar lagi akan melahirkan anaknya," ucap Pak pendeta itu.
"Iya tuan, jika memang ini sudah jalannya, akan saya lakukan. Lagipula, aku sudah lelah lari dari Miguel, dan benar seperti apa yang engkau katakan padaku, setiap orang berhak memilih Jalan hidupnya, karena setiap orang juga berhak untuk bahagia."
"Kalau begitu silahkan Anda hubungi Tuan Miguel," ucap Helena lagi masih dengan tatapan datarnya.
Tuan Jose menepuk pelan pundak Helena.
"Baiklah, tenangkan dirimu, Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Serahkan semuanya pada kehendak Tuhan,"ucap pendeta itu dengan bijaksana.
"Nyonya Helena!" tiba-tiba Seorang perawat memanggil Helena.
Helena masuk ke ruangan itu, untuk melakukan serangkaian tes sebelum menjalani operasi caesar nya.
Setengah jam kemudian, Helena keluar dari ruang operasi itu. Ia pun duduk menghampiri Tuan Jose yang tetap setia menemaninya.
"Bagaimana pemeriksaannya?"tanya Tuan Jose.
"Semuanya dalam keadaan baik, hanya tinggal menunggu penandatanganan prosedur operasi," ucap Helena lirih.
"Aku sudah menghubungi Miguel, tapi dia tidak mengangkat telepon dariku."
'Hm, Mungkin dia sibuk," tukas Helena.
Selang berapa lama, Helena dan tuan Jose mendengar suara langkah kaki seorang yang berlari ke arahnya.
Ketika menoleh, Helena kaget melihat Miguel sudah ada di ujung koridor.
Miguel berlari kencang menuju arahnya, diikuti dengan beberapa orang Bodyguard yang ada di belakangnya.
Belum pun hilang dengan rasa kaget dengan kedatangan Miguel yang tiba-tiba.
Buk.. Helena kembali terkejut ketika Miguel langsung memeluknya.
"Helena akhirnya Aku menemukanmu," ucap Miguel dengan nafas yang terengah-engah, sambil memeluk erat Helena.
Helena masih bergeming, tak sedikitpun ia bergerak, bahkan bola matanya tak berkedip untuk beberapa detik.
Miguel mengurai pelukannya, ia menatap wajah Helena dengan tatapan bola mata yang berembun.
"Aku senang,tak terjadi sesuatu apapun pada mu Helena,"ucap Miguel setengah menangis. Ia pun mencium kedua pipi Helena dengan lekat untuk mengikis rindu yang menggebu di hatinya.
Kemudian Miguel mencium kening Helena, bibirnya dan juga dagunya dan setiap jengkal yang ada di wajah Helena.
Miguel kembali memeluk Helena.
"Kau kemana saja, aku mencarimu kemana-mana?"tanya Miguel sambil mengusap punggung Helena.
__ADS_1
Helena masih bergeming, hanya sorot matanya yang menatap ke arah punggung pria yang sedang memeluknya itu.
Tak peduli pertanyaannya tak dijawab, Miguel kembali mengurai pelukannya dan kembali mencium kedua belah pipi Helena.
Miguel begitu menampakan kebahagiaannya, seperti seorang yang menemukan kembali sesuatu yang sangat berharga yang pernah hilang di hidupnya.
"Helena," panggil Miguel lirih berkali-kali. Seakan tak percaya wanita yang hampir setahun menghilang itu kini ada dalam dekapannya.
Pandangannya turun melihat perut Helena yang terlihat buncit, Miguel berlutut sambil mencium perut Helena.
Pria perkasa itu sampai meneteskan air matanya, ia begitu bahagia mengetahui Helena dan kandungannya baik-baik saja.
Miguel berlutut sambil mencium lutut Helena.
"Maafkan aku Helena, Aku benar-benar menyesal, karena telah berbuat kasar terhadap dirimu. Aku sudah menjadikanmu, sebagai objek balas dendam, yang seharusnya tak kulakukan."
Helena yang mati rasa itu tiba-tiba meneteskan air matanya menatap pria sombong dan arogan kini menangis mencium lututnya.
Miguel tak segan melakukan itu, Bahkan dia tak peduli ada Bodyguard-nya yang melihatnya.
Miguel meraih tangan Helena yang bergetar, mungkin karena jantung Helena yang berdetak terlalu kencang melihat musuh bebuyutannya kini berlutut di hadapannya memohon maaf.
"Maafkan aku Helena, Aku janji aku takkan berbuat kasar kepadamu lagi. Aku janji akan memperlakukanmu sebagaimana aku memperlakukan istri-istriku,"ucap Miguel dengan penuh sesal.
Helena masih bergeming, tatapannya lurus ke arah depan.
"Sudahlah, setiap orang pasti berbuat salah, aku ataupun dirimu," ucap Helena dengan dingin.
Mendengar itu Miguel tersenyum kemudian kembali memeluk Helena.
"Terima kasih Sayang, karena kau sudah memaafkan ku," ucap Miguel.
Setelah puas mengungkapkan perasaan rindunya, Miguel kembali mengurai pelukannya dan duduk di samping Tuan Jose.
"Kau tidak pernah bertanya di mana Helena padaku kan? Kau hanya meminta ku mendoakanmu agar kau bisa bertemu dengan istrimu, dan aku pun melakukan itu," jawab pendeta Jose.
"Iya Tuan, jika saja kau mengatakannya padaku, aku takkan merasa khawatir berlebihan, aku juga tidak perlu repot-repot mencari keberadaannya hingga kamu menggempar kan seisi Amerika,"tutur Miguel.
"Aku bertanya pada Helena, apa dia mau kembali kepadamu, tapi Helena malah meminta agar aku memberitahumu tentang keberadaannya "jawab Tuan Jose.
"Ya, sudahlah yang sudah terjadi, saat ini yang terpenting bagiku adalah, aku sudah menemukan Helena,"ucap Miguel sambil menggenggam tangan Helena, kemudian mencium pipi Helena.
Sementara Helena hanya diam tak merespon apapun.
"Bener Miguel, jadikan apa yang terjadi padamu sebagai pembelajaran hidup. Kau tak bisa berbuat sewena-mena pada orang lain, apalagi pada istrimu.Meski kau memiliki banyak harta ,bukan berarti kau bisa membeli kebebasan dan kebahagiaan orang lain,"tutur Tuan Jose.
"Jika kau menaruh dendam dan membalaskannya pada orang yang tidak bersalah, itu berarti kau dan Tuan Yogust itu sama. Kalian sama-sama melukai hati orang-orang yang tidak bersalah. Aku hanya menasehatimu Miguel. Bagaimanapun kau adalah cucuku juga," ucap pendeta itu pada Miguel.
"Iya terima kasih Tuan," ucap Miguel dengan tulus.
"Baiklah kalau begitu, tanda tangan surat persetujuan operasi ini, sebentar lagi istrimu akan menjalani operasi caesar,"ucap Tuan Jose sambil menyodorkan selembar kertas.
Miguel membaca surat persetujuan prosedur operasi untuk Helena, setelah membaca dengan seksama, ia langsung menandatanganinya dan menyerahkan surat tersebut kepada suster yang berjaga.
Miguel kembali melirik ke arah Helena yang hanya diam, ia kembali menggenggam erat tangan Helena.
"Sebagai permintaan maafku, aku yang akan menemanimu saat kau menjalani operasi, dengan demikian kau takkan merasa sendiri," ucap Miguel sambil kembali mencium punggung tangan Helena.
Entah mati rasa terhadap Miguel, atau mungkin ia masih memendam kebenciannya pada pria tampan itu.
Lagi-lagi Helena bergeming, tak merespon apapun.
Setengah jam berlalu dan mereka hanya diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Helena. Sementara Miguel, sesekali dia menatap dan mencium pipi Helena. Namun, Helena tak bereaksi apapun.
__ADS_1
'Nyonya Helena!" panggil seorang suster seketika membuyarkan lamunan Helena.
Helena berdiri menghampiri Suster itu.
"Silahkan Anda masuk ke ruangan ini untuk persiapan menjalani operasi,"ucap suster tersebut.
Miguel menghampiri Suster itu.
"Suster saya ingin menemani istri saya selama ia menjalani operasi caesarnya,"ucap Miguel.
"Oh kalau begitu Anda harus dapat izin dari dokter dan dari pengurus rumah sakit ini Tuan,"ucap suster tersebut.
"Baiklah akan saya lakukan."
Miguel meminta anak buahnya untuk mengurus permohonan izin, agar nih dia bisa menemani Helena selama aku menjalani operasi.
Tak ada masalah dalam mengurus surat perizinan, jika Miguel Simon yang meminta.
Setelah dilakukan serangkaian tem,Helena dipersiapkan untuk menuju ruang operasi.
Setelah persiapan sebelum operasi selesai, Helena dibawa dengan menggunakan hospital be0d melewati koridor menuju ruang operasi.
Sepanjang jalan melewati koridor, Miguel menggenggam erat tangan Helena yang terasa dingin.
Helena terbaring, seluruh pakaian di tubuhnya dilucuti dan berganti pakaian untuk operasi. Begitu juga Miguel yang harus memakai pakaian steril dalam ruang operasi.
***
Helena mengedar pandangannya di sekitar ruang operasi.
Perasaan gugup meliputi hati Helena,bulir bening pun menetes di pipinya, Helena tak tahu mengungkapkan rasa gundah dan gelisah di hatinya,ia hanya memejamkan matanya untuk menutupi perasaan takutnya.
"Tenanglah, aku ada di sampingmu," bisik Minguel sambil mengecup kening Helena, Ia pun mengusap air mata yang menetes di pipi Helena.
Helena membuka matanya, seketika ia menatap Miguel dengan tatapan berembun.
Miguel tersenyum sambil meraih tangan Helena dan menggenggam erat dengan kedua telapak tangannya.
"Aku yakin kau bisa melewatinya," ucap Miguel sambil mencium tangan Helena.
Bola mata Helena berkaca-kaca dengan bibir yang gemetar tanpa suara menatap Minguel.
Miguel tersenyum sambil meraba wajah Helena.
"Yakinlah tak akan terjadi sesuatu pada mu," ucapnya dengan yakin.
Tim dokter memasuki ruang operasi dan operasi segera dimulai.
Jantung Helena semakin berdetak kencang sesekali ia menarik nafasnya agar lebih terlihat tenang.
Seorang suster menyuntikkan sesuatu di bagian pinggul Helena.
Helena merasa mengantuk, tapi ia tidak tidur, ia pun memejamkan matanya, tanpa sadar Helena menggenggam erat tangan Miguel ketika ia merasakan sesuatu yang dingin menyayat di permukaan kulit bagian perutnya.
"Jangan takut Helena, aku masih bersamamu disini," bisik Miguel yang semakin erat menggenggam tangan Helena.
Berapa menit kemudian terdengar suara tangis bayi.
Oek oek oek …
Bersambung dulu gengs….
Coba tebak anak mereka perempuan atau laki-laki? 😄
__ADS_1