
Sudah berhari-hari aku mengikuti anjuran dari kak Bella dan akhirnya hari ke Tujuh Asi ku keluar juga... aku merasa sangat takjub melihat beberapa tetes Asi yang bisa ku perah.
"Alhamdulillah Yusuf akhirnya bunda bisa MengAsihimu" aku sedikit terlalu bersemangat sampai tidak sadar kalau ternyata mas Dimas masuk ke kamarku
"eh maaf"
mas Dimas langsung balik kanan seolah terkejut melihatku yang lompat kegirangan, aku bingung dengan kepergian mas Dimas seolah tak mau menatap ku,,, "memangnya apa yang salah sih" batinku tak sadar Kalau ternyata dua kancing bajuku masih terbuka
"aaahhhh......ya Ampun parah banget sih sampai lupa ngancingin baju, tar dikira aku mau godain mas Dimas kan nggak lucu" aku buru-buru mengancingkan baju dan menggendong Yusuf,, "tuh dek tau nggak , perjuangan bunda biar bisa nyusuin kamu" Yusuf hanya bengong menatapku seolah mengerti dengan apa yang tadi ku ucapkan.
Dimas berjalan ke dapur mengambil air putih dan langsung habis di minumnya dalam satu tegukan. Dimas menepuk-nepuk dadanya yang seolah terkejut dengan pemandangan yang baru saja dia lihat.
"sabar sabar dia bukan Anisa kamu gak boleh berpikiran macam-macam" batin Dimas sambil mengatur nafasnya. sejak kehamilan Anisa memang Dimas tak pernah berani melakukan hubungan suami istri pasalnya kehamilan Anisa yang sangat rentan keguguran.
jadi sebagai pria normal dia juga masih punya keinginan itu, tapi rasa cinta nya terhadap Anisa mengalahkan segalanya. memang Anita sekarang istri sahnya, jadi tidak ada salah nya bila dia menginginkannya, tapi tidak mungkin, Dimas hanya memiliki pikiran bahwa dia menikahi Anita hanya karena Yusuf membutuhkan sosok ibu, bukan berarti Anita bisa bisa menggantikan Anisa di hatinya.
Ruang makan pagi ini terasa sepi seperti biasanya, aku yang berada disampingnya hanya sesekali menawarkan makanan. kami hidup berdampingan dalam satu rumah tapi memang terasa asing, status Suami Istri tapi tidur sendiri-sendiri.
Setiap pagi mas Dimas akan sarapan, dia mau memakan apa saja makanan yang aku siapkan, karena menurutnya makanan rumah lebih sehat daripada makanan di luaran,
"Mas Dim.... nanti sore pulang jam berapa? "
"4"
"kalau nanti siang aku ketemu kak Bella bisa ndak ya? "
Mas Dimas menatapku sambil menaikkan satu alisnya seperti bentuk isyarat pertanyaan *kenapa*
"emmm itu... Asi ku dah berhasil keluar"
mas Dimas langsung menatap ku,,, "jadi sudah bisa mengAsihi Yusuf kan"
"sepertinya begitu "
"tak usah ke Rumah sakit nanti aku telpon Bella"
"okke mas Dimas"
__ADS_1
saat aku berbalik ingin masuk lagi ke kamar Yusuf mas Dimas mulai menelpon , sepertinya kak Bella yang dia telpon
"hallo"
"Bell,, dia dah bisa ngeluarin Asi"
"yah bagus lah kalau gitu, lo seneng kan sekarang"
"hemm.. apa dia juga sudah boleh berhenti meminum obatnya"
"boleh"
" okke "
"eh eh tunggu Dim... bilangin sama Anisa kalau awal nyusuin harus sabar soalnya biasanya ibu muda belum tau memposisikan P**udaranya kamu nanti bantuin dia ya... pasti tau kan caranya, ya sudah ya titip salam buat Anisa daa... "
tut tut
Dimas hanya melongo mendengar Bella menutup telponnya. Dimas tau maksud Bella berkata seperti itu untuk menggodanya,
dia berjalan menghampiri Anita yang sedang menemani Yusuf
"Nit.. kata Bella kamu dah boleh berhenti minum obat nya, terus Bela juga pesan.. "
" em ndak jadi aku berangkat dulu aja ya"
belum sempat Anita menjawab Dimas sudah menghilang dari pandangannya... " huh dasar orang kayak robot, bisa-bisanya kak Anisa suka sama orang kayak gitu, duh dek... kalau bukan gara-gara kamu, bunda gak mau jadi isti Ayahmu yang kayak kanebo kering itu "
sikap Dimas terhadap Anita memang sangat dingin, sepertinya dia memang menjaga jarak, beda dengan sikapnya dengan sahabat atau keluarga nya.
"ssstt dokternya sudah datang" para ibu muda yang tadi kedapatan mengobrol langsung menatap kedatangan ku
"pagi Dokter Dimas" sapa mereka dengan senyuman yang berlebihan , terkadang juga kedipan mata,
"ya ampun, sabar,,, memang begini kali ya efek orang tampan niatnya jadi dokter Anak biar bisa ketemu sama anak-anak tapi yang ditemui mamah muda" batin ku sambil masuk ke poli Anak
beberapa ibu muda memang datang tidak hanya karena anaknya sakit, terkadang ada yang konsultasi tentang tumbuh kembang anaknya, ada yang imunisasi, ada yang terapi setelah patah tulang.
tok.. tok... tok
suara ketukan mengalihkan pandanganku dari data yang sedang aku analisa
__ADS_1
"pagi dok"
"pagi silakan masuk"
"Hai cantik gimana kabarnya, sudah bisa jalan ya" tanyaku menyapa tania yang sedang di gendong ayahnya
Tania adalah salah satu pasien ku yang baru saja sembuh dari kecelakaan, kakinya patah tertabrak mobil, kejadiannya bermula saat ibunya lalai menjaganya, ibunya yang berprofesi sebagai seorang model Diam-diam diam membawa Tania ke lokasi pemotretan. alasannya asisten rumah tangga nya sedang libur.
saat ibunya sibuk make-up, Tania yang masih berusia 3 tahun lari mengejar balon yang terlepas dari genggaman nya, dan terjadilah kecelakaan yang menyebabkan Tania patah tulang kaki.
Saat mengetahui putrinya kecelakaan Tomi marah besar, apalagi tau kalau penyebab kecelakaan Tania karena kelalaian istrinya Kiky yang masih mementingkan profesi nya sebagai Model majalah kelas atas. saat itu juga Tomi membuat Kiky memilih antara keluarga atau profesi Modeling nya.
dan dengan Alasan mengejar karier Kiky memilih profesi nya.
"baik om Doktel" jawabannya
"makasih Dim berkat lo, perkembangan Tania sangat cepat. meski akhir-akhir ini dia sering melamun, sepertinya dia masih teringat ibunya. "
"Sabar Tom, kita perlu pelan-pelan mengalihkan perhatiannya, ajak dia mengobrol sesering mungkin agar dia tak merasa sendiri, atau sering ajak Tania jalan-jalan. "
"iya Dim tapi tau sendiri Tania susah akrab sama orang baru, aku sampai kewalahan mengatur pekerjaan di kantor"
Tomi sepupuku memang saat ini berstatus sama sepertiku sama-sama "Duda" , namun bedanya dia Duda karena istrinya pergi meninggalkan keluarga demi mengejar mimpi nya.
"apa mending gua nikah lagi ya" Tomi bertanya kepada Dimas
"ya Nikah tinggal nikah aja, lo kan banyak yang antri"
"iya sih dim tapi aku pinginnya nikah sama orang yang bisa sayang sama Tania, seperti istrimu itu,,, keliatan banget kan kalau Anita sayang sama Yusuf"
Dimas hanya menatap Tomi sekilas sambil memeriksa kaki Tania yang masih di gips.
__ADS_1
"pasti kalau sama Anaknya sayang sama Ayahnya juga sayang kan? "