PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB.32 BAYI YANG HILANG


__ADS_3

"Ma!"


"Mas, jangan besarkan suaramu," tegur Asha membuat Gading menarik napasnya dalam, dia tahu istrinya itu mengucapkan dengan gemetar karena hatinya tentu saja tergores dengan perkataan ibunya itu. Sayangnya, hati Asha itu begitu lembut. Bahkan untuk mengatakan dia sakit hati, istrinya itu tak


pernah bisa melakukannya.


"Tetap saja, Ma. Aku tidak bisa Terima ini. Kalau mau mama saja yang merawatnya, aku dan Asha tidak akan--"


"Aku akan merawat Zyan, Ma." Asha memotong perkataan Gading yang membuat suaminya terperangah tidak percaya.


 “Asha…” Gading menatap istrinya itu lekat-lekat, yang ditatap diam seribu Bahasa setelah mengucapkan kalimat itu.  Daniah tersenyum simpul, seakan dia telah menang atas sebuah perang.


"Ijinkan aku, Mas. Dia akan tinggal di sini bersama kita." Asha menatap Zyan yang terbangun. Mata yang belum bisa terbuka sempurna itu seakan menatap dirinya. Hal itu membuat Asha terhipnotis. Dia tertegun, mata bayi itu hitam dan begitu bening, dia sama sekali tidak terkejut atau menangis saat menatap Asha. Rasa iba Asha terbit begitu saja, mengingat dirinya sendiri yang ditelantarkan di panti asuhan. Apakah wajahnya seperti dulu menatap orang dengan penuh harap untuk di sayangi?


 "Tidak, aku tidak setuju." Gading menggelengkan kepalanya dengan tegas.


“Aku tidak mau bayi itu tinggal dengan kita. Dia bukan anakku. Dia jelas-jelas bukan anakku, kenapa mama bersikap begitu bodoh, termakan semua bujuk rayu Laras. Ini semua tak masuk akal.” Tuding Gading dengan wajah kesal.


“Mama, tolonglah sekali ini saja jangan persulit aku. Apa mama tidak kasihan dengan Asha?”


“Ini akau lakukan karena aku kasihan dengan istrimu!” Sergah Daniah dengan suara yang tak kalah kesalnya pada putra sulungnya itu.


“Istrimu itu belum punya anak, dia bisa saja merasa malu jika nanti di tanya teman-teman mama kalau ketemu, sudah punya momongan belum? Terus dia jawab apa? Terus mama juga harus jawab apa, hah?!”


 “Astagfirullah, mama. Ada apa sih dengan fikiran mama itu, suudzon berlebihan dengan omongan orang? Itu Cuma fikiran mama saja. Tidak ada orang yang membicarakan kita sampai seperti itu,” Ucap Gading dengan wajah merah


padam. Gading beranjak dari sana dan keluar dari rumah dengan wajah yang menahan sejuta emosi. Asha terdiam menatap kepergian suaminya itu lalu menyerahkan Zyan kembali ke mertuanya.


"Ma, aku masih belum mengerti kenapa Mama senekad ini, tapi apakah Laras akan ikhlas anaknya tinggal di sini? Aku takut saat mama sedang sayang-sayangnya, Laras akan datang mengambil anak ini. Bukankah itu akan


menjadi masalah baru nantinya?"


 "Dia ikhlas. Anak ini akan besar di sini. Aku menjaminnya. Sudahlah, sebagai istri yang baik coba kau bujuk suamimu sana biar tidak keras kepala. " Daniah kembali membawa Zyan duduk di sofa. Asha terdiam sambil

__ADS_1


menatap mertuanya itu dengan sikap bimbang.


“Oh, iya…katakana pada suamimu, kalian berdua untuk beberapa bulan akan tinggal di sini saja.”


“Tapi, ma. Kami kan sudah punya rumah sendiri.” Asha terkesiap, mertuanya ini memang suka mengatur-atur hidupnya dan Gading tetapi dia tak tahu jika soal tempat tinggalpun sekarang ibu mertuanya itu ikut memutuskan.


“Akh, rumah kalian itu baru saja jadi juga, masih belum selesai beberapa bagian di belakangnya kata Gading. Pindah itu bisa saja nanti jika sudah siap benar. Lagian itu rumah belum di selametin.” Oceh sang mama.


“Dan mama mau lihat sendiri cara kamu mengurus bayi, kamu kan belum pernah punya anak.”Kalimat itu terdengar pedas di telinga Asha.


 Asha diam tak menyahut lalu beranjak menyusul Gading yang tadinya pergi dengan marah.


***


"Apa yang kamu katakan? Bayimu hilang?" Darius tertawa cukup kencang, matanya yang merah itu membeliak, suara tawa Darius membuat telinga Laras sakit mendengarnya.


"Katakan lebih keras, kenapa raut wajahmu begitu? Apa kau menyembunyikan anak sialan itu?" Darius mencengkram dagu Laras kencang.


Laras menggelengkan kepalanya dengan ketakutan.


“Bohong!!! Aku sangat menegenalmu, Laras. Aku tahu benar jika kamu sedang berbohong!”


“Sumpah, kak! Dia hilang saat aku membawanya ke taman kota kemarin. Aku meletakkannya di atas kursi untuk membelikan minum tapi seseorang telah mengambilnya.” Laras berusaha menjelaskannya dengan terbata-bata.


“Omong kosong! Kenapa kamu tidak melaporkannya ke polisi?”


“Aku…aku takut…aku takut polisi akan mencari ayahnya…aku takut nanti bilang apa, kalau polisi mencari kak Darius…”


Mata Darius bulat sebesar kelereng berusaha mencerna kalimat yang di ucapkan Laras. Lalu dia tergelak keras menertawakan alasan Laras yang menurutnya terlalu mengada-ada.


 "Apa aku harus seperti ini untuk memaksamu mengatakan kemana kau membawa bayi itu pergi? Apa kau membawanya ke panti?"


Laras menggeleng. Ia tidak akan memberitahu Darius jika Laras telah menyerahkan anak mereka pada keluarga Gading.

__ADS_1


 "Dasar wanita sialan!" Umpat Darius dengan wajah yang tak sabar.


Prakk! Laras tersungkur dengan mudah saat Darius membuang Laras hanya dengan satu tangan. Laras menahan perih di kepalanya yang terbentur.


 "Sepertinya kau memang suka diberi hukuman? Apa kali ini sabuk ini cukup untuk memperingatimu?" Laras memejamkan matanya. Sekedar untuk berdiri saja ia tak mampu lagi. Ia benar-benar memasrahkan semua yang terjadi padanya. Jikapun sekarang Darius membunuhnya dia tak akan takut lagi, dia tahu Zyan berada di tempat yang aman.


 "Aku masih memberimu pilihan."


"Di mana anak itu?" tanya Darius sambil berjongkok di hadapan Laras sembari melepas ikat pinggangnya. Laras diam mengatupkan mulutnya. Dia tidak menangis lagi, hanya matanya memerah oleh menahan rasa sakit di


kepalanya.


"Katakan saja dan aku akan mengampunimu hari ini." Laras masih diam. Ia sudah memutuskan kehidupannya akan berakhir hari ini saja daripada melihat Zyan tumbuh bersama monster seperti Darius. Dia tahu benar Darius akan


menggunakan dia dan anaknya untuk memaksakan semua rencana busuknya terhadap keluarga Gading.


"Sayang sekali, adikku ini memang suka sekali diberi hukuman." Darius menjilat pipi Laras membuat pemiliknya memekik tidak suka. Dia merasa jijik dengan liur Darius yang membasahi pipinya itu.


Plak!


Plak!


Plak!


Tiga kali pukulan itu melayang tanpa rasa iba sama sekali. Sabuk Darius menimpa tubuh Laras yang ramping nyaris kurus itu.  Darius benar-benar terlihat seperti monster sekarang. Laras sudah pingsan setelah tiga kali pukulan keras menghantam punggungnya. Darah bahkan berbekas di baju Laras.


"Kakak...." lirih Laras sebelum semua menjadi gelap. Dia tak tahu apa-apa lagi, selain terakhitr kali melihat mata Darius yang berkilat penuh kebencian padanya.


Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


Biar author tambah rajin UP...


Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all...


__ADS_2