
Dimas menyesali apa yang baru saja dia ucapkan kepada Anita, tadinya dia hanya menginginkan penjelasan dari Anita tapi Anita tak memiliki keinginan untuk membuka suaranya.
Saat ini Anita pulang menggunakan taksi , di dalam mobil Anita mengingat apa yang di ucapan Dimas
"Apa dia pikir aku serendah itu, bahkan meskipun aku dan Johan memang dulu memiliki hubungan, aku tau batasan ku... dan apa itu ciuman asal mas Dimas tau hanya Yusuf yang pernah ku cium, apalagi melakukan hal yang lebih,,, demi Allah saat mas Dimas tau aku sebenarnya masih perawan pasti dia akan meminta maaf " Anita berkali-kali mengumpat... hatinya sangat sakit oleh perkataan Dimas,
Tadi saat Dimas mengucapkan kata-kata pedas itu Anita langsung berbalik keluar dari pintu apartemen. Sia-sia sepertinya jika dia menjelaskan kepada Dimas, karena dimatanya Anita tak sebaik kakaknya 'Anisa'
Melihat kepulangan Anita sendirian bu Sofi merasa aneh, bukankah tadi saat menelpon Dimas, dia mengatakan bahwa Anita sedang bersamanya.... lalu dimana Dimas sekarang, kenapa Anita pulang dengan Taksi
"Assalamu'alaikum bu... Hai Yusuf sayangnya bunda... " ingin rasanya Anita langsung menggendong dan mencium Yusuf, tapi dirinya ingat baru saja pulang, jadi Anita memutuskan mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu...
"Wa'alaikumsalam bundanya Yusuf" bu Sofi dengan lembut menjawab Anita
"kamu kok pulangnya gak di antar Dimas"
"iya bu... sepertinya mas Dimas nanti jaga malam, jadi Anita pulang naik taksi"
"oh... "
"ni Yusuf sepertinya dah kangen kamu deh... tangannya pingin minta gendong"
" iya bu... Anita mandi dulu ya... takut bawa kuman"
saat Anita mandi.. Dimas ternyata juga ikut pulang kerumahnya, Dia berniat bertemu dengan Yusuf karena sudah Dua hari tak bertemu
" Loh kalian ini kenapa sih... bukannya pulang barengan malah pulang sendiri-sendiri"
Dimas hanya diam tak menanggapi ucapan ibunya
__ADS_1
"sini buk biar Dimas gendong Yusuf... dah kangen"
"eh.. eh... enak aja... mandi dulu sana kamu kan dari luar nanti takut bawa kuman"
"Aku dah mandi bu... "
"kalau gitu cuci tangan dulu... "
"iya iya... "
Anita telah selesai mandi dan berganti pakaian, kini saatnya Anita menyusui Yusuf, karena pay***ra nya sudah terasa sangat nyeri, saat pergi tadi dia tak membawa alat pompa Asi inilah yang dia rasakan, nyeri di dada kanan dan kirinya
"loh bu... Yusuf dimana"
"lagi di kamar sama ayah nya"
"kalian ini gimana sih... kalian habis berantem ya... "
"nggak bu... Nita cari Yusuf dulu ya bu"
Anita pelan-pelan membuka pintu kamar Yusuf, ternyata Yusuf sedang di timang oleh Ayahnya,
"Yusuf sini nak sama bunda... "
Anita mengambil Yusuf dari gendongan Dimas
"tolong mas keluar dulu... saya mau nyusuin Yusuf"
Anita mulai duduk di kursi di sudut ruangan, dipangkunya Yusuf yang sepertinya sudah sangat antusias menyambut pemberian ASI dari bundanya
"kenapa saya harus keluar"
"saya mau mengAsihi Yusuf mas"
"kamu malu?
ngapain malu sih Nit padahalkan aku juga dah liat seluruh tu....... "
"stop deh mas... aku lagi males ngeladenin omongan mas Dimas"
__ADS_1
Yusuf yang sedari tadi menunggu diberi Asi mulai rewel... mungkin jika dirinya sudah lebih besar dia akan langsung membuka sumber Asi nya itu
"cup cup sayangnya bunda... "
Perlahan Anita membuka Tiga kancing di bajunya... dia menatap Dimas yang sedang sibuk merapikan tempat tidur Yusuf... memang sepertinya tidak ada niatan Dimas keluar kamar.
Mau tidak mau Anita menyusui Yusuf saat itu juga, namun dia juga menjadi lebih waspada kepada Dimas kerena kejadian terakhir kali... (Dimas mencium Yusuf saat Anita sedang menyusuinya)
untuk mencegah hal itu terjadi Anita sudah menyediakan Apron khusus ibu menyusui.
"untung aku pintar" batin Anita dia tidak ingin lagi Dimas memanfaatkan kesempatan
Saat Dimas menoleh melihat Anita yang sedang menyusui putranya menggunakan Apron entah mengapa sedikit ada perasaan kecewa pada diri Dimas, "hish... apaan sih kenapa aku berharap melihat pemandangan itu lagi" Dimas menepiskan pikiran yang tiba-tiba muncul di otaknya,. mungkin karena sudah lama berpuasa jadi dirinya akhir-akhir ini mudah memikirkan hal-hal yang iya-iya.
suasana begitu aneh di dalam kamar untuk beberapa saat sampai tiba-tiba Yusuf tersedak dan menangis
"oooeee... oooeee... "
"cup cup sayang... " Anita menepuk punggung putranya dengan pelan... "duh.. kok bisa gini sih"
"Yusuf kenapa? "
"sepertinya tersedak mas.. mungkin saking banyaknya Asi yang keluar jadi dia kewalahan menelannya"
Anita sendiri merasa bersalah karena dirinya tidak memompa Asinya terlebih dahulu, mengakibatkan produksi Asinya terlalu banyak.
Melihat wajah putranya yang memerah Dimas merasa panik "sini biar aku gendong Yusuf"
Dimas menggendong tubuh Yusuf dalam posisi berdiri, kepalanya di letakkan di bahunya, dengan perlahan Dimas mulai menepuk punggung Yusuf
setelah beberapa saat akhirnya Yusuf tenang kembali...
"lain kali kalau Yusuf tersedak posisikan badannya tengkurap di bahu mu lalu perlahan di tepuk.. seperti saat menyendawakan setelah dia menyusu"
"ya mas"
"kamu juga harusnya ingat, selalu memompa Asi setiap 2 sampai 3 jam, jangan cuma gara-gara terlalu asik bertemu dengan kekasihmu itu sampai kamu lupa kewajiban mu"
"Mas.... kok jadi bahas Jo lagi sih"
" benar kan tadi saking asiknya kamu bertemu dengan Jo Jo mu itu jadi kamu lupa sama Yusuf "
"Mas asal mas tau ya... aku tadi nggak sengaja ketemu Jo, dan yang membuat ku lama di luar bukan Jo tapi mas Dimas yang membawa ku ke apartemen"
"nggak sengaja tapi menghabiskan waktu shoping baju segitu banyak. memang pacar yang pengertian membelikan baju wanitanya begitu banyak"
"Ya Allah ni orang sekalinya ngomong memang bisanya cuma nyakitin" Anita menatap geram pada orang di depannya itu...
"Tadi pagi aku keluar bersama Nanda, dan kami pergi shopping berdua, dan masalah baju... itu semua baju Yusuf yang aku beli, kalau mas gak percaya silahkan cek M-banking mas Dimas, karena tadi aku berbelanja menggunakan kartu yang mas berikan" dengan satu tarikan nafas Anita menjawab tuduhan suaminya itu.
Anita segera melepaskan Apron di depan Dimas, dia merapikan kancing kemejanya lalu mengambil putranya dari gendongan Dimas, rasanya dia tidak sanggup bila harus berlama-lama satu ruang dengan suaminya itu.
__ADS_1