
Asha membuka pintu kamar Laras yang tidak terkunci.
"Mbak Asha..." Laras yang sedang memasang baju Zyan setelah memandikannya, tersenyum melihat kedatangan Asha.
"Apa kabar pagi ini, Zyan?" Asha menatap bayi yang tampak segar di atas tempat tidur itu.
"Tali pusarnya sudah lepas tadi pagi mbak, waktu mandi." Jawab Laras dengan wajah sumringah.
"Oh, ya. Zyan sudah besar sekarang...seminggu saja membuatnya sudah tampak dua kali lebih besar dari pertama kali aku menggendongnya." Asha tersenyum sambil menyentuh dagu bayi mungil itu.
"Iya, mbak. Dia lebih besar sekarang." Laras menyerahkan bayinya kepada Asha setelah berpakaian, dia tahu saat Asha masuk ke kamarnya, Asha akan menimang Zyan. Satu-satunya orang di rumah itu yang mau memegang anaknya selain Bi Irah, asisten rumah tangga keluarga Pramudia.
"Laras..." Asha memanggil nama Laras dengan pelan, meskipun matanya tetap tertuju pada bayi di tangannya.
"Aku sebenarnya ingin berbicara padamu." Asha menghela nafasnya sesaat.
"Ya, ada apa, mbak?" Laras mengernyit dahinya dan mempersilahkan Asha duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Aku ingin kamu tidak salah paham dengan maksudku." Asha membuka dengan hati-hati.
"Mengenai hubunganmu dengan mas Gading." Asha diam sesaat, merapikan duduknya sambil memegang Zyan di tangannya.
"Ku rasa sekarang adalah saatnya untuk mengingatkan kembali pada kesepakatan yang telah kita buat, saat kamu masih mengandung Zyan beberapa bulan yang lalu."
Kalimat itu terdengar halus dan hati-hati tetapi seketika membuat wajah Laras menegang.
"Apakah kamu ingat?" Tanya Asha sambil mengangkat wajahnya.
Laras tak bergeming, nafasnya tertahan tapi dia tidak menjawab apa-apa.
"Zyan sudah lahir dengan selamat, saatnya membebaskan dirimu dari beban ini. Dan kita tahu, saatnya sudah tiba, kamu bisa kembali ke kehidupanmu semula. Sekarang aku ingin menuntut janjimu untuk bercerai dengan mas Gading." Asha menatap tajam pada Laras, yang di tatap hanya tertegun.
"Dan untuk Zyan...aku rasa mas Gading akan tetap bertanggungjawab untuk anak ini, aku bersedia membesarkan Zyan bersama dengan mas Gading seperti anak sendiri. Aku telah membicarakan ini dengan mas Gading." Mata Asha beralih pada bayi yang kini tidur di dalam pelukannya itu.
__ADS_1
Laras tak menyahut sepatah katapun, kecuali matanya yang tak berkedip menatap pada Asha.
"Laras..." Asha menegur perlahan, melihat Laras yang diam, alisnya bertaut seakan menunggu tanggapan dari Laras.
"Aku...ah...iya..." Laras menyahut tergagap.
"Aku dengan setulus hati atas nama suamiku, meminta maaf jika kamu harus menanggung aib karena suamiku, sejak semula antara kalian sesungguhnya tak ada hubungan apa-apa kecuali terlibat karena sebuah kesalahan di luar kesadarannya. Akupun, sudah berbesar hati untuk mengikhlaskan apa yang terjadi, tak ada yang bisa dipertahankan dari pernikahan yang terpaksa, dan dari awalpun kita tahu pernikahan ini hanya untuk menutup aib saja. Karena itu penyelesaian terbaik dari semua keruwetan yang terjadi adalah perceraian antara kamu dan mas Gading." Asha menarik nafasnya, dan menggoyang-goyangkan tangannya perlahan, saat Zyan yang tertidur di lengannya itu sedikit menggeliat.
"Dulu, saat kamu datang padaku, mengatakan tentang kehamilanmu pada saat yang begitu tiba-tiba dan di ambang aku duduk di pelaminan bersama mas Gading, tak ada yang bisa ku lakukan dan dalam kefrustasianku, aku hampir tak bisa berfikir apa-apa, kecuali yang terbersit menikahkanmu pada suamiku untuk menyelamatkan keadaan. Dan sekarang, badai itu telah reda, semua hal hal harus kita kembalikan kepada seharusnya. Terimakasih untuk pengertianmu. Semua demi kebaikan kita bersama." Panjang dan lebar kalimat itu di sampaikan oleh Asha, tetapi Laras hanya terpekur, matanya tak lepas dari bayi yang ada di tangan Asha.
"Apakah kamu mendengarku?" Tanya Asha.
"Ya...ya...aku mendengarmu, mbak."
"Bagaimana?"
"Aku sudah mengatakannya, kan?" Asha bertanya dengan mata terpicing melihat reaksi Laras yang tiba-tiba aneh.
"Oh..." Laras berdiri dengan raut yang berubah, menjulurkan tangannya seolah meminta bayi yang kini ada di pelukan Asha.
"Aku sudah mendengar semua yang dikatakan oleh mbak Asha, aku memahami maksud mbak Asha. Dan tak satupun yang kulewatkan." Laras berucap sedikit berbeda dengan caranya berbicara dengan Asha selama ini, yerdengar sedikit gusar.
"Apakah aku harus bercerai sekarang?" Tanyanya kemudian, tanpa menatap mata Asha, dia menyibukkan diri dengan bayi di tangannya.
"Setelah 40 hari usia Zyan, maka Mas Gading akan menalakmu..." Jawab Asha.
"40 hari?"
"Ya, sebulan lagi..."
Mata Laras mengerjap menatap Asha, kemudian sejenak dia menantang mata Asha, pertama kali Laras benar-benar menantang mata perempuan yang telah menjadi madunya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu mempersiapkan diri dari sekarang, supaya hal ini mudah bagimu..." Ucap Asha, matanya tak lepas dari Laras.
"Mbak Asha, boleh aku bicara?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Laras terdengar datar.
Asha terkesima, sesaat dia menyadari Laras bersikap sungguh berbeda dari Laras yang selama ini di kenalnya dalam beberapa bulan terakhir.
"Ya, bicaralah..."
"Aku sangat mengerti maksud perkataan mbak Asha. Tidak perlu kuatir, aku akan menerima perceraianku dengan mas Gading. Aku tahu persis, meskipun aku dinikahi olehnya tapi dia tak pernah mempunyai perasaan apa-apa padaku. Bahkan, pak Gading ku rasa begitu benci melihatku. Itu sama sekali bukan salahnya. Hanya nasib buruk yang sedang berpihak kepadaku. Setelah diperkosa secara tidak manusiawi, kemudian sungguh beruntung mbak Asha mengijinkan aku bersembunyi di balik pernikahan palsu ini untuk menutupi segala sesuatunya. Semua memang salahku, benar-benar salahku, terlalu lemah dan bodoh. Tidak perlu mbak Asha mengingatkan aku berkali-kali, aku telah siap bercerai dengan pak Gading, bahkan jikapun Pak Gading melakukannya sekarang." Kalimat yang di ucapkan oleh Laras terdengar dingin, dengan wajah tanpa ekspresi.
Ini adalah pertama kali Asha mendengar Laras berbicara padanya dengan sangat panjang dan tanpa terputus. Keluguan yang selama ini dilihat oleh Asha, seketika menguap ketika Laras mengucapkannya dengan rahang mengeras.
Mata Asha tak berkedip menatap Asha, dia sedang berusaha mencerna kata demi kata yang di akhir kalimatnya menjadi terdengar sarkas itu.
"Dan satu hal lagi mbak Asha yang ingin kutanyakan padamu..." Laras mengangkat dagunya yang terlihat meruncing itu.
"Bagaimana jika aku tiba-tiba berubah fikiran sedikit?" pertanyaan Laras terlontar dalam nada rendah tetapi membuat Asha tertegun sekali lagi.
"Berubah fikiran? Apa maksudmu, Laras?"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1