
"Mas, ayolah." Asha menjauhkan kepala Arman dan menatapnya lekat-lekat dengan wajah yang tersipu malu.
"Mas membuatku malu." Gading membuang wajahnya ke samping.
“Aku tak ingin mengatakan apapun sekarang, jika memang kamu menginginkannya dengan kesadaranmu…” Tangan Gading menyusup ke balik piyama tidur Asha, menyentuh kulit punggung sang istri yang halus.
“Akh, mas…kamu kenapa tiba-tiba nakal begini?” Bisikan serak Asha malah menbuat Gading semakin bersemangat menelusuri setiap tempat yang di lewati jemarinya.
“Hanya saja Sayang, jangan minta aku berpaling darimu…” Lembut kata-kata itu mengetuk gendang telinga Asha.
“Jangan minta aku berhenti mencintaimu. Aku hanya tidak bisa melihat bayangan wanita itu lagi di antara kita, Asha. Mohon mengertilah..." Bisik Gading di cuping telinga Asha
Asha menggeleng sambil mengusap lengan Gading. Ia paham dengan perasaan suaminya yang sangat menjaga perasaannya, sedari dulu Gading selalu begitu.
"Aku tahu, kamu selalu mencintaiku..." Asha tersenyum pada Gading dengan matanya yang berbinar seperti bintang.
"Aku percaya sepenuhnya kalau kamu akan selalu tak pernah ingin melihatku terluka. Tetapi, percayalah padaku, aku tahu apa yang sedang aku lakukan." Asha berucap begitu meyakinkan.
"Demi Tuhan, Aku juga tak ingin ada wanita lain dalam rumah tangga kita. Aku tak memikirkan Laras tetapi fokus pada anaknya saja. Anak itu, bagaimana dengannya? Apakah dia menginginkannya terlahir dari rahim perempuan yang bahkan tak punya tempat bersandar saat melahirkannya ke dunia? Anak itu tak bersalah sama sekali. Sekaran, saat dia tak lagi bisa di jadikan alat oleh orang tuanya untuk menghancurkan orang lain, malah di buang begitu saja. Bagaimana bisa kita membiarkannya begitu saja di buang?" Asha memainkan leher baju suaminya itu sambil mengadu tatapan pada telaga redup yang tak henti memandanginya itu.
"Sayang, kita bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir orang lain. Kurasa tidak lagi terlibat terlalu dalam itu yang terbaik. Ini bisa mengganggu masa depan kita..."
__ADS_1
" Aku sama sekali tidak terganggu. Aku sama sekali tidak berpura-pura. Mas, aku benar-benar ingin mengambil anak itu. Sekarang ibunya tak menginginkannya, dia hanya bayi yang di telantarkan karena kesalahan orang tuanya. Haruskah kita membiarkannya? " Asha meletakkan tangan Arman di jantungnya. "Rasakan? Ini yang kurasakan tiap melihat Zyan. Aku merasa ada ikatan dalam diantara kami, sayang. Sejak dia di dalam Rahim Laras, aku telah berusaha menyayanginya, dan setelah aku jatuh cinta pada bayi itu bukankah tidak adil jika kita membiarkannya terlantar begitu saja."
Gading menghela napasnya panjang. "Terserah kamu saja. Aku tidak paham dengan kalian semua. Bagaimana jika wanita itu kembali menyusun rencana untuk menghancurkan keluarga kita? Aku tidak mau sampai kehilangan seseorang apalagi dirimu, sayang." Ucap Gafing dengan tajam.
“Aku tak akan gegabah lagi, sayang. Aku tak akan tertipu. Hanya di balik ini pasti ada alasannya, aku harus menyingkapnya.” Asha mendekap suaminya itu.
“Laras bisa saja menusukmu jika kamu terlalu memberi hati. Kamu tak tahu, orang tak selamanya bisa membalas kebaikan dengan kebaikan.”
“Suamiku sayang…” Asha memeluk Gading dengan penuh kasih sayang.
“Kamu adalah satu-satunya yang kupercayai, jika ternyata sesuatu terjadi di luar kendaliku, aku akan menyerahkan semua keputusan padamu.” Ucapnya sambil mengelus pipi suaminya itu.
“Sayang, semoga saja Laras tak membuat masalah baru bagimu hanya karena obsesi mama yang terlalu besar untuk memiliki cucu. Aku tak masalah sebenarnya, menunggu Tuahan memberikan bayi setahun, dua tahun ataukah sepuluh tahun lagi.”
Gading tidak menjawab. Pikirannya melayang saat mengatakan Laras polos.
"Wanita polos mana yang mau merusak rumah tangga orang lain, katakan padaku?" Gading kembali menatap menyala pada Asha. Ia akan mengembalikan akal sehat istrinya itu. "Kurasa kamu yang sangat polos di sini, sayang."
Gading mengusap kepala Asha. "Tidakkah kamu pikir ini aneh? Dia sudah pergi dan tiba-tiba saja menyerahkan anaknya sendiri? Aku tidak suka dengan apapun tentangnya sekarang termasuk bayi itu!"
"Mas!" Asha meraih tangan Gading
__ADS_1
"Tapi bayi itu sama sekali tidak berhak menanggung salah Laras. Dia tidak tahu apa-apa, dia sudah lahir ke dunia ini di saat kamu dan aku membutuhkan seorang bayi, ini takdir? Benar, Mas."
Gading terkekeh. "Sampai kapan pun aku tidak ingin mengakui anak itu."
"Kalian boleh mengambilnya, mengadopsi atau apapun yang kalian berdua mama mau, tapi anak itu bukanlah anakku. Jangan paksa aku mencintainya."
Ucapan Gading itu begitu tegas, dia seakan memberi batas atas perasaannya.
Asha tak lagi berkata-kata, mereka berdua saling diam sesaat,
membuat sepi malam mendominasi.
"Aku harus bertemu dengan Laras..."
Satu tekad itu mengelegak di hati Asha, mungkin dengan sedikit mendesaknya Laras akan mengatakan apa yang terjadi di balik ini semua.
Pelukan Gading begitu hangat, Asha tahu suaminya itu benar-benar sangat mencintai dirinya. Dia merasakannya. Sungguh tak adil juga jika dia selalu bersikap menentang perasaan suaminya itu.
"Aku akan menyudahinya, sayang. Menyudahi prahara orang ketiga yang terus saja mengikuti keluarga kita ini. Aku berjanji, ini tak akan menggoyahkan rumah tangga kita. Ujung pangkal kejadian ini harus jelas supaya tak jadi boomerang lagi. Hanya saja Zyan juga adalah korban, mungkin korban keadaan..." Ucap Asha penuh tekad. Di peluknya erat-erat Gading yang tak lagi bersuara.
Malam turun semakin larut, tangisan kecil Zyan membuyarkan mereka.
__ADS_1
"Sttt...sebaiknya kita masuk, aku akan memeriksa Zyan, setelahnya aku pastikan suamiku yang tampan ini akan mendapat bagian..." Asha menarik tangan Gading dengan manja setengah menyeretnya masuk ke dalam kamar.