
Dimas mengajak Siska ke ruangan Robby untuk memperkenalkan mereka berdua
"Robb... kenalin ini dokter Siska yang akan merawat kamu selama Tiga hari kedepan. sudah ku jelaskan tentang semuanya, ku harap kamu mau bekerjasama, agar tante tak lagi mengomeliku. "
"okke bang makasih"
"gue balik kerja dulu... awas kalau bikin ulah lagi!! " peringat Dimas
"iya bang... " sambil memanyunkan bibirnya
"Dokter Siska.. titip Robby ya.. jangan sungkan telpon saya jika dia bikin ulah"
"iya dokter Dimas.. siap"
"ih... abang kayak aku anak kecil aja pake dititipin"
Dimas melengos meninggalkan ruangan sepupunya yang manja itu
Robby mengamati dokter Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki. tubuhnya bisa di bilang rata , di lihat dari penampilannya juga nampak sopan. beda dengan perawat perawat yang berkali kali masuk ke ruangannya kemarin. semua perawat yang masuk seakan ingin membuatnya sakit kepala.
"dokter yang kemarin meng infus saya kan? "
"iya betul" jawab Siska yang menghampiri Robby , di periksa nya pergelangan tangan Robby untuk memeriksa pasiennya dan memasang infus yang baru.
" Kemarin infus ku habis, perawat disini gak becus semua. sampai infus aja kehabisan mereka nggak tau,
Tau nggak dok? kemarin darahku keluar naik ke selang infus dah banyak gitu " omel Robby tiba-tiba membuka obrolan
"Kenapa bisa sampai darah naik ke selang, apa pak Robby tidak mengamati kalau infus nya akan habis? "
"nggak.. ' eh... kenapa manggilnya pak sih... aku masih muda loh masih anak kuliahan"
"itu hanya bentuk hormat saya, pak Robby kan anak pemilik saham terbesar Rumah sakit ini" balas Siska yang sudah berhasil menemukan titik untuk memasangkan infus kembali
"Nggak sakit kan dok" Robby menatap benda tajam di tangan Siska
" Nggak sakit kok... bukanya kemarin sudah merasakan.. nggak sakit kan? "
__ADS_1
"hemh... memang nggak sakit tapi cuma ngeri aja lihatnya,,, apalagi kalau darahnya naik hih... serem"
"yap... sudah berhasil" ucap Siska sambil mengatur tetesan infus yang akan mengalir ke dalam tubuh Pasiennya
"Memangnya kenapa harus di infus sih dok.. kan lukaku cuma luka di kaki, kayaknya juga sudah mulai mengering deh"
Siska melihat anak muda di atas ranjang pasiennya, sebenarnya Robby tidak se menakutkan apa kata perawat diluar sana, tapi entah kenapa tingkahnya susah ditebak.
"Badan pak Robby kelihatan lemas, kurang cairan, apa pak Robby tidak pernah makan? "
"Nah... betul aku sama sekali nggak suka sama makanan di sini. Rasanya pingin muntah setiap ada makanan yang di sajikan. memangnya mereka para koki rumah sakit tidak punya lidah untuk merasakannya? hambar rasanya beda jauh dengan makanan di restoran, dah gitu masa aku disuruh makan bubur. Ohh... ayolah... makan itu paling ku benci. " gerutu Robby
Siska geleng-geleng melihat pasiennya, bagaimana bisa para juru masak di rumah sakit dibandingkan dengan masakan yang di Restoran
"Pak Robby... ini kan rumah sakit, tempat orang sakit, para juru masak juga harus memperhatikan kandungan gizi dan kebutuhan tubuh setiap pasiennya, jadi untuk masalah rasa juga memiliki peraturan tersendiri" Siska mengambil bangku, dia duduk di bangku samping ranjang
" dok... bisa nggak panggilnya jangan pak.. panggil Robby aja , aku kayak bapak bapak deh kesannya " protes Robby
" baik pa.. eh Robby "
"Bagus.. jadi sekarang coba periksa berapa tekanan darah ku.. kau tau dok.. kemarin saat perawat itu masuk keruangan ku rasanya aku akan meledak... bayangkan beberapa perawat yang masuk seperti menjadikan kamar ini arena fashion show. mereka memakai baju yang kekecilan, sepatu tinggi yang ah.. entahlah disebut apa itu namanya aku tak tau, dan parfum mereka sudah seperti mimi peri"
"hahahahahahahha... " Siska spontan tak bisa mengontrol dirinya untuk tertawa terbahak mendengar penjabaran Robby saat ini
"Hish...kenapa tertawa? " Robby merasa dirinya sedang tidak melucu tapi dokter Siska malah mentertawakan nya
"Mana ada perawat disini yang memiliki parfum seperti itu, peraturan disini sangat ketat, tidak mungkin mereka bisa lolos dari bu Vani, jika berpenampilan seperti itu . " jelas Siska
Robby juga sebenarnya heran bagaimana perawat perawat kecentilan itu masuk ke kamarnya
__ADS_1
Siska memeriksa tekanan darah Robby, dan hasilnya tensi nya sudah normal 120 / 80
" Tensi mu bagus, sudah jauh lebih rendah dari tensi kemarin"
"Jelas saja tensi ku kemarin naik drastis, melihat para perawat itu melenggak-lenggok di dalam ruangan ku"
Siska hanya tersenyum mendengar keluhan Robby
Bisa jadi para perawat memang ingin menarik perhatian pemilik saham terbesar di rumah sakit ini. apalagi Robi berwajah tampan badannya tegap dan jangan lupa matanya, sudah seperti opa opa korea.
"Karena tensi ku kembali normal mulai besok pagi, aku ingin makanan yang enak" pinta Robby kepada dokter Siska
"baiklah,, akan ku telpon bagian Dapur agar menggantikan menu untuk mu "
"Eh... tidak aku tidak mau makanan dari rumah sakit"
"lalu bagaimana? "
"malam ini lebih baik dokter Siska pulang ke Rumah, dan besok pagi tolong bawakan aku makanan makanan enak, tapi ingat harus memiliki cita rasa yang bisa menggugah nafsu makan ku"
"tapi.. apa tidak papa jika kamu di tinggal sendiri disini? "
"tenang.... ada orang suruhan mamah yang jaga di depan pintu" Robby menunjuk arah pintu dengan dagunya
"okke aku aku akan ikuti permintaan mu,, tapi ingat jika ada sesuatu terjadi langsung telpon saja aku"
Siska mengambil kartu namanya di tas dan memberikannya pada Robby
Robby menerimanya dan langsung hormat kepada Siska
__ADS_1