
Butuh beberapa saat Anita dan Dimas menunggu kedatangan pesanannya. setelah pesanan datang Dimas memerintahkan Anita supaya makan terlebih dahulu, sedangkan Dimas menggantikannya menggendong Yusuf
Anita merasa tersentuh dengan perlakuan Dimas, andai saja perlakuan seperti itu dilakukan setiap harinya mungkin hubungannya dengan Dimas akan lebih harmonis.
Yusuf juga nampak nyaman dalam gendongan ayahnya sesekali Dimas mengajak putranya berdiri berkeliling ruangan
Anita juga agak mempercepat makannya agak Dimas bisa segera makan
"Tidak usah terburu-buru, Yusuf nya anteng kok... iyakan sayang"
Yusuf tersenyum lebar menanggapi ayahnya sambil menggoyangkan kedua tangan dan kakinya
"haha anak pinter" Dimas kembali mengajak Yusuf bermain
setelah beberapa saat Anita menyelesaikan makanannya kini giliran Dimas yang memakan makanannya
"Maaf ya mas... makanan mas jadi dingin"
"nggak masalah, masih hangat kok" Dimas kembali duduk dan mulai makan setelah memberikan Yusuf kedalam pelukan Anita.
Dengan telaten Anita menggendong dan menepuk - nepuk pantat Yusuf. dan baru beberapa menit Yusuf sudah tertidur pulas dalam gendongan Anita
"Sepertinya Yusuf kelelahan Nit"
"iya mas... cepet banget tidurnya"
Dimas kembali menyantap makanannya karena dirinya sudah begitu lapar, Dimas sampai tidak merasa bahwa ada noda kecap di samping bibirnya.
Anita yang melihat itu langsung berdiri sambil menggendong Yusuf, di usap nya perlahan bibir Dimas dengan tisu,
Hal semacam ini membuat hati Dimas terasa hangat, sebenarnya selama Anita disisinya Dimas selalu merasa sangat diperhatikan
Dimas menatap Anita yang berada di depan wajahnya, "Apa ini saatnya aku memulai semuanya dari awal " batin Dimas
"Jangan menatap ku seperti itu mas,, bisa - bisa aku berpikir mas Dimas sudah bisa menerima ku menjadi Istri mas Dimas" kata Anita tiba-tiba
"Ahem... itu hanya.... "
__ADS_1
"itu hanya ilusi kan mas? aku tau" Anita mendahului perkataan Dimas
Dimas dengan canggung menundukkan kepalanya, tadinya Dimas ingin berkata YA namun lidahnya seperti tak mampu mengeluarkan kata tersebut.
Sebenarnya Anita sedikit berharap hubungan nya dengan Dimas bisa membaik, namun semua masih berada jauh dari angan angannya, mungkin Anita perlu bersabar meluluhkan hati Dimas.
sikap itu menunjukkan bahwa keduanya sebenarnya sama sama ingin memperbaiki hubungan namun keduanya masih sama sama terbayang dengan hubungan masa lalu mereka, entah kapan keduanya akan melepaskan sampul di hati mereka berdua.
setelah selesai makan Dimas dan Anita langsung pulang kerumahnya.
Dimas kembali masuk kedalam kamarnya, sedangkan Anita ke kamar Yusuf.
Anita membersihkan tubuhnya dan berganti menggunakan daster rumahan, akan lebih nyaman untuk tidur jika menggunakan daster dirumah.
setelah selesai Anita turun ke dapur mengambil minum untuk dirinya sendiri, tidak lupa macam buah juga dibawanya ke kamar Yusuf, pada saat tengah malam Anita sering merasa kelaparan, jadi dia terbiasa menyiapkan camilan atau macam buah buahan.
ketika Anita ingin masuk kedalam kamarnya ternyata Dimas sudah berada di dalam berbaring di kasur menemani putranya tidur
karena sudah beberapa hari tidak menemani putranya, Dimas merasa sangat merindukan Yusuf jadi dirinya berinisiatif menemani Yusuf tidur
karena tempat tidurnya sudah ditempati Dimas Anita memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, ternya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nanda
Anita lalu memutuskan menghubungi Nanda kembali
setelah mencoba menelfon untuk yang ke Tiga kalinya baru saat itu telpon di angkat
"Hallo"
"Nda... sorry tadi gak tau kalau kamu nelpon"
"iya gakpapa aku tau kok sekarang kamu sibuk dengan keluarga kecilmu"
"kenapa suaranya aneh, apa ada yang salah? "
hening tidak ada jawaban... Anita sabar menunggu sahabatnya berbicara, "Nit... "
"Ya Nanda..... "
__ADS_1
"aku kangen... "
"ya ampun kangen katanya, heii.... kan kita baru beberapa hari yang lalu ketemu, lagian tiap hari juga kita selalu berkabar" Anita heran dengan sikap aneh Nanda
"bukan sama kamu"
"lalu dengan siapa,, jangan jangan pacar baru ya.... "
di sebrang Telpon Nanda senyum senyum sendiri sambil mengelus pipinya yang terasa panas
"sama duren"
" hah... siapa? jangan bilang sama kak Bayu"
"iya" Nanda menjawab dengan nada sangat yakin
"sejak kapan kalian berhubungan? "
"sejak terakhir kali mas Bayu mengantarku pulang"
Anita jadi mengingat saat Bayu mengantarkannya pulang, saat itu Nanda juga berada satu mobil dengan Bayu, mungkin saat itu mereka bertukar nomor telepon.
"mas Bayu sudah Dua hari nggak nelpon" nampak dari suara Nanda sedang sangat menunggu telpon masuk dari Bayu
"kenapa nggak telpon duluan? "
"takut ganggu"
"dasar aneh... kalau kangen kan kamu bisa telpon atau sekedar kirim pesan... maunya kok di perhatiin, tapi nggak mau gantian" sindir Anita kepada Nanda
mereka berdua mengobrol lama... sampai suara Yusuf menghentikan keduanya
"Nda Yusuf kebangun... kayaknya haus deh... "
"alah alesan... paling ayahnya Yusuf yang haus.. hahahahhaha "
Tut Tut Tut
__ADS_1