Pengganti Kak Anisa

Pengganti Kak Anisa
13


__ADS_3

Johan mengajak Anita duduk di salah satu cafe


"hei... jangan tegang begitu" Johan berusaha mencairkan suasana


"maafkan aku Jo"


"Aku yang seharusnya meminta maaf, seharusnya waktu itu aku tak meminta mu menunggu ku, seharusnya saat itu juga aku menikahi mu"


"Jo"


"sudah tidak usah di bahas lagi... walaupun saat ini kau sudah menjadi istri orang, tapi kita tetap bisa bersahabat kan''


" yah tentu" Anita merasa tegang menghadapi situasinya kini dengan Johan


"bagaimana kabar Yusuf" Johan menatap Anita


"Dia baik... sekarang sudah pintar mengoceh"


"Pasti dia sangat lucu"


"Ya Yusuf sangat lucu, dia mirip Ayahnya"


Johan langsung menatap Anita, Anita yang tak menyadari kesalahannya juga merasa bingung dengan alasan Johan menatapnya seolah mencari tau sesuatu di dalam matanya.


"Semoga kau bahagia Nit"


"yah... kau juga, semoga kau segera mendapatkan jodoh"


"bagaimana kalau aku masih ingin menunggu mu " Johan menatap Anita lekat, dia ingin memastikan bahwa Anita memang sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya


"Jo, aku sudah bersuami"


"ya aku tau"

__ADS_1


percakapan keduanya terhenti saat telpon Anita berbunyi


Anita meminta ijin pada Johan untuk mengangkatnya


"Hallo mas.. "


"dimana? "


"sedang di cafe dalam mall"


"bersama kekasihmu itu...? '' Dimas menunggu jawaban tidak dari mulut Anita tapi ternyata Anita tak menjawabnya


"Lima menit aku sampai, kamu tunggu di depan"


tut... telpon dimatikan begitu saja.


"Suamimu mencari? "


"Lima menit lagi dia akan menjemput ku. tolong sampaikan pada Nanda aku pulang duluan"


sejak pernikahannya, Dimas tak pernah mencarinya. tapi saat ini dia tidak mengerti dengan tingkah Dimas


Dalam waktu Lima menit sebuah mobil berhenti tepat di depan Anita, siapa lagi kalau bukan mobil Dimas, Dimas hanya membuka sedikit kacanya,,,


"Masuk"


Dimas melihat Johan berada beberapa meter di belakang Anita, jadi benar mereka baru saja bertemu, dan apa itu.... berbelanja,, cih.....memang pasangan yang sangat romantis, seorang lelaki mengajak kekasihnya berbelanja


Anita membuka pintu belakang memasukkan belanjaannya, lalu membuka pintu depan dan duduk di samping Dimas. baru saja Anita memakai seatbelt Dimas sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sontak saja Anita berpegangan erat.


"Mas tolong lebih pelan"


Seolah tak mendengar permintaan Anita Dimas terus saja melajukan kendaraannya

__ADS_1


Sedangkan Anita, Keringat Dingin nampak keluar di pelipis Anita. matanya terpejam, tangannya mencengkram, ada aliran bening di sudut matanya


Dengan kecepatan tinggi Dimas terus melajukan kendaraannya , Dimas merasa sangat tidak menyukai fakta bahwa Anita kembali bertemu dengan Johan. bukankah seharusnya mereka sudah tidak perlu bertemu, tapi apa yang baru saja dia lihat, pasangan kekasih yang baru saja berbelanja berdua, dan apalagi selanjutnya, apakah jika Dimas tidak datang mereka akan pergi menonton Bioskop, memakan eskrim, atau menghabiskan waktu berdua? , semua kemungkinan muncul begitu saja di kepala Dimas


Lain Halnya dengan Anita yang malah mengingat kejadian saat kedua orang tuanya kecelakaan, saat itu dirinya berada satu mobil dengan kedua orang tuanya. dia menyaksikan saat kecelakaan itu terjadi, Orang tuanya meninggal tepat di depan matanya, pada saat itulah dia menjadi yatim piatu.


Anita tidak ingin jika sesuatu terjadi padanya dan Dimas, bagaimana kalau mereka juga mengalami kecelakaan seperti kedua orang tuanya, bagaimana jika Yusuf menjadi Yatim piatu seperti dirinya, sungguh Anita tak mau hal itu terjadi


Tiba-tiba saja Dimas mendengar suara isak tangis dari sampingnya, suara itu terasa pilu, seolah baru tersadar dari apa yang di perbuatnya Dimas langsung menurunkan kecepatan mobil.


Dimas menoleh kesamping kirinya, Dia melihat Anita begitu ketakutan.


setelah melanjutkan perjalanan beberapa menit mereka sampai di bawah parkiran Apartemen,


"Turun"


Anita menoleh memperhatikan tempat disekitarnya


"kita tidak pulang ke rumah? "


"lebih baik kau bercermin apa kata ibuku jika melihat keadaan mu saat ini"


Dimas turun dari mobil di ikuti Anita


saat keduanya sampai di lantai sepuluh lift berhenti, mereka berjalan di pintu bertuliskan angka "101"


Anita melihat jari Dimas memencet rangkaian angka sebagai pasword untuk masuk kedalam Apartemennya, saat dia perhatikan Dimas menggunakan tanggal lahir Kakaknya "Anisa" sebagai kata sandinya


Dimas masuk begitu saja kedalam Apartemennya, dia berjalan ke pintu berwarna biru mungkin itu kamarnya


perlahan Anita memasuki ruangan, yah sudah dia duga kakaknya pasti yang mendesainnya seluruh ruangan di penuhi dengan warna pastel. dan di dinding juga tertempel banyak foto kakaknya dan Dimas.


Anita mengelus lembut bingkai foto Anisa "kak.... memang kakak tak tergantikan"

__ADS_1


miris rasnya, suaminya belum bisa membuka hati untuknya, mungkin memang dirinya tak memiliki kelebihan apapun dibandingkan dengan kakaknya


__ADS_2