
Sebulan kemudian
Hari ini Helena yang mendapat giliran untuk bisa tidur bersama Miguel.
Miguel masuk ke dalam kamar Helena ketika urusannya sudah selesai. Ia bermaksud meminta jatahnya sebagai seorang suami.
"Arsen sudah tidur?" tanya Miguel sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
"Sudah," jawab Helena sambil meletakkan Arsen di atas tempat tidur.
Helena berbaring di samping Arsen sambil mengusap rambut tebal sang putra.
Miguel ikut berbaring sambil memeluk Helena dari belakang kemudian mencium ceruk lehernya.
Tangannya meraba bagian dada Helena untuk membuka kancing piyama sang istri.
"Jangan macam-macam Miguel," ucap Helena sambil menoleh dan melototkan bola matanya.
"Memangnya kenapa, ini kan sudah lebih dari sebulan kamu melahirkan? seharusnya kita sudah bisa berhubungan suami-istri? " tanya Miguel.
"Tapi aku belum siap," jawab Helena ketus.
Sedikit kecewa di hati Miguel.
" Ya sudah jika belum siap, aku akan menunggu mu sampai kau benar-benar siap Helena, aku pernah bilang jika aku tak akan memaksamu, dan akan aku buktikan itu," balas Miguel sambil melingkarkan tangannya memeluk Helena.
"Kamu boleh kok, tidur di kamar istri kamu yang lain," cetus Helena memberi saran.
"Tidak apa-apa, aku ingin disini bersamamu saja, kemesraan sepasang suami istri tak mesti berhubungan sek*s," sahut Miguel.
Miguel memeluk Helena dengan erat, sesekali ia mendaratkan kecupan di pipi wanita itu.
Meskipun begitu menginginkan Helena, Miguel tak akan memaksakan kehendaknya lagi.
Miguel mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
Setelah lelah dengan pergulatan batinnya karena menahan syahwat yang tak terlampiaskan, Miguel akhirnya tertidur juga.
****
Waktu terus berlalu.
Hubungi Miguel dan Helena semakin dekat. Namun, hingga usia putra mereka menginjak Empat bulan, Helena dan Miguel sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri.
Helena selalu beralasan jika dirinya belum siap, dan memang benar, Helena masih trauma jika harus berhubungan dengan Miguel.Karena sikap Miguel yang selalu kasar terhadapnya di waktu yang telah lalu.
Malam ini Miguel kembali dan dan bermaksud minta jatahnya sebagai seorang suami.Ia berharap malam ini Helena bersedia melayaninya.
Miguel kembali mendatangi kamar Helena dengan membawa buket bunga yang indah.
"Sayang kau sudah tidur?" tanya Miguel ketika melihat Helena berbaring miring ke arah putra mereka.
Helena menoleh ke arah Miguel.
__ADS_1
Miguel tersenyum sambil menyodorkan buket bunga yang dibawanya.
"Ini untuk mu," ucap Miguel sambil mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
"Terima kasih," ucap Helena sambil meraih kembang tersebut.
Miguel duduk di samping Helena, kemudian menyibak sedikit rambut Helena agar leher jenjangnya terlihat.
Dengan lembut Miguel mengecup leher Helena untuk memberikan sentuhan kecil agar sang istri lebih bergairah lagi.
Miguel meraba bagian buah dada Helena sambil menciumnya, tapi buru-buru di tepis oleh Helena.
"Kenapa?" tanya Miguel bernada kecewa.
"Helena ini sudah tiga bulan dan kamu belum beri aku kesempatan untuk menyentuhmu sekali pun?" ucap Miguel.
Helena tertunduk.
"Bukannya kau masih memiliki tiga istri yang bisa melayani mu," celetuk Helena sambil menatap wajah Miguel.
"Iya hm tapi aku juga menginginkan mu, percayalah kali ini tak akan terasa sakit, aku akan berhati-hati lagi," bujuk Miguel dengan tatapan sendu menatap Helena.
Miguel benar-benar menginginkan Helena saat itu, sudah lama ia menunggu waktu sampai Helena siap untuk melayaninya.
"Maaf tapi aku belum siap Miguel,"jawab Helena lirih sambil menepis tangan Miguel yang menyentuh bahunya.
Sedih dan kecewa seketika membuat darah di jantung Miguel berdesir, lagi- lagi dirinya mendapatkan penolakan dari Helena.
Namun Miguel masih mencoba untuk menahan emosinya.
Helena berbaring membelakangi Miguel, memang sulit baginya merubah perasaan benci menjadi cinta, meski ia sadar Miguel telah banyak berubah.
Hubungan yang ia jalani bersama Miguel terasa hambar dan keberadaan di sini semata-mata karena sang putra.
Miguel berbaring di samping Helena sambil mengusap rambutnya dengan lembut.
Meski Helena seringkali mengecewakannya karena selalu menolak ajakan untuk berhubungan suami istri. Namun, miguel tetap menunjukkan sikap tenangnya.
Setelah lelah bergulat dengan batin dan perasaannya, Miguel kembali berbaring di samping Helena dan memeluknya dengan erat.
"**
Cecilia terbangun dari tidurnya dan langsung menjerit.
"Ah perutku sakit sekali! "Teriak Cecilia hingga membangunkan para asisten pribadi nya.
"Nyonya ada apa?" tanya tresia yang langsung bangkit menghampiri Cecilia.
"Aduh perutku sakit sekali!" Teriak Cecilia dengan tubuh yang menggelepar menahan sakit.
Tresia meraba bagian perut Cecilia.
"Sepertinya anda akan melahirkan,"ucap Theresia kemudian.
__ADS_1
"Iya sakit sekali! Cepat panggilkan aku Miguel," ringis Cecilia.
"Baik Nyonya,saya panggil tuan Miguel terlebih dahulu."
Theresia keluar dari kamar, kemudian berjalan menghampiri kamar Helena, karena ia tahu jika Miguel bersama dengan Helena saat itu.
Tok tok tok tok
"Tuan ! Tuan !" panggil Cecilia.
Suara ketukan pintu seketika mengejutkan Miguel dan Helena, bahkan bayi mereka sampai menangis karena mendengar suara gedoran tersebut.
Miguel dan Helena saling memandang.
"Sepertinya ada yang mencarimu," tukas Helena.
Miguel berjalan menghampiri pintu dan membuka pintu kamar .
Kreak! Pintu terbuka.
Hua Hua Thresia mengatur nafasnya yang terengah-engah
"Ada apa Theresia?"tanya Miguel .
"Nyonya Cecilia sepertinya akan melahirkan Tuan," jawab Cecilia.
"Di mana dia sekarang?" tanya Miguel.
"Di kamarnya tuan."
"Baiklah kalau begitu kita bawa Cecilia ke rumah sakit sekarang juga!" titah Miguel
Miguel menelpon sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil. Tiba di kamar ia melihat Cecilia tengah merintih menahan sakit pada bagian perutnya.
"Miguel sepertinya aku akan melahirkan," ucap Cecilia sambil mengulas perutnya.
"Iya ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Miguel sambil membopong tubuh Cecilia.
Keringat mengucur deras di wajah dan tubuh Cecilia karena menahan rasa sakit.
Sepanjang perjalanan Miguel mencoba untuk menenangkan Cecilia yang terus saja meringis dan merintih kesakitan..
Perjalanan menuju arah kota pun memakan waktu sekitar setengah jam karena kecepatan yang tinggi.
Sesampainya di rumah sakit Cecilia langsung mendapat penanganan.
Saat itu dia juga mau harus menjalani operasi caesar karena bermasalah pada kandungannya.
Saat ini Cecilia tengah menjalani operasi caesarnya, sementara Miguel masih menanti di luar ruang operasi.
Tak sampai satu jam panel merah di depan pintu kamar operasi berhenti menyala, itu berarti operasi sudah selesai. Namun tak sedikitpun Miguel mendengar suara tangis bayi.
Miguel semakin gelisah, menanti dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
'Apakah yang terjadi, kenapa tak ada suara tangis bayi,' batin Miguel.
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya seikhlasnya saja terima kasih,🙏