
Dimas menggendong putranya, dirinya sudah sangat merindukan Yusuf namun rasa gengsinya untuk pulang membuatnya terpaksa menahan rasa kangennya. Yusuf juga nampak antusias setelah bertemu Ayahnya. wajahnya yang tembem memancarkan senyuman
"Ayah kangen banget sama kamu sayang'' berkali-kali Dimas mendaratkan kecupan pada pipi tembem Yusuf
" Wah... ini Yusuf putra dokter Dimas dan almarhum Anisa ya" tiba tiba suara merdu datang dari arah belakang
"iya dokter Siska... ini putra saya"
"MashaAllah gantengnya.... gembul banget lagi.. "
Dimas tersenyum ramah melihat Siska mengelus lembut tangan putranya.
"Yusuf sekarang sudah umur berapa dok"
"sudah Enam bulan lebih "
"wah sudah berarti sudah mulai disuapin ya.... pantesan aktif banget anaknya" Siska nampak sangat antusias menggoda Yusuf dalam gendongan Dimas
Anita yang melihat interaksi mereka sedikit merasa iri... mungkin jika kakaknya masih ada begitu lah penampakan keluarga kecil mereka, kak Anisa yang juga berprofesi sebagai Dokter pasti akan sangat menyayangi putranya.
"Apa Yusuf sudah mulai di suapi Nit? "
"iya mas sudah sejak tiga hari yang lalu"
Siska menoleh menatap Anita
"ini... "
Saya Anita dok
"oh kamu pasti adiknya Anisa ya"
Anita mengangguk sambil tersenyum
"wah jadi sekarang Yusuf di asuh sama mantan adik ipar dokter Dimas toh, pantas saja Yusuf nya gembul gini, memang ya dok kalau mau percaya sama orang luar tu harus hati-hati, kalau Yusuf nya di rawat sama tantenya saya yakin dia lebih aman"
Tidak semua orang di rumah sakit mengetahui pernikahan Dimas dan Anita. hanya beberapa orang saja yang tau dan dokter Siska termasuk orang yang belum mengetahui tentang status Anita
Deg... entah kenapa karena Anita tak pernah menganggap Yusuf sebagai keponakan jadi dirinya merasakan hatinya tidak Terima, "bukankah aku yang menyusui Yusuf selama ini, jadi aku berhak kan menganggap Yusuf putraku"
Dimas yang mendengar ucapan Siska juga sepertinya tidak memiliki keinginan menegaskan bahwa yang di maksud mantan adik ipar kini sudah berubah statusnya menjadi istrinya
"maaf dokter Siska saya mau memeriksa Yusuf dulu "
"ya silakan dokter Dimas.. saya juga masih harus ke poli untuk mengecek keadaan pasien di sana"
"mari Anita Saya duluan ya... "
Didalam ruangan praktek Dimas, Yusuf sedang di timbang oleh salah satu perawat yang bertugas, saat ini berat badan Yusuf mencapai 8,5 kg dalam usia nya saat ini Yusuf memiliki berat yang tergolong ideal
"Apa Yusuf memiliki keluhan Nit"
__ADS_1
"Tidak mas.. Yusuf mau makan dengan lahap"
"Yusuf akan saya vaksin Rotavirus, manfaat utama imunisasi Rotavirus adalah untuk mencegah penularan diare akibat rotavirus salah satunya seperti muntaber.
"hem ya... "
Dengan penuh ke hati hatian Dimas meneteskan cairan kedalam mulut kecil Yusuf.
" kamu bisa memberikan Asi setelah beberapa menit "
"baik"
setelah berbagai pemeriksaan Dimas menyatakan putranya dalam kondisi yang sehat. jadi dirinya juga merasa sangat lega
"kalau gitu kami pulang dulu mas"
"tadi naik taksi mas"
"kalau gitu kamu tunggu saya, 30 menit lagi saya antar kalian pulang"
"mas kan masih praktek"
"nggak papa ada dokter lain yang akan menggantikan "
"ya mas... saya tunggu di depan ya"
__ADS_1
"hemm"
Dimas memandangi sosok Anita yang menggendong putranya dengan telaten, sangat terpancar raut kasih sayang diwajahnya itu. ada rasa syukur juga di hatinya. mungkin jika tidak ada Anita dalam hidupnya, Dimas akan merasakan betapa repot mengasuh Yusuf saat ini.
"Napa Sis kok senyum senyum sendiri dari tadi gua perhatiin? "
"eh... apaan si Bell gue nggak senyum senyum sendiri kok"
"halah ngaku aja napa... lagi berbunga-bunga nih kayaknya" Bella menggoda Siska yang sedang duduk sambil tersenyum di kantin
" tau nggak Bell gue barusan ketemu sama siapa"
"sama siapa? gebetan lo ya... "
"emm iya sih gebetan plus sama anaknya"
"gila lo... lo naksir sama suami orang Sis? " suara Bella kelewat keras hingga beberapa perawat yang lewat ikut menoleh ke arah mereka
"Bell lo tuh ya... nggak sekalian lo umumin pakai toa biar semua orang dengar? "
"sori sori... habisnya lo bilang gebetan lo dah punya anak... ya berarti dia suami orang dong"
"bukan Bell dia Duda.. lo kenal orangnya kok"
"hah siapa... Duda punya anak? dia kerja di tempat kita juga? "
"iya Bell " Siska senyum senyum sendiri membayangkan bagaimana jika dirinya bisa menjadi ibu dari putra Dimas. memang sejak awal bekerja di rumah sakit Siska sudah jatuh hati dengan Dimas. namun setelah mengetahui Dimas memiliki kekasih dan Akan menikah, Siska memutuskan memendam perasaannya
"ah... nggak ada temen kita yang duda dan punya anak loh sis... apa jangan jangan kamu naksir sama pak Anas ya? dih kalau dia apa nggak ketuaan Sis"
peletak ....Siska menjentikkan jarinya ke jidat Bella..
"aduhh"
"mana mungkin gue suaka sama pak Anas, usia pak Anas tu dah seperti usia bapak gue Bella... "
"terus siapa yang lo maksud" Bella mengusap jidatnya yang menjadi korban jitakan Siska
"dokter Dimas" lirih Siska
"uhuk.. uhuk... " Bella menepuk dadanya yang tiba tiba terasa tersdak
"heeh.....Bell lo kenapa kayak kaget banget gitu denger gue naksir Dimas"
Bella menatap horor kepada temannya yang satu ini, tadinya dia kira Siska sudah bisa memendam perasaannya pada Dimas, ternyata setelah kepergian Anisa, Siska menumbuhkan rasa itu kembali " namun sayang harapannya harus layu sebelum berkembang
"Sis.. gue mau ngomong ni ya... lo dengerin gue baik baik"
"lo mau ngomong apaan, kok gue jadi merasa nggak enak gini ya"
"janji ya jangan pingsan" Bella menghirup udara dengan sepenuh tenaga dan menghembuskannya perlahan
__ADS_1
"Sis Dimas bukan duda, dia sudah menikah dengan Adiknya Anisa"
"APAAA..........!!! "