
Sudah lewat tengah malam, saat Laras mengatur nafasnya setelah memejamkan matanya dengan tubuh melengkung di atas tempat tidur, melewati kontraksi yang baru di alaminya.
"Apakah...apakah... pak Gading akan kemari?" Bibir Laras bergetar saat menanyakan kalimat itu, sebuah pertanyaan yang membuat Asha terdiam, hanya mengerjap matanya menatap Laras yang dengan salah tingkah meminum air dari botol itu dengan sedotan yang di berikan Asha.
"Apakah kamu ingin mas Gading berada di sini?" Asha balik bertanya, terdengar tanpa emosi.
"Ti...tidak...aku hanya bertanya saja, jangan salah paham..."Laras meletakkan botol minuman itu ke sebelah bantalnya serelah menutupnya kuat-kuat.
Tiba-tiba wajahnya berubah, menunjukkan serangan kontraksi yang tiba-tiba.
Asha memberikan tangannya kepada Laras, seorang perawat datang memeriksa dan menyatakan bahwa pembukaan mulut rahim sudah mencapai delapan centimeter, kontraksi yang terjadi semakin tidak tertahankan. Laras juga terlihat kelelahan karena sudah menghabiskan banyak tenaga saat kontraksi terus terjadi.
"Waktu melahirkan semakin dekat, Sebaiknya ibu mendapat dukungan dari suami dan keluarga. Ini sangat penting agar ibu tetap kuat untuk melahirkan normal..." Kata perawat itu.
"Aku adalah keluarganya, aku akan berada di sampingnya." Asha menyahut cepat.
Perawat itu sejenak menatap Asha kemudian menganggukkan kepala dan pamit mempersiapkan persalinan yang diperkirakan berlangsung kurang dari dua jam.
Kontraksi yang muncul lebih intens atau sering.
Sejam kemudian, dokter memastikan pembukaan lengkap, Laras siap untuk bersalin. Keringat dingin menetes lewat dahi Laras, dia berjuang setiap kali kontraksi datang, yang kini datang hampir per beberapa menit.
"Mbak..." Laras memegang tangan Asha, dengan wajah tegang.
"Tidak apa-apa...Semua akan baik-baik saja." Asha membiarkan Laras menggenggam bahkan mencengkeram lengannya.
"Aku akan berada di sampingmu, melewati semua ini Laras. Tetaplah kuat."
Laras mengalami kontraksi yang sangat hebat, terlihat raut wajahnya yang kesakitan dan ketakutan bahkan nyata membiaskan perasaan mual, gemetar dan kelelahan.
"Sakit..." Laras meringis mengumpulkan nafasnya, saat dokter memberi instruksi posisi siap bersalin.
Asha berada di samping Laras, bahkan tak beranjak selangkahpun dari sana saat Laras berjuang antara hidup dan mati, untuk melahirkan anaknya.
...***...
"Namanya siapa?" Asha menggendong bayi laki-laki seberat 3,07 kg itu, tampak lucu dengan mata terpejam dan setengah menggeliat.
Dua jam yang lalu Laras telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang manis paginya setelah satu malam dia menahan kontraksi, Laras melahirkan usai suara adzan sholat subuh berkumandang, tepat setelah Laras meninggalkan kamar bersalin untuk menunaikan sholat subuh.
Di dalam do'a tulus Asha dia benar-benar meminta kelancaran untuk persalinan Laras dan ibu serta bayinya selamat.
__ADS_1
Tak ada sedikitpun terbersit rasa sakit hati Asha, karena dia benar-benar sudah mengikhlaskan semua yang terjadi.
Apalagi setelah Laras melahirkan mungkin dia akan menerima talak dari suaminya, Asha berada di dua sisi di mana sebagai manusia dia merasa lega tetapi sebagai mahluk yang memiliki hati yang tulus, dia merasa kasihan dengan apa yang akan di alami Laras.
"Aku tak tahu..." Laras menjawab lirih, suaranya hampir tak kedengaran.
"Apakah kamu belum punya nama?"
"Aku tak tahu harus menamainya siapa."
Asha tersenyum pada Laras, rautnya yang lega membuat wajah cantiknya berseri.
"Berikan dia nama yang bagus, karena nama adalah do'a dari orang tua."
"Aku berharap ada orang lain yang memberinya nama."Sahut Laras pelan, dia duduk di tempat tidur setengah berbaring, pias lelah masih tersisa di permukaan wajahnya.
Asha tak bergeming, menatap wajah merah yang kini tertidur nyenyak setelah di susui oleh Laras. Beruntung sekali p@yu dar@ Laras bisa langsung mengeluarkan ASI sehingga dia tak perlu bersusah payah untuk menyusui bayinya.
"Aku yang akan memberikannya nama." Tiba-tiba Asha berucap, Laras terpana mendengar kalimat itu, sekilas tatapannya berubah pada Asha, seolah dia tidak mengharapkan Asha melakukannya.
"Apakah boleh?" Kepala Asha terangkat menatap Asha yang masih terdiam di tempat tidur.
"Oh...em...Ya....tentu saja boleh." Laras menjawab tergagap.
"Zyan...?"
"Ya, Zyan. Apakah kamu setuju."
"Oh, tentu saja aku setuju." Laras menyambut dengan wajah sedikit memerah kemudian menyambut bayi yang terbungkus kain itu ke pelukannya.
"Dokter memperbolehkan kita pulang siang ini, setelah observasi selesai. Kalau semua baik-baik saja, kamu di bolehkan menjalani pemulihan di rumah." Ucap Asha sambil tersenyum tipis.
Latas menganggukkan kepalanya, matanya tertuju pada bayi yang kini berada di tangannya, tatapannya nanar dan sedikit mengbang.
Asha mengambil handphonenya.
"Aku akan menelpon mas Gading, supaya bisa menjemput kita."
...***...
"Mas...kenapa kamu sana sekali tak datang tadi malam?" Asha memegang tangan Gading yang hendak beranjak dari dalam kamar.
__ADS_1
Mereka baru saja tiba dari klinik bersalin, Laras sudah beristirahat di dalam kamar bersama bayinya.
"Apakah aku harus ke sana, Asha?" Gading urung pergi kemudian berdiri berhadapan dengan istrinya itu seolah sedang berusaha menatap mata Asha, mencari sesuatu.
"Saat bayi itu lahir, bahkan yang mengadzaninya adalah dokter yang membantu melahirkannya." Suara Asha terdengar ngilu.
"Siapakah yang pantas mengadzaninya menurutmu?" Pertanyaan Gading terdengar tajam.
"Tentu saja ayahnya, mas." Asha menantang mata suaminya.
"Kamu benar Asha, yang pantas mengadzaninya adalah ayahnya. Tapi...aku merasa bukanlah ayahnya. Aku hanya tahu terbangun di sisinya pagi hari, dan kemudian dia hamil. Karena satu malam yang terkutuk itu, lalu apakah aku adalah ayahnya?" Gading menggelengkan kepalanya.
"Mas, kamu telah menikahinya."
"Itu karena kamu yang memaksa."
"Kenapa sekarang mas menyalahkan aku? Coba mas ingat kembali, aku melakukan itu demi siapa? Demi kehormatan mas sendiri."
Gading terdiam, bibirnya terkatup.
"Aku memang salah Asha, tapi semua kemudian semakin lama malah semakin salah saat aku menikahinya."
"Tentu saja, di situasi apapun, Mas menikahinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mas."
"Okey, Asha...aku menerima semua itu sebagai kesalahanku, ini adalah pembelajaran berharga bagiku untuk tidak lagi teledor dalam melakukan sesuatu. Tetapi, aku harus bagaimana berpura-pura terlihat baik dengan Laras, sementara aku tidak merasakan apa-apa, bahkan aku tak merasa punya ikatan apapun baik dengannya atau dengan bayi itu." Gading melepaskan tangan Asha yang mencengkeram pergelangan tangannya.
"Tapi, anak itu tidak bersalah." Asha menunduk, mengingat raut bayi Laras yang dipegangnya.
"Asha...Dengarkan aku!" Tiba-tiba Gading memegang bahu Asha, matanya lurus menatap mata istrinya itu.
"Apakah kamu benar-benar ingin aku melakukan kewajibanku sebagai suami pada Laras, hah? Apakah kamu sungguh rela jika aku...jika aku tidur dengan perempuan lain selain dengan dirimu??"
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...