
Laras membuka pintu itu, belum sempat dia mengangkat wajah, pintu itu di dorong dengan kasar, membuat Laras terjajar hampir jatuh.
"Aku tak pernah menyuruhmu pergi dari sana!" Suara berat yang sangat di kenal Laras.
Mata Laras membeliak ketakutan, menatap sosok yang berdiri dengan raut dingin nyaris menakutkan, menyurutkan ketampanannya.
...DARIUS GIRALDI...
"Kak Darius..." Laras mundur dengan raut ketakutan yang semakin menjadi, mata yang membeliak itu seperti begitu trauma dengan wajah yang kini mengangkat kacamatanya ke atas kepala.
Pintu itu di tutup dengan perlahan oleh laki-laki tinggi besar ini. Dan kemudian,
"Krek!"
Pintu itu dikuncinya, sementara anak kuncinya di tarik dan sekejap kemudian sudah berada dalam sakunya.
"Laras...kenapa kamu keluar dari rumah suamimu?" tanyanya dengan mata terpicing.
Laras tak menjawab dia berusaha tenang sambil mundur ke belakang, berusaha menutupi pandangan laki-laki yang di panggilnya dengan kak Darius itu dari bayinya yang tertidur lelap di atas ranjang.
"Kalau saja Vony tidak memberitahuku, aku bahkan tidak tahu jika kamu sudah tidak lagi tinggal di sana." Darius melengos.
"Aku belum memerintahkanmu untuk keluar dari sana. Seharusnya kamu sudah memikatnya dengan tubuhmu itu, bukan berdiam diri seperti tikus bodoh di dalam liang. Bahkan aku sekarang ragu apakah kamu pernah benar-benar melakukan perintahku!" Suara Darius menggeram.
"Pak Gading...dia...dia bukan orang yang mudah untuk..."
"Bullshits!!!" Darius menyela dengan mata tak berkedip. Menaikkan Jacket kulitnya dengan tatapan gusar.
"Laras, semua laki-laki sama, tak akan menolak jika diberikan daging ke mulutnya! Kamu yang kurang usaha untuk membuatnya mudah." Darius mendekat, dengan langkah pelan seolah mengancam.
"Pak Gading tidak melihatku, dia tidak tertarik padaku..."
"Oh, ya...?" Darius mendekat, lebih dekat lagi, hampir sedepa saja dari depan Laras yang gemetar.
Sreeeeeet...!!!
Tangan Darius mencengkeram leher kemeja Laras lalu dengan sekali sentak baju perempuan itu robek separuh.
__ADS_1
"Awww...!" Laras terpekik berusaha menutupi badannya dengan meringkuk, mengunakan kedua lengannya, menyilang memeluk tubuhnya sendiri.
"Aku mau melihat seburuk apa tubuhmu itu, sampai-sampai lelaki seburuk Gading pun tidak tertarik padamu!" Suara itu terdengar begitu kesal, lalu dengan sikap tak berperasaan Darius berusaha menarik lengan Laras.
Sreeeeeeeet...!
Sekarang semua atasan yang di kenakan Laras benar-benar robek semuanya, yang tersisa hanya bra berwarna krem pucat, dengan dada yang membusung, buah dadanya tampak berusaha menyembul dari balik balik cup yang terlihat kekecilan untuk ukuran buahnya yang besar khas ibu menyusui itu.
"Kak...jangaaaan..." Laras yang gemetaran mulai menangis.
"Aku rasa setelah melahirkan kamu malah lebih menggiurkan dari sebelumnya, Laras. Bagaimana mungkin Gading tak melirikmu? Atau kamu sama sekali tak berusaha untuk melakukan tugas yang ku berikan? Hah!!!" Darius menarik tubuh Laras merapat ke tubuhnya. Laras membuang mukanya dengan ketakutan, air matanya mengucur deras.
"Aku telah memberimu jalan untuk mendapatkan seorang suami, yang bisa kamu miliki seumur hidupmu. Tapi, kamu malah menyia-nyiakan usahaku!!! Kamu kira mudah membuatnya setuju mengadakan pesta itu, kamu kira mudah aku menyiapkan kamar itu, membuat kalian berdua seolah-olah tidur berdua, seolah-olah dia telah memperawanimu!" Suara Darius terdengar tersengal menahan murka.
"Aku rela mengotori tanganku dengan darah ayam, hanya untuk membuat sepraimu merah. Semua sudah sempurna! Tapi kamu telah menggagalkannya dengan begitu saja, kamu benar-benar perempuan h@ram!" Tangan Darius terangkat menunjukkan telapak tangannya yang besar itu di depan hidung Laras yang memejam matanya kuat-kuat, isaknya tertahan dalam ketakutan.
PLAKK!!!
Telapak tangan Darius terayun menghantam pipi Laras, seketika Laras terjatuh sambil memegang pipinya. Dia tidak berteriak, hanya mendesis kesakitan.
Darius berjongkok, menarik lengan Laras. Dengan kasar dia menjepit dagu Laras, menikmati pandangan noda merah di sudut bibir Laras yang menunjukkan betapa keras tamparan Darius.
"Laras, aku memberimu jalan untuk melepaskan diri tapi kamu malah kembali. Bukankah kamu itu bodoh sekali?" Darius menyentak dagu itu dengan kasar.
"Sekarang, kembalilah ke rumah Gading. Berikan dirimu ke ranjangnya, jadikan dirimu sedikit berguna bagiku." Mata Darius berkilat kejam.
"Aku...aku tidak bisa kembali ke sana..." Suara Laras gemetar.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? bukankah kamu istri kedua Gading?"
"Pak Gading telah menceraikanku."
"STUPID!!!" Darius berteriak keras, membuat Zyan terkejut dan mulai menggeliat di tempat tidur, terdengar tangisannya yang setengah merengek.
"Kenapa kamu bisa bercerai dengannya? Bukankah kamu telah membuatnya bertanggungjawab atas kehamilanmu??"
"Dia...dia tahu...anak ini bukan anaknya..." Laras menjawab di sela isaknya.
"Oh, Laras...kamu benar-benar bodoh! sangat bodoh!" Darius berteriak murka.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Hah! Bagaimana bisa dia tahu?"
"Dia melakukan test DNA diam-diam setelah aku melahirkan." Laras menjawab sambil berbalik memeluk Zyan, yang menangis dengan keras.
Darius melotot seperti tak percaya dengan yang di dengarnya, ini adalah rahasia yang di simpannya bersana Laras, cuma mereka berdua yang tahu dan sekarang semua rencananya terasa berantakan dalam sekejap.
"Kamu tidak menyebutkan namaku?" Tanya Darius sambil merangsek maju. Membuat Laras terduduk di atas tempat tidur sambil memeluk erat Zyan yang terus menangis.
"Ti...tidak...aku tak menyebutkan siapapun..." Laras menggeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya yang sembab dengan helaian rambut yang lengket di dahinya yang basah membuatnya begitu kusut dan menyedihkan.
"Kamu tidak berbohong, kan?" Mata Darius mendelik, rambut Laras di jambaknya sampai-sampai kepala Laras terdonggak ke belakang.
"Ti..tidak...aku bersumpah, kak..." Laras menjawab dengan gemetar.
Darius menatap tajam Laras yang setengah tel@nj@ng dengan bayi yang berusaha menyesap mencari buah dadanya itu.
jemarinya turun menyusuri wajah cantik Laras, turun sampai leher jenjang Laras yang putih, melewati dadanya dan berhenti di atas kepala bayi yang menggeliat-geliat itu.
"Ja...jangan..." Laras memeluk Zyan dengan ketakutan yang luar biasa.
"Jangan sentuh Zyan...jangan..." Laras memohon saat Darius membelai-belai rambut bayinya.
"Kenapa? Kenapa tidak boleh?" Darius memicingkan matanya, mendekati wajah Laras yang pucat pasi. Suara dengus nafasnya yang berat, begitu dekat, menerpa kulit pipi Laras yang tak lagi memejam matanya, tapi membeliak, seakan tak ingin lengah mengawasi gerakan Darius.
Darius tersenyum jahat, bibirnya terbuka,
"Bukankah...dia juga anakku?"
...LARAS...
(Untuk yang penasaran siapa Darius dan mengapa Laras sangat takut dengan pria ini...ikuti kusahnya di part selanjutnya🙏😊)
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all...