Pengantin Yang Dipertaruhkan

Pengantin Yang Dipertaruhkan
Kehidupan Yang Sulit


__ADS_3

Waktu terus berlalu Helena dan Ketiga madunya sudah mendapatkan rumah sewa di pinggiran kota, untuk menghemat biaya pengeluaran, mereka bertanam sayuran, sambil menunggu kabar dari sang suami.


Tak ada lagi  fasilitas mewah yang selama ini mereka dapatkan semenjak jadi istri miguel.


Helena harus pandai memutar otak agar bisa mengendalikan sisa uang miliknya untuk menyambung hidup.


Kini Barbara dan Felisha sudah tak memiliki asisten pribadi, karena tak mampu membayarnya. Hanya Momo yang tersisa, karena Momo iklas membantu Helena mengurusi anak-anaknya.


Momo yang sebatang kara itu, merasa jika Helena adalah keluarganya.


Sudah tiga bulan Helena tak bertemu  Miguel, handphone sudah tak aktif lagi semenjak sebulan yang lalu dan sejak itu sudah tak ada kabar lagi dari Miguel.


***


Helena mondar-mandir di depan pintu kamarnya karena merasa resah dan gelisah memikirkan sang suami yang tidak juga memberi kabar.


"Bagaimana ini, aku harus bertemu dengan miguel apapun caranya," gumam Helena.


 "Tapi siapa yang bisa membantuku?"tanya Helena dalam hati .


"Ya Tuhan berilah aku jalan keluar agar bisa bertemu dengan suami ku," ucap Helena.


Setelah berpikir beberapa saat,


tiba-tiba Helena teringat akan pendeta Jose.


"Iya pak pendeta," guman Helena.


Helena kemudian mencari kontak panti asuhan pimpinan pendeta Jose.


Setelah mendapatkan nomor Tuan Jose Helena langsung menghubunginya.


"Iya tuan, sudah tiga bulan aku tak bertemu dengan Miguel, aku bahkan tak tahu apa yang terjadi pada suami ku saat ini, jujur aku begitu mengkhawatirkan nya" ucap Helena sambil menahan tangisannya.


"Baiklah anakku, nanti saya akan mencoba mencari keberada Miguel, setelah kami menemukan keberadaannya,aku akan menyusulmu, kita akan sama-sama menemui Miguel," ucap tuan Jose.


"Terima kasih pak pendeta," ucap Helena terharu. Akhirnya ada seseorang yang akan membantunya untuk bertemu dengan suaminya.


Setelah berbicara pada pendeta Jose Helena sedikit menjadi tenang.


Dia pun kembali menjalani hari-harinya. Sambil menunggu berita dari pendeta Jose.


***


Barbara dan Felisha berada di kebun Mereka terlihat tidak bersemangat pagi ini, sementara Helena sudah bersimbah keringat Karena melakukan aktivitas perkebunan seorang diri.


"Barbara, Felisha Kenapa kalian diam saja?" tanya Helena.


" Bukannya hanya ini cara bagi kita untuk mendapatkan uang untuk bisa menyambung hidup kita?" tanya Helena ketika melihat kedua madunya itu bermalas-malasan.


"Cukup Helena! kami sudah muak dengan semua ini !"ucap babara sambil melempar topi rimba ke arah Helena.


"Aku juga!  lebih baik kami semua pulang ke kampung halaman, daripada harus bercocok tanam dan bertani hanya untuk mendapatkan makan," balas Barbara.


Keduanya kemudian melempar peralatan kebun ke arah Helena.


"Apa-apaan ini, sudah 3 bulan kita hidup menderita, lebih baik kita pulang ke kampung halaman daripada menunggu kabar yang tidak pasti dari suami kita itu," dengus Barbara.


"Ya aku juga sudah bosan hidup menderita seperti ini," ucap Felicia.


Helena menatap kepergian kedua orang itu. Kini hanya dirinya lah yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarganya.


Setelah berkebun Helena membersihkan diri di air yang mengalir melalui kran yang ada di samping rumahnya.

__ADS_1


Saat itu ia melihat Barbara dan Felicia sudah mendorong koper mereka membawa anak-anak mereka.


"Barbara! Felicia! kalian yakin untuk pergi dari sini?" tanya Helena.


"Tentu saja, kami yakin jika kau ingin menunggu Miguel tunggu saja dia.


Lagi pula Sudah 3 bulan ini kami mencoba untuk bersabar dan bertahan dengan hidup seperti ini. Menjadi petani bukanlah impian kami, kami masih muda, masih banyak yang bisa kami kejar dan raih daripada harus hidup di sini,"sahut Barbara.


Keduanya pun pergi dengan membawa anak-anak mereka.


Setelah membersihkan dirinya, Helena bersandar pada dinding rumah nya untuk menghilangkan rasa penat sambil menyapu keringat yang menetes di keningnya.


Saat itu Momo keluar menghampiri Helena.


"Nyonya ini minumanmu," ucap Momo sambil menyodorkan segelas es jeruk untuk Helena.


Karena merasa begitu haus, Helena langsung meneguk  habis minuman itu.


Helena menatap ke arah Momo dengan tatapan berembun.


"Momo, Aku berharap kau tidak kemana-mana," ucap Helena lirih sambil menggenggam telapak tangan Momo. 


"Anda tenang saja Nyonya, Saya tidak akan pergi kemana-mana. Anda adalah keluarga saya, Arsen dan Bryan adalah anak-anak saya, Saya tak mungkin meninggalkan kalian semua," ucap Momo.


Helena begitu terharu mendengar ucapan asisten rumah tangganya itu, hingga tak sadar air matanya menetes.


"Terima kasih Momo  Hanya kau Bryan dan Arsen lah yang menjadi kekuatanku saat ini. Kita harus bertahan, karena kita tak punya siapa-siapa lagi. Aku yakin, dalam beberapa hari lagi aku akan bisa bertemu dengan Miguel."


"Ya nyonya, sekarang bersihkanlah tubuhmu, sebentar lagi anak-anakmu pasti membutuhkan mu," ucap Momo.


"Iya Momo."


 Setelah suhu tubuhnya kembali normal, Helena bergegas mandi. Setelah mandi, Helena langsung menyusukan Bryan. Karena Arsen sudah bisa makan makanan pendamping ASI , arsen jadi lebih jarang menyusu dengan Helena.


***


Malam semakin larut tubuhnya pun sudah begitu penat. Namun ada yang membuat Helena belum juga terlelap dalam tidurnya.


Rasa rindunya pada sang suami sudah tak bisa tertahan lagi terkadang Helena hanya bisa menangis memandangi langit-langit kamarnya sambil menyusui dua putranya.


Dilihatnya dua putranya yang masih kecil. Iya begitu tiba melihat kedua anak itu, kini hanya ia dan Momo yang ada di rumah itu. Dan mereka berdua harus bisa melindungi kedua bayi itu tanpa ada kepala rumah tangga.


"Semoga tidak terjadi sesuatu apa pun padamu Miguel," ucap Helena sambil meneteskan air matanya.


Setelah lelah mendera sekujur tubuh Helena Ia pun tertidur dengan sendirinya.


***


Pagi ini Helena hendak berkebun, tiga bulan yang lalu ia mulai bercocok tanam sayur-sayuran dengan menyemai bibit sayuran, karena tanah di sana cocok untuk daerah perkebunan.Rumah yang mereka sewa pun memang memiliki tanah yang cukup luas, meskipun rumah yang mereka tempati tidak terlalu bagus.


Setelah 3 bulan Helena kini memetik hasilnya, sudah ada orang yang akan mengambil hasil panen dari Helena.


Sejak dini hari Helena memetik hasil kebunnya supaya bisa diambil oleh pemasok sayur tepat waktu.


1000 dolar hasil kerja keras Helena 3 bulan. Hasil itu memang tak mencukupi kebutuhan sehari-hari nya. Beruntunglah selama 3 bulan ini Bryan tetap sehat. Hingga ia tak perlu mengeluarkan uang lebih. Setidaknya Helena masih punya perhiasan yang sengaja ia simpan untuk kebutuhan di hari yang mendatang.


Setelah mendapatkan uang 1000 dolar itu, Helena bermaksud untuk berbelanja keperluan mereka.


Setelah mandi dan bersiap, tiba-tiba ia mendengar suara dering telepon. Alangkah senangnya Helena ketika melihat nama Tuan Jose tertera di layar handphonenya.


"Akhirnya Tuan Jose menelpon," guman Helena sambil meneteskan air mata dengan haru.


"Halo Helena, anakku ucap," Tuan Jose

__ADS_1


"Iya Tuan. Apa Anda sudah mendapat kabar tentang Miguel?" tanya Helena dengan menggebu-gebu.


"Iya Helena, saat ini aku sedang dalam perjalanan menjemput mu, kita akan sama-sama menemui Miguel di penjara."


"Benarkah, apa kau tahu bagaimana keadaan suamiku?" tanya Helena dengan bulir bening yang menetes di pipinya.


"Helena, meski dalam penjara tapi keadaan Miguel baik-baik saja," ucap pendeta Jose.


Akhirnya Helena bisa menarik nafas dengan lega mengetahui suaminya dalam keadaan baik-baik saja.


"Lalu kenapa dia tidak bisa dihubungi?"tanya Helena lagi.


"Entahlah, yang pasti keadaan Miguel baik-baik saja saat ini "


"Ya sudah Tuan, kalau begitu aku menunggu Anda di rumahku," ucap Helena.


"Iya Helena, tunggu saja, beberapa jam lagi aku akan tiba," ucap Tuan Jose.


Helena menutup teleponnya dengan senyum yang mereka.


"Terima kasih Tuhan, kau telah mengabulkan doaku," ucap Helena sambil menadahkan kepalanya ke atas.


Helena menghampiri Momo yang tengah bermain bersama Arsen.


"Momo, aku akan menemui Miguel, aku tak tahu berapa lama aku kembali. Aku titip Bryan dan Arsen padamu."


"Iya Nyonya, bukannya aku keberatan, tapi cepatlah kembali ,kami semua menunggumu di sini," ucap Momo.


"Tentu saja, Aku akan segera kembali."ucap Helena.


3 jam kemudian mobil jemputan Tuan Jose tiba di depan rumah Helena. Demi keamanan anak-anaknya dan dirinya, Helena kembali memutuskan menyamar untuk menemui Miguel di penjara.


Hal ini dilakukan agar ia tak diincar oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dengan suaminya.


Setelah 1 jam perjalanan Helena pun tiba di sebuah penjara.


Tuan Joss mengurus izin untuk bertemu dengan Miguel pada penjaga penjara. Karena beliau salah satu pemuka agama yang terkenal dengan mudah mereka mendapat izin.


Dengan perasaan rindu yang menggebu dan jantung yang berdetak tak karuan Helena berjalan melewati koridor menuju penjara di mana Miguel berada.


Dari kejauhan bola matanya berbinar ketika sang suami yang terlihat begitu kurus hampir saja Helena tak mengenali Miguel.


"Tuan Jose, itukah suamiku?"tanya Helena sambil meneteskan air matanya.


"Iya Helena, Ayo kita tidak punya banyak waktu."


Helena dan Tuan Jose mempercepat langkah mereka, seakan tidak sabar lagi untuk bertatap muka dengan Miguel.


Langkah Helena terhenti dengan dada yang bergemuruh.


"Miguel," ucap Helena lirih dengan bulir bener menetes di pipinya, ketika menatap sang suami dari arah dekat.


Miguel yang sedang tertunduk di salah satu dinding penjara menoleh ke arah Helena.


Alangkah bahagianya ia melihat sang istri datang menghampirinya.


Miguel berdiri kemudian menghampiri Helena.


Kedua netral mereka bertemu dan mulai berembun.


"Helena," gumam lirih miguel.


Seketika air mata Helena luluh lantak Ia pun langsung menghambur memeluk Miguel, meski jeruji besi menjadi penghalang diantara mereka.

__ADS_1


"Miguel, hiks," tangis Helena pecah dalam pelukan suaminya.


__ADS_2