PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 34. RENCANA JAHAT DARIUS


__ADS_3

Di tempat berbeda, Laras perlahan membuka matanya. Ia menyipitkan matanya menyadari tempat yang ia lihat terasa familiar. Semua yang ia lihat berwarna hitam, tak ada warna kehidupan di sana. Laras mendesah berat. Punggungnya masih teras perih akibat cambukan dari Darius.


Sesaat dia menggeliat dan menatap ke sekeliling, senyap ini terasa aneh, terakhir kali yang di ingatnya adalah wajah kejam Darius.


"Apa kamu sudah mati? Kamu tak bergerak berjam-jam, kukira kamu benar-benar mati." Kalimat itu terdengar dari sebuah kursi sofa di sudut kamar itu.


"Buka matamu jika sudah sadar!" Darius kembali bersuara. Suara yang akan membuat bulu di sekujur tubuh Laras merinding karena ketakutan. Betapa sesungguhnya dia trauma dengan laki-laki ini, tapi takdir selalu saja mempertemukan mereka tanpa ampun.


"Bagaimana pun caranya, kamu harus bisa kembali ke rumah itu."


"Aku tak mau!" Laras menjawab dengan sisa keberaniannya, berusaha bangun dengan sekujur tubuh yang terasa remuk.


"Shhhh!"Darius bangkit dari duduknya sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.

__ADS_1


"Aku tak suka di lawan, kamu tahu benar tentang itu kan?" Darius mendekat dengan sikap penuh intimidasi sementara Laras beringsut di atas tempat tidurnya, dengan tegang.


"Karena kamu memaksaku dengan menghilangkan bayi itu, aku terpaksa harus memaksamu juga kembali ke sana." Tambahnya, lalu dengan tanpa beban duduk di pinggir temapt tidur. Matanya lurus menatap Laras, nyaris tak berkedip dalam jarak yang kurang dari satu meter.


Laras tidak menyahut. Ia tidak sanggup berbicara bahkan hanya untuk bergerak dan membalik badannya. Matanya terasa panas, dia hampir menangis.


"Heh, kenapa kamu diam saja,? Apa kamu paham?" Darius mencengkram kuat rahang wajah Laras. Wanita itu pasrah dengan perlakuan kakak tirinya yang sangat jahat padanya. Bukan jahat lagi, ini sudah sangat kejam.


"Jangan pernah berbohong padaku Laras, kamu tahu, aku tak suka di bohongi. Kamu akan membayar mahal jika aku mendapatimu berusaha menipuku." Tangan Darius terulur meraih dagu Laras.


"Aku akan merencanakan serangan malam ini." Ucap Darius kemudian dengan parau, bibirnya menyeringai.


Laras menggeleng kecil. "Mbak Asha tidak boleh terluka lagi. Sudah cukup aku menghancurkan hati wanita yang sangat baik padaku." Laras meneteskan air matanya. Darius yang melihat itu tertawa.

__ADS_1


“Menghancurkan katamu? Aku tak berniat menghancurkannya, aku hanya ingin dia tidak lagi bersama dengan laki-laki sok suci seperti Gading itu. Aku hanya ingin mengembalikan Asha pada orang yang tepat.” Mata Darius sebesar kelereng, nyaris melompat dari rongganya, dia terlihat kesal.


“Orang yang tepat?” Laras membalas tatapan Darius meskipun separuh badannya gemetar.


"Apa kamu tahu? Aku melakukannya karena aku tahu tempat yang tepat baginya adalah bersamaku, aku tak membencinya, tetapi aku ingin dia bersamaku saja.Ibunya dulu, waktu kecil pernah mengatakan padaku, untuk menjaga Asha untuknya. Aku hanya ingin menepati janjiku saja." Darius sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan atas apa yang telah di lakukannya.


"Dan, aku akan mengambilnya kembali, dengan segala cara. Kamu paham?" Pertanyaan itu di lontarkan dengan setengah menghardik oleh Darius. Laras tak bergeming, membeku seperti patung lilin.


"Kita akan lihat siapa yang bisa mendapatkan Asha hingga akhir." Darius kembali tertawa. Laras mengambil kesimpulan bahwa Darius benar-benar sudah gila. Ia terobsesi akan Asha dan tidak menyerah untuk mendapatkan Wanita yang terlalu sempurna hatinya untuk seorang monster seperti Darius.


"Lebih baik kamu tidur saja lagi. Siapa tau kamu sudah berada di dunia lain seperti yang kamu inginkan." Darius tertawa mengejek dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Mata Laras tidak bisa melihat apa-apa lagi karena tadi Darius membawa lentera bersamanya, meninggalkan Laras yang gemetaran karena takut dan tegang terhadap perlakuan Darius padanya.

__ADS_1


"Lindungilah anakku dan juga keluarga mbak Asha, aku memohon padaMu Ya Allah," doa Laras dalam hatinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberitahu Asha tentang Darius yang sangat berbahaya. Dia terkurung di tempat ini seperti seorang sandera oleh Darius. Hanya doa yang mampu Laras lambungkan saat ini, di dalam ketidak berdayaannya.


__ADS_2