PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 35. TELPON MISTERIUS


__ADS_3

Di rumah mertuanya, Asha menanti kepulangan suaminya. Tak henti ia berjalan hilir mudik ke depan dengan sikap gelisah dan tak tenang untuk memastikan apakah Gading sudah kembali atau tidak.


"Kemana Mas Gading? Sudah jam segini belum pulang. Dia juga tidak membalas pesanku, apa dia marah?" Asha khawatir dengan situasi seperti ini. Ia kenal dengan jelas suaminya itu tak biasa pulang lama tanpa seijin darinya. Tapi kali ini, ponselnya pun tak bisa di hubungi oleh Asha.


"Kamu di mana, Mas?" Bisik Asha dalam hati penuh kecemasan.


Daniah datang dengan membawa Zyan dalam gendongannya. Ia menatap Asha yang gelisah.


"Ada apa, Asha?" tanyanya kemudian, menegur menantunya itu.


Asha menoleh. "Mas Gading belum pulang, Ma. Aku khawatir dia masih marah." Jawab Asha pelan.


"Atau dia mungkin sedang pulang ke rumah..." Asha menggenggam ponsel di tangannya dengan kuat, sedari tadi dia menghubungi Gading laki-laki ini tak mengangkat telponnya. Berharap dia menghubunginya, setelah puluhan Chat di kirimnya, hanya di read tanpa di balas.


"Dasar anak itu. Dia sudah dewasa seharusnya mengerti kenapa Mama mengambil keputusan ini." Mama Gading mengomel panjang pendek.


"Ambil Zyan, bawa dia bersamamu. Kamu harus belajar mengasuhnya, dengan begitu naluri keibuanmu akan tumbuh, bukan mustahil kamu akan segera mempunyai anak setelah ini." Mertuanya itu menyodorkan Zyan dari gendongannya. Asha mengambil baby Zyan dari gendongan mertuanya dengan tanggap, mata perempuan itu terlihat tak mau di bantah.

__ADS_1


"Tak perlu menunggu Gading, dia sudah dewasa bisa pulang sendiri, urus saja Zyan, aku tadi telah memberinya susu satu setengah jam yang lalu, kamu hanya perlu tidurkan dia dengan memberinya susu lagi Mama mau tidur dulu." Daniah langsung pergi setelah memberikan Zyan kepada Asha.


Beberapa saat lamanya menunggu sambil menggendong Zyan yang memang terlihat mengantuk, bayi itu menggeliat-geliat sedikit cerewet di gendongannya, akhirnya Asha memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya karena kasihan dengan Zyan yang mulai merengek kecil.


Asha membaringkan Zyan di ranjang dengan box bayi yang sudah mertuanya beli tadi siang.  Bayi itu mudah sekali tertidur, sekali diberikan dot maka ia akan menyedotnya dan menghabiskan isinya.


"Aku tidak tahu perasaan apa ini, Zyan. Tapi kamu benar-benar mencuri perhatianku." Asha ikut berbaring di samping Zyan. Ia kelelahan menunggu Gading yang tak kunjung pulang, lalu matanya yang berat akhirnya tertutup sempurna. Asha tertidur tepat di samping bayi itu dengan pakaian tidurnya.


Beberapa menit kemudian, derit halus pintu kamar yang di dorong sangat pelahan supaya tak menimbulkan bunyi, pintu kamar itu terbuka. Gading terfokus pada Asha dan bayi Zyan yang tidur dengan posisi yang berdekatan. Detak jantung Gading berdetak lebih cepat. Pemandangan yang selama ini ia nantikan. 2 tahun penantian untuk melihat ini.


Gading berjalan mendekat. Ia duduk dengan pelan di pinggir ranjang dan mengusap wajah Asha yang tertidur dengan damai. Gading menghela napasnya.Betapa ingin dia mengusap wajah itrinya itu, tetapi urung di lakukannya karena takut membangunkannya. Dia sadar, Asha adalah perempuan yang paling tulus hatinya sejak dulu, dan tak ada yang berubah sampai kini. Bukan salah istrinya itu jika tak bisa menentang ibunya yang akhir-akhir ini bersikap seperti diktator. Jika dia dalam posisi Asha mungkin dia juga akan bersikap selunak dan sepasrah ini, apalagi mengingat Asha tak punya orang tua kandung.


"Dan ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kamu masuk ke dalam rumahku lagi? Kenapa kamu membuat ikatan yang aneh denganku, bahkan sejak kamu hanya sejumput darah kamu sudah mengikuti hidupku? " Gading memejamkan matanya. Berbeda dengan Asha yang menatap Zyan membuat ia tenang, Gading menatap Zyan malah melihat sosok Laras. Wanita itu sangat dibenci oleh Gading karena menipu dirinya dan juga keluarganya.


"Aku ... aku sungguh tidak tahu kapan aku bisa menerimamu. Tetapi mama begitu berkeras membuatmu tinggal di sini, dan sekarang aku juga melihat Istriku ini begitu senang dengan kehadiranmu. Siapa yang salah? Sekarang katakan padaku, aku harus bagaimana?" Gading menghela nafasnya yang terasa sesak. Dia mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur. Dalam sepersekian lama hanya terpaku menatap dua manusia yang terbaring di atas tempat tidur itu.


Tak lama, getaran di ponsel membuat Gading dengan cepat mengangkatnya dengan reflek.

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan Gading." Gading mengernyitkan keningnya. Ia kembali melihat nomor yang menelfon tidak dikenali. Biasanya dia tak mengangkat telpon dari nomor kontak asing apalagi di tengah malam seperti ini, tetapi karena fokus memandang istrinya yang tertidur tenang sambil memegang pinggir box bayi, dia lupa untuk melihat ke layar ponsel sebelum mengangkatnya.


"Ini siapa?" Gading mengernyit dahinya.


"Tentu saja kamu tidak mengenalku." Suara dibalik telfon itu terdengar samar, suaranya berat.


"Mungkin anda salah sambung--" Gading bersiap hendak menutup panggilan, merasa kesal dengan keisengan orang yang menganggunya di tengah malam buta ini dan hatinya sedang kalut.


"Kamu suaminya Asha, bukan?" Gading yang berniat mematikan ponselnya tidak jadi. Ia kembali mendengarkan dengan baik mendengar nama istrinya di sebut.


"Ya, aku suami Asha! Kamu siapa? Bagaimana kamu mengenal istriku?" Darah Gading tersirap, rasa penasaran mulai menjalari syarafnya membuat kepalanya mendadak berdenyut tak karuan.


"Maksudnya? Siapa kamu sebenarnya?!" Tanya Gading stengah menghardik.


"Aku? siapa aku?" Pertanyaan itu di lontarkan dari seberang di lanjutkan dengan gelak tawa yang sedikit mengejek


"Haha, nanti jika waktunya tepat, kita akan bertemu. Sesegera mungkin. Untuk saat ini, bersenang-senanglah dengan istrimu. Setelahnya, biarkan aku yang bersenang-senang dengannya." Derai tawa yang aneh itu memecah keheningan.

__ADS_1


Rasa cemburu dan amarah terasa naik sampai ubun-ubunnya, sampai-sampai giginya bergemeretak. Bagaimana tidak, seorang asing berkoar-koar merendahkan istrinya dengan sembarangan. Suami manapun tak akan rela.


Yukkk...lanjutin novel ini lagi akak othor setelah sekian lama hiatus, mohon maaf buat yg masih nunggu🙏🤗 yang dah lupa jalan ceritanya balik lagi baca dari awal, ya😁😁😁😁


__ADS_2