
"Dasar perempuan ular!!" Sebuah teriakan memekakkan telinga, menyerupai bentakan, menggema ke seluruh ruangan.
Laras mundur sampai dinding di sudut ruangan, kemudian perlahan terduduk di lantai, sambil memegang perutnya setelah bu Daniah dengan kasar mendorongnya.
"Apa yang kamu lakukan, hah? Berjalan mengendap-ngendap seperti itu, kamu mengejutkanku!"
"Maafkan aku, bu...maafkan aku."
"Maaf-maaf! Enak saja kamu minta maaf, aku hampir jantungan karena terkejut...berjalan begitu di belakangku, seperti hantu!"
"Aku...aku hanya ingin ke dapur..."
"Aku benar-benar tak suka bertemu denganmu dalam rumah ini! Sudah ku katakan, kamu tidak perlu berkeliaran seperti peragawati dengan membawa perut besarmu itu! Kamu membuatku muak." suara Ibu Daniah, mama Gading, meninggi.
"Ma...maafkan aku bu...aku hanya ingin...mengambil air minum." Laras meringkuk ketakutan melihat kemurkaan ibu mertuanya itu.
"Tahukah kamu perempuan penggoda, kamu telah membawa kesialan dalam keluarga kami.
Kamu menjebak anakku yang baik itu supaya menghamilimu, betapa tidak punya malu dirimu. Aku tahu dari awal, kamu adalah perempuan penipu!" Ibu Daniah berkacak pinggang sambil matanya membulat sebesar koin.
Laras mulai menangis, selama ini dia selalu berusaha menghindari pertemuan dengan mertuanya ini karena tak tahan melihat tatapan sinisnya dan kadang sindiran-sindiran tajam yang dilontarkan padanya.
"Jika kamu masih tahu malu...ku sarankan untuk angkat kaki dari rumah ini. Gading tidak pernah melihatmu bahkan dengan sebelah matanya!" Telunjuk ibu Daniah teracung ke wajah Laras.
"Ambil pakaianmu, berkemaslah! Aku tak perlu mengusirmu dua kali dari rumahku."
"Mama..." Asha dan Gading yang baru saja pulang dari melihat progress pembangunan rumah mereka, tampak terkejut melihat Laras yang sesenggukan di sebuah sudut ruangan.
"Ada apa ini, ma?" Gading berdiri di tengah ruangan, berusaha menenangkan mamanya yang wajahnya merah padam seperti terbakar.
"Aku mau dia keluar dari rumah ini!" Ibu Daniah menjawab dengan suara keras.
"Apa maksud mama?" Asha menatap ke arah ibu mertuanya itu dengan Laras bergantian.
"Aku ingin mengusir perempuan ular ini dari rumahku. Rasanya perutku mual setiap melihatnya!" Sahut bu Daniah dengan kejam.
"Mama, sabarlah...apa kesalahan Laras sampai mama harus mengusirnya? Dia dalam keadaan hamil besar. Bagaimana mungkin mama mengusir seorang perempuan hamil?" Asha menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghampiri Laras yang menangis di sudut.
Tangan Asha terulur, membantu Laras berdiri.
"Kenapa kamu membelanya terus, Asha? Dia adalah perempuan yang telah berusaha merusak pernikahanmu. Dia adalah semacam perempuan pelakor yang tak pantas dikasihani." Ibu Daniah menghardik.
"Tapi, ma...Laras dalam keadaan hamil. Kasihan dia..."
__ADS_1
"Dia hamil anak ular!"
"Mama!" Tiba-tiba Gading menyergah.
"Cukup, ma. Cukup...mama tidak perlu mengusir Laras begini."
"Sekarang kamupun mulai membela perempuan l@cur yang memalukan ini?" Ibu Daniah melotot kepada Gading.
"Aku tidak membelanya, ma. Tapi tidak ada alasan untuk bersikap keras padanya."
"Dia telah menjebakmu, Gading. Dia menjebakmu supaya menghamilinya. Perempuan seperti ini pasti memiliki motif jahat. Seharusnya dari awal aku sudah mengusirnya." Ibu Daniah mengalihkan pandangannya pada Laras yang berusaha berdiri di bantu oleh Asha.
"Dia adalah istriku juga."
Kalimat itu pendek tapi sanggup membuat tiga pasang mata perempuan yang mendengarnya menjadi sesaat terpana.
Mama Gading hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Asha sendiripun sampai-sampai menoleh pada suaminya itu dengan raut terkejut, tak pernah selama ini Gading mengakui kalau Laras adalah istrinya.
"Kamu...apa kamu sudah gila, Gading?" Ibu Daniah mengagepalkan tangannya. Raut wajahnya benar-benar marah.
"Apakah dia telah mengguna-gunai kamu supaya bersikap lunak padamu? Atau kamu salah minum obat?" Tuding ibu Daniah lagi, dia nampak kesal luar biasa dengan sikap Gading.
"Aku hanya mau mama mengerti, Laras hanya sedang hamil. Tidak perlu bersikap begini."
Mata Laras tak berkedip mendengar kalimat yang keluar dari mulut Gading, dia seakan tak yakin, pertama kali dia merasa Gading memasang badan untuknya.
"Bukan begitu, ma. Aku hanya ingin mama tidak perlu mengganggunya. Biarkan dia melahirkan dengan tenang. Setelah itu aku akan memikirkan bagaimana sebaiknya." Gading menggaruk kepalanya sambil melirik pada Asha yang memegang lengan Laras.
"Tapi, aku sudah mengatakan dari awal aku tidak menyetujui pernikahanmu dengannya. Dia adalah orang asing yang membawa perutnya, mau mengacaukan rumah tanggamu. Aku sudah tak tahan lagi, aku benar-benar tidak ingin dia di sini!"
"Tapi, dia juga istriku sekarang."
Kalimat itu pendek saja tapi mampu membuat Asha tergugu, matanya tak berkedip memandang ke arah suaminya.
Asha diam seribu bahasa, tak bergeming di tempatnya. Dia baru menyadari, ada perasaan aneh menjalar ketika suaminya terkesan sedikit memberi perhatian pada Laras, sesuatu yang tak pernah di lakukan Gading selama ini.
Perasaan itu baru pertama kali singgah menganggu hatinya setelah sekian bulan dia dan Laras tinggal satu rumah.
Mata bu Daniah membeliak pada anaknya itu, kemudian berangsur-angsur menurunkan tangannya.
"Baiklah kalau begitu, terserah kalian saja lah." Bu Daniah membalikkan badannya, setelah menatap tajam pada Laras.
"Maafkan aku...semua jadi begini..."
__ADS_1
Laras tiba-tiba oleng lalu beberapa detik kemudian hampir terjatuh, untung Asha sempat memrgangnya sebelum bebar-benar jatuh ke lantai.
"Tolong..." Suara Asha tertahan sambil menahan tubuh Laras.
Gading memburu keduanya sebelum jatuh bersamaan di lantai, menangkap tubuh Laras lalu tanpa bicara lagi di angkatnya menuju sofa terdekat yang ada di ruangan itu.
Laras pingsan.
...***...
Asha menatap Laras yang menggeliat pelan di tempat tidurnya.
"Kamu sudah bangun."
"Oh, mbak Asha..." Laras berusaha bangun, tetapi Asha menahannya.
Sesaat mata Laras berputar mengitari ruangan seperti sedang mencari sesuatu.
"Berbaring saja. Kamu hanya pingsan, badanmu sedikit demam, aku sudah mengompresmu. Kalau kamu sudah cukup kuat, aku akan membawamu ke klinik untuk memeriksa keadaanmu." Asha menuangkan secangkir teh hangat dari atas meja di dekat kepala tempat tidur.
"Minumlah teh ini, jika kamu sudah merasa nyaman. Ini bisa menghangatkan perutmu." Asha meketakkan teh yang masih mengepulkan asap tipis di permukaan gelas itu.
"Terimakasih, mbak..." Laras bericap dengan suara parau.
Terlihat rautnya yang masih shock, mungkin di karenakan insiden, ibu Daniah yang berusaha mengusirnya.
"Beristirahatlah dulu, aku akan berganti baju."
"Mbak..."
Tangan Laras tiba-tiba meraih lengan Asha, menahan langkah Asha yang akan beranjak pergi.
"Ya?"
"Kenapa mbak begitu baik padaku?"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...