Pengganti Kak Anisa

Pengganti Kak Anisa
33


__ADS_3

"Jangan tidur terlalu malam"


"baik"


"jangan membuka pintu sembarangan, setelah aku keluar langsung kunci semua pintunya"


"iya mas"


"pastikan HP selalu di samping tempat tidur, kalau ada apa apa langsung telpon"


"iya mas"


"si.... "


"mas aku ngerti kok... aku udah biasa di rumah sendiri sama Yusuf , jadi mas Dimas tidak perlu khawatir"


Dimas kembali mengecek jendela setelah memastikan semuanya aman Dimas baru mau keluar meninggalkan rumahnya


"ingat pesan aku "


"iya mas... mas tenang aja deh... lagian di depan kan juga ada satpam yang berjaga" Anita sampai kehabisan kata untuk meyakinkan Dimas supaya tenang


"Aku usahakan akan berhenti mengambil jam malam, supaya kamu tidak perlu sendirian di rumah kalau malam hari" Dimas berdiri berhadapan dengan Anita


Anita menatap suaminya lekat,,,hatinya bertanya ada apa dengan mas Dimas , mengapa tampaknya dia sangat menghawatirkan aku dan Yusuf, padahal selama ini suaminya itu selalu mengutamakan pekerjaannya di banding keluarga


"Aku berangkat, mas titip Yusuf ya " Dimas berpesan dengan suara lembut, setelah mengatakan itu dimas mengusap lembut kepala Anita dan langsung masuk kedalam Mobilnya meninggalkan Anita yang terbengong dengan tingkah suaminya.


Entah bagaimana caranya Anita bisa masuk dan duduk di dalam kamarnya dan Yusuf, namun sejak tadi Anita masih berasa tidak percaya kalau Dimas bersikap sangat lembut padanya


"Apa mungkin ya mas Dimas udah mulai bisa menerima kehadiran ku, hemh.... semoga ini awal yang baik" batinnya


Anita duduk di samping ranjang memperhatikan putranya yang sudah tertidur pulas, semakin hari semakin lincah saja kelakuannya.




Senyuman Dimas sejak memasuki Rumah sakit mengembang sempurna, suasana hatinya terasa menyenangkan bahkan meski dirinya berjaga malam badannya tidak menunjukkan sedikitpun rasa lelah ataupun mengantuk.



hemmh... mungkin jika orang lain melihatnya mereka akan mengira dokter tampan itu sudah gila



hemmh ingin rasanya Dimas pulang ke rumah menghabiskan malam tidur bersama anak dan istrinya seperti semalam... rasa damai yang entah mengapa membuatnya sejenak melupakan rasa kehilangan setelah meninggalnya Anisa



"dokter Dimas... permisi.. "



"eh... iya Sus, ada pa ya" Dimas menatap seorang suster yang nampak tergopoh-gopoh mengejarnya


__ADS_1


"dokter Dimas di cari sama pasien VVIP bernama Robby dari tadi pagi"



"ada apa memangnya Sus"



"saya kurang tau dok... tapi yang saya dengar dari para perawat yang berjaga pagi, pak Robby tidak mau minum obat, bahkan setiap ada perawat yang masuk selalu di bentak. Sampai saat ini belum ada lagi perawat yang berani masuk. Mereka takut dengan ancaman pasien, yang katanya bisa memecat siapa saja perawat yang berani masuk"



Dimas bedecak mengetahui tingkah sepupunya ini, bagaimana bisa tingkahnya sangat kekanak-kanakan



" baik Sus nanti saya ke ruangannya "



Dengan segera Dimas naik ke lantai 7 gedung rumah sakit, dimana ruang VVIP berada



Sampai di depan ruang rawat inap dimas mengangguk saat berhadapan dengan penjaga kamar itu.. penjaga yang sudah mengetahui siapa Dimas pun langsung menyingkir dari pintu



"KELUARR....!! JANGAN GANGGU AKU....!! "




"ini gue, nggak usah lebai" Dimas berdiri bersedekap melihat Robby yang sedang asik bermain game di dalam kamarnya



"Oh... brothers... tolong selamatkan aku... aku mau pulang.. aku benci berada disini... " Robby membuang stik gamenya dan langsung menatap Dimas dengan wajah memelas



"kan udah gue bilang... lo boleh pulang kalau lo ikut perintah nyokap lo, napa sih bandel banget jadi anak" Dimas mendekat menyeret sebuah kursi dan duduk di sebelah ranjang Robby



"lo nggak ngerasain sih bang gimana rasanya terpenjara di dalam ruangan bauk kaya gini, mau makan juga nggak enak rasanya"



"terus lo mau disini selamanya gitu"



"ihhh... amit amit... " Robby bergidik ngeri membayangkan dirinya akan berada lama di Rumah sakit


__ADS_1


"gini deh ... lo ikutin saran gue... cuma Tiga hari aja lo nurutin perintah dokter sama nyokap lo... setelah itu gue yakin lo boleh keluar dari sini"



"Tiga hari bang? kenapa gak sekarang aja si gue pulang"



"mau nurut apa nggak, kalau nggak gue tinggal masih banyak pasien nunggu"



"ehh... iya bang gue mau, tapi...... "



"tapi apa? "



"TAPI GUE NGGAK MAU DI RAWAT SAMA PERAWAT ABAL-ABAL LAGI ...!! " Robby berkata dengan tegas



"perawat abal-abal gimana"



"nih ya bang perawat disini semuanya nggak profesional, masa mereka nusuk jarum infus aja nggak becus... dah gitu tadi ada yang memeriksa tekanan darah juga katanya tensiku 180/100 mana ada aku tensi segitu ngaco...! "



bagaimana tensi nya tidak tinggi kalau orangnya berapi api kayak gini batin Dimas



" terus maunya apa? " memang harus extra sabar menghadapi tingkah Robby yang sejak kecil sudah sangat dimanja oleh ibu dan kakaknya itu



"aku pinginnya Dokter yang merawat ku, terserah mau minta bayaran berapa perhari juga terserah , yang penting nggak bikin tensiku tambah naik"



"okke nanti abang carikan"



"tapi ingat bang lalu dokternya nggak bisa bikin aku sembuh dia bakal aku keluarkan dari rumah sakit ini"



"heh mana bisa begitu sih Rob"



"biarin... pokonya aku maunya gitu"

__ADS_1



Dimas berfikir keras mencari siapa dokter yang akan bersedia menghadapi tingkah kekanakan Robby


__ADS_2