PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 29. ANAK PANCINGAN


__ADS_3

Jika Asha tak bisa memberi anak, paling tidak putra Laras itu sudah kau beri nama belakangmu, setengah dari anak itu adalah anakmu!" Itu yang di katakan mam Gading, yang menurut Gading di ucapkan mamanya karena dia hanya terobsesi dengan kehamilan Asha yang belum kunjung tiba.


"Assalammualaikum..." Gading mengucapkan salam, saat pintu terbuka, dan di depan pintu, mulutnya melongo pada sang mama yang berdiri menyambutnya dengan bayi yang tertidur meringkuk di pelukannya.


"Wallaikumsalam." Jawaban itu pendek, terdengar tegas.


"Mama?" Gading mengenal bayi itu sebagai Zyan, anak Laras.


Mata Gading segera berputar, rahangnya tiba-tiba mengeras, pandangan berkeliling di ruang tamu mencari sosok yang diyakininya pasti bersama dengan bayi itu.


Tapi, Gading tak melihat kehadiran Laras yang di carinya.


"Masuklah, aku perlu perlu bicara denganmu."


"Kenapa anak itu ada di sini?" Tanya Gading dengan muka kesal, sedikit tidak perduli dengan ucapan sang mama.


Ibu Daniah membalikkan badannya dan duduk di kursi dengan tetap menggendong Zyan yang masih tertidur. Anak ini sudah berumur hampir 4 bulan, wajahnya yang tampan itu terlihat montok dan menggemaskan.


"Dia akan tinggal di sini?"


"Dia? Siapa?!" Gisel yang baru saja tiba dengan tangan yang menenteng beberapa paper bag beraneka ukuran itu melotot dari belakang Gading.


Mata gadis remaja itu sebesar kelereng.


"Bayi ini. Dia akan tinggal di sini."


Tas-tas yang ada di tangan Gisel jatuh di atas lantai, matanya membesar.


"Itu anak ular itu, kan? Kenapa bisa ada di sini???" Gisel tampak mencari-cari sosok dari Laras, terlihat jelas dia penasaran bercampur kesal,


"Dia bukan anak ular!" Ibu Daniah berucap setengah membentak pada Gisel.


"Dia adalah cucuku."


"Apakah mama sudah gila?"


"Mama tidak gila. Zyan adalah cucuku."


"Astaga mama, Laras pasti sudah merusak otak mama." Gisel geleng-geleng kepala seolah tak percaya dengan apa yang di lakukan mamanya.


"Laras mana?!" Gading menatap tajam pada sang mama.

__ADS_1


"Dia sudah pergi, dia cuma mengantarkan Zyan ke sini."


Gading menatap bayi yang ada di pelukan mamanya.


"Kenapa? Aku yang memintanya meninggalkan anak ini padaku. Dia adalah anak yang di lahirkan dalam pernikahanmu, dia adalah cucuku!"


"Mama sudah gila!" Gading menahan geram luar biasa pada sikap mamanya itu.


"Aku tidak gila, kamu yang gila, bagaimana bisa kamu bertahan dengan istrimu yang mandul itu."


"Asha tidak mandul mama, kami baru menikah setahunan ini. Jangan memvonisnya begitu." mata Gading memerah.


"Mama dulu setelah menikah langsung hamil kamu, jadi harusnya kamu mulai berfikir lewat setahun kok Asha belum hamil juga."


"Mama!"


"Sampai Asha hamil, Zyan akan menjadi cucuku." Ibu Daniah melengos sambil mengelus kepala Zyan yang tertidur.


"Mama, mama nelihat sendiri hasil tes DNA kemarin, dia bukan anakku." Wajah Gading semerah kepiting rebus.


"Kertas itu tak berarti apa-apa bagi mama, sebelum Asha memberiku seorang cucu."


"Mama? Kenapa mama membuat kacau semuanya." Gading benar-benar tak rela bayi Laras itu kembali ke dalam rumah itu.


"Cup...cup sayang...nenek di sini..."


"Astaga, mama...apa yang terjadi dengan mama?" Gading mrndekat seakan ingin merampas bayi di pangkuan mamanya yang masih duduk di kursi dengan santainya.


"Hey, jangan mendekat!" bu Daniah melotot pada Gading, dia menlambaikan telapak tangannya di udara.


"Aku harus mengembalikan bayi ini kepada Laras. Itu anaknya."


"Jangan coba-coba!" Bu Daniah berdiri sambil menghardik, Zyan yang tadinya masih tertidur mendadak terbangun mendengar suara Bu Daniah yang keras.


"Aku tak akan membiarkanmu melakukannya!"


"Mama kenapa? apa yang terjadi dengan mama? Siapa yang membuat mama bersikap aneh begini?" Gading berhenti melangkah sambil menurunkan volume suaranya. Berusaha mendekat dengan perlahan, sementara ibu Daniah sibuk menenangkan bayi dalam pelukannya itu.


"Mama sudah gak waras, ya?" Gisel yang dari tadi hanya melotot di pojokan angkat suara.


"Mama ingin bicara padamu bukan minta kamu ikut campur dengan urusan mama!" Ibu Daniah mengangkat wajahnya, terlihat murka.

__ADS_1


"Bicara apa?" Cecar Gading mulai tak sabar.


"Mama mau kamu menyuruh isterimu mengasuh Zyan."


"Hah! Mama sudah gila. Mama benar-benar sudah gila." Gading menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut tak percaya pada mamanya.


"Gading, mama mau Asha mengasuh Zyan, hingga dia hamil. Jika dia sudah mengandung cucu untukku, dia boleh mengembalikan Zyan pada Laras." Sahut Bu Daniah dengan raut acuh tak acuh.


"Aku tidak mau! Aku tidak mengijinkan Asha mengasuh anak Laras." Tolak Gading dengan ketus.


"Aku mamamu! Jangan berteriak padaku!" Bu Daniah melawan suara tangis Zyan yang tak lagi sekedar merengek karena terkejut dengan suara-suara ribut antara Gading dengan mamanya itu.


"Mama..." Gading menarik nafasnya memenangkan kemarahannya sendiri.


"Mama jangan main-main soal ini. Zyan bukan anakku ataupun Asha. Kami tak bisa mengasuhnya.Tolong bersikap normal, ma kalau tidak Mama bisa membuat masalah besar untuk rumah tanggaku." Gading berucap dengan nada putus asa.


Dia ingin berteriak dan marah pada perempuan di depannya itu, tetapi dia berusaha menahan diri. Bagaimanapun marahnya pada ibu Daniah, dia adalah mamanya.


"Gading, istrimu itu sangat penurut denganmu. Apa susahnya kamu memintanya menyenangkan hati ibumu sendiri dengan menuruti semua perkataan mama. Dan lagi selama ini, Asha selalu membela Karas mati-matian waktu Laras hamil anaknya. Dia pasti tak masalah mengurus Zyan." Ucap Bu Daniah sambil berjalan mondar-mandir menimang Zyan.


"Siapa yang meminta mama melakukan ini?" Gading akhirnya duduk di kursi, berusaha bersikap tenang. Dia tahu, jika dia berdebat dengan mamanya, bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah semakin memperkeruh suasana.


Dia akan membujuk mamanya untuk tidak mempertahankan sikap keras kepalanya.


"Mama tidak di minta oleh siapa-siapa, ini murni keinginan mama. Mama ingin Zyan menjadi anak pancingan untukmu dan Asha."




(Entah ada yang masih baca atau ingat dengan cerita ini, akhirnya othor akan melanjutkan novel yang begitu lama tak di tulis ini😅


Apapun yang terjadi author akan bertanggungjawab menyelesaikannya hingga tamat, meski mungkin dengan gerak lambat🙏🤗 Kadang kala author down saat menulis, kekurangan inspirasi sehingga bersikap tak profesional. mohon maklumi, author harus belajar banyak untuk mempertahan mental dan tekad.😄 Sekali lagi, siapa tahu yang baca dari awal, maafkan othor ini, ya🙏😅😅)


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all...


__ADS_2