Pengganti Kak Anisa

Pengganti Kak Anisa
1


__ADS_3

"Saya Terima nikah dan kawinnya Anita Manaf binti Abdul Manaf dengan maskawin tersebut dibayar tunai"


"SAH"


"Alhamdulillah" rasa syukur atas berlangsungnya ijab qabul yang kak Dimas tunaikan di sambut bahagia bercampur dengan duka oleh seluruh anggota keluarga. suasana pernikahan yang pada umumnya akan di laksanakan megah, mewah, dengan campuran rasa bahagia sangat berbeda di kediaman rumah kami.


Bukan janur kuning melengkung yang ada di halaman rumah kami, akan tetapi bendera putih lah yang menempati halaman rumah kami. tidak ada dekorasi ataupun kursi pelaminan. bahkan tak ada pula tamu undangan.


Didepan seluruh keluarga saja kami melangsungkan ijab qabul.


Tatapan kosong mata kak Dimas seolah masih tak percaya bahwa dirinya baru saja melangsungkan ijab qabul dengan adik Anisa, istri Tercintanya.


Aku tau, bagaimana perasaannya,,, aku tau rasanya kehilangan orang tercinta, Aku juga sangat paham tentang rasa cintanya terhadap kak Anisa, tapi inilah ketetapan Allah... Allah memanggil kak Anisa di hari kelahiran buah hatinya "Yusuf ".


"Yusuf membutuhkan sosok ibu ,,,,, dia masih teramat sangat kecil, bagaimana bisa kita biarkan Yusuf tinggal hanya bersama Dimas? " ibu menangis di pelukanku, aku pun ikut menitihkan air mata, tak sanggup rasanya menjawab pertanyaan ibu saat ini.

__ADS_1



"Nita ibu mohon, jadilah ibu dari Yusuf, katakanlah ibu egois tapi ibu tak sanggup jika Yusuf harus dirawat dan dibesarkan tanpa kehadiran sosok ibu"



"Bu bagaimana bisa saya menempati tempat kak Anisa, bagaimana bisa saya menggantikan kak Anisa, maaf saya tidak bisa bu" ucapku lirih, aku tau maksud ibu meminta ku menjadi ibu Yusuf, karena memang akulah satu-satunya adik kak Anisa. tapi hatiku tak sampai bila harus menggantikan posisi kak Anisa.



"coba pikiran baik-baik nak.... Yusuf itu sama saja Anakmu, dia anak dari Kakakmu, jadilah ibunya, jadilah pelindungnya, jadilah tempatnya berteduh, berikan kasih sayang dan cintamu pada Yusuf. Dia berhak mendapatkannya." kata kata itu yang ibu kak Dimas sampaikan padaku tiga hari setelah Meninggalnya kak Anisa.



"tenang Anita tenangkan hatimu... niatmu ialah menjadi ibu Yusuf, jalani lah ini semua dengan ikhlas." aku mencoba menenangkan hatiku

__ADS_1


selang beberapa waktu mas Dimas keluar dari kamar mandi, tatapannya menunjukkan rasa marah rasa benci dan juga pandangan menyalahkan. aku tau sebenarnya dia tak mengharapkan pernikahan ini. bagaimana bisa dalam waktu 3 hari setelah kematian istri yang dicintainya dia menikah lagi.


"Mas sudah saya siapkan baju gantinya" kataku sebisa mungkin dengan mataku yang tak sanggup menatapnya


"Hemm" hanya itu jawaban yang ku dengar darinya


"makan malam sudah saya siapkan mas, kalau mas membutuhkan saya, saya ada di kamar Yusuf "


"Hemm" jawabnya lagi dengan berjalan mengambil pakaian ganti yang telah ku siapkan.


sudah hari ke Tujuh setelah kelahiran Yusuf, berarti sudah Tujuh hari juga kepergian kak Anisa, rumah yang tadinya banyak di datangi sanak saudara kini tinggal kami bertiga... satu-persatu keluarga pamit pulang , melanjutkan kehidupan mereka dengan keluarga nya.


"Ibu titip Dimas dan Yusuf nak.... sayangi mereka, cintai mereka dengan sepenuh hatimu. ibu tidak bisa tetap disini menemanimu, karena ibu juga harus merawat bapak" ucap ibu Mas Dimas berpamitan,


"ibu do'akan keluarga mu menjadi keluarga sakinah, mawadah, warrahmah, berbaktilah kepada suamimu jadilah penyejuk di rumahmu ini"

__ADS_1


ibu menghampiri Mas Dimas, digenggamnya pundak putranya itu, ibu pun mulai berpesan " Jadilah Imam untuk keluarga kecil mu" "ikhlas dan do'akan Anisa selalu, dia akan sangat senang mengetahui Yusuf dirawat oleh mu dan Anita"


setelah kepulangan ibu, rumah yang tadinya ramai menjadi sunyi, hanya sesekali suara Yusuf merengek meminta susu ataupun merasa risih karena popoknya tak nyaman... sementara hubungan kami serasa terlalu aneh terlalu asing.


__ADS_2